
Dayona baru saja akan melangkah keluar meninggalkan Mamanya, yang sudah mulai sadar. Namun, Mama masih menahannya,
"Dan, kenapa kamu baru kasih tahu, Mama?"
Mama Velila, masih tampak terpukul dengan kebenaran yang baru didengarnya.
"Untuk apa, Ma? Bahkan saat Papa dimakamkan saja, Mama sama sekali tidak peduli, asyik dengan laki - laki lain" sindir Dayona.
"Maafkan Mama, Dan ... Mama memang salah meninggalkan kalian, please Dan, jangan hukum Mama seperti ini. Mama tidak mau kehilangan kamu, Dan?" kata Mama sambil terisak.
"Sudah-lah, Ma ... Kita akhiri saja semua sampai disini. Mari kita hidup masing - masing dengan tenang." putus Dayona.
"Dan, jangan seperti ini, Nak ... Maafkan Mama, jangan pernah tinggalkan Mama!" Mama berdiri dan berusaha memeluk Dayona. Tapi Dayona mengelak, bahkan menepis tangan Mama, yang terus berupaya menggapainya.
"Cukup, Ma! Dana pergi ... Dana akan urus hidup Dana sendiri! Silahkan Mama hidup seperti yang Mama mau! Dayona membalikkan badan hendak meninggalkan Mamanya.
Namun,tiba - tiba Mama bersimpuh dengan memeluk kakinya, membuat Dayona tidak dapat bergerak untuk berjalan keluar.
"Dayona ... Tolong, Nak? Sekali ini saja, beri kesempatan buat Mama" Mama terus mengiba, tapi hati Dayona sudah membeku. Tangisan Mama, tidak dapat menggerakkan apapun dalam dirinya.
"Velila ... Apa yang kamu lakukan?!!!" Alditira yang sejak tadi berada di luar dan mendengarkan semua pembicaraan mereka, masuk dengan wajah memerah, marah.
Lalu menarik Mama supaya berdiri kembali.
"Mas, biarkan Aku ... Biarkan Aku!!!" teriak Mama dalam tangis.
Dayona tak bergeming. Dia terus berusaha berjalan meninggalkan Mamanya, namun Mama makin erat mencengkeram kakinya.
"Lepaskan Dana, Ma!!!! kata Dayona kasar. Dibarengi dengan dorongan keras, sehingga Mamanya jatuh terjengkang. Tidak siap dengan reaksi Dayona yang tiba - tiba mendorongnya.
"Dana!!!! Stop!!!!" Jangan kasar sama Mama kamu, ya!!!" hardik Alditira.
"Apa urusan, Anda????!!!!" Dayona membalas tak kalah galaknya.
Alditira yang emosi, melayangkan tamparan di wajah Dayona.
"Plaaaaaak"
"Jangan kurang ajar, kamu!"
"Berani Anda, pukul saya???? Haaaah????!!!!!!!" Dayona yang emosi balik memukul dengan membabi buta.
Pukulan itu, membuat Alditira jatuh tersungkur. Tidak bergerak lagi. Mukanya sudah babak belur. Darah terlihat mengalir dari hidungnya.
Mama yang melihat kejadian itu, berteriak minta tolong ke karyawan resto.
__ADS_1
Puas melihat musuhnya terkapar, Dayona segera meninggalkan tempat itu, sebelum banyak orang datang.
---------
Pak Awi, baru saja memberitahu Edward, melalui panggilan telepon, bahwa Papa mengalami penganiayaan dan sedang menuju Rumah Sakit, tempatnya berada saat ini.
Serasa runtuh dunianya, baru saja Edna dan sekarang Papa harus sama - sama dirawat di Rumah Sakit. Edward meremas kalung yang dipakainya, berusaha mencari kekuatan disana. Kalung peninggalan Mama.
"Permisi ..." suara yang tak asing itu terdengar di depan ruangan Edna dirawat. Tak berapa lama, pintu terbuka dan si pemilik suara muncul disana. Kavana masuk dengan senyum yang tampak dipaksakan. Edward membalas senyum itu.
"Bagaimana keadaan Edna, Ed?" tanyanya setelah berdiri di kaki ranjang.
"Ya, begini ... Dia tidak mau makan, bahkan bicara." Dipandangnya Edna, yang balik melihatnya, dengan tatapan yang tidak mampu diartikannya. Itulah kondisi Edna saat ini. Dokter menyatakan bahwa penyakitnya adalah penyakit psikis, sehingga fisiknya ikut terganggu. Psikiater baru akan dijadwalkan besok untuk menangani Edna. Sementara menunggu, Edward-lah yang diminta Dokter untuk terus menemani, menghibur dan menguatkan Edna.
"Boleh aku bicara sama Edna? Berdua saja?" pinta Kavana.
Edward mengangguk, "Aku keluar dulu cari minum ... Na, sebentar Kakak balik, ya?" dikecupnya kening Edna dan pergi meninggalkan ruangan itu. Edna hanya mengangguk pelan.
Kavana mendekati Edna.
"Na ... Kalau kamu mau cerita, Kakak siap dengar?" bisik Kavana.
Edna menggelengkan kepalanya. Tetapi, matanya berbeda dengan gerakan kepalanya. Mata itu, seperti bicara kepada Kavana, "Tolong aku, kak?"
Kembali Kavana berbisik, kali ini tepat di telinga Edna.
