RONA CINTA

RONA CINTA
EPISODE 6


__ADS_3

Dayona baru saja akan keluar dari mobilnya, saat kemudian matanya menangkap pemandangan langka. Siluet cewek nampak jelas ada di jok belakang motor Edward.


Ia memicingkan matanya, fokus untuk menerka siapa cewek itu. Tak salah lagi.


"Kavana?" gumannya heran.


Dalam mobilnya, dia terus mengarahkan pandangannya pada mereka. Tampak Edward berbicara dengan Kavana, sebelum keduanya berjalan bersama ke koridor kelas 2. Wajah datar Edward, sesekali menyunggingkan senyuman menanggapi apapun yang dikatakan oleh Kavana.


"Sejak kapan mereka bersama?"


Dayona masih bertanya pada dirinya sendiri. Masih terkejut, hal sebesar ini tidak diketahuinya dari mulut Edward. Dan Dayona bertekad segera mengklarifikasinya kepada temannya itu.


---------


Di kantin saat istirahat kedua,


"Akhirnya laku juga jomblo abadi kita ini!" kata Dayona setelah dia mendengar klarifikasi dari Edward. Bahwa benar, Edward dan Kavana sudah pacaran. Perkataan Dayona, langsung disambut tepuk tangan Obed, Javas dan Reval.


Edward hanya tersenyum tipis. Entah kenapa sejak kemarin, sudut bibirnya selalu tertarik membentuk busur senyum, saat mengingat dan memikirkan bahwa sekarang dia sudah tidak jomblo lagi. Entahlah, itu mungkin efek dari jatuh cinta, pikirnya. Sejujurnya ini pengalaman baru baginya.


"Hahaha ... pantas saja dia anyep melulu, ternyata belum pernah rasain yang namanya kehangatan" timpal Reval jahil.


"Perlu kita training kayaknya ni, Dan?" kali ini giliran Javas yang meledek Edward.


"Yoi" sahut Dayona mengiyakan.


"Widih, langsung diajarin praktek aja deh, biar langsung tancap dia!" ceracau Obed.


"Gila kalian pada!" sungut Edward.


Dan suasana semakin riuh saat Kavana muncul di kantin hendak membeli minuman.


"Sayang ... sini dong, duduk sama abang!"


Obed berlagak mempersilahkan Kavana duduk di kursi di samping Edward setelah mengusir Javas dari tempat duduknya.


"Bacot banget kalian! Diem kenapa, sih!!!" hardik Edward galak.


Hal itu bukannya membuat mereka diam, tetapi malah semakin menjadi-jadi mengerjainya.


"Hai, Ed ..." sapa Kavana saat sudah tiba di meja Edward. Senyum manis terkembang di wajah cantiknya. Senyum yang mulai menariknya ke pusaran, untuk hanya memikirkan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Duduk!" Edward menepuk kursi di sampingnya. Mengabaikan segala siulan, ledekan dan omongan gila dari teman-temannya itu.


Kavana tersenyum girang. Dia menjatuhkan pantatnya di kursi tepat di samping Edward. Posisi mereka sangat dekat, sehingga Kavana kembali menghirup aroma maskulin dari kekasihnya itu. Aroma yang memabukkan, yang membuat dia semakin penasaran dengan cowok yang sejak semalam sudah resmi memacarinya itu.


Edward yang menyadari posisinya terlalu dekat dengan Kavana, berusaha menggeser kursinya sedikit menjauh. Tapi sebelum sempat hal itu dilakukannya, tepukan Dayona di pundaknya mengurungkan niatnya itu.


"Eits ... kenapa digeser brad, ayolah! Kan enak kalau makin mepet, anget" seringainya sambil mengedipkan matanya.


Edward menyikut temannya itu, yang diresponi dengan ngeloyor pergi, sambil tertawa girang karena berhasil mengerjai Edward.


"Ayo man! nge-basket aja kita! Jangan ganggu Edward yang sedang mabuk cinta!" ajak Dayona kepada Obed, Javas dan Reval.


"Puas - puasin, Ed! Kav ajarin tu ... kamu kan expert!" bisik Obed sebelum bergegas menyusul yang lainnya untuk menghabiskan sisa waktu istirahat di lapangan basket sekolah, yang dibalas Kavana dengan pukulan keras di lengan Obed.


Istirahat siang itu, dihabiskan Edward dengan makan bersama Kavana. Kavana jadi satu - satunya yang terus bicara, sedang Edward hanya menanggapinya sesekali dengan "ooo", "ya", "apa" dan "oo gitu".


