RONA CINTA

RONA CINTA
EPISODE 14


__ADS_3

Rumah Kavana,


Kavana menginjakkan kaki di rumah saat jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi.


Dayona masih tidur saat ditinggalkannya.


Kavana memasuki rumah yang masih dalam keadaan gelap. Dinyalakannya lampu dan televisi di ruang tengah. Mamanya pasti juga belum pulang.


Tak lama, terdengar bunyi pintu depan dibuka orang. Itu pasti mama, selepas bekerja. Tak lama terlihat Mamanya masuk sambil melempar tasnya sembarangan. Kali ini Mama terlihat sendirian. Mama Kavana adalah wanita cantik berumur 30 - an. Berkulit putih dan berbadan langsing, sehingga nampak cantik dibalut dengan gaun seksi berwarna hitam, lengkap dengan sepatu hak tinggi di kakinya yang dikenakannya hari itu. Terlihat Mama berjalan ke arahnya sambil sempoyongan, Kavana sudah tidak kaget, sudah menjadi pemandangan rutin setiap mamanya pulang. Mamanya selalu pulang setelah cukup banyak menenggak minuman beralkohol, membuatnya kehilangan kesadaran.


"Ma, kenapa sih tidak pernah dengar apa kata Vana ... berhenti, Ma berhenti! Mau sampai kapan mama seperti ini??!!" gerutu Kavana saat memapah Mamanya menuju kamar.


Mama malah tertawa mendengar gerutuan anaknya.


"Tahu apa sih kamu anak kecil, kamu tidak tahu Va, nikmatnya duniaaaa ini!!!" kata Mama sebelum tubuhnya ambruk di tempat tidur. Kavana melepas sepatu hak tinggi mamanya lalu menyelimuti tubuh Mama. Berharap mamanya cepat tidur dan cepat bangun dalam kondisi sadar. Namun, baru saja Kavana hendak beranjak menuju kamarnya, Mama kembali bangun dan kali ini dengan memuntahkan isi perutnya di lantai kamar.


Kavana segera pergi ke ruang belakang untuk mengambil kain pel dan ember yang diisi air. Setiap pagi inilah pekerjaannya. Mama pulang dalam kondisi mabuk, muntah dimana saja yang dia mau. Dan Kavana - lah yang harus membersihkannya.


Kavana dengan enggan membersihkan muntahan itu. Kali ini, ingin rasanya dia menangis. Sudah lelah dengan keadaannya. Lelah melihat mamanya terus berkecimpung di dunia malam. Dunia yang sudah menghidupinya. Memenuhi semua kebutuhannya. Bukan ini yang diinginkannya, hidup dari uang yang tidak halal.


Terkadang juga Mama pulang dengan membawa laki - laki yang berbeda dan sama sekali tidak dikenalnya. Para lelaki itu baru akan meninggalkan rumahnya setelah matahari tepat diatas kepala.


Itulah kehidupan Kavana yang sebenarnya. Hidup yang jauh dari kata bahagia ....


-----------------


Rumah Edna,


Edna tersenyum menatap dirinya sendiri di depan cermin. Sudah lebih dari satu jam dia duduk di depan meja riasnya.


"Cantik!" katanya sambil mengaplikasikan bedak remaja di wajahnya.


Dia sudah membayangkan betapa romantisnya kencan pertamanya hari ini. Pasti seromantis jadiannya tiga hari lalu ....


Waktu itu hari Minggu, saat semua orang meninggalkan dirinya sendirian di rumah, karena Edward, Bi Edah, Kang Ari pagi - pagi sudah pergi ke Car Free Day.


Edna memutuskan tidak ikut karena sedang kedatangan tamu bulanan, hari pertama yang menyakitkan.


Saat Edna sedang malas - malasan di sofa ruang TV, bel rumah berbunyi. Mau tidak mau Edna bangkit untuk membukakan pintu.


"Ya ..." sapa Edna pada seorang lelaki di depan pintu. Sepertinya seorang karyawan dari jasa pengiriman, terlihat dari logo di kemejanya. Lelaki itu tersenyum ramah.


"Ada kiriman atas nama Edna Gamaliel kak" jawab lelaki itu.


"Saya Edna, saya sendiri"


"Oh, kalau begitu bisa langsung diterima, Kak, kirimannya dan silahkan tanda tangan disini." tunjuk lelaki itu pada sebuah dokumen.

__ADS_1


Setelah menandatangi dokumen serah terima. Edna langsung menerima paket itu. Dengan heran dibawanya masuk dan mulailah pikirannya bertanya - tanya dari siapakah itu.


