
Kembalinya Dayona, seharusnya jadi momen bahagia bagi Kavana. Seseorang yang dirindukan, kini muncul di kehidupannya lagi. Tetapi justru hatinya menjadi hampa. Mati rasa. Oleh karena, semua hal yang sudah disalah mengertinya tentang Dayona.
"Va, apa sebaiknya kamu, pindah saja ke rumah kami?" kata Edward setelah mendapati Dayona telah kembali.
Kavana tercenung. Memikirkan bagaimana kelak akan dihadapinya Dayona.
"Status kita ini apa, Dan?" tanya Kavana waktu itu.
"Setelah semua yang kita lakukan, kamu masih memikirkan status, Va?" jawab Dayona.
"Tapi, Dan ...."
"Penting sekali, ya? Bagi kamu?" tanya Dayona kesal.
Kavana mengangguk. Bagi perempuan status itu penting, karena perempuan butuh kepastian. Hubungan yang mereka jalani terlihat abu-abu. Tidak jelas arahnya. Kavana sudah menyerahkan semua, sementara Dayona masih jalan dengan Fleta, Edna dan Arhea di depan matanya.
"Kamu berarti buat aku, Va ... Kamu selalu ada di sampingku, itu sudah cukup bagiku" kata Dayona.
"Aku sayang kamu, Dan."
Dayona tidak merespon apapun. Dia hanya diam. Matanya menatap ke langit-langit kamar.
Dan hari itu, Kavana tahu bahwa hati Dayona tidak ada untuknya atau tidak hanya untuknya. Rasanya menyakitkan. Tetapi anehnya, Kavana tidak mampu menuntut apapun dari Dayona.
Dan hari-hari selanjutnya, seolah Kavana hanya menjadi pemuas hasrat dan pelarian Dayona. Tempat Dayona menumpahkan gairah, kemarahan dan kerapuhan.
Dayona jugalah yang sudah menorehkan bahagia sekaligus luka.
Segala yang kau ucap bohong
Kau lakukan omong kosong
Tak perlu lagi percaya
Kau hanya pura-pura
Kita di ujung perpisahan
Namun selalu ku rindukan
Kau luka yang ku rindu
(Luka yang Ku Rindu - Mahen)
Kavana menangis. Hatinya merindu tapi juga takut untuk kembali terluka. Ketegarannya sudah memudar, setelah ditemukannya tempat bersandar. Keluarga. Mama, Papa dan Saudara. Itu sudah lebih cukup baginya. Tanpa Dayona. Putusnya.
---------
"Jadi, dia saudara kita, Kak?" tanya Edna pedih.
"Na ..."
__ADS_1
"Dari milyaran manusia di dunia ini, kenapa harus dia!!!!" teriak Edna.
"Tenang, Na! Ingat baby kamu!" Edward berusaha menenangkan Edna.
"Bagaimana aku bisa tenang, Kak. Kalau sebentar lagi, dia akan tinggal disini bersama kita! Edna tidak sanggup, Kak! Setelah semua yang dilakukannya pada kita!!!!!" raung Edna.
Edward menepuk-nepuk punggung adiknya. Hanya ini yang bisa dilakukannya. Sakit hati Edna, dia tidak bisa ikut menanggungnya. Andai itu bisa, ingin dirasakannya juga.
"Apa yang bisa kakak lakukan buat kamu, Na?" tanya Edward setelah tangis Edna mulai mereda.
"Carikan Edna tempat tinggal, Kak? Edna ingin sendiri."
"Tapi kamu kan lagi hamil, Na. Kakak tidak akan membiarkan kamu pergi dari rumah!" tolak Edward.
"Kak, Edna tidak akan mampu, tinggal bersama dia disini, hati Edna sangat sakit kalau mengingatnya, tolong, Kak?" pinta Edna. Air matanya terus saja mengalir.
"Kakak tidak akan bisa, Na"
"Edna akan ajak Bi Edah, Kak ... Kalau itu, bisa membuat Kakak tenang ... Kak?" wajah Edna makin memelas.
Edward bingung dengan permintaan Edna itu. Sampai sekarang, belum dikabulkannya permintaan Edna itu.
"Kenapa muka kamu, Ed? Kayak baju belum disetrika, kusut." ledek Obed saat masuk ke kamarnya.
"Pusing aku, Bed!"
"Kenapa lagi?" Obed menjatuhkan diri di kursi tepat di samping Edward.
Obed mendengarkan cerita Edward dengan seksama.
"Jadi Kavana akan segera tinggal disini?"
Edward mengangguk, "Dayona sudah kembali, Bed! Aku tidak mau, Kavana dekat lagi dengan si kamp*** itu!"
"Oke ... Balik ke masalah Edna. Menurutku ada baiknya, kamu ijinkan dia untuk keluar dari rumah ini untuk sementara, Ed." saran Obed.
