
Dayona membuka matanya, saat matahari sudah tinggi. Tubuhnya terasa remuk, akibat perkelahian kemarin. Kepalanya juga terasa pening. Namun, Dayona tetap memaksakan dirinya untuk bangun, karena hari ini, dia ada job bernyanyi di Kafe, acara ulang tahun, kata bos-nya. Dayona melihat wajahnya di cermin, luka lebam masih terlihat disana, namun hanya terlihat samar. Tidak akan jadi masalah untuk performance-nya nanti.
Kafe sudah ramai, saat Dayona tiba. Sepertinya, para panitia sudah mulai bekerja untuk menyiapkan acara.
"Dan, muka kamu, kenapa?" Bian agak terkejut ketika melihat Dayona muncul di depannya dengan muka lebam. Bian adalah bos di Kafe itu. Masih muda, hanya dua tahun lebih tua dari Dayona. Bian masih kuliah sambil mengelola Kafe, milik keluarganya.
"Biasa, Bos." jawab Dayona singkat.
"Wadaaw, bisa tidak, tuh! Kamu tampil dengan muka seperti itu?" Bian mengernyitkan dahi.
"Si Fanya ada kan, bos?" tanya Dayona tanpa menjawab.
"Ngapain kamu cari Fanya, Dan? yang aku tanya tu, muka kamu! Gimana tu muka!" jawab Bian.
"Nah ... ini juga mau urusin muka, Bos ... Mau minta tolong Fanya, buat make up-in."
Bian manggut-manggut mulai paham, "Ada, tuh! Paling lagi bikin kopi ... Buruan!" Bian menunjuk pantry dengan dagunya, menyuruh Dayona untuk cepat menemui Fanya.
"Aman, bos ... Tenang aja!" Dayona melangkah masuk ke pantry mencari Fanya.
Keajaiban make up memang terbukti. Benar saja, muka Dayona tampak bersih dari lebam.
Dan sekarang, dia sudah siap dengan gitarnya, untuk mengisi acara.
Saat sedang asyik menyetem gitar, Dayona dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Tanpa permisi. Dengan jarak yang begitu dekat.
"Hai, Dan ... Makasih ya, sudah mau jadi pengisi acara di ultah aku," kata cewek itu. Suaranya tidak asing. Dayona menoleh, didapatinya seorang cewek cantik bergaun velvet, dengan make up fawless.
"Arhea?" tanya Dayona begitu menyadari siapa cewek yang disampingnya itu.
"Yes, I am" jawab Arhea tersenyum. Cantik sekali.
"Jadi kamu yang ultah?" Dayona bertanya lagi. Masih dengan rasa takjub, akan keindahan makhluk Tuhan di depannya itu.
"Yups ... Makasih, ya ..." kata Arhea lagi.
"Happy birthday, Rhea ... Wish you all the best." Dayona mengulurkan tangannya, yang disambut tangan halus Arhea.
"Makasih, Dayona" Arhea memperlihatkan giginya yang rapi, yang membuatnya semakin mempesona saat tersenyum.
Acara ulang tahun Arhea berlangsung meriah. Seperti biasa, penampilan Dayona selalu dielu-elukan oleh kaum hawa yang hadir disana. Penampilan yang membuat semarak suasana. Tepat pukul 21.00 acara selesai. Hanya tinggal beberapa orang yang tampak membereskan tempat acara.
"Ni, honor kamu, Dan!" kata Bian sambil menyerahkan amplop berwarna cokelat kepada Dayona.
Diterimanya amplop itu, "Thanks, Bos, sering-sering" jawab Dayona sambil cengengesan senang. Dibukanya amplop itu dan terheran-heran.
"Banyak amat, Bos? Ini tiga kali lipat dari kesepakatan kemarin, lo!" kata Dayona kepada bosnya.
"Ada tips gede kita hari ini, Dan ... Makanya aku bagi-bagi" jawab Bian.