Ditimang - timangnya paket kecil berbentuk kubus itu. Dia mencoba memprediksi apa isi di dalamnya.


Rasa penasaran membuatnya membuka dengan tergesa. Setelah terbuka ... Tampaklah boneka beruang warna pink yang lucu. Tepat di dada beruang itu ada bentuk hati dengan huruf I. Tidak ditemukan kartu atau pesan di dalam paket itu, untuk menunjukkan siapa pengirimnya dan dengan tujuan apa. Padahal sudah sekitar 5 menit, Kavana mencari - cari di sekitar paket itu. Tapi hasilnya nihil.


Belum hilang rasa herannya, kembali bunyi bel rumah terdengar. Mau tidak mau, Edna segera meninggalkan ruang TV dan menuju ke pintu depan. Lagi - lagi ada lelaki dari jasa pengiriman hanya dengan logo perusahaan yang berbeda. Ritual pertama dilakoninya ulang, serasa dejavu.


"Makasih ya, Mas!" kata Edna seraya masuk kembali ke rumah.


"Ini ada apa, sih?" tanya Edna pada dirinya sendiri.


Padahal ini bukan hari ulang tahunnya. Semakin besar rasa heran disertai penasaran setelah tahu paket yang kedua. Sama dengan paket pertama, sebuah boneka beruang, hanya sekarang ukurannya sedikit lebih besar dan bentuk hati di dadanya ter-bordir huruf L.


Seharian itu, Edna disibukkan dengan menerima 8 paket yang semua isinya boneka beruang dengan berbagai ukuran dan bordiran huruf melekat di masing - masing boneka. Mata Edna mengerjap - ngerjap takjub saat melihat boneka - boneka di depannya itu. Namun kali ini, di boneka terakhir yang didapatnya, boneka yang ukurannya sebesar badannya, terdapat kartu dengan sebuah pesan singkat.


Pesan:


Urutkanlah sesuai ukurannya, dari yang terkecil sampai yang terbesar.


Hanya itu isi pesan didalam. Dan dengan lugunya, Edna melakukan sesuai pesan itu, dan tanpa dia sadar boneka - boneka itu membentuk sebuah kalimat I LOVE YOU!!!


Edna semakin melongo.


Kriiiiiiing!!!! Kali ini bunyi telepon rumah nyaring terdengar. Edna sampai terperanjat saking kerasnya.


"Halo, kediaman Gamaliel disini ... Ada yang bisa saya bantu?" ucap Edna setelah menempelkan gagang telepon di telinganya.


Lalu di seberang sana terdengar seseorang memainkan gitar sambil bernyanyi:


*Aku tak tau apa yang lain


Darimu hari ini


Apa itu karena sepatu flatmu?


Atau kukumu


Yang baru kau warnai?


Pernahkah kau bertanya


Seperti apa bentuk air tanpa wadah?


Pernahkah kau mengira


Seperti apa bentuk cinta?

__ADS_1


Rambut warna warni bagai gulali


Imut lucu walau tak terlalu tinggi


Pipi chubby dan kulit putih


Senyum manis gigi kelinci


Membuatku tersadar


Bentuk cinta itu


Ya kamu


(Bentuk Cinta - Eclat Story*)


Edna hanya bisa bengong. Masih belum memahami semua ini. Gadis cantik itu hanya terdiam setelah nyanyian itu berhenti. Tak bisa bereaksi apapun.


Lalu suara seseorang kembali terdengar.


"Edna, kamu masih disana? Ini Abang, abang cuma mau tanya, Edna mau ya jadi pacar abang?". Tut tut tut. Sambungan telepon ditutup.


Abang? Ya itu suara Abang !!! Nembak aku?


"Whaaaaaatssss!!!" pekik Edna girang. Dia melompat - lompat kegirangan di tempatnya. Dan mulai berteriak - teriak histeris seperti orang gila. Untung, tidak ada seorangpun yang melihatnya.


Edna tentu sangat bahagia setelah dia tahu rasa sukanya ternyata dibalas oleh cowok yang sejak beberapa bulan ini diimpikan menjadi oppa - nya.


Tak perlu menunggu lama, Edna mengambil ponselnya. Dicarinya nomor Abang dan mulai mengetik sebuah pesan teks disana.


Edna:


Ya bang ... Edna mau ....


Si penerima pesan meneriakkan kata, "Yes"! Kelinci kecilnya sudah memakan umpannya.


Tinggal tunggu disantapnya. Seringainya puas.


----------------


Selamat membaca semua!


Semoga suka dengan ceritanya,


Jangan lupa like, rate dan vote ya,


karena itu membuat saya semangat nulisnya! 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2