
Edward berdiri menatap langit sore, di balkon kamarnya. Dilihatnya magic hour tergambar di sana. Membuatnya semakin takjub akan karya Sang Pencipta. Namun, keindahan transformasi warna alam itu, tak bisa menepikan kegelapan yang sedang menghadang di depannya. Masa depan, Edna. Tanggung jawab yang harusnya dipikul Papa Alditira, sekarang harus dibebankan di pundaknya.
"Mas, ada Pak Alditira di bawah," kata Bi Edah di balik pintu kamarnya. Suaranya yang lantang, mendistraksi keasyikannya menikmati langit senja.
"Ya, Bi ... Aku segera turun. Makasih, Bi." jawab Edward setelah membuka pintu.
"Sama-sama, Mas ..." Bi Edah beranjak dari tempatnya.
Edward segera menemui Papanya. Tampak Papa sudah duduk di Ruang Keluarga bersama Edna.
"Ed, kamu sudah sehat?" tanya Papa.
"Sudah, Pa" jawab Edward ikut duduk di samping Papanya.
"Papa ingin bicara sama kalian berdua" terdengar nada sedih dalam kalimat Papa. Ditatapnya kedua anaknya.
Edward memperhatikan mimik muka Papa yang mengeras, menahan emosi.
"Papa tidak menyangka hal seperti ini bisa terjadi pada kalian, Papa sangat menyesal ... Maafkan Papa, Nak" kalimat itu bagai air segar yang mengalir dalam jiwa Edward dan Edna. Kata-kata yang ingin mereka dengar sejak lama. Dan tanpa di duga Papa yang sekeras baja itu, menitikkan air mata di depan kedua anaknya. Edna tak kuasa menahan tangisnya dan segera menghambur memeluk Papa.
Sedang Edward hanya menggeser badannya dan berusaha merangkul Papa dengan kaku. Hal yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya. Hari itu, menjadi sejarah baru dalam kehidupan mereka.
---------
Sebelumnya di Apartemen Dayona,
Papa Alditira mencengkeram kerah baju Dayona. Matanya merah karena amarah.
"Kamu apakan Edna????" hardiknya.
Dayona mencibir, "Untuk apa Anda tanya saya???!!! Itu bukan urusan saya." jawab Dayona berusaha melepaskan diri dari Papa Alditira.
"Dasar anak kurang ajar!!!!"
Sebuah pukulan mendarat di wajah Dayona, membuatnya terhuyung ke belakang.
"Kalau saya kurang ajar, bagaimana dengan Anda?!!! Ngaca Anda!!!" balas Dayona.
Tanpa berkata-kata lagi, Papa Alditira kembali melayangkan pukulannya, tetapi kali ini ada tangan Mama Velila yang menahannya.
"Berhenti, Mas ... Apa yang kamu lakukan sama anakku?" Tiba-tiba Mama Velila sudah berdiri diantara mereka berdua.
"Dia kurang ajar, La! Biar aku kasih dia pelajaran!" kata Papa marah.
"Karena Dayona pernah memukul kamu, lalu kamu mau membalasnya, iya Mas? Apakah itu maksud, kamu? Dia anak aku, Mas ... Jangan lagi kamu main kasar sama dia! Semua bisa dibicarakan baik-baik," seru Mama Velila garang.
"Kamu bisa bicara seperti itu, karena tidak tahu apa sudah dia perbuat, La!" desis Papa.
"Katakan sama aku sekarang! Apa???" tantang Mama Velila.
Dayona hanya menyaksikan kedua orang dewasa itu adu mulut. Ingin sekali pergi dari situ, tetapi tangan Mama Velila yang sejak tadi memeganginya, membuatnya tidak bisa kemana-mana.
__ADS_1
"Dia ... dia menghamili Edna!" tunjuk Papa Alditira pada Dayona.
Mama Velila tersentak. Limbung. Balik menatap Dayona tak percaya.
"Benar itu, Dan?" tanyanya.
Dayona memalingkan mukanya, menghindar dari tatapan Mama Velila.
"Jawab, Dan!" tanyanya tajam. "Jawab!!!!" kali ini suara Mama Velila terdengar menggelegar.
"Ya, Ma ... Aku hamili Edna, puas???!!!!" jawab Dayona keras.
"Ya Tuhan, Dana ..."
Lutut Mama Velila terasa lemas, serasa tak bertulang, lunglai karena mendengar jawaban anaknya.
"Kamu dengar sendiri, La ... Anak kamu yang kurang ajar itu sudah merusak anakku!" Papa Alditira bersuara kembali.
"Hei, Anda!!! Ingat ya ... Apa yang sudah Anda lakukan pada Papa! Sudah tahu kan rasanya bagaimana sakitnya kalau keluarga kita dirusak????? Hah!!!!!!" semprot Dayona tak mau kalah.
"Baji**** kamu, Dan!!!! Inikah hasil didikan dari Papa kamu yang kamu bangga-banggakan itu???!!!!"
