
"Ada apa ini?" suara Hero yang baru saja masuk ke rumah Edward memecah kebekuan.
"Ro, bisakah kamu antar Edna untuk periksa ke dokter kandungan sekarang?" tanya Edward.
"Ed, aku yang antar Edna!" kata Dayona ngotot.
"Kak, ini ada apa? Abang yang mau antar Edna, kan?" Edna yang sejak tadi hanya mengamati gerak-gerik semua orang yang ada disitu, semakin bingung.
"Gimana, ni?" tanya Hero tak jua mendapatkan kepastian.
"Dan, kamu tetap disini, karena kita harus bicara!" kata Edward sambil menatap lurus ke arah Dayona, dengan tatapan murka.
"Tapi, Ed ..." sanggah Dayona.
"Sebaiknya kamu selesaikan dulu masalah ini, Dan." kali ini Obed ikut bicara.
"Masalah apa? Memang ada apa?" Edna makin penasaran.
Edward mendekati Edna. Mengelus kepalanya.
"Na, pergilah sekarang, nanti kamu bisa terlambat. Kakak minta kamu pergi dengan Hero, karena Dayona harus disini bicara dengan Kakak tentang hal yang penting. Nanti kakak akan ceritakan ke kamu." Edward berusaha meyakinkan Edna.
"Tapi, Kak ... Edna berhak tahu, ini ada apa?" kata Edna masih tidak terima.
"Na, dengar Kakak, kamu percaya Kakak, kan?"
Edna mengangguk.
"Sekembalinya dari dokter, Kakak janji akan kasih tahu kamu. Sekarang lebih baik kamu kerjakan hal yang lebih penting dulu, periksa kandungan kamu." kata Edward runut seperti mengurut.
Meski enggan, Edna bangkit juga dari duduknya. Menuruti perkataan kakaknya.
"Edna pergi dulu, ya?" pamitnya.
Diikuti Hero yang terus bertanya dengan kode tangannya. Namun, dia harus pergi dengan kecewa karena tidak satupun orang yang menjelaskan kepadanya.
"Aku dijebak, Ed!" kata Dayona geram.
"Maksud kamu?" Kavana yang sejak tadi diam akhirnya kembali berbicara.
"Ceritakan yang sebenarnya, Dan!" perintah Edward tegas.
Dayona memberitahukan semua yang dialaminya kemarin.
"Tapi cewek ini bukan Fleta, Dan?" timpal Kavana saat Dayona menjeda ceritanya. Kalimat Kavana itu membuat Dayona menaikkan alisnya.
"Bukan Fleta? Maksud kamu?"
"Lihat baik-baik foto ini! Ini bukan Fleta, karena aku tahu Fleta!" kata Kavana lagi.
Edward dan Obed saling berpandangan, Obed menangkap kode Edward untuk segera hunting segala sesuatu tentang Fleta.
Sedang Dayona kembali membuka foto yang dikirimkan kepadanya, dari nomor yang tidak dikenalnya. Dan menjadi terheran-heran. Justru di foto itu, yang sedang berbaring bersamanya tanpa busana adalah Arhea. Bukan Fleta.
"Set*** ... Apa-apaan ini?!" umpat Dayona kesal sendiri.
"Kamu bisa jelaskan apa artinya ini, Dan?" tanya Edward dingin.
"Aku sama sekali tidak mengerti, Ed. Seharusnya yang menjebakku itu Fleta. Kenapa kini justru foto cewek yang kemarin menolongku."
__ADS_1
"Ini cewek yang pernah kamu bawa ke apartemen, Dan." Kavana mengingatkan dengan sinis.
"Jadi cewek ini, juga kamu makan, Dan? Gila!" seru Obed.
"Dan, harusnya kamu sadar, kamu ini akan segera menikah!" kata Kavana.
"Sumpah! Aku benar-benar tidak tahu! Kenapa bisa seperti ini!" Dayona mulai pening.
"Buktikan kalau begitu!" kata Edward.
---------
Hero menatap Edna lekat, sepulang dari periksa kandungan dia meminta untuk mampir di Bakmi Seafood, kesukaannya.
"Pelan-pelan, Na ... Tidak ada yang minta, kok!"
Edna terus memasukkan makanan itu ke mulutnya, tanpa menjawab sepatah katapun. Sejak berangkat sampai sekarang, Edna hanya bicara seperlunya saja. Itu membuat Hero merasa tidak nyaman.
"Na, stop!" kata Hero sambil menahan tangan Edna yang akan menyuap makanan ke mulutnya.
"Kenapa, Kak?" tanya Edna.
