RONA CINTA

RONA CINTA
EPISODE 30


__ADS_3

Kavana masih terus mengawasi Edward. Sudah saatnya, dia mengumpulkan keberanian untuk bicara dengan Edward. Tentang semua yang didengarnya dari Obed.


Sebenarnya, orang pertama yang ingin dia minta untuk menceritakan semua adalah Dayona. Namun, kabar dari Dayona sama sekali tidak diketahuinya. Kavana sudah mengirimkan banyak pesan dan email, namun tidak satupun yang berbalas.


"Va, kenapa kamu disitu?" tegur Hero mengagetkan Kavana yang sedang berdiri tak jauh dari tempat Hero dan Edward berada.


"Eh, Mas Hero ... Ini ... Eeee ... Saya mau tanya, apakah ada yang mau dipesan lagi?" jawab Kavana gelagapan.


Edward ikut memperhatikan Kavana, membuat Kavana semakin salah tingkah.


"Kamu mau bicara sama Edward?" tanya Hero tanpa basa-basi.


"Oooh ... Tidak kok, Mas!" elaknya.


"Kalau tidak, silahkan bekerja lagi!" perintah Hero tegas.


"Baik, Mas" Kavana mengangguk dan meninggalkan tempat itu dengan tergesa.


"Aduuuh ... Kok bisa ketahuan, sih! Bodoh banget!" kata Kavana pada dirinya sendiri.


"Kenapa lagi, sih, Va?" kali ini Gweni yang menegurnya.


"Hehehe ... Tidak kenapa-napa, kok, Gwen"


"Aneh banget, sejak tadi mondar-mandir tidak jelas."


Kavana hanya nyengir mendengar gerutuan Gweni.


Ting


Ponsel Kavana berbunyi. Reflek tangannya masuk ke saku untuk mengambil ponselnya. Ada notifikasi pesan masuk disitu. Dari Edward. Edward???


Edward:


Kenapa?


Kavana mengernyitkan dahinya. Tidak paham isi pesan itu. Jangan-jangan Edward salah kirim.


Kavana:


Maksudnya?


Balas Kavana. Lama tidak ada respon balasan dari Edward. Saat ditengoknya ke tempat meeting mereka. Dilihatnya, Edward sedang asyik mengamati ponselnya.


"Tetapi kenapa pesanku tidak segera dibalas?" keluh Kavana.


Tak berapa lama, Hero dan Edward beranjak dari tempat duduknya. Dan menuju meja kasir. Kavana berharap Edward akan memberikan penjelasan tentang pesannya tadi. Namun, sampai mereka selesai membayar dan keluar Coffee Shop tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut Edward.


Membuat Kavana dongkol. Maka diputuskannya untuk mengirimkan pesan lagi untuk Edward.


Kavana:


Ed, maksudnya apa?


Edward:


Ya?


Kavana masih saja takjub, dengan makhluk satu itu. Bikin gemas.


Kavana:


Pesan kamu, tadi?


Edward:


Oh ... ada yang ingin kamu bilang, Va?


Kavana menghela nafas.


Kavana:


Bisa?

__ADS_1


Edward:


Kapan?


Kavana:


Sepulang aku kerja bisa?


Edward:


Oke


Kavana:


Dimana, Ed?


Edward:


Rumah kamu.


Kavana heran dengan pilihan Edward.


Kavana:


Harus ya, di rumahku?


Edward:


Sudah malam, Va, lebih baik di rumah kamu saja.


Kini Kavana paham maksud Edward. Akhirnya, Kavana mengiyakan.


---------


Edward baru saja menginjakkan kaki di rumah Kavana. Dan segera dilihatnya si empunya rumah sedang duduk di teras. Diliriknya arloji di pergelangan tangannya. Sudah pukul 22.00 lewat.


"Ed, sudah sampai?" sapa Kavana begitu melihat Edward.


"Kesini naik apa?" tanya Kavana.


"Taksi online, Va" jawab Edward.


"Sorry, Ed, belum bisa ajak kamu masuk. Mama kayaknya pergi, rumah dikunci." kata Kavana.


"Sudah kamu hubungi?" tanya Edward.


"Belum, Ed ... Ponselku mati karena baterai habis." sesal Kavana.


"Pakai ponselku saja." kata Edward sambil menyodorkan ponselnya. "Hafal, kan, nomornya?" katanya lagi.


Kavana menerima ponsel itu. Segera diketiknya nomor mama dan ditekannya tombol panggil.


"Tidak aktif, Ed" kata Kavana sambil mengembalikan ponsel Edward.


"Oh ... mau ditunggu saja?" tanya Edward.


Kavana mengangguk.


"Tapi dingin, Va ..." kata Edward lagi. Edward melihat Kavana hanya memakai seragam kerjanya, tanpa jaket. Dan mulai menggosok-gosokan tangan di lengannya yang terbuka.


"Pakai aja, ni!" kali ini jaket yang disodorkannya. Tanpa drama Kavana menerima jaket itu dan memakainya. Bau Edward menyeruak dari jaket itu. Aroma yang pernah dirindukannya.


