
Edward memicingkan mata, begitu melihat omset Coffee Shoop dalam minggu ini yang mengalami penurunan secara drastis. Laporan keuangan yang baru saja diserahkan Gweni kepadanya, membuat kepalanya sedikit berdenyut.
"Sudah berapa lama, Gwen?" tanya Edward sambil mengamati mimik muka Gweni yang sejak tadi duduk di depannya dengan tatapan sedih.
"Sudah seminggu, Mas."
"Kamu sudah cari tahu kira-kira apa sebabnya?" tanya Edward ragu, karena ini jelas bukan tugas Gweni, harusnya dia bertanya pada Hero.
"Sepertinya karena ada Kafe baru di daerah sini juga, Mas. Kafe itu sedang ada discount gede." Gweni tampak sebal.
"Kok kamu tahu?" selidik Edward.
"Promo-nya santer di medsos, Mas. Namanya Kafe Eksotik." terang Gweni.
"Okay ... Makasih infonya ya, Gwen. Kamu bisa kembali bekerja."
"Ya, Mas. Saya ke depan dulu." Sepeninggal Gweni, Edward segera menghubungi Hero. Dia meminta Hero segera ke Coffee Shoop untuk membicarakan situasi yang terjadi.
Sambil menunggu Hero, terlintas di benak Edward untuk mencari tahu kebenaran tentang Kafe baru di daerah Coffee Shop Gamaro itu.
"Gwen, saya keluar dulu, nanti kalau Hero sudah sampai disini, suruh tunggu sampai saya datang." kata Edward dan dibalas anggukan oleh Gweni.
---------
Edward mengamati Kafe baru yang berjarak kurang lebih 500 meter dari Coffee Shoop-nya.
Bangunan putih dengan interior minimalis modern terpampang di depannya. Tulisan Eksotik menggantung manis di dinding depan Kafe itu. Benar kata Gweni, di Kafe ini sedang ada discount, sehingga ramai pembeli. Baliho-baliho besar di sekitar Kafe itu menuliskannya.
"Selamat datang di Eksotik." sapa seorang pelayan perempuan begitu Edward masuk.
Edward mengangguk dan menarik bibirnya sedikit, hingga senyum tipis menghiasi wajah sempurnanya.
"Sudah reservasi, Kak?" tanyanya lagi.
Edward menggeleng.
"Kalau begitu akan saya antar ke meja yang masih kosong. Untuk berapa orang, Kak?"
"Saya sendiri saja." jawab Edward singkat.
Tanpa kehilangan senyum ramah, pelayan itu mengawal Edward sampai ke meja yang masih kosong.
"Sebentar menu akan diantar kesini ya, Kak." kata pelayan itu sebelum berlalu.
Mata Edward menjelajahi seluruh ruangan, memindai dengan netranya kelebihan dari design interior Kafe ini. Jelas selera pemilik Kafe ini, tidak sembarangan. Pasti penyuka seni. Dilihat dari tata ruangan yang begitu eksotik, sesuai namanya.
"Ini menunya, Kak. Mau pesan apa?" kata pelayan yang sudah kembali lagi.
"Boleh ditinggalkan dulu? saya akan memilih-milih dulu."
"Oh, silahkan, Kak. Saya tinggal dulu. Apabila sudah bisa menekan pager ini."
Edward mengiyakan. Lalu Edward mulai membolak-balik menu Kafe ini. Menunya sangat variatif dan tampilannya mengundang selera. Edward harus mengakui bahwa Kafe ini sangat menarik. Setelah menemukan apa yang ingin dipesannya. Edward segera memencet pager yang terletak di atas meja, sesuai instruksi pelayan tadi.
Tak lama datanglah seorang cewek yang mendatanginya, sepertinya bukan pelayan karena bajunya berbeda.
"Eh, Mas yang waktu itu di rumah sakit, ya?" kata cewek itu.
"Ya?" Edward sedikit terkejut dengan pernyataan cewek itu. Diamatinya sekilas, memang wajahnya terasa tak asing, seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Tetapi Edward tidak dapat mengingat dimana itu.
__ADS_1
"Mas, Mas Edward kan? Pendonor Bu Asiera." katanya lagi.
"Anda?"
"Saya Anieta Mas, Suster Anieta." kata Anieta sambil mengulurkan tangannya.
Edward menyambut tangan itu, sambil mencoba mengingat cewek itu. Lalu ingatannya kembali pada sebuah peristiwa saat Edward menabrak seorang suster di depan ruang rawat inap Mama Kavana (ada di episode sebelumnya ya 🤗)
"Saya ingat Sus."
"Panggil Anieta saja, Mas. Oh ya, mau pesan apa, Mas?" tanyanya ramah sambil mengambil note kecil dari saku belakang celana jeansnya.
"Kafe ini punya Suster?" terka Edward.
Anieta mengangguk sambil tersenyum. "Lebih tepatnya punya keluarga saya, Mas."
Edward manggut-manggut, prediksinya benar.
Setelah menikmati menu yang dipesannya, Edward segera ke meja kasir untuk membayar makanannya. Lagi-lagi, dia melihat Anieta disana.
"Sudah, Mas? Mau ada yang dibungkus?" tanyanya ramah.
