
Di Base Camp,
Pengkhiatan Kavana ini meluluh lantakkan semua hal positif dalam diri Edward. Dia menjadi pemarah.
"Aku sudah kasih tahu kamu sebelumnya kan, Ed, tapi kamu tidak percaya!" itu suara Obed yang baru masuk ke ruangan lantai 2 sebuah Kafe yang mereka sebut base camp.
Sedang Javas dan Reval masih menyimak penjelasan Edward kenapa dia memukuli Dayona.
"Jadi kamu sudah tahu sebelumnya?" tanya Reval kepada Obed.
Obed mengangguk asal, "Ya, begitulah ..."
"Dari mana kamu tahu?" kini Javas yang menginterogasinya.
Obed menarik nafas berat, enggan rasanya menceritakan semuanya.
"Kalian masih ingat waktu syukuran kesembuhan Mama kamu, Javas?" ujar Obed dengan pandangan berputar kepada semua teman - temannya.
Semua mencoba mengingat dan me-reka ulang adegan yang ada. Obed menceritakan semuanya. Termasuk peringatan yang sudah diberikannya kepada Kavana.
"Anj*** sudah lama banget, tu!!!" umpat Javas.
"Ya, sudah sejak itu, mereka main di belakangku! Dan penyesalanku kenapa selama ini aku tidak mau dengar kamu Bed!" keluh Edward.
"Tapi kali ini kamu harus tetap gunakan akal sehat, bro!" Reval mengingatkan.
"Aku akan buat perhitungan lagi dengan kepar*** itu!" kata Edward dalam kemarahannya yang masih membara.
Dan sore itu, menjadi awal hari dimana perseteruan Edward dan Dayona tidak akan ada habisnya.
------------------------
Dayona membaringkan tubuhnya dibantu oleh Kavana.
Mukanya lebam, pelipis dan bibirnya sobek mengeluarkan darah. Edward menghajarnya tanpa ampun tadi. Tubuhnya memang sakit, tetapi ada kepuasaan di hatinya, ini adalah balasan yang setimpal buat Edward. Pasti sangat sakit melihat Kavana, pacarnya sendiri memilih membelanya.
"Kamu ini kenapa? tadi tidak melawan sama sekali?" kata Kavana sambil ikut meringis saat mengobati luka Dayona.
"Untuk apa?" sahutnya enteng. Membuat Kavana membelalakkan matanya.
"Untuk apa kamu bilang? Untuk menjaga ini, ni! Muka kamu! supaya tidak bonyok kayak ini!! tunjuk Kavana pada muka Dayona.
Dayona hanya terkekeh.
"Aku puas banget lihat dia hancur kayak tadi, Va!"
__ADS_1
"Sampai kapan kamu mau seperti ini, Dan ... kamu kan sudah dapat apa yang kamu mau, sekarang aku sudah menjadi milik kamu" ucap Kavana sambil ikut berbaring di samping Dayona dan memeluk cowok itu.
Dayona menyeringai. "Belum Va, sebelum dia hancur, aku tidak akan berhenti" katanya dalam hati.
------------------
Beberapa hari sebelumnya,
"Ini apa?" tanya Kavana setelah Edward masuk ke rumahnya sambil melemparkan sesuatu di pangkuannya.
Edward tidak menjawab, tetapi dari sorot matanya Kavana mulai membaca sepertinya ada yang tidak beres.
Dilihatnya dengan seksama yang tadi dilemparkan Edward. Tiket Bioskop.
"Lalu? Edward tidak mengajaknya nonton, kan kali ini? Tunggu! Tiket ini sudah terpakai. Tiket? Tanggalnya? Jamnya? Judul Filmnya? Studionya? Tempat duduknya?" Kavana mulai menyadari sesuatu. Deg. Jantungnya berdetak lebih kencang kali ini.
"Ed, ini apa?" tanyanya lagi dengan suara sedikit bergetar.
"Sejak kapan, Na?" tanya Edward dingin, seperti biasanya.
"Apanya yang kapan Ed, aku nggak ngerti!" elak Kavana berusaha tetap tenang.
"Sejak kapan kamu sama Dayona?"
Kavana membeku. Edward sudah tahu. Hanya itu yang ada di pikirannya. Dan inilah harinya, hari dimana dia akan melepaskan Edward. Seperti janjinya pada Dayona.
"Ed ... maafkan aku, lebih baik kita putus!” Kata Kavana lagi.
Lama Edward diam. Lama sekali. Perasaannya terlalu sensitif untuk mendengar kalimat itu keluar dari mulut Kavana, kekasihnya. Di tengah tersekatnya kerongkongannya, Edward melirih ....
"Aku tak pernah menginginkan semua ini terjadi. Dan tak pernah memimpikannya. Tapi kalau itu yang kamu mau ... Baik kita putus." Edward berdiri dan meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi. Meninggalkan rumah ini, sang pemilik rumah ini selamanya. Itu tekadnya.