-------------------


Edward memukuli samsak tinjunya seperti kesetanan, meluapkan semua amarahnya.


Bahkan dia tidak lagi memperhatikan ponselnya yang terus berdering.


Cowok mana yang tidak marah, setelah melihat ceweknya pergi dengan cowok lain.


"Dayonaaaa bang***!!!" teriaknya frustasi.


Dari sekian banyak cowok, kenapa harus Dayona. Itu yang terus ada di benaknya.


"Sejak kapan mereka melakukannya di belakangku? Apa yang sudah mereka lakukan? Sudah sejauh mana? Betapa bodohnya aku, tidak pernah tahu!"


Edward terduduk lemas. Menyadari naifnya dia, sangat percaya pada Dayona bahkan Kavana. Edward sangat terpukul mengetahui kebenaran ini.


Bermula dari beberapa jam yang lalu, sebuah pesan masuk di ponselnya. Nomor yang tidak ia kenal.


08580204xxxx


Edward?


Edward mengabaikannya, paling pesan dari cewek iseng, seperti yang biasa dia terima.


Edward kembali berkutat dengan kanvas, yang tak lagi kosong, di depannya. Lukisan seorang cewek, dengan mata indah, hidung lancip, bibir ranum, rambut lurus sedang tersenyum menjadi proyeknya setiap malam. Lukisan yang akan menjadi hadiah ulang tahun cewek itu, cewek spesial yang mengisi hari - harinya dua tahun ini.

__ADS_1


Ya ... wajah Kavana-lah yang Edward lukis dengan segenap hatinya, dengan seluruh cinta yang dia punya.


Edward tersenyum puas dengan hasil lukisannya itu. Dan meyakinkan dirinya sendiri, pasti Kavana suka saat menerimanya.


Namun, keasyikannya itu kembali terganggu dengan dering nyaring panggilan di ponselnya. Diliriknya ponsel yang dia taruh di meja di sampingnya. Nomor yang tadi.


Dibersihkan tangannya dengan lap dan mengambil ponselnya itu sambil menimbang-nimbang, diterima atau tidak.


Entah apa yang mendorongnya hari itu, Edward memutuskan untuk memencet tombol terima pada ponselnya. Dan ....


"Ha ... " belum selesai Edward menyelesaikan kalimat pertamanya. Suara di seberang sana sudah menyambar.


"Aku, Fleta ... Mungkin kamu tidak kenal aku, tapi aku tahu kamu, aku pacar Dayona"


"Ya, ada apa?" Edward menjawab sambil mencerna, Fleta, dia mendengar nama itu dari mulut Dayona berkali - kali, tapi Dayona tidak pernah mengenalkannya. Fleta berasal dari sekolah yang berbeda. Tetapi mengapa sekarang Fleta menghubunginya?


"Datang ke Bioskop XXI *** sekarang, masuk studio 3, kursi A20-21dan kamu akan tahu semua!"


"Maksudnya? Tahu apa?" Edward bingung, dengan ucapan cewek yang tidak dikenalnya itu.


"Percaya sama aku, Edward! Kamu akan tahu kebenaran! Cepat pergilah kesana! Sebelum pukul 21.45!" desaknya.


Dan panggilan itu berakhir.


Edward masih bingung, dengan apa yang baru terjadi, bingung untuk memutuskan apa. Percaya pada cewek yang bernama Fleta itu atau mengabaikannya saja. Tetapi akhirnya, rasa penasaranlah yang menyeret kakinya untuk mengambil jaket dan kunci motor dan tak berapa lama Edward sudah berkendara di atas motornya, melaju menembus malam yang dingin menuju Bioskop XXI ***.


Tanpa Edward tahu, bahwa sebentar lagi ada sebuah kebenaran ....


Kebenaran yang akan merubah seluruh kehidupannya ....


Edward tak kan lagi sama ....


Dunianya menjadi berbeda ....


Karena hidup ibarat sebuah cerita,


Bermacam-macam genre -nya,


Berbeda genre terasa beda rasa dan aromanya,


Sang dalang sangat mahir memainkan beberapa pemerannya ....

__ADS_1


Saat Sang Pencipta menyatakan kehendak -Nya, tidak ada satu kejadian pun dapat terjadi tanpa seijin-Nya, tetapi sesungguhnya Tuhan memberikan kepada pribadi manusia untuk memilih langkahnya ....


Karena sejatinya manusia diberi akal budi untuk dapat memutuskan yang benar dan terbaik bagi dirinya ....


__ADS_2