"Oh, sudah cukup. Berapa?" Edward membuka dompet dan mengeluarkan kartu debitnya.
"Khusus hari ini, saya berikan free untuk Mas."
"Kok free, Sus?" tanya Edward heran.
"Untuk pelanggan baru kami yang ke 100 kami berikan free." senyum ramah itu terus tersungging di wajah cantik Anieta.
"Kebetulan sekali, ya?" kata Edward bingung.
"Gratis lagi?" tanya Edward spontan.
Dijawab tertawaan dari beberapa orang di meja kasir.
"Boleh." jawab Anieta.
"Terima kasih banyak, Sus. Oh ya, silahkan juga mampir di Coffee Shop saya." kata Edward menyodorkan kartu namanya sebagai owner Coffee Shop Gamaro. Demi membalas makan gratisnya hari ini.
"Oh, jadi Mas Edward pemilik Coffee Shop Gamaro?"
Mata Anieta tampak berbinar saat menerima kartu nama Edward. Pertemuan yang tak terduga itu, memberi kesan tersendiri bagi mereka berdua.
--------
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, saat Dayona memasuki halaman luas Vila keluarga Hero. Tanpa ragu, Dayona memarkirkan mobilnya di samping mobil yang diketahuinya sebagai milik Edward.
Begitu mengetuk pintu, Dayona disambut oleh seorang cowok sebayanya, yang dia tahu sebagai cowok yang dipercaya Edward membawa calon istrinya pergi chek kandungan beberapa waktu lalu.
"Kamu?"
"Saya mau bertemu Edna."
Hero tampak berpikir sebentar. Namun, melihat Dayona yang tampak lelah setelah perjalanan panjang, membuatnya tak tega melarang cowok itu untuk bertemu Edna. Apalagi dia adalah papa dari anak yang dikandung Edna.
Hero berusaha mengesampingkan perasaan sukanya pada Edna. Saat ini, yang terpenting adalah kestabilan Edna.
"Aku pikir kamu tahu kondisi Edna saat ini." kata Hero setengah berbisik, setelah mempersilahkan Dayona duduk di teras samping. Sengaja, supaya Edna tidak langsung melihat kehadirannya di Villa ini.
__ADS_1
Dayona mengangguk. "Saya tahu. Tapi saya harus menemuinya. Saya harus menjelaskan semuanya."
"Aku harap kamu bisa berkata dengan hati-hati. Kondisi Edna sedang tidak stabil." kata Hero.
"Terima kasih karena kamu sudah menjaga calon istri saya." kali ini Dayona menekankan kata calon istri.
"Saya tidak perlu minta ijin kamu untuk menemui calon istri sendiri, kan?"
Hero menggeleng jengah. Jengah dengan kehadiran Dayona. Jengah dengan kata-kata yang barusan diucapkan cowok di depannya itu.
"Okay, aku ijinkan kamu menemuinya di Villa-ku ini." tegas Hero.
Dayona sedikit terkejut, namun berusaha menutupinya. Ternyata villa ini milik Hero.
"Bi Edah?" panggil Hero.
"Ya, Mas ... Eh, ada Mas Dana disini." sapa Bi Edah saat melihat Dayona. Dayona membalas sapaan itu tersenyum kepada Bi Edah.
"Saya akan ke kota sebentar untuk menemui Edward, Bi. Minta tolong titip Villa. Kalau ada apa-apa bisa minta tolong Mamang. Saya akan kembali nanti malam, setelah urusan selesai." terang Hero.
"Ya, Mas." angguk Bi Edah.
"Aku pergi, Bro! Tolong jaga Edna." kata Hero saat berpamitan. Dayona hanya melengos saat mendengarnya. Tanpa Hero suruh, sudah pasti dia akan menjaga Edna.
"Na ..." bisik Dayona lembut di telinga Edna.
Edna yang masih terlelap hanya menggeliat kecil.
Dayona menatap wajah calon istrinya itu, dikecupnya kening Edna. Dirapikannya anak rambut Edna, menyelipkannya di balik telinga.
"Abang ..." kata Edna saat membuka mata.
"Abang disini, Na. Maafkan, Abang," peluk Dayona saat Edna mulai terduduk.
Edna membalas pelukan itu, "Edna takut, Bang." kata Edna serak.
"Abang tahu, Na. Tapi sekarang Abang disini. Kamu jangan takut lagi." kata Dayona, tangannya mengelus kepala Edna penuh kasih sayang.
"Kita akan menikah kan, Bang?" tanya Edna melepas pelukannya dan menatap Dayona nanar.
Dayona mengangguk.
"Anak kita akan tumbuh bersama papanya kan, Bang?" tanya Edna lagi.
"Abang janji, Na. Kita akan terus bersamanya. Abang, kamu dan Jaden. Selamanya." Dayona memegang bahu Edna, menggoncangnya pelan untuk memberi keyakinan kepadanya.
"Benar, Bang?"
"Edna percaya Abang?"
Kali ini Edna hanya mengangguk.
"Kalau Edna percaya Abang. Malam ini, ikut Abang pergi jauh dari sini, Na. Kita akan pergi ke tempat dimana tidak ada orang yang mengenal kita."
"Maksud, Abang?" tanya Edna tak mengerti.
"Ayo kita kawin lari, Na!
---------
__ADS_1
Bersambung ....