RONA CINTA

RONA CINTA
EPISODE 42


__ADS_3

Mata hitam pekat itu memindai seluruh ruangan Kafe begitu menginjakkan kakinya disana. Dia sedang mencari orang yang sudah mengiriminya pesan. Sampai akhirnya pandangannya berhenti pada meja no. 9. Orang itu ada disana. Edward segera menghampirinya.


"Ada perlu apa?" tanya Edward tanpa basa-basi.


"Pesan minum dulu, Ed. Aku mau bicara." jawab Dayona. Dia melambaikan tangan pada pelayan, untuk memesankan minuman. Satu gelas Cappucino dan satu gelas kopi hitam tanpa gula untuk dirinya.


Edward menyandarkan tubuhnya sambil mengamati Dayona lekat. Dayona teman masa kecilnya itu, sekarang tampak asing baginya.


"Ed, aku mau menikahi Edna."


Kalimat itu pernah didengarnya dari mulut Dayona. Jadi tidak mengagetkan lagi bagi Edward.


"Kenapa?" tanya Edward dingin.


"Aku mau bertanggung jawab terhadap Edna dan bayinya." jawab Dayona mantap.


"Apa itu cukup?" pandangan Edward menerawang. Membayangkan kehidupan Edna ke depan bersama Dayona.


"Maksud kamu? Apakah kamu mengharapkan aku mengatakan, bahwa aku menikahi Edna karena cinta?"


Edward kembali menatap Dayona, ingin menemukan kejujuran dan ketulusan disana. Raut muka Dayona menunjukkan keseriusan. Tapi kenapa hati Edward masih bimbang.


"Kamu perlu ketemu dengan Papa, Dan." kata Edward setelah terdiam lama.


Dayona meminum kopinya, menghindari untuk menjawab.


"Kapan?" desak Edward.


"Kamu atur saja, aku ikut." jawab Dayona akhirnya.


Edward mengangguk. Kemudian dia bangkit berdiri hendak pergi.


"Ed ... Sorry" kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Dayona.


Edward hanya menghela nafas kemudian pergi setelah meletakkan sejumlah uang di meja. Dayona sendiri hanya bisa memaklumi sikap Edward. Hubungan mereka yang berantakan, tidaklah mudah diperbaiki hanya dengan kata sorry.


---------


Sejak kejadian waktu itu, baru hari ini Papa Alditira datang ke rumah ini lagi. Kali ini, tidak lagi sendiri. Ada Tante Asiera yang bersamanya.


"Ma, Vana kangen" peluk Kavana kepada mamanya.


"Va, kamu kurusan, kenapa?" tanya Tante Asiera saat melepaskan pelukannya pada anaknya itu.


"Biasa, Ma ... Vana kan diet." jawab Kavana dengan senyum lebarnya. Berusaha menyembunyikan semua kekalutan yang hatinya.


"Ed, semua baik?" tanya Papa Alditira saat duduk di samping Edward.


"Ada yang ingin Edward bicarakan, Pa."

__ADS_1


"Bicaralah!" kata Papa Alditira.


"Ehm ..." Edward berhenti bicara, mengingat disitu ada Kavana dan Tante Asiera.


"Vana, ajak Mama ke kamar dulu ya, Om. Biasa mau curhat." kata Kavana. Dia paham kalau Edward sedang butuh privasi untuk bicara dengan Papanya.


"Okay ..."


"Mas, aku ke kamar Vana dulu, ya?" pamit Tante Asiera.


Papa Alditira mengangguk dan kembali fokus kepada Edward.


"Ada apa, Ed?"


"Dayona akan menikahi Edna, Pa"


Raut muka Papa Alditira seketika berubah. Ada guratan ketidaksukaan disana.


"Dayona ingin bertemu Papa, untuk membicarakan hal ini." lanjut Edward.


"Papa tidak menyukai anak itu!" tukas Papa Alditira.


"Edward juga, Pa. Namun, bayi Edna butuh seorang papa, butuh seseorang yang bertanggung jawab juga bagi Edna. Dan Dayona mau, Pa."


"Bukan untuk membalas dendam lagi? Papa kurang yakin." kata Papa lagi.


"Edward juga berpikir sama. Tetapi Edna sendiri sudah yakin, Pa."


"Maksud Papa?" tanya Edward heran.


"Kamu yang jadi wali nikah Edna, Ed." terang Papanya.


"Kenapa harus Edward, Pa? Kan Papa masih ada?"


"Akan lebih baik kamu, Ed."


"Apa karena Edna hanya anak adopsi, maka Papa tidak mau menjadi walinya?"


Papa Alditira menelan ludahnya. Mulutnya hendak menjawab, namun lidahnya terasa kelu.


"Itu akan melukai Edna, Pa. Edward tidak akan pernah mampu melihat kesedihannnya." kata Edward lagi.


"Bukan itu, Ed," jawaban Papa Alditira tak yakin.


"Lalu kenapa, Pa?" desak Edward.


