
Edna masuk ke Coffee Shop dengan langkah cepat.
"Selamat datang di Coffe Gamaro..." sapa Gweni ramah. Namun, Edna tidak menggubrisnya. Edna terus berjalan menuju ruangan Hero.
"Eh ... nyelonong aja tu cewek" gerutu Gweni.
"Mungkin tamunya Mas Hero, Gwen" kata Kavana yang sibuk mengelap gelas, sehingga tidak memperhatikan siapa yang barusan masuk.
Gweni mengangkat bahu.
"Va, ada tamu yang mau ketemu kamu, kamu saya beri ijin selama diperlukan." kata Hero saat menghampiri mereka.
"Oh, ya Mas ... Siapa ya, Mas?" tanya Kavana.
"Ke ruangan saya saja, tamunya menunggu disana!" jawab Hero. Kemudian, Hero mengambil tempat di meja costumer melanjutkan pekerjaannya. Sedang Kavana memandang Gweni seolah bertanya, siapa tamu yang dimaksud Hero, tapi Gweni menggeleng bertanda tidak tahu.
Saat Kavana masuk ruangan Hero, baru dia tahu kalau tamunya adalah Edna.
"Ternyata kamu, Na, tamunya ..." senyum Kavana merekah.
"Ya, aku, Kak." jawab Edna datar. Jawaban Edna itu, membuat Kavana mengurungkan niatnya untuk memeluk Edna, seperti yang biasa mereka lakukan saat bertemu.
"Ada apa, Na?" tanya Kavana sambil duduk di depan Edna.
"Edna, mau bicara, Kak" masih dengan nada datar. Bahkan sekarang terkesan dingin.
"Kamu mau bicara apa, Na? Bicara saja!" kata Kavana.
"Edna pengen dengar dari Kakak sendiri, benar Kakak sudah putus dengan Kak Edward dan sekarang Kakak sama Bang Dana?" tanya Edna tajam.
Kavana meringis. Pertanyaan yang akhirnya datang ini, ternyata tetap tidak mudah dijawabnya. Padahal, sudah sejak lama, dirinya mempersiapkan diri, apabila pertanyaan ini muncul.
"Iya, Kak?" tanya Edna lagi, saat tidak didengarnya jawaban apapun dari Kavana.
"Na ... Bukan maksud Kakak untuk ..."
"Jawab saja, Kak! Benar atau tidak?" potong Edna.
"Iya, Na ... Semua itu benar." jawab Kavana cepat.
"Kak ... kenapa Kakak tega! Tega menyakiti Kak Edward, padahal Kakak tahu, Kak Edward sayang banget sama Kakak!" bentak Edna.
Kavana hanya bisa diam.
"Apa kurangnya Kak Edward, Kak??? Jawab, Kak!!!!!" nada suara Edna semakin tinggi.
"Na, memang aku yang salah, Edward tidak ada kekurangan apapun, akulah yang salah, Na ... Kakak minta maaf" Kavana menjawab dengan isakan. Dia memahami posisi Edna saat ini. Kemarahan Edna memang pantas diterimanya.
__ADS_1
"Perlu Kakak tahu! Setelah semua yang Kakak lalukan, Kak Edward masih saja baik sama Kakak! Itu yang membuat Edna sakit, Kak! Tidak terima Kakak memperlakukan Kak Edward seperti ini!" teriak Edna emosi. Suaranya semakin keras. Sampai terdengar di luar ruangan.
Hero terlonjak berdiri, saking terkejutnya mendengar suara Edna.
Semua karyawan saling bertanya, apa gerangan yang terjadi. Hero berusaha menenangkan karyawannya. Dia agak lega, karena tidak ada pelanggan yang berkunjung. Tidak bisa dibayangkan, apabila ada costumer disitu.
Hero segera mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Na ... Cukup! Kakak memang salah, kakak minta maaf, Na ... please, maafkan Kakak" pinta Kavana sambil menangis.
"Apakah kata maaf Kakak cukup untuk mengembalikan hati yang sudah Kak Edward berikan untuk Mama, Kakak??? Cukup untuk mengembalikan mobil yang Kak Edward jual untuk membayar biaya perawatan Mama, Kakak??? Cukup untuk membayar jasa Kak Edward yang memberi Kakak pekerjaan ini??? Cukup Kak????!!!!!!"
Kavana terkesiap. Benarkah semua yang sudah di dengarnya? Hati untuk Mama? Biaya perawatan Mama? Pekerjaannya? Semua dari Edward. Seketika, Kavana berteriak histeris. Mana mungkin itu! Bukankah Dayona yang melakukan semuanya???
"Kamu bohong, kan, Na??? Kamu bohong!!! Dayona yang melakukan semuanya!!!! Kenapa sekarang Edward kata kamu!!!! Dasar pembohong!!!!" kali ini Kavana yang tersulut emosi.
"Bukannya Kakak yang sudah membohongi Kak Edward dan Edna, kenapa sekarang maling teriak maling!!! jawab Edna tak mau kalah.
Adu mulut tak bisa terhindarkan lagi. Suasana di ruang Hero semakin panas.
Hero menyesal karena telah mengijinkan mereka bertemu.
Saat Hero bingung, pintu masuk terbuka, akhirnya yang ditunggu datang.
"Ro, dimana mereka?" tanya Edward setelah bertemu Hero.
