RONA CINTA

RONA CINTA
EPISODE 18


__ADS_3

Kantor Papa,


Semalam, Edward sudah menghubungi Papa dan membuat janji temu.


Edward mengetuk pintu kantor Papanya, begitu sampai di sana.


Dan terdengar suara dari dalam, "Masuk!"


Edward segera masuk dan mendapati Papanya sedang merapikan berkas yang berserakan di meja kerjanya.


"Sudah sampai kamu, Ed?" Edward mengangguk.


"Ayo, duduk!" ajak Papa, walau lebih terdengar sebagai sebuah perintah.


"Iya, Pa ..." Edward mengikuti Papa untuk duduk di sofa tamu.


Ketika hendak menuju sofa, Edward baru menyadari bahwa disana sudah duduk, seorang wanita cantik yang sedang sibuk menyiapkan berbagai macam makanan di atas meja.


"Hai, Ed ... Apa kabar?" sapa wanita itu.


"Tante Velila, ada di sini juga?" Edward tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Seingatnya, Tante Velila adalah pengusaha di bidang fashion, bukan property, jadi tidak mungkin ada hubungan kerja antara Tante Velila dan Papa.


"Iya, Papa kamu tadi undang Tante untuk makan siang disini, Papa kamu bilang anak - anak mau datang, jadi sekalian saja, benar kan, Mas?" Tante Velila berpaling ke Papa yang dibalas dengan anggukan kecil.


"Tidak masalah kan, kalau kita makan bersama? Eh, mana Edna, Ed? Tidak ikut? Papa baru menyadari Edward hanya datang sendiri.


"Begini, Pa ..." Edward baru akan menjelaskan kedatangannya, Tante Velila sudah memotong perkataannya,


"Sudah ... Nanti saja bicaranya! Sekarang kita makan dulu. Keburu dingin, lho!"


"Wah, jadi lapar aku La, sepertinya enak makan siang kita ...." Papa langsung mengambil piring dan menyendok nasi.


"Ayo, ambil piringnya, Ed!" perintah Papa lagi.


Tante Velila dengan cekatan melayani Papa. Mereka tampak akrab dan "mesra" dalam pandangan Edward. Tapi Edward tidak menghiraukan akan hal itu.


Mereka makan bersama dalam suasana santai dan hangat, bagi Papa dan Tante Velila saja tentunya. Edward sendiri, justru tidak bisa menikmati menu makan siang yang disajikan itu. Pikirannya melayang ke rumah, mengingat Edna yang masih terbaring sakit.


"Pa, Edna sakit ... Dia terus mengigau menyebut nama Papa" akhirnya kesempatan untuk mengutarakan maksud kedatangannya itu tiba.


"Edna sakit? Sakit apa?" tanya Papa tenang, tidak ada raut kecemasan disana. Itulah Papa, sifat inilah yang sepertinya diwariskannya kepada Edward. Dingin.


"Demam, Pa ... Sejak semalam. Bisakah Papa datang sebentar untuk Edna?" pintanya.


Papa menghela nafas, "Oke, nanti selesai kerja, Papa akan pulang ke rumah" jawab Papa yang melegakan Edward.


"Edna sudah dibawa ke dokter, Ed?" tanya Tante Velila berusaha menunjukkan perhatian.


"Sudah saya ajak, Tante ... Tapi Edna belum mau" jawab Edward.


"Mas, nanti bujuk Edna buat berobat, ya? Bahaya kalau demam dibiarkan lama - lama. Jangan sampai seperti Dana, kadang sampai kejang kalau sedang demam. Oh ya, Ed ... Dana apa kabar?"


Edward sedikit terkejut, tidak siap ditanya tentang Dayona.

__ADS_1


"Oh, Dayona sepertinya baik - baik saja, Tante." jawabnya datar. Enggan berkomentar lagi tentangnya.


Tante Velila hanya manggut - manggut.


Setelah berbasa - basi sepantasnya, Edward segera meminta diri. Dia meninggalkan kantor Papanya dengan hati lega. Papa mau datang untuk Edna. Itu sudah cukup baginya. Tanpa memusingkan ada hubungan apa antara Papanya dan Tante Velila.


-----------------------


"Plaaak!!!" Fleta menampar pipi Dayona keras.


Dayona meringis, merasakan panas akibat tamparan itu.


"Dan, apa salahku? Sampai kamu tega, melakukan ini ke aku?" tanya Fleta bergetar, menahan amarah.


Siang itu, Fleta sengaja menemui Dayona di Apartemennya. Untuk membuat perhitungan setelah di dapatinya, Dayona menjalin kasih dengan cewek lain, dibelakangnya.


Dayona menatap Fleta lekat. Tamparan tadi mengusik harga dirinya sebagai laki - laki.


"Kalau hal ini, jadi masalah buat kamu, kamu bisa pergi jauh dari hidupku!!! Apa yang aku lalukan bukan urusanmu lagi, Ta ... Ingat kita sudah putus!!!" gertak Dayona.