Seketika mata Edna terbuka lebar. Disusul dengan isakan dan akhirnya tangisnya pecah. Kavana memeluk Edna. Membiarkannya menumpahkan semua yang dipendamnya melalui air mata, bahasa wanita untuk berbicara, saat mulut tak lagi bisa.
---------
"Pa, kenapa jadi seperti ini?" kalimat itu yang keluar dari mulut Edward, saat melihat Papanya pertama kali di Ruangan Rawat Inap.
Lagi - lagi, Tante Velila ada disana. Sedang menangis sambil menggenggam tangan Papa begitu erat.
"Tidak apa - apa, Ed ... hanya luka biasa" jawab Papa.
"Yakin, Pa?" tanya Edward memastikan.
"Papa baik - baik saja, Ed ... bagaimana dengan Edna? Maaf, Papa belum jadi datang, karena ..." Papa tidak jadi melanjutkan perkataannya.
"Edna masih dirawat, Pa" Edward menjawab dengan sedikit kesal, karena teringat akan janji Papa untuk mengunjungi Edna, namun tak ditepatinya.
"Pa, Edward ke kamar Edna dulu, kalau butuh apa - apa, hubungi saja" pamit Edward.
Papa mengangguk. "Tenang saja, disini ada Pak Awi dan Tante kamu".
__ADS_1
Edward berpamitan dengan Tante Velila yang terus meneteskan air mata. Dan berjalan menuju kamar Edna. Kabar tentang penganiayaan Papa, sebenarnya membuatnya penasaran, tetapi Dia memutuskan untuk tidak bertanya banyak pada Papa. Melihat kondisi Papa saat ini. Mungkin, setelah Papanya membaik akan ditanyakannya kembali.
---------
Kafe Lembayung Senja tampak ramai pengunjung. Banyak anak muda yang sedang menghabiskan waktu berdua dengan pasangannya di tempat itu. Maklum, ini Malam Minggu.
Dayona memutuskan menerima job menyanyi malam itu. Untuk menghilangkan suasana hatinya yang rusak, karena kejadian beberapa hari ini. Hanya musik menjadi mood boaster-nya saat ini. Musik mampu membawanya pada dimensi yang berbeda.
Dayona sudah berada di stage,
"Selamat Malam ... Saya akan mencoba melengkapi malam indah penuh cinta ini, dengan beberapa lagu romantis, kiranya bisa menjadikan malam anda jadi semakin istimewa ..."
Lagu "Ku Mau Dia" milik Andmesh Kamaleng mengalun merdu.
Suara Dayona beserta petikan gitarnya, seperti membius semua orang disana, menarik semua mata untuk tertuju padanya. Dayona memang sangat mempesona saat seperti itu.
Tak terkecuali, seorang cewek cantik yang duduk sendirian di meja 9. Dia begitu menikmati live musik walau hanya sendiri. Seolah terpikat dengan daya tarik Dayona dan gitarnya. Dia ikut bersenandung sambil menghentak - hentakkan kakinya mengikuti irama.
Dayona menyelesaikan lagunya dengan sangat apik. Membuat seluruh ruangan dipenuhi tepuk tangan riuh membahana. Dayona tersenyum, mengedarkan pandangan di ruangan itu, sebagai ucapan terima kasih kepada pengunjung karena sudah mengapresiasi penampilannya.
Saat matanya menjelajah, tatapannya jatuh pada sosok cewek pada meja 9. Saat mata mereka bertemu, mereka saling menyapa lewat senyum. Dayona menangkap signal khusus untuk dirinya dari cewek itu, dan dia bertekad akan berkenalan dengannya setelah usai bekerja nanti.
"Hai ..." sapa Dayona kepada cewek yang sejak tadi diincarnya, setelah turun dari stage, dan menyelesaikan pekerjaannya.
"Suara kamu bagus banget" puji cewek itu.
"Terima kasih ... Dayona" tanpa basa - basi, Dayona mengulurkan tangannya.
"Arhea ... panggil saja Rhea!" Rhea menyambut tangan Dayona.
"Sering ya ke Kafe ini? Ehm ... Meja 9, always"
"Sepertinya ada sudah sering memperhatikanku, ni!" Rhea tersenyum sambil melirik Dayona.
Keduanya tertawa. Pembicaraan mereka berlanjut, sampai pegawai Kafe memadamkan lampu. Dan mereka harus berpisah malam itu, tetapi berjanji untuk bertemu kembali di lain waktu.
Rhea meninggalkan Kafe dengan senyum misteriusnya. Ditekannya sebuah nama kontak di ponselnya. Berdering.
"Semua berjalan seperti yang kita harapkan, Non ... Tenang saja, sebentar lagi, dia bakal bertekuk lutut dan mengiba meminta cintaku, hahahaha" tampak Rhea sedang bicara dengan seseorang di seberang sana. Entah apa yang sedang direncanakannya.
Malam semakin larut, banyak insan sedang terbuai dalam mimpi indahnya atau sedang bergelut dengan masalahnya. Semua manusia memiliki porsinya sendiri dalam mengisi kehidupannya.
---------
Terima kasih karena terus mendukung Rona Cinta... Jangan lupa like, comment dan vote-nya ditunggu! 😁😁😁
__ADS_1
Semoga makin suka dengan ceritanya, selamat membaca semua 💜💜💜