"Tutup mulut, Anda! Jangan pernah bawa-bawa Papa saya!!!!" Dayona semakin naik pitam. Dengan marah diterjangnya Papa Alditira. Sampai terjatuh. Dayona sudah siap untuk serangan berikutnya. Namun, sebelum Dayona bertindak lebih jauh, Mama Velila kembali menjadi penghalangnya.
"Berhenti, Dan ... berhenti kalian!!!!" teriaknya.
"Ma ... Lepaskan Dana! Biar Dana hajar dia!!!"
"Haaaaaaaaah" teriak Dayona frustasi.
"Mas, sebaiknya kamu pergi dulu! Nanti kita bicara lagi!" kata Mama Velila kepada Papa Alditira yang sudah bangkit.
"Ini belum berakhir, La ... Dan kamu!" tunjuk Papa pada Dayona. "Saya akan tuntut kamu!"
"Lakukan yang Anda mau!!!!" jawab Dayona tanpa rasa gentar.
"Sudah, Mas ... Pergilah?!!" sergah Mama Velila agar Papa Alditira tidak bicara lagi.
"Urus anak kamu itu, La!" kata Papa tajam sambil melangkahkan kaki keluar dari Apartemen.
Setelah Papa Alditira pergi, Mama Velila tak berbicara apapun. Hanya diam membisu. Menatap kosong. Dayona tak peduli. Kemarahannya masih menyala-nyala. Disambarnya kunci motor dan jaket, kemudian meninggalkan Apartemen dengan motornya.
"Ini harus aku selesaikan malam ini!" batin Dayona. Dia sudah mengirimkan pesan tantangan untuk seseorang.
To. Edward
Kegelapan malam ini ... aku harap kamu mau melukiskan panorama selepas senja di bundaran kota atau jalanan tempat biasa kita bertaruh. Sudah kutebar kanvas kita dan garis tipis. Hidup dan mati. Aku ingin melukis jalan itu dengan darah serta air mata kekalahanmu!
Dayona yang terhina dengan semua perkataan Papa Alditira, ingin membalasnya dengan lawan yang sepadan di Arena Balapan.
---------
__ADS_1
Kecelakaan itu, membuat Edward harus mendapatkan perawatan yang cukup lama. Kini, setelah dinyatakan bisa menjalani rawat jalan, Edward harus menggunakan kursi roda, akibat dari kakinya yang patah.
Edward banyak menghabiskan waktunya di kamar tamu. Dia harus rela meninggalkan kamarnya yang di lantai dua, karena kondisinya yang tidak memungkinkan.
Sore itu, Obed datang mengunjunginya.
"Bed, bagaimana dengan Dayona?" pertanyaan ini akhirnya keluar dari mulut Edward setelah sekian lama ditahannya.
Obed menghela nafas panjang. Terasa enggan untuk menjawab.
"Parah, Ed ..." jawab Obed pendek.
"Oooo" hanya itu respon Edward.
"Ed, lebih baik kamu mikirin kesembuhan kamu dulu, tidak usah mikir yang lain-lain, apalagi mikirin si bang*** itu" kata Obed lagi.
Edward mengangguk setuju. Benar kata Obed, setelah pulih ada banyak hal yang perlu dia pikirkan dan kerjakan. Edna, kuliah dan usahanya adalah target utamanya.
"Hei, Ed!" sapa Reval saat masuk ke kamar Edward, disusul Javas yang langsung merangkulnya.
"Syukurlah, kamu sudah jauh lebih baik, Ed ... Si Dayona baru tadi pagi tu dibawa ke Singapura untuk lanjut berobat," cerocos Javas setelah menjatuhkan pantatnya di ranjang.
"Bacot banget tu mulut!" umpat Obed sambil melempar Javas dengan bantal kursi.
"Apaan???" tanya Javas tak mengerti.
Lalu tersadar setelah melihat Reval melirik Edward, memberinya kode tertentu.
"Sorry, Ed ... Tidak bermaksud untuk ..." Javas tak melanjutkan perkataannya, setelah melihat Obed melotot kepadanya.
"Santai aja, bro ... Aku baik-baik saja." kata Edward akhirnya.
Membuat ketiga temannya bernafas lega.
Semenjak hari itu, tidak ada lagi pembahasan tentang Dayona diantara mereka. Untuk menjaga perasaan Edward tentunya.
Sebaliknya, justru pikiran Edward sedang tertuju kepada Dayona.
"Bagaimana dia? Syukurlah kalau dia baik-baik saja" itu yang ada di pikirannya.
Kebenciannya kepada Dayona belum pudar, namun ada setitik kepedulian masih bertengger di nuraninya. Kepedulian seorang manusia kepada sesamanya.
--------
Terima kasih sudah setia membaca Rona Cinta.
Rona Cinta ini inspirasinya dari banyak kehidupan di sekitarku.
Semoga makin bisa dinikmati, ya ...
Jangan lupa untuk dukung Novel ini dengan kasih like, tinggalkan jejak di komen, rate dan vote ya ...
__ADS_1
Sekali lagi terima kasih semua 💜💜💜