RONA CINTA

RONA CINTA
EPISODE 32


__ADS_3

Perkataan Papa, jelas mengguncang Edward, terlebih Edna.


"Memang kamu bukan anak Papa!" kalimat ini berhasil menunggang balikkan semua harapan akan keluarga bahagia yang diidam-idamkan oleh Edward.


Perkataan yang keluar begitu saja dari Alditira, terdorong rasa kecewa karena Edna telah menghina, Kavana. Darah dagingnya, buah cinta dengan wanita yang sangat dicintainya. Seorang anak yang tak pernah diketahuinya.


"Maksud Papa, apa?" Edna bertanya dengan suara bergetar. Kepalanya mulai terasa pening.


Papa mendongakkan kepalanya. Seperti meminta kekuatan dari Sang Penguasa alam semesta.


Kemudian, Papa membuka dompet. Mengambil sebuah kartu nama dari dalamnya. Dan hendak menyerahkan kepada Edna.


Tapi tangan Edward jauh lebih cepat menyambar kartu nama itu. Dan Edna sepertinya sudah kelelahan, sehingga dia membiarkan Edward mengambil apa yang seharusnya diterimanya.


PANTI ASUHAN KASIH BUNDA


Jl. Tentara Pelajar, No. 109


Sa*******


Ribka 0858020448**


Edward memejamkan matanya. Semua seperti mimpi. Firasatnya mengatakan sesuatu yang tidak ingin dikatakannya, bahkan dipikirkannya saja tidak. Jangan sampai.


"Edward, akan bawa Edna berobat ke klinik ini, Pa" kata Edward segera.


Papa Alditira nampak heran begitu pula dengan Edna, namun akhirnya Papa Alditira tersadar. Edward sengaja berbohong agar Edna tidak shock dan berbuntut kurang baik untuk kondisinya.


Papa mengangguk. Dan mengalihkan pandangannya pada Edna.


"Maafkan Papa, Na ... Papa keterlaluan sama kamu. Istirahatlah!" kata Papa sambil pergi meninggalkan mereka.


"Istirahat sana, Na!" kata Edward pada Edna yang masih duduk diam di tempatnya semula.


"Apa maksud Papa tadi, Kak?" tanya Edna.


Edward mengangkat bahu, "Papa hanya emosi, Na ... Karena kamu mengatakan hal yang membuat Papa sangat marah."


"Apa benar aku bukan anak Papa?" tanya Edna lagi.


"Na, jangan berpikir seperti itu, sudah Kakak bilang, Papa hanya sedang emosi, sehingga asal bicara." jawab Edward.


Walau terasa masih mengganjal di hatinya, namun Edna tidak bertanya lagi. Dia memilih untuk meninggalkan Edward, menuju ke kamarnya. Dan mendekam disana.


Edward kembali melihat kartu nama itu. Kartu yang membuatnya sangat penasaran. Ingin segera mengetahui apa sebenarnya yang ada di balik kartu nama.


---------


Dayona menatap dirinya di depan cermin. Tidak ada yang berubah pada wajahnya, selain codet bekas luka di pelipisnya. Bedah plastik yang dilakoninya benar-benar memulihkan keadaannya seperti sedia kala.


Sudah waktunya, dia akan kembali ke kehidupannya. Dan orang pertama yang ingin ditemuinya adalah Kavana.


Dayona melajukan mobilnya pelan, ketika sudah berada di depan rumah Kavana. Keinginan kuat mendorongnya untuk segera turun dan bertemu dengan orang yang ada di dalamnya. Namun, saat Dayona hendak membuka pintu mobilnya. Tiba-tiba sebuah mobil, masuk ke halaman rumah Kavana. Melewati pagar rumah yang terbuka. Belum sempat, Dayona mencerna siapa yang berada di dalam mobil itu. Keluarlah seseorang dari dalamnya. Alditira Gamaliel.

__ADS_1


"Damn! Kenapa juga ada manusia itu disini!!!" umpat Dayona.


Dayona tak habis mengerti. Kenapa dunia begitu sempit. Dimanapun dia berada, bertemu lagi dengan orang yang sama.


Dayona mengeluarkan ponsel dan melakukan panggilan. Namun, tidak ada jawaban. Lalu diketiknya sebuah pesan.


Pesan:


Va, ini aku di depan rumah kamu. Keluarlah!


Dana


Ditunggunya beberapa saat, namun tidak ada balasan juga. Dayona mulai resah. Pikirannya berkecamuk, memikirkan berbagai alasan, kenapa Kavana tidak pernah meresponnya. Sudah banyak pesan dikirimnya. Tidak satupun yang dibalas.


Dayona mau nekat turun, tapi dia enggan, tidak ingin bertemu dengan Alditira. Saat Dayona sedang memikirkan apa yang akan dikerjakannya, mobil Alditira terlihat keluar dari rumah Kavana. Dayona bernafas lega. Segera dibukanya pintu mobil dan masuk rumah Kavana.


Dayona mengetuk pintu rumah Kavana. Tak berapa lama, pintu terbuka dan tampaklah seorang wanita muda muncul di balik pintu.


"Cari siapa, Mas?" tanya wanita itu.


"Saya cari Kavana, Mbak?" jawab Dayona.


"Oh, mbak Vana, ada di tempat kerjanya, Mas."


Dayona menggerutu sendiri. Merutuki kebodohannya. Tentu saja, Kavana berada di tempat kerjanya.


"Ya, mbak ... Kalau gitu saya pamit, makasih" kata Dayona hendak melangkah pergi. Namun, Dayona mengurungkan niatnya.


"Eh, Mbak ... Ngomong-ngomong mbak ini siapanya Kavana, ya? Kok saya belum pernah lihat." tanya Dayona tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Ooo, pantes saya baru lihat. Saya permisi ya, Mbak" pamit Dayona lagi.