"Papa belum sanggup bertemu Velila. Hubungan kami memang sudah berakhir. Tapi akan sangat aneh kalau akhirnya, kami akan bertemu dalam situasi ini. Kamu paham kan, Ed?"


Edward berusaha menelaah perkataan Papa Alditira. Hasilnya, justru dia menjadi bingung dengan hidupnya. Kehidupan yang membawa mereka dalam hubungan yang rumit. Sampai semua tampak sulit.

__ADS_1


---------


Dayona baru saja keluar dari Kafe, saat merasakan keanehan pada tubuhnya. Tiba-tiba saja dia merasakan kantuk yang luar biasa, setelah meminum air mineral di Kafe tadi. Belum sempat dia men-starter mobilnya, matanya sudah sangat berat sehingga tidak bisa dibuka lagi. Saat itu, dia merasakan ada seseorang yang masuk ke dalammobilnya dan setelah itu dia tidak tahu lagi apa yang terjadi.


Dayona membuka matanya saat merasakan ada cahaya yang menerpa wajahnya. Tandanya matahari sudah naik. Dayona berusaha mencari ponselnya, yang biasa dia taruh di meja samping tempat tidurnya. Digapai-gapainya, namun tidak didapatinya ponselnya disana. Dayona merasa ada yang aneh. Dia mengamati ruangan disekitarnya, dan seketika Dayona terduduk. Sekarang dia bukan berada di kamarnya. Ini seperti kamar sebuah hotel.


Dan Dayona tambah terkejut lagi, setelah mendapati tidak sehelai benangpun menutupi tubuhnya, dan dia dapat melihat bajunya tampak tercecer di lantai kamar hotel. Dayona segera memunguti bajunya dan memakainya dengan tergesa. Kemudian mencari ponselnya. Dan dia menemukan ponsel itu masih di saku jaketnya dalam keadaan mati.


"Dan, kamu sudah bangun?" Suara itu mengejutkan Dayona. Suara itu datang dari arah kamar mandi hotel.


"Rhea??? Kamu ada disini?" tanya Dayona dengan tatapan heran. Tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kemudian tatapan herannya itu berganti dengan tatapan tajam penuh curiga.


"Dan, ini tidak seperti yang kamu kira. Please percaya sama aku." jawab Arhea.


"Ini ada apa? Kenapa aku, kamu ada disini? Dan ini dimana?" cecar Dayona.


"Satu-satu Dan, pertama ayo kita keluar dari sini dulu, aku takut ada orang yang melihat kita disini dan berpikir macam-macam!" ajak Arhea.


Dayona mengikuti ajakan Arhea itu. Dia ingin segera keluar dari tempat itu dan mendapatkan penjelasan dari Arhea tentang kejadian tadi.


Akhirnya mereka sudah berada dalam mobil Arhea.


"Rhe, tolong kasih tahu aku, apa yang sudah terjadi sama aku?" tanya Dayona tak sabar.


"Kamu dulu yang coba ceritakan apa yang terjadi sebelumnya?"


Dayona menceritakan apa dia ingat sebelum dia menyadari sudah berbaring di kamar hotel. Arhea mendengarkan dengan seksama.


"Semalam sampai dini hari tadi aku sedang ada job pemotretan di Hotel, Dan. Saat di masuk lobby, aku melihat kamu sedang didorong seseorang dengan kursi roda, awalnya aku ragu, itu kamu atau bukan, karena itu aku membuntuti orang yang membawa kamu, dan ternyata kamu dibawa masuk ke kamar itu." Cerita mulai terurai dari mulut Arhea.


"Saat orang itu berhenti untuk membuka pintu, aku mengambil gambar kamu untuk memastikan, itu benar kamu atau bukan. Ternyata benar kamu."


"Lalu?" tanya Dayona penasaran.


"Karena aku khawatir, aku meminta asisten aku untuk mengawasi kamar itu, tapi pagi tadi, dia hanya melihat orang yang membawa kamu, keluar sendiri dari kamar itu. Dan tidak balik-balik lagi. Maka aku minta pihak hotel untuk membuka kamar itu, dan mendapati kamu ada disitu."


Dahi Dayona mengerut, berpikir keras. Siapa dan kenapa semua ini dilakukan orang itu kepadanya.


"Kamu punya foto orang itu kan, Rhe?" tanya Dayona setelah mengingat bahwa Arhea sempat mengambil gambar dirinya.


"Ada, Dan ... Ini fotonya yang kuambil saat kamu dimasukkan ke kamar." kata Arhea sambil menyodorkan ponselnya.


Dayona terkesiap begitu tahu siapa orang itu. Dia mengenalnya, bahkan setiap jengkal tubuhnya dia mengetahuinya. Wanita yang sudah pernah mengisi hatinya dan memuaskan hasratnya.


"Kamu kenal dia, Dan?" tanya Arhea.


Dayona mengangguk, "Itu Fleta."


--------

__ADS_1


Terima kasih sudah terus membaca Rona Cinta 💜💜💜 - Priska Anita


__ADS_2