"Bisa kesedak kalau kamu makan seperti itu, lagian kenapa sih, kamu? Ada masalah apa? Sampai kayak gini." kalimat Hero sukses membuat airmata Edna mengalir. Airmata yang sejak tadi ditahannya.
"Hei ... Kamu kenapa, Na?" tanya Hero saat melihat Edna mulai terisak.
"Edna tahu ada yang tidak beres dengan Bang Dana, Kak. Edna sedih kalau akhirnya Jaden lahir tanpa papanya." jawab Edna sambil terus terisak.
"Jadi baby-nya cowok, Na? Congrat, ya!" kata Hero senang. Saking girangnya, dia berdiri menghampiri Edna dan memeluknya.
"Ya, Kak. Seperti feeling Edna." kata Edna sambil membalas pelukan Hero.
"Rahasia dong, Jaden tu nama depannya ..." jawab Edna antusias.
"Kan sekarang sudah pasti tu, kalau bayinya cowok, gimana kalau Kakak temani kamu, cari barang-barang untuk anak cowok!" seru Hero.
Mata Edna berbinar-binar. Membayangkan betapa lucunya pernak-pernik untuk bayinya nanti.
"Mau dong, Kak! Memang Kakak tahu tempatnya?" tanya Edna penuh harap.
"Tahu-lah ... Makanya ayo berangkat sekarang, Na! Supaya pulangnya tidak kemalaman."
Tanpa bertanya lagi, Edna segera merapikan barang bawaan dan makanannya. Lalu berjalan mendahului Hero ke meja kasir untuk membayar. Di belakang Edna, Hero menarik nafas lega, karena bisa mengalihkan kesedihan Edna. Hero sudah mengetahui semua dari Edward melalui pesan singkat tadi. Hero menjadi iba dengan situasi yang sedang dihadapi Edna. Dan dia memutuskan untuk sebisa mungkin menghibur gadis kecil itu.
---------
"Rhe, katakan sekarang! Kenapa ini bisa terjadi?" tanya Dayona saat sudah berhadapan dengan Arhea.
"Dan, aku juga korban. Sama seperti kamu." jawab Arhea nampak panik.
"Sial, sebenarnya apa yang diinginkan Fleta!" umpatnya kesal.
"Aku tidak tahu, Dan. Kami belum menemukan dia."
"Aku harus cari Fleta sampai ketemu. Kalau tidak, bisa gagal pernikahanku."
Dayona memejamkan mata dan menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.
"Celaka, Dan!" teriak Arhea tiba-tiba.
__ADS_1
Wajahnya makin takut dan panik.
"Kamu kenapa, Rhe?" tanya Dayona heran.
"Fo... foto kita di ... dikirim juga ke ... ke orang ... orang tua aku." jawab Arhea terbata-bata.
Dayona menggebrak meja kasar.
"Fleta gila! Mau dia apa, sih?" kata Dayona geram. Rahangnya mengeras. Matanya merah dan bibirnya gemetar. Amarah sudah diubun-ubun, namun apa daya si tersangka tak tahu dimana rimbanya.
"Dan, ortu aku ingin ketemu kamu."
"Tenang, Rhe. Aku akan bantu untuk menjelaskan ke orang tua kamu. Bahwa apa yang di foto itu, tidak seperti yang mereka pikirkan." kata Dayona berusaha menenangkan Arhea.
---------
08138989****:
Va, tolong aku!" -D-
Kavana terkejut membaca pesan itu. Itu pesan dari Dayona. Bagaimana dia bisa tahu nomornya yang baru.
Kavana:
Bagaimana kamu bisa tahu nomorku?
Dayona:
Tidak penting darimana aku tahu, tapi sekarang aku benar-benar butuh bantuan kamu, Va ....
Kavana:
Bantu apa dulu?
Dayona:
Aku bingung, Va. Kenapa susah sekali jalan yang harus aku lalui untuk jadi orang baik.
Kavana:
Kamu bingung kenapa?
Dayona:
Foto itu sudah sampai ke orang tua Arhea, Va ....
Kavana:
Lalu?
Lama tidak ada balasan lagi dari Dayona. Membuat Kavana berpikir keras. Apa yang sudah terjadi pada Dayona.
Kavana:
Dan?
Dayona:
Orang tuanya memaksaku untuk menikahi Arhea. Mereka menuduhku sudah menodai anaknya.
__ADS_1
Deg. Kavana menggigit bibirnya. Kini, bukan hanya Edna yang menjadi penghalang diantara mereka. Semakin menyadarkan Kavana, bahwa memang Dayona bukan untuknya.