Berjalan sambil terus bertanya dalam hati. Sejak kapan Kavana punya ART? Dayona tahu betul kondisi keuangan keluarga Kavana.


Atau memang ada hal yang sudah terjadi, saat Dayona tidak ada, yang mengubah kehidupan Kavana?


Dayona melajukan mobilnya menuju Coffe Shop Gamaro, berharap menemukan jawaban disana.


---------


Bangunan kuno berwarna putih di depannya, memberi kesan suram dan dingin. Edward menatap plang kecil dengan tulisan "Panti Asuhan Kasih Bunda" di depannya.


Disinilah sekarang Edward berada. Bermodalkan kartu nama pemberian papanya, dia mulai melangkah masuk ke pintu besar yang terbuka lebar.


Begitu masuk, Edward diperhadapkan dengan koridor panjang, disampingnya terhampar halaman rumput yang cukup luas. Dan disana, tampak anak-anak kecil sedang bermain. Suasana tampak ceria. Anak-anak itu tertawa lepas dengan riangnya. Pemandangan yang sangat kontras dengan tampak luar dari bangunan yang sudah dilaluinya tadi.


"Ada yang bisa saya bantu, Mas?" sapa seseorang sedikit mengejutkan Edward, yang sedang asyik mengamati anak-anak. Kini, di sampingnya berdiri seorang wanita paruh baya, yang masih memperlihatkan kecantikan pada masa mudanya.


"Oh, maaf Ibu, saya Edward, saya ingin bertemu dengan Bu Ribka." jawab Edward sopan.


"Saya, Ribka, Mas ... Kalau begitu, mari bisa ikuti saya?" pinta Bu Ribka.


Edward mengangguk dan mengikuti Bu Ribka. Edward diajak melewati koridor panjang itu, sampai akhirnya sampai di ujung lorong dan masuk di sebuah ruangan dengan kursi tamu yang tampak masih baru.

__ADS_1


"Silahkan duduk, Mas!" Bu Ribka mempersilahkan Edward.


"Terima kasih, Bu." kata Edward seraya duduk.


"Kalau boleh tahu, apa yang membawa Mas Edward kesini?" tanya Bu Ribka.


"Bu, sejujurnya saya tidak tahu apa yang hendak saya cari disini." Edward berhenti bicara sejenak. Lalu dikeluarkannya, kartu nama dari saku jaketnya.


"Saya kesini karena ini, Bu." disodorkannya kartu nama itu.


Bu Ribka memandangi kartu nama itu, tak mengerti maksud Edward. Itu hanya kartu nama biasa, yang diberikan pihak panti kepada semua orang yang berkunjung.


"Lalu?" tanya Bu Ribka lagi.


"Kartu ini, saya dapatkan dari Papa saya, Bu. Nama Papa saya, Alditira Gamaliel." jawab Edward.


Bu Ribka nampak terkejut, namun hanya sebentar. Setelahnya, wajah Bu Ribka kembali tenang.


"Jadi Pak Aldi sudah memutuskan" gumam Bu Ribka, nyaris tak terdengar.


"Ya?" tanya Edward.


Bu Ribka menarik nafas berat. Tetapi kemudian tersenyum ke arah Edward.


"Ada sesuatu, yang ingin Papa sampaikan ke Mas, sehingga Papa memberikan petunjuk tempat ini," kata Bu Ribka.


"Sesuatu? Apa itu, Bu?" tanya Edward, sudah tidak sabar untuk mengetahui apa yang hendak Papa sampaikan lewat tempat ini.


Bu Ribka berdiri dari tempatnya, menuju almari yang terletak di ujung ruangan yang ternyata menjadi kantor Panti Asuhan. Dari sana, Bu Ribka kembali dengan membawa sebuah album foto. Lalu sibuk membolak-balikkannya, sampai akhirnya berhenti di satu lembar yang kemudian ditandainya.


Bu Ribka kembali duduk di depan Edward. Lalu menunjukkan sebuah foto dalam album itu.


"Mas Edward, kenal dengan siapa yang ada di foto ini?" tanya Bu Ribka.


Edward mengamati foto tua itu. Nampak di foto, ada seorang ibu, dan Edward mengenalinya sebagai Bu Ribka, sebelahnya ada seorang wanita cantik sedang menggendong seorang bayi. Wanita itu, wanita yang sangat dikenal Edward. Itu Mama. Dan sebelahnya, tentu saja Papa, sedang menggendong bocah laki-laki. Dan bocah itu, dirinya sendiri.


"Ini foto Papa dan Mama saya, Bu. Ternyata saya pernah kesini. Karena masih kecil sekali, jadi saya tidak mengingatnya" jawab Edward yakin.


"Benar, itu memang Papa dan Mama Mas Edward dan Mas Edward sendiri." kata Bu Ribka membenarkan.


"Dan bayi ini, pasti Edna ya, Bu?" tanya Edward sambil menunjuk bayi yang digendong mamanya.


Bu Ribka tersenyum misterius. Senyum itu membuat Edward merasa tidak nyaman.


"Bukan." jawab Bu Ribka.


Kemana arah pembicaraan ini, Edward tak tahu. Dimana ujung pembicaraan ini, Edward pun tak tahu. Setelah banyak melewati usia kehidupan, ternyata masih banyak hal yang tidak diketahuinya. Hidup memang misteri Ilahi yang tidak mudah untuk dipahami.


---------


Makasih karena terus membaca Rona Cinta 💜💜💜


Like, komen, rate dan vote yang sudah diberikan, biarlah jadi ladang pahala karena sudah mendukung sesama yang sedang berkarya.

__ADS_1


Tetap sehat dan bahagia semuanya 🥰🥰🥰


__ADS_2