RONA CINTA

RONA CINTA
EPISODE 3


__ADS_3

Kehidupan di dunia kecil pada malam berguman, pada mimpi dan keheningan. Sepi ... terbungkam kabut putih. Namun berangsur – berangsur mulai terdengar. Semakin cepat ... cepat ... cepat .... cepat ... Dua motor meraung galak di tikungan patah. Dia ikuti para Skizofrenia itu. Ia larut ... Ia hanyut ....


 


Putaran kedua, Edward dan Dayona saling merapat ke tubuh motor. Jalanan bagai bayang – bayang lagi. Tak tampak jelas, di sana Edward merasakan gairahnya kembali sebagai jagoan.


Kalah berarti mati ....


Dayona tetap menempel 25 cm di belakangnya. Menghentak – hentakkan gigi gear-nya tanpa menyentuh kopling. 


“Tinggal satu putaran lagi ... biar kau ******, Dayona!!!” 


Terlintas di benak Edward kata – kata Dayona sebelum Darkrace terakhir.


“Datang sendiri, Ed?”


“Apa maksudmu??!!!” selidik Edward.

__ADS_1


“Nggak ada gebetan???” katanya sinis.


“Thanks udah nanya, but it's not your business man!”


“Ok ... ok pasti kamu nggak berani .... hahahaha, kamu masih seperti dulu Ed ... take it easy brad ... kita ini orang - orang bebas, kita bisa nentuin apa saja yang kita mau, kita perlu spirit man, untuk bernafas, untuk hidup ... hahahahaha ... Bertarung untuk apa kita mau!”


“Sejujurnya ya tapi aku berkata tidak” tegas Edward.


“Nah, pacari saja, habis perkara. Jangan pesimis lah sama masa lalumu tu ...”


“Dia dicintai sahabatku ...”


Edward diam. Dalam batinnya ia berkata, “Seandainya kamu tahu, Dayona, apa yang telah dia lakukan di belakangnya, membuat cewek yang dicintainya berpaling darinya, cewek yang kucintai adalah Kavana ... cewek yang di belakangmu itu ...."


-----------


Pukulan bertubi - tubi itu telah merobek pelipis Dayona, membuat hidung dan mulutnya mengalirkan darah segar, tetapi tidak ada sedikitpun keinginan untuk menghentikan aksinya itu.

__ADS_1


"Stop, Ed, stop!!!" Kavana menangis histeris, melihat Dayona sudah terkapar tak berdaya.


 


Suara Kavana membuat Edward membeku, kesakitan itu melumpuhkannya, bukan karena tangannya yang sakit, tapi hatinya. Cewek yang begitu dia cintai, sekarang sedang menangis untuk cowok lain, yang tak lain adalah Dayona.


Edward jatuh tersungkur dengan kedua lututnya. Ini kekalahan baginya. Ujung matanya melihat Kavana sedang memeluk Dayona. Panas itu masih membara. Atas nama harga diri, dan atas nama cinta ...


Dan hari itulah akhir dari pertemanan yang dipahami Edward sebagai persahabatan.


-----------


Tikungan patah tinggal beberapa langkah dan setelah itu mereka akan berpacu untuk meraih sapu tangan di garis finish. Tepat di tikungan, foot street Edward goreskan pada bibir jalan. Suara berdecit, berdecit khas, melengking menyorakkan mulut-mulut 200 meter di depan mereka.


Edward segera menyentakkan gigi motornya. Saat itulah terjadi kesalahan. Gigi gearnya tidak mau naik, tetap pada posisi semula sehingga motornya menderu di jalanan dengan suara bising serta mesin panas membara. Pada saat yang bersamaan, jalan Dayona terhambat.


Dua benturan tak terelakkan, keduanya terseret 200 meter di garis finish. Edward tergeletak bersimbah darah. Dayona terbakar bersama motornya. Di tengah-tengah impian maut mereka, terngiang suara mereka di waktu kecil,    

__ADS_1


“Ed... janji ntar kalau sudah gede kita harus jadi jagoan pembela kebenaran! Kaya Power Ranger, ya!, kita jadi jagoan bareng."


Edward terhenyak lemah, nafasnya tersengal, detak jantungnya tak beraturan ... darah serta kobaran api meriuhkan rasa menikam hati. Momen itu masih mendera di ruang kesenyapan, menancapkan penyesalan mendalam. Malam semakin larut, sementara Edward masih mengawang, mengejar bayang lain. Bayang-bayang delusi. 


__ADS_2