RONA CINTA

RONA CINTA
EPISODE 41


__ADS_3

Mungkin sangat klise ungkapan bahwa yang namanya cinta tidak harus memiliki. Cinta sejati itu merelakan seseorang bahagia meski tidak bersama kita.


"Kalau cinta sesakit ini, mengapa aku harus jatuh cinta?" tanya Kavana pada lelaki di depannya itu.


Obed menghela nafas. Dia tahu benar rasanya. Saat dirinya harus merelakan Kavana bersama Edward, sahabatnya. Hatinya remuk saat itu, tetapi dia belajar menerima, demi teman baiknya.


"Itulah hidup, Va. Cinta itu ibarat cokelat, saat kamu gigit memang terasa manis, namun kalau kamu rasakan benar-benar, ada rasa pahit dalam manisnya. Menunjukkan dua sisi dalam cinta. Tak hanya manis, namun juga ada pahit. Kalau kamu mau jatuh cinta, maka kamu harus siap patah hati juga." tutur Obed.


Kavana memejamkan mata, berharap ketika kembali membukanya, pikirannya akan lebih terbuka dan hatinya bisa menerima.


"Va, kamu okay?" tanya Edward pagi itu di meja makan. Mata Kavana masih bengkak. Wajahnya nampak pucat. Menangis semalaman membuatnya kehilangan banyak tenaga. Kavana memaksakan diri untuk tersenyum.


"Edna mana, Ed? Tidak makan bersama kita?" tanya Kavana sambil memandang sekeliling. Di meja makan baru ada Edward, Hero dan Obed. Mereka nampak segar sehabis mandi.


"Kata Bi Edah dia sudah makan sejak pagi." kata Edward sambil melahap sarapannya.


"Oh gitu, makan ya semua." kata Kavana ikut menyendok sarapannya dalam diam.


Suasana ruang makan tampak semarak dengan kehadiran Hero dan Obed. Mereka berdua banyak melontarkan lelucon-lelucon yang akhirnya membuat Kavana bisa tertawa.


Obed terus mengamati Kavana. Mencoba menyelami cewek yang sangat disukainya itu. Senyum dan tawanya hanya pelarian semata. Oleh karena luka yang masih menganga. Dan dia berharap, kelak dialah yang bisa menutupnya.


---------


Mama Velila tertegun, mendengar semua yang Dayona katakan, selepas mereka makan malam bersama. Ini hari istimewa bagi Mama Velila, karena akhirnya, anaknya itu mau bicara lagi dengannya.


"Ma?" Dayona menyentuh tangan Mamanya lembut. Membuat Mama Velila terbangun dari lamunannya.


"Mama senang mendengar kamu mau melakukan ini, Dan." kata Mama Velila lirih, nada bicaranya terasa pedih. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Air mata sedih sekaligus bahagia.


"Kenapa Mama menangis? Mama sedih?" tanya Dayona sambil menyeka air mata Mama Velila dengan jarinya.


"Mama bahagia, Nak. Karena akhirnya kamu menjadi laki-laki. Mau bertanggung jawab atas apa yang kamu perbuat. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki semua, Dan. Mulailah dari awal bersama Edna. Mama akan selalu berdoa untuk kalian berdua." jawab Mama masih dengan linangan airmata.


"Lalu bagaimana dengan Mama?" tanya Dayona ragu.


Mama Velila mengambil tangan Dayona, "Mama baik-baik saja, Dan. Mama ingin kamu bahagia. Kamu lebih penting dari apapun buat Mama. Jadi jangan pikirkan soal Mama lagi"


Dayona menatap mamanya haru. Berterima kasih karena mama rela mengalah demi dia. Tanpa Dayona tahu, bahwa Mamanya sudah berpisah dengan Alditira karena Asiera, mama Kavana.


---------


"Kenapa kamu lakukan itu, Na?" Edward mendatangi Edna dengan marah.


Edna hanya diam sambil memeluk bantalnya. Tak berani menjawab dan menatap wajah kakaknya.


"Kakak tidak pernah menyangka, kamu melakukan ini sama orang lain." kata Edward lagi.


Edna tahu Edward akan sangat marah kalau tahu bahwa dia sudah dengan sengaja melukai Kavana.


"Ingat, kan? nasehat Mama dan apa yang diajarkan agama kepada kita, untuk kita bisa memaafkan orang yang bersalah kepada kita. Kalau memang kamu belum bisa memaafkannya, minimal jangan membalas apapun, Na!" kata Edward tegas.


"Maafkan Edna, Kak. Edna benar-benar tidak mengerti kenapa Edna melakukan itu." jawab Edna takut-takut.

__ADS_1


"Apalagi dia saudara kita, Na." kata Edward melembut. "Apapun yang sudah dilakukannya pada kita, Kavana sekarang adalah kakak kamu."


Edna tidak suka mendengar itu, tetapi dia tidak bisa berbuat apapun untuk mengubah kenyataan, bahwa Kavana adalah kakak perempuannya.