"Bed, kamu tunggu disini saja! Aku mau bicara dengan Edna." kata Edward pada Obed yang menemaninya.
"Aku antar sampai pintu!" kata Obed seraya mendorong kursi roda Edward menuju ruangan Hero.
"Na!!!! Apa-apaan, Kamu!!!" hardik Edward.
Baik Edna maupun Kavana langsung menoleh ke arah suara.
"Kakak disini?" tanya Edna terkejut.
Kavana sendiri hanya bisa menatap Edward. Tampak lebih kurus dan pucat.
"Hentikan semua ini dan pulang, Na!" perintah Edward.
"Malu didengar banyak orang." imbuhnya.
"Biar saja, Kak! Sekali-kali Kakak harus bicara supaya dia tahu!" tunjuk Edna pada Kavana.
"Na!!!! Sudah! Dengar Kakak, pulang!!!! bentak Edward.
"Huuuuft" dengus Edna sebal. Belum puas rasanya memarahi Kavana. Namun, akhirnya dia menurut perintah kakaknya. Edna berlalu melewati Edward.
__ADS_1
"Va, lebih baik kamu pulang dulu, tenangkan diri kamu! Aku akan bicara dengan Hero, untuk memberi kamu ijin." kata Edward sebelum meninggalkan ruangan itu.
Kavana hanya bisa diam saat Edward pergi. Semua pertanyaan yang ingin ditanyakannya hanya menggantung di udara, sebentar lenyap tertiup angin, seperti keberaniannya, yang entah menghilang kemana.
"Ayo, aku antarkan kamu pulang, Va?" kata Obed yang tiba-tiba sudah berada di depannya.
Kavana hanya menurut. Dia seperti kehilangan tenaga setelah perdebatan panjangnya dengan Edna. Hero menepuk-nepuk bahunya saat Kavana berpamitan untuk pulang. Sedikit memberi wejangan kepadanya, untuk segera menyelesaikan masalahnya.
Sampai di mobil, mobil Edward, Kavana kenal ini mobil Edward. Jadi yang dikatakan Edna tadi tidak benar. Itu yang ada di pikiran Kavana.
Sepanjang perjalanan, Obed hanya diam. Tidak berisik seperti biasanya.
"Bed ... boleh tanya?" suara Kavana memecah keheningan.
"Ya? Apa, Va?" jawab Obed dengan pandangan tetap fokus ke depan.
"Apa maksud kamu menyuruhku menemui Edward waktu lalu, Bed? Apakah karena Edward .... Eeeeee ..." tanya Kavana ragu-ragu.
"Katakan saja, Va? Apa yang ingin kamu tahu." kata Obed seolah tahu keraguannya.
"Soal donor hati ..." Kavana berhenti bicara, karena tiba-tiba Obed menepikan mobil di bahu jalan dan berhenti disana.
"Edward yang melakukannya, Va" kata Obed pelan.
Kavana terhenyak kali ini.
"Bagaimana bisa, waktu itu Dayona yang menyumbangkan hatinya buat Mama, bukan Edward, Bed? Pasti terjadi kesalah pahaman, Bed!" Kavana belum bisa menerima pernyataan ini.
"Apapun itu, Na ... Kenyataannya memang Edward yang melakukannya, bukan cowok kamu itu!" kata Obed meyakinkan Kavana.
"Lalu ... Tidak benar kan, Bed ... Mobil Edward dijual untuk membayar biaya perawatan Mama? Buktinya mobil ini masih kamu pakai! Ini mobil Edward, Bed!" Kavana memberondong Obed dengan pertanyaan.
"Kamu salah, Va! Ini mobil Hero, bukan mobil Edward lagi! Benar ... Edward sudah menjualnya ke Hero untuk menolong mama temannya, katanya. Ternyata mama kamu, Va." jawab Obed kalem.
Tubuh Kavana merosot di jok mobil, tak percaya dengan semua yang sudah di dengarnya. Sekali lagi dia mendapati, bahwa apa yang selama ini ada dipikirannya itu salah.
"Lalu pekerjaanku?" tanya Kavana penuh harap, semoga kali ini dia yang benar. Bukan Edna.
"Coffe Shop Gamaro ... Itu bisnis Edward dan Hero, Va, Gamaro berasal dari kata Gamaliel dan Hero ..."
Pupus sudah harapan Kavana. Tidak ada satupun kebenaran ada di pihaknya. Ternyata selama ini dia bernafas dalam kebohongan. Kebohongan yang dilakukan orang yang dikasihinya. Tangis Kavana tak tertahankan lagi. Menyesali betapa naif dan bodoh dirinya selama ini.
---------
*Novel ini awalnya saya beri judul "Apa itu Cinta", namun karena sudah banyak yang menggunakan judul tersebut, jadi saya memilih untuk mengubahnya menjadi "Rona Cinta".
Novel ini awalnya adalah sebuah cerita pendek warisan yang sudah saya simpan puluhan tahun. Kemudian, suatu hari terbersit ide untuk menjadikannya sebuah novel. Sampai akhirnya, cerita pendek ini bisa ber-transformasi dengan alur cerita yang begitu kompleks. Semua ini berkat seluruh pembaca yang memberi saya banyak energi untuk berimajinasi.
__ADS_1
Untuk itu, saya tidak akan pernah lelah untuk berkata, "Terima kasih, Pembaca Setia!" 💜💜💜*