
Diamatinya Edna yang sedang duduk di kursi kamarnya sambil mengelus-elus perutnya yang sudah tampak membesar. Seperti sadar sedang diperhatikan. Edna menoleh ke arah Edward yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya yang terbuka.
"Kakak ..." sapa Edna, senyumnya merekah. Nampaknya suasana hati Edna sudah membaik.
Edward membalas senyum Edna dengan senyuman getir. Apa jadinya, kalau Edna tahu yang sebenarnya. Rasa iba menjalar ke seluruh tubuh Edward. Menggerakkannya untuk mendekati Edna. Dan memeluk Edna dengan erat.
"Kakak sayang kamu, Na," kata Edward.
Edna yang tiba-tiba mendapat perlakuan itu, membalas pelukan Edward dengan kaku. Baru kali ini, Edward mengungkapkan perasaannya kepada orang lain, segamblang ini. Justru menimbulkan kebingungan dalam diri Edna.
"Edna juga sayang Kakak ... Tapi Kakak, kenapa?" tanya Edna heran.
Edward hanya tersenyum.
"Tetap ceria seperti ini ya, Na ... Jangan pernah berubah. Dan kamu harus selalu ingat, bahwa Kakak sayang kamu!" jawab Edward.
"Iiihh ... Kakak aneh, tahu! Kesambet ya?" Edna terkekeh melihat tingkah Edward yang mendadak romantis.
"Enak aja!" kata Edward sambil menoyor kepala Edna.
"Kakaaaak, kebiasaan ih!" hardik Edna galak. Dipukulnya lengan kakaknya.
"Aduh ... Ternyata pukulan ibu hamil bahaya juga, ya?" seloroh Edward pura-pura kesakitan.
"Aah, lebay banget sih, Kak!" kata Edna sambil memonyongkan mulutnya. Dan membuat Edward semakin gemas. Alhasil, tangannya yang sejak tadi gatal ingin mencubit pipi Edna, segera mendarat ke pipi mulus Edna, yang mulai terlihat chubby.
"Kakaaaaaak!" teriak Edna sebal, yang dibalas Edward dengan cibiran sambil berlalu keluar dari kamar Edna.
Sesampainya di kamar, Edward segera menutup pintu, dan berdiri disana. Menyandarkan tubuhnya pada daun pintu yang sudah tertutup. Dadanya terasa sesak, menahan kesedihan yang memdalam. Tanpa dapat ditahan, air mata mengalir di pipinya. Akhir-akhir ini, disadarinya bahwa dirinya sudah banyak menangis.
"Ya ... Tuhan, berikanlah hamba-Mu ini kekuatan" pinta Edward dalam doanya.
Sudah tidak ada yang bisa dia lakukan lagi, selain meminta kepada Sang Pemilik Kehidupan, atas semua hal yang tidak bisa diketahuinya, di masa yang akan datang.
---------
Sebelumnya,
"Maksud, Ibu? Dia bukan Edna?" tanya Edward saat Bu Ribka mengatakan bahwa bayi yang digendong Mama dalam foto itu, bukan Edna.
__ADS_1
Bu Ribka mengangguk. Edward kembali melihat ke foto tersebut, berusaha menarik kembali ingatannya. Namun, tak satupun yang dapat diingatnya. Mengingat waktu itu, Edward baru berusia kurang lebih dua tahun.
"Kalau bukan Edna, lalu siapa yang digendong Mama waktu itu, Bu?" tanya Edward lagi.
Bu Ribka bercerita dengan sangat runut. Mulai dari Mama yang mengandung, sampai akhirnya tiba waktu untuk melahirkan. Namun, saat bahagia yang sudah dinantikan selama sembilan bulan oleh keluarga Gamaliel, berganti dengan dukacita. Bayi perempuan tersebut meninggal saat dilahirkan.
Sampai disitu, Edward masih terus berusaha berpikir positif.
"Jadi ada adik saya yang meninggal, Bu? Kok saya sama sekali tidak tahu akan hal ini, Bu?" Untuk kesekian kalinya, Edward terus bertanya.
"Ibu maklum apabila kenangan buruk itu kemudian dikubur oleh keluarga, Mas." jawab Bu Ribka lugas.
Lalu, Bu Ribka melanjutkan ceritanya. Saat, bayi itu meninggal. Mama mengalami depresi berat, karena rasa kehilangan yang teramat sangat. Oleh sebab itu, Kakek Gamaliel memberikan sebuah solusi agar Mama cepat sembuh. Solusinya adalah dengan mengadopsi bayi perempuan. Singkat cerita, datanglah Papa ke Panti Asuhan Kasih Bunda. Dan bertemu dengan Bu Ribka. Dengan tujuan satu. Mencari bayi perempuan untuk diadopsi.
"Jadi bayi ini, bayi yang diadopsi oleh Papa Mama, Bu?" lagi-lagi Edward bertanya.