"Makasih, Ed" senyum terima kasih tergambar di wajahnya.


"Ed?" kata Kavana lirih.


"Heeem" jawab Edward.


"Maaf." kata Kavana lagi.


"Untuk?"


"Semuanya."

__ADS_1


"Ya" jawab Edward


Edward menarik nafas. Posisi Edward yang duduk di sampingnya, hanya dibatasi oleh meja kecil berbentuk bulat, membuat Kavana dengan jelas bisa mendengar nafas itu. Entah apa makna tarikan nafas Edward itu.


"Apa yang ingin kamu tahu, Va?" tanya Edward memecah keheningan.


"Apa benar kamu yang menjadi pendonor hati untuk Mama, Ed?"


"Seperti yang kamu tahu, Va." jawab Edward lugas.


"Bagaimana bisa, Ed? Waktu itu Dayo ... Dia yang menjadi donor Mama?" kata Kavana masih tidak percaya.


Kemudian, Edward mulai bercerita.


Beberapa bulan yang lalu,


Edward bersama papanya, menemui dokter yang menangani pasien Sirosis atas nama Asiera Damayanti.


"Wah, bersyukur sekali, Pak, Ibu Asiera sudah mendapatkan donor hati yang sesuai!" kata Dokter pada mereka berdua.


"Syukurlah, kalau begitu, Dokter ... Saya sangat lega." Papa Alditira memandang ke arah Edward dengan lega.


"Mohon maaf, Pak ... Apakah Bapak mengenal pasien, yaitu Ibu Asiera, secara pribadi?" tanya dokter.


"Ya, Dok ... Masih family saya" jawab Papa.


Edward sebenarnya tidak mengerti, siapa yang dimaksud Papa dengan family itu. Tetapi, dia tidak memusingkan hal itu. Ikut lega mendengar perkataan dokter kepada papanya.


Tanpa mereka ketahui, Dayona yang sedianya akan menemui dokter, sedang mendengarkan semua pembicaraan mereka.


Hatinya seakan-akan mengeras. Matanya berapi-api penuh kebencian. Saat itu juga, dirobeknya surat perjanjian yang ada ditangannya. Surat yang menyatakan dirinya bersedia mendonorkan hati untuk pasien Asiera Damayanti.


---------


Edward dan Kavana terkejut bersamaan. Edward melihat Papanya masuk ke halaman rumah Kavana dengan seorang wanita yang menempel ketat disampingnya. Dan, Kavana menyaksikan, Mamanya masuk ke halaman dengan sumringah dengan seorang pria yang digandengnya. Kali ini, Kavana mengenal pria yang bersama mamanya. Itu Om Alditira. Papa Edward. Kavana dan Edward berpandangan penuh tanda tanya.


"Mama!"


Suara Kavana baru menyadarkan, dua orang yang sepertinya sedang asyik dengan dunianya sendiri.


"Vana, kamu sudah pulang?" tanya Mama Asiera kaget. Segera dilepaskan tangannya dari lengan Papa Alditira.


"Papa, disini?" gantian Edward yang menyapa Papa Alditira.


"Edward, kamu disini?" tanya Papa Alditira pucat.


"Papa? Jadi, Edward ini, anakmu, Mas?" tanya Mama Asiera tak percaya.


"Iya, Ra ... Dia anakku" jawab Papa.


Keempat orang itu, terjebak dalam kebingungan. Tanpa mengerti, takdir apa yang sebenarnya sedang menarik mereka ke dalam pusaran yang sama.


"Aku tidak menyangka, kalau selama ini, Aku sudah sangat dekat dengan kamu, Mas." kata Mama Asiera saat mereka berempat sudah duduk di ruang tamu.


Papa Alditira hanya diam.


"Bagaimana bisa Mama mengenal Om Aldi?" tanya Kavana bingung mewakili Edward yang sebenarnya ingin menanyakan hal yang sama kepada Papanya.


Mama Asiera menatap Papa Alditira, meminta persetujuan, sebelum menceritakan kisah mereka.


"Jadi, Ra ... Kavana ini???" tanya Papa Alditira saat Mama Asiera selesai bercerita.


Jantung Edward berdetak lebih kencang dari biasanya. Muka Kavana memucat. Semua menunggu jawaban Mama Asiera dengan tegang.


"Kavana adalah anakmu, Mas" jawab Mama Asiera. Tanpa ekspresi. Tanpa emosi.


Tapi yang mendengarkannya, bereaksi sebaliknya. Kavana menangis histeris. Papa Alditira dan Edward hanya diam, berusaha mengendalikan diri mereka. Malam ini, akan menjadi malam babak baru kehidupan Gamaliel. Selain Jaden Gamaliel, akankah segera ditambahkan Kavana Gamaliel?


---------


Mengetahui suatu kebenaran itu, terkadang sangat menyakitkan. Tetapi akan lebih baik kita mengetahuinya sejak awal. Daripada terus hidup dalam ketidak mengertian atau kebohongan.


Selamat membaca semua 💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2