Kavana menarik nafas menahan tangis. Dia memegangi dadanya yang sesak.
"Bukan ini yang aku mau Ed, aku terpaksa melakukan ini, demi kebaikanmu ... aku sayang kamu ..."
----------------------
Beberapa bulan yang lalu,
Kavana sudah terjerat cinta terlarang. Dayona benar - benar mampu mengalihkan dunianya. Dan sekarang, pergi ke Apartemen Dayona menjadi rutinitasnya. Setelah mamanya pergi bekerja, dia akan bergegas memesan taksi online untuk mengunjungi cowok itu, bahkan bermalam disana.
Kavana menghentikan langkahnya tiba - tiba. Tak percaya pada apa yang dilihatnya. Di depan pintu Apartemen, tampak Dayona sedang berbicara dengan seseorang. Dan itu cewek. Bukan ... bukan bicara, tetapi ciuman. Mereka sedang berciuman. Dan cewek yang sedang ******* bibir Dayona dengan mesra adalah Edna. Adik Edward.
Saat itu, ingin rasanya Kavana menghilang atau melesak ke dalam kerak bumi. Tapi dia tidak bisa, buktinya dia hanya diam disitu, kakinya seperti terpaku, menyaksikan semuanya. Namun, ketika kesadaran Kavana mulai kembali, dia berjalan mundur dan memilih menyembunyikan diri di sebuah celah kecil dekat lift. Pikirannya berkecamuk. Ternyata dia bukan satu - satunya bagi Dayona. Itu tak jadi soal, karena dia juga melakukan hal yang sama. Tetapi kenapa harus Edna? Kenapa tidak cari cewek yang lain. Kavana tidak habis pikir dengan hal itu.
__ADS_1
Tak berapa lama pintu lift terbuka. Dan didengarnya,
"Bye sayang ... Take care ya! Nanti kasih kabar kalau sudah sampai!" itu suara Dayona.
"Siap sayang ... See you!" sahut Edna.
Kavana meradang. Setelah pintu lift tertutup, Kavana bergegas meninggalkan tempatnya bersembunyi dan bergegas ke tempat Dayona untuk membuat perhitungan dengannya.
"Apa yang sudah kamu lakukan, Dan? Kamu gila!" hardik Kavana galak.
Anehnya Dayona malah nyengir.
"Kamu lihat tadi ya? Sorry ... Buat selingan saja Va, memang hanya kamu saja yang bisa jadikan aku selingan!" sindir Dayona.
"Kenapa harus Edna? Kamu bisa dengan yang lain, Dan! Kenapa Edna?" tuntut Kavana.
"Memang kenapa kalau Edna? Kamu tidak suka????!!! Karena dia adiknya pacar kamu???!!!" Dayona mulai tersulut.
"Sudah kamu apakan Edna, Dan? Dia masih kecil, anak baik-baik ..." Kavana menatap Dayona tajam. "Lepasin Edna, Dan .... please??? Aku mohon???" kini mimik muka Kavana berubah, berganti dengan wajah memelas. Kavana tahu betapa Edward menyayangi Edna. Edward menjaga Edna dengan seluruh hidupnya, demi memenuhi amanat dari Mamanya.
"Kalau aku tidak mau?" jawab Dayona.
"Apapun yang kamu mau, akan aku lakukan Dan, asal kamu melepaskan Edna!" kata Kavana lagi.
Dayona mendengus tak suka.
"Oke ... Aku akan melepaskan Edna, asal kamu juga melepaskan Edward! Itu yang aku mau!" tegas Dayona.
Kavana tidak terkejut mendengar ucapan Dayona. Sepertinya dia sudah bisa membaca maksud Dayona. Dayona sengaja membuatnya melihat kejadian di depan pintu tadi. Dayona bukan tidak tahu kalau dia akan datang ke Apartemennya. Semua sudah sengaja di-setting-nya. Tujuannya adalah membuatnya putus dengan Edward.
Kavana menghela nafasnya berat.
"Oke ... Aku akan melepaskan Edward. Tapi beri aku waktu untuk melakukannya ... Dan kamu, Dan, kamu harus menepati janji kamu!" kata Kavana akhirnya.
Dayona tertawa penuh kemenangan.
"Oke deal!"
Hari ini, dia melihat sisi Dayona yang lain. Licik. Membuatnya bergidik. Seseorang yang dikenalnya sangat menyenangkan dan penyayang ternyata memiliki sifat yang kejam. Kavana mulai ragu, sisi ini sifat aslinya-kah? Atau sifat yang itu sifat aslinya? Siapa Dayona? Lebih tepatnya ada apa dengan Dayona?
Kavana akan menyelidikinya ....
----------------
Terima kasih yang sudah setia membaca, bagi terus boomlike dan vote-nya ya ...
__ADS_1
Selamat membaca! 💜💜💜