"Iya, Kak ... Edna salah. Maaf." kata Edna terus menunduk.


Edward mengelus kepala Edna, lalu meninggalkannya tanpa mengatakan apa-apa lagi.


Edna memandangi kepergian kakaknya dengan rasa sesal. Kenapa Edward harus tahu apa yang semalam sudah dilakukannya kepada Kavana. Apakah Kavana mengadu? Edna menjadi kesal membayangkan hal itu.


---------


Dayona memandangi Fleta dengan tatapan tak suka. Cewek itu, tiba-tiba sudah berada apartemennya dan duduk manis di dalam kamar Dayona.


"Ngapain kamu disitu, Ta!" hardik Dayona.


"Nunggu kamulah, Dan. Mau apa lagi coba?" kata Fleta sambil berpose berbaring miring di ranjang Dayona. Dengan tangan menyangga kepalanya.


"Kangen banget sama kamu, Dan. Masak sih kamu tidak kangen?" kata Fleta dengan suara yang menggoda.


"Kamu keluar atau aku yang keluar???!!!!" usir Dayona sambil menunjuk arah pintu keluar.


"Dan, kamu kenapa, sih? Terus menghindar dari aku?" tanya Fleta.


"Sudah aku bilang kan, Ta. Diantara kita sudah tidak ada hubungan lagi. Berapa kali lagi aku harus bilang ini ke kamu? Sampai kamu mengerti!" jawab Dayona ketus.


"Setelah aku memberikan semuanya ke kamu, tega sekali kamu bilang seperti itu!"


Dayona melengos. "Kamu pikir aku bodoh? Aku bukan yang pertama kan buat kamu?" cibir Dayona.


"Maksud kamu?"


"Aku sudah pakai barang second." tandas Dayona.


Muka Fleta merah karena marah.


"Kalau aku bekas, kenapa kamu menikmati dan terus memintanya? Hah????" sembur Fleta.


"Meminta? Bukannya kamu yang terus menyodorkannya?"


"Kamu memang brengsek, Dan!!!" kata Fleta dalam kemarahan. Fleta mengambil tasnya dan meninggalkan kamar, membuka pintu dan keluar dari apartemen Dayona.


Dayona memegang kepalanya karena penat. Menyadari banyaknya kesalahan yang sudah dia buat. Satu-satu harus diselesaikannya kini.


---------


Hero memainkan piano di ruang tengah. Sambil bersenandung.


Ternyata aku tak bisa


Sembunyikan bahagia


Dan bila ada orang bertanya-tanya

__ADS_1


Siapakah dia yang membuatku bahagia?


Kamulah orangnya


(Tentang Kamu - Lyodra)


Suara merdunya memenuhi seisi rumah Edward.


"Kak Hero bisa main piano?" tanya Edna yang sudah berdiri di belakang Hero.


"Bisa-bisa sedikitlah, Na. Kamu apa kabar? Sehat?" tanya Hero menghentikan permainannya.


"Sehat, Kak. Kak Hero sudah datang sejak tadi?"


"Bukan sejak tadi lagi, dari semalam malah."


"Kok, Edna baru tahu" kata Edna sambil cemberut.


"Kamunya, sih! Ngumpet terus. Kayak kepompong aja!" ejek Hero.


"Enak aja, mentang-mentang Edna gendutan!"


"Tidak gendut kok, Na. Hanya chubby, malah bikin gemes." goda Hero.


"Sama saja, Kak! Intinya sekarang Edna gemukan, kan?" kata Edna makin manyun.


"Kamu cantik, Na" ucap Hero lirih, nyaris tak terdengar.


"Apa, Kak? Kakak ngomong apa? Edna tidak dengar."


"Kamu cantik!"


Pipi Edna merona merah. Kalimat lugas itu, membuatnya berbunga-bunga. Dan itu tidak bisa disembunyikan Edna dari Hero.


"Suka ya dibilang cantik?" tanya Hero.


"Apaan, sih, Kak!"


Karena malu, Edna memutuskan untuk pergi meninggalkan Hero yang tersenyum-senyum sendiri.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri, Ro?" tanya Edward yang muncul dari kamarnya bersama Obed.


"Ada deh!" jawab Hero tersenyum penuh rahasia.


"Dasar gila!" kata Edward melihat respon temannya itu.


Obed sendiri mendekati Hero dan berbisik, "Pamali tahu godain calon istri orang!"


"Rese kamu, Bed!" umpat Hero blingsatan. Sedang Obed hanya tertawa puas karena mampu membuat temannya salah tingkah. Seperti pencuri sedang tertangkap basah.


"Sial!" batin Hero. "Kenapa dia bisa tahu?" katanya dalam hati. Hero bertekad untuk jauh berhati-hati.


---------

__ADS_1


Tidak terasa Rona Cinta sudah sampai di BAB 41, angka yang tak terbayangkan sebelumnya. Semoga semua pembaca bisa menikmati ceritanya.


Terima kasih untuk banyak cinta melalui like, komen, rate dan vote 💜💜💜


__ADS_2