"Betul, Mas ... Bayi ini bernama Cahaya. Cahaya, kami temukan di depan pintu gerbang dini hari. Sepertinya sengaja ditaruh disana, supaya kami mengambil dan kemudian merawatnya. Tidak ada petunjuk apapun, tentang asal muasal Cahaya." kembali Bu Ribka menjelaskan.
"Lalu?" Edward menahan nafas. Demi mendengar akhir cerita Bu Ribka.
"Cahaya menjadi bagian dari keluarga Gamaliel sampai sekarang, dan Ibu baru tahu, kalau Cahaya berganti nama menjadi Edna."
"Ibu yakin bahwa ... bahwa Cahaya itu menjadi Edna, Bu? Apakah tidak ada kemungkinan yang lain?" Edward masih berusaha menyangkal.
Bu Ribka menggeleng, "Seingat saya, setelah melahirkan bayi perempuan, rahim Ibu Alditira ikut diangkat, karena mengalami kerusakan saat melahirkan bayi yang ternyata sudah meninggal di dalam. Jadi tidak mungkin Mama Mas Edward melahirkan lagi setelah itu. Itu kan yang Mas coba pikirkan?"
Bu Ribka berkata seolah bisa membaca, apa yang dipikirkan Edward.
Edward meremas rambutnya sendiri. Cemas. Memikirkan Edna. Edna dan Edna. Apa yang harus dilakukannya terhadap adiknya itu.
Edward melangkah dengan gontai, saat meninggalkan Panti Asuhan itu.
---------
Dayona melangkah masuk ke halaman Coffee Shop Gamaro dengan tergesa-gesa. Hasratnya sudah tak tertahankan, untuk segera bertemu dengan Kavana. Saking terburu-burunya, dia melupakan bunga yang sengaja dibelinya untuk Kavana, sebelum pergi ke tempat itu. Dan sekarang, barang itu masih ada di jok belakang mobilnya.
"Shiiit!" umpatnya sambil berbalik arah menuju kembali ke mobilnya.
Buru-buru diambilnya bunga itu, namun saat hendak berjalan kembali ke Coffee Shop, langkah Dayona dihentikan oleh seseorang yang baru keluar dari mobil yang berhenti di depan Coffee Shop. Orang itu adalah Edward.
__ADS_1
"Tadi Papanya, sekarang Anaknya! Kenapa sih! Di dunia ini, isinya hanya keluarga Gamaliel!!!!" geramnya.
"Ngapain juga dia kesini? Jangan-jangan ...." kata Dayona sendiri.
Darahnya mulai mendidih. Dipikirannya, pasti Edward ke tempat itu, untuk menemui Kavana. Sudah tidak bisa mundur lagi. Dayona harus mencari Kavana sampai ketemu. Tekadnya. Ada atau tidak ada Edward tidak akan pernah menghalanginya.
Dayona bergegas menuju pintu Coffee Shop, saat hendak didorongnya pintu itu, dari balik kaca dia bisa melihat. Edward sedang berbicara dengan Kavana.
"Siaaaaal!!!!" dicampakkannya bunga yang sedang dipegangnya karena emosi.
"Eiiits ... Mas ada apa ini?" tiba-tiba Hero sudah berdiri di belakangnya, dan terkena bunga yang dilemparkan Dayona.
"Minggir!!!!!" Dayona berjalan melewati Hero dengan bentakan keras.
Hero terheran-heran dengan sikap orang yang baru ditemuinya itu. Diambilnya bouquet bunga yang sudah agak rusak dari lantai teras. Lalu dibawanya masuk ke dalam.
"Aneh banget, tu orang!" kata Hero saat sudah di depan Edward yang sedang berbicara dengan Kavana.
"Siapa?" tanya Edward.
"Aku tidak kenal, Ed," jawab Hero. "Tapi tadi dia bawa ini, ni! Dibuang di depan pintu."
Edward mengambil bunga itu. Iseng dibukanya kartu kecil yang tergantung disana.
To. Kavana
I miss you ❤️ "D"
Edward langsung tahu, saat membacanya.
"Kemana, dia?" tanya Edward dengan nada meninggi. Wajahnya nampak gusar.
"Kenapa, sih? Dia sudah pergi, Ed." jawab Hero.
Kavana yang bisa membaca situasi, segera mengambil bunga di tangan Edward. Dibacanya siapa pengirim bunga itu. Dan kini, dia tahu apa yang membuat Edward bereaksi seperti itu. Karena Dayona telah kembali.
---------
Rona Cinta terus belajar menjadi semakin dewasa dalam berkarya. Untuk itu, setiap apresiasi pembaca, baik like, komen, rate, fav, maupun vote, menjadi buah manis bagi Rona Cinta. Untuk terus bertumbuh menjadi karya yang otentik, namun dinamis.
__ADS_1
Mari terus berimajinasi seluruh author di Indonesia! Karena tidak ada batas bagi kita berkreasi dan menginspirasi 💜💜💜