
Matahari sudah naik. Jam pendek tepat di antara angka 8 dan 9. Edward terbangun ketika di dengarnya suara nada panggil tanda pesan masuk di ponsel-nya. Dipaksanya untuk membuka matanya yang masih terasa berat. Dengan enggan dibukanya pesan itu. Dayona. Begitu membaca siapa yang mengirimkan pesan itu. Darahnya terasa mengalir lebih deras. Dengan segenap hati dibacanya baris - baris kalimat di layar ponsel-nya
Dayona:
Kegelapan malam ini ... aku harap kamu mau melukiskan panorama selepas senja di bundaran kota atau jalanan tempat biasa kita bertaruh. Sudah kutebar kanvas kita dan garis tipis. Hidup dan mati. Aku ingin melukis jalan itu dengan darah serta air mata kekalahanmu!
Tak diteruskan kalimat lainnya. Ini adalah tantangan. Edward memukul dinding dengan keras.
"Kurang ajar!!!" teriaknya.
Terakhir ia “lepas” dari hidup malamnya 2 tahun lalu. Tapi kali ini ia harus mengalahkan si penantang. Untuk semua luka yang sudah ditorehkannya, sebuah kepuasan, untuk harga diri, untuk masa lalunya, dan untuk balas dendamnya terhadap satu nama, Dayona. Ia ingin menghentakkan sepeda motornya. Ingin berlari di atas angin dan di atas garis tipis kemenangan atau kegagalan.
Masa SD
Dayona teman masa kecilnya, anak baru, pindahan dari luar kota. Saat itu, Edward kelas 3 SD. Dayona yang punya gaya pribadi intim berhasil jadi pusat perhatian seluruh teman di kelasnya. Edward si pendiam hanya menyaksikan si anak baru yang hari itu sedang membongkar isi tasnya dan membagi-bagikan hadiah untuk teman -teman sekelas.
"Ni, buat kamu!" kata Dayona ramah sembari menyodorkan sebuah motor mainan kepadanya.
"Makasih ..." jawab Edward singkat. Dayona berlalu dan kembali sibuk dengan hadiah lainnya.
__ADS_1
"Eeeh ... bagus sekali mainan kamu, Ed, tukeran dong! Aku mau yang itu!" Tiba - tiba Deven merebut mainan yang ada di tangan Edward.
"Jangan!!! Itu punyaku!" Edward berusaha mengambil kembali mainannya.
"Buat aku!!!!!" tangan Deven terus mencengkeram mainan Edward.
"Lepasin!!!" tiba - tiba Dayona datang dan membentak Deven, yang membuatnya tersentak dan mundur dengan takut.
"Kamu kan udah aku kasih, ini punya dia" tunjuk Dayona kepada Edward.
"Jangan ada yang berani ngambil ini dari dia!!!"
Kelas jadi hening. Itulah awal persahabatan ini dimulai. Sejak hari itu, Edward dan Dayona tidak terpisahkan. Lulus SD bersama, masuk SMP, SMA dan Kampus yang sama.
--------------
Waktu berputar cepat. Secepat roda sepeda motornya yang melaju menuju bundaran kota.
“Jam 11 ... masih ada waktu untuk berputar-putar” pikirnya. Di sana kenangan itu kembali. Masa lalu bersama kemenangan-kemenangan juga kekalahan yang dapat melayangkan nyawanya.
“Edward ...“ panggil seseorang. Edward tidak menoleh ketika didengarnya seseorang memanggil namanya. Ia tahu siapa pemanggilnya itu. Kavana. Matanya terlalu sibuk mencari si jaket hitam. Seseorang yang telah menulis pesan tantangan kepadanya.
__ADS_1
“Datang juga kamu, Ed?"
Edward berbalik. Menoleh kearah asal suara itu. Dayona di sana, sedang Kavana menggelanyut manja di belakang joknya.
“Aku tak akan pergi dari pelukanmu Ed, biar aku memelukmu seperti ini sepanjang hari.”
Edward mendengus. Di batinnya sedang memutar pita kaset memori suara Kavana sewaktu mereka camping di kaki Gunung Semeru.
“ 3 putaran!” tantang Edward.
“ Perempuan kamu, Ed, cuma 3?”
“ Kamu takut???”
“ Ciiiih ... siapkan kekalahanmu, brad ....”
“ Selamat datang ... loser!”
Mereka bersiap di atas sadel. Anak-anak malam bersorak menyaksikan kedua jagoan bersiap-siap.
“Kamu hanya perlu konsentrasi pada sapu tangan yang melayang, hanya itu! Lalu tancap gas dan kamu akan menang”
Masih terngiang suara Obed, di malam sebelum darahnya tercecer di 402 meter itu.
__ADS_1
Sapu tangan telah terbuang. Mesin motor menderu, melesat bagai anak panah, lepas dari busurnya. Anak-anak malam bersorak-sorai, jagoannya telah terbang mencari dunianya masing-masing. Di tempat inilah anak-anak malam bisa tertawa bebas, lepas dari siang yang panas menjemukan. Siang yang sering memojokkan jiwa dan hati mereka yang terlanjur tersakiti oleh keluarga dan keadaan.
Orang-orang hanya mampu mencerca mereka. Menindih hati mereka, tanpa mampu memahaminya. Bagaimana mungkin mereka bisa bertahan seorang diri? Bertahan dari dunia yang semakin membatasi ruang geraknya?