"Bagaimana mungkin, Bed? Kamu kan tahu, dia lagi hamil." protes Edward.
"Justru itu, Ed ... Kamu juga harus memikirkan kondisi psikologis Edna kalau terus disini. Sedih dan marah berlarut, pasti akan berpengaruh buruk juga pada kandungannya. Untuk sementara saja, Ed, biarkan Edna menenangkan diri."
Edward membenarkan perkataan Obed. Helaan nafas Edward yang berat, menunjukkan seberapa berat keputusan yang akan diambilnya.
---------
Dayona terus mengikuti taksi online yang membawa Kavana dari rumah menuju tempat kerjanya. Ini kesempatannya, untuk bisa bertemu dengan Kavana. Setelah semua akses tertutup baginya. Berkali-kali dihubunginya nomor ponsel Kavana, tetapi tidak bisa. Kemungkinan besar, nomor Kavana sudah diganti. Pergi ke rumahnya berkali-kali pula, hanya ART yang menyambutnya. Ada keinginan untuk memaksa masuk, namun dia mengingat ada Mama Asiera disana.
Saat taksi online yang ditumpangi Kavana melintas di jalur yang sepi. Segera Dayona melakukan manuver untuk memepet mobil itu dan memaksanya segera menepi. Bunyi rem berdecit nyaring, membuat kepulan asap menyeruak di udara. Dan sekarang mobil Dayona sudah di depan taksi online.
Sopir taksi keluar dari mobilnya dengan marah.
"Apa-apaan ni, Mas???? Kamu tidak punya mata??? Atau mau cari gara-gara?????!!!!" sembur sopir itu galak kepada Dayona yang justru berjalan santai ke arahnya.
__ADS_1
"Maaf, Pak ... Saya ada perlu dengan penumpang, Bapak" kata Dayona tanpa dosa.
"Kalau cuma itu, apa tidak bisa minta baik-baik? Memangnya ini adegan film? Bahaya ini, Mas!" omelan Sopir itu, dianggap angin lalu oleh Dayona. Perhatiannya hanya tertuju pada Kavana yang ada di mobil itu. Tanpa permisi lagi, dibukanya pintu samping di kursi penumpang. Senyum jumawa sudah terbentuk di bibirnya. Kali ini, Kavana tidak akan bisa lolos lagi darinya.
Dibukanya pintu dengan semangat dengan senyum mengembang. Dan ....
"Shiiit!!!" umpat Dayona kesal.
"Lho, ini Mas yang sering cari Mbak Kavana, to? Ada apa, Mas?" tanya perempuan di bangku penumpang yang tak lain adalah ART Kavana.
Dayona telah tertipu, yang tadi dilihatnya naik taksi online dari rumah Kavana, ternyata ART Kavana yang berdandan ala Kavana. Memakai baju Kavana. Dayona geram, merasa dipermainkan.
Ditinggalkannya tempat itu dengan amarah yang membara. Dayona melajukan mobilnya bagai orang kesetanan.
Sementara tak jauh dari tempat kejadian, Obed tertawa bahagia. Rencananya telah berhasil mengelabui Dayona.
"Mam*** kamu, Dan! Sampai kapanpun jangan pernah berharap untuk bisa bertemu dengan Kavana!" kata Obed puas.
Diambilnya ponsel dan melakukan panggilan.
"Aman, Ed! Rencana kita berhasil!!!" pekik Obed kesenangan.
Sementara itu,
"Edna, dimana, Ed?" tanya Kavana setelah tiba di kediaman Gamaliel.
"Untuk sementara, Edna sedang ada di Villa. Dia perlu ketenangan untuk kesehatan kandungannya." jawab Edward.
"Bukan karena aku, kan?"
Edward menggeleng.
"Tidak, Va ... Oh ya, sebentar lagi Papa akan datang, kamu bisa beres-beres kamar kamu dulu." jawab Edward mengalihkan pembicaraan.
Kavana mengangguk. Dan meninggalkan Edward dan masuk ke kamarnya.
Edward menatap sekeliling rumahnya. Tampak lengang, sepeninggal Edna dan Bi Edah. Edna sudah tinggal di sebuah Villa.
Beberapa hari lalu,
"Ro, bisakah aku minta tolong?"
"Dengan senang hati, Ed" kata Hero tulus.
"Aku butuh Villa, untuk aku sewa beberapa bulan." terang Edward.
"Buat?" tanya Hero heran.
"Buat Edna, Ro."
Akhirnya, Hero menawarkan Villa keluarganya untuk ditempati Edna. Edward lega sudah melepaskan Edna ke tempat yang dia tahu pasti aman. Aman di tangan seorang teman.
__ADS_1