"Coba setiap hari seperti ini, Bos," harap Dayona.
"Amin ... Eh, ni ada pesan buat kamu!"
__ADS_1
Secarik kertas disodorkan Bian, kepada Dayona.
Dibacanya kertas itu.
Hadiah buat aku, mana?
Arhea (0895*********)
Dayona tersenyum. Diketiknya nomor itu di ponselnya. Dan ...
---------
Edward memandang layar monitor di Ruang USG dengan takjub. Dokter menunjukkan kepadanya tentang kehidupan baru di rahim Edna. Edna tampak menitikkan air mata. Entah karena terharu atau justru sedih.
Sungguh, Edward sulit sekali menyelami perasaan wanita. Susah dimengerti.
Kehamilan Edna sudah menginjak usia 5 minggu. Dokter menasehati Edna, untuk tidak stress dan perbanyak makanan bergizi. Sepanjang pemeriksaan, Edna hanya mengangguk dan menggeleng. Tidak menampakkan antusiasnya.
"Kak, kok Edna, seperti ini, ya?" kata Edna dalam perjalanan pulang. Sambil terus menatap hasil USG di tangannya.
"Maksudnya?" Edward tampak bingung dengan pertanyaan Edna itu.
"Edna, bingung dengan perasaanku, apakah harus senang atau sedih, Kak ... Satu sisi, seharusnya aku senang karena sekarang Edna dikaruniai seorang anak, tetapi sisi yang lain, aku merasa sangat sedih karena semua ini terjadi karena kesalahan, tidak seharusnya Edna punya bayi ini, Edna masih ingin sekolah ..." jelas Edna dengan suara bergetar menahan tangis.
"Edna juga takut, apakah nanti Edna bisa jadi orang tua yang baik? karena dia akan tumbuh hanya sama aku, tanpa seorang papa..." sambung Edna.
Edward segera menepikan mobilnya. Menghela nafas panjang. Dan memiringkan tubuhnya untuk menghadap Edna.
"Na, anak yang dikandungan kamu itu, tidak salah, jadi jangan bebani dia dengan kesedihan kamu, ingat kata dokter, kamu tidak boleh stres, karena bisa mempengaruhi pertumbuhannya!" kata Edward sambil dipegangnya tangan Edna yang nampak kurus. Baru kali ini, dia berbicara sangat banyak.
"Benar, Kak?" mata Edna kembali bersinar. Rupanya, dia masih sangat ingin melanjutkan sekolahnya.
Edward mengangguk, "Dan, Kakak akan jadi papanya Jaden" Edward tersenyum sambil mengerling, menggoda adiknya.
Jaden?
"Kakak, kok tahu? Kalau nama anak ini Jaden?" Edna melongo. Namun, kemudian Edna siap-siap untuk mencubit pinggang kakaknya, setelah menyadari apa yang sudah dilakukan kakaknya. Pasti membaca buku hariannya.
"Dasar!!! Tukang intip!!!! Kebiasaan!"
Cubitan Edna membuat Edward gelojotan menahan geli.
"Ampun, Na ... Ampun!"
"Rasain!" kata Edna tanpa ampun terus menyubitinya, lebih tepatnya menggelitiki pinggangnya.
Edward mengakhiri serangan Edna, dengan memeluknya erat.
"Na, jangan sedih lagi ya ... Kalau kamu sedih, ingat ada Kakak yang ada buat kamu ... Selalu, Na" dikecupnya puncak kepala Edna.
Edna menganggukkan kepala dalam pelukan itu. Dan semakin menenggelamkan kepalanya disana.
---------
__ADS_1
Kavana memasuki Apartemen Dayona saat sudah larut malam. Masih gelap. Menandakan bahwa si empunya belum ada di tempat. Kavana duduk di kursi, dekat balkon, tanpa menyalakan lampu. Dibiarkannya, kegelapan di ruangan itu.
Berkali-kali Kavana menghela nafasnya. Berharap bisa mengurangi beban pikirannya saat ini.