Setelah, kejadian Fleta memberitahu Edward, tentang Dayona dan Kavana nonton bareng, Fleta dan Dayona sempat bertengkar hebat. Waktu itu, kata putus terlontar dari mulut Fleta.


"Brengsek kamu, Dan!!!!! Aku benci kamu!" jerit Fleta histeris.


Dayona tak memperdulikan Fleta lagi. Dan memilih untuk pergi meninggalkannya.


Fleta tidak mengerti apa salahnya. Sampai, Dayona tega mengkhianatinya. Dan kini, mencampakannya begitu saja, setelah semua sudah diberikannya pada cowok itu.


Fleta menangis pilu.


-------------------


Janji tinggallah janji ....


Sudah pukul 11 malam. Namun, Papa tidak kunjung datang. Sedangkan Edna, masih belum membaik.


Malam itu, Edward bertekad membawa Edna ke Rumah Sakit.


Setelah, dipaksa dengan berbagai macam cara, akhirnya Edna menurut.


Sesampainya di Rumah Sakit, Edna segera mendapatkan perawatan medis. Kondisinya sekarang, membuat Edna harus dirawat inap di Rumah Sakit. Setelah, memastikan Edna sudah mendapatkan semua fasilitasnya, Edward berpamitan kepada Bi Edah, untuk membeli beberapa bungkus makanan sebagai teman begadang menjagai Edna.


Saat keluar, menuju Minimarket Rumah Sakit, Edward melihat sosok yang dikenalnya, duduk sendiri di depan Ruang ICU. Wajahnya terlihat sangat cemas, juga sedih. Edward sedang menimbang - nimbang apa yang harus dia lakukan, saat seorang Suster menabraknya tiba - tiba.


"Maaf kak, maaf ya ..." kata Suster itu. Dia tampak buru - buru menuju Ruang ICU.


Terlihat kemudian Suster itu, berbicara dengan Kavana. Setelah, mendengar penjelasan Suster, tampak Kavana kebingungan.


"Va, kamu disini?" Akhirnya, rasa kemanusiaan mengalahkan ego Edward. Dia memutuskan untuk mendekati Kavana, mencari tahu apa yang terjadi.


"Ed, kamu disini, juga? Siapa yang sakit?" Kavana tampak terkejut dengan kedatangan Edward.


"Edna" jawabnya singkat. Wajah Kavana tampak menegang, saat mendengar Edna sakit.

__ADS_1


"Kalau kamu, siapa yang sakit?" imbuhnya.


"Mama, Ed ... Edna sakit apa?"


"Demam sudah 2 hari, Mama kamu sakit apa?" Edward kembali bertanya perihal Mama Kavana.


"Sirosis, Ed" jawabnya sedih.


"Lalu?" Edward menyelidik.


"Mama harus melakukan cangkok hati, untuk tetap bertahan hidup" Kavana tampak makin sedih.


Selalu, saat berhubungan dengan seorang Mama atau Ibu, Edward seperti kembali ke masa, dimana Mamanya pernah berjuang melawan penyakitnya.


"Ed, bisakah aku mengunjungi Edna?" pinta Kavana.


"Silahkan ..." Edward mempersilahkan.


Pertemuan mereka, hanya sebatas itu.


Bagai orang asing yang hanya kenal sepintas lalu.


Cerita antara mereka memang telah usai, tetapi tidak dengan hati mereka. Namun, hanya merekalah yang tahu.


--------------------


Dayona memandang keluar jendela. Tanpa mau melihat Mama yang berada di depannya.


"Beri kesempatan Mama untuk memperbaiki semua, Dan ... Ayo, kita mulai dari awal lagi, kamu, Mama dan ..."


"Lelaki baji**** itu? Iya, Ma?????!!!!" sahut Dayona cepat. "Aku tak sudi!!!!!" ucap Dayona sinis.


"Tutup mulut kamu, Dan! Tidak sopan kamu bicara begitu!" hardik Mamanya, tidak suka.


"Kenapa, Ma? Mama marah sekarang? Marah karena aku menyebutnya begitu? Kalau bukan baji**** lalu bagusnya disebut apa, Ma? Mama perlu tahu, sekarang!!!! Dia lelaki yang membuat Mama meninggalkan Papa! Dia juga yang membuat Papa depresi lalu GANTUNG DIRI, tahu Mama???!!!!


Mata Mama terbelalak.


"Apa, kamu bilang, Dan??? Co ... co ... ba, kamu katakan lagi, Papa kenapa, Dan?" Mama masih belum percaya, atas apa yang diucapkan anaknya itu.


"Papa meninggal bukan karena serangan jantung, Ma ... Papa bunuh diri, puas???"


Perkataan Dayona membuat tubuh Mama lemas. Seketika itu, Mama kehilangan kesadarannya, karena shock.


Sementara, di balik sekat ruang VIP resto, Alditira Gamaliel berdiri mematung. Apa yang didengarnya sangat mengejutkannya.


Kini, dia berada di ambang pintu benar atau salah.


---------------------


Terima kasih sudah support Rona Cinta,


terus bantu like, rate dan vote ya 😁

__ADS_1


Selamat membaca semua 💜💜💜


__ADS_2