Pikirannya sedang bercabang-cabang. Memikirkan Mamanya yang sebentar lagi akan operasi, memikirkan hidupnya ke depan, ditambah memikirkan Dayona dan kini ditambah lagi dengan masalah Edna.
"Klik" bunyi pintu Apartemen dibuka.
Pasti Dayona. Pikir Kavana.
Dia baru akan berdiri dari duduknya untuk menyambut. Ketika, dilihatnya Dayona masuk tidak sendiri, dia bersama seseorang. Seorang cewek. Terlihat dari siluet gaun yang dipakainya. Begitu pintu ditutup, mereka tampak saling menatap dan selanjutnya ... Kavana memalingkan muka. Tidak ingin melihat lagi.
"Tuhan ..." rintih Kavana dalam hati. Untuk kesekian kali, dia menghadapi kenyataan. Bahwa dirinya bukan satu-satunya bagi Dayona.
Kavana tidak tahan lagi. Dia memutuskan untuk bertindak sesuatu hari ini.
"Dan, stop!!!!" pekiknya sambil menarik Dayona yang masih menempelkan bibirnya pada bibir cewek di depannya.
Dayona terkejut. Begitu juga dengan cewek itu.
"Va, kamu disini? tanya Dayona gelagapan.
"Kamu, pergi dari sini!" usir Kavana pada cewek itu.
"Va, apa-apaan kamu!" hardik Dayona. Lalu, dia berpaling pada cewek itu, "Rhe, sorry ya ... kamu pulang dulu, nanti aku hubungi kamu" kata Dayona pada Arhea.
Arhea nampak tidak suka, "Siapa dia, Dan?" tanyanya.
"Nanti, aku jelaskan! Sekarang lebih baik kamu pulang dulu. Sorry tidak bisa mengantar, please!" jawab Dayona.
"Oke ... aku tunggu penjelasan kamu." katanya dengan kesal, sambil membuka pintu dan menghilang disana.
Kini, tinggal mereka berdua. Diam dalam kegelapan.
"Aku ini siapa, buat kamu, Dan????!!!!" suara Kavana memecah keheningan. Dayona hanya diam.
"Jawab, Dan ... Jawab!!!!" Kavana mulai histeris. Tangisnya pecah.
Dayona tertegun melihat pemandangan itu. Dia memang diam, karena sesungguhnya dia tidak tahu jawaban apa yang harus diberikannya.
"Jawab, Dan ... Please!!! Jangan kamu perlakukan aku seperti ini! Aku tidak kuat lagi, Dan ..." Kavana terus berbicara sambil menangis.
Dayona mendekati Kavana. Tanpa berkata-kata. Dipeluknya Kavana, Kavana menolak pelukan itu, namun Dayona terus memaksanya. Sampai akhirnya, Kavana pasrah, menangis dalam pelukan cowok yang sudah memberinya banyak luka, tetapi dikasihinya.
Dayona membelai rambut Kavana sampai tangis itu mereda. Disekanya air mata Kavana dengan punggung tangannya. Ditangkupnya wajah Kavana, pandangan mereka bertemu ....
"Sorry ..." hanya kata itu yang keluar dari mulut Dayona. Selanjutnya, mulut itulah yang bekerja. Mencium Kavana dengan lembut. Menyesapi bibir itu, seolah bibir itulah satu-satunya yang dia miliki. Kavana menikmatinya. Dia selalu saja takluk dengan ciuman itu. Ciuman yang mengobati jiwanya. Bahkan, kini dia membalas ciuman itu. Ciuman lembut itu menjadi ciuman yang makin panas. Dan ... akhir dari semuanya adalah pergulatan panjang di ranjang.
---------
Terima kasih banyak sudah mengapresiasi Rona Cinta dengan terus membaca, memberikan rate, like, komen dan vote ....
Boleh juga kalau mau follow ya 😁😁😁
__ADS_1
Selamat membaca semua 💜💜💜