
Tidak pernah terbayangkan oleh Edna, bahwa jalan hidupnya akan sepelik ini. Mulutnya sangat mudah mengatakan pisah, tapi hatinya terus meresah, merindu dan terus mengharap untuk bertemu.
Sampai saat ini, nama Dayona masih bertengger kokoh di hatinya. Rasa sakit di hatinya, malah membuatnya semakin mengingat siapa yang menyakitinya. Itulah cinta.
Alasan Edna, melepaskan Dayona adalah kenyataan bahwa dia bukanlah yang pertama. Kenyataan bahwa tidur dengan banyak wanita merupakan hal yang biasa baginya. Hal tersebut, membuat Edna menyadari, bahwa apa yang dilakukan Dayona padanya itu jelas tanpa rasa. Dia hanya mencari kepuasan belaka.
Namun, keinginan untuk meminta tanggung jawab Dayona juga pernah ada. Sampai kemudian, Obed datang menemuinya, saat Obed bertandang ke rumah untuk menjenguk Edward.
"Na, kamu tahu? Siapa yang membuat Edward putus sama Kavana?" bisik Obed.
"Haaah???? Kak Edward putus? Kok bisa, Kak? Sejak kapan?" Edna terkejut bukan kepalang.
"Kamu baru tahu, Na?" ganti Obed yang terkejut.
"Ya ini, Edna barusan dengar dari Kakak. Beneran putus, Kak? Jawab???" harap Edna.
"Benar, Na ... sudah putus mereka, sudah agak lama, sih." jawab Obed.
"Kenapa sampai putus, Kak?"
"Kavana selingkuh!" kata Obed dengan menekankan kata selingkuh.
"Selingkuh sama siapa, Kak? Kok bisa sih, Kak Kavana tega lakukan itu ke Kak Edward,"
Obed sempat terdiam. Seperti sedang menimbang-nimbang untuk menjawab pertanyaan Edna.
"Kaaak, sama siapa?" desak Edna.
"Kakak akan bilang, tetapi kamu harus janji?"
"Janji apa, Kak? Cepetan??!!!" Edna sudah tidak sabar.
"Oke, janji yang pertama, kamu tidak boleh histeris, nangis dan teman-temannya, yang kedua, jangan sampai Edward tahu, kalau aku kasih tahu kamu? Deal?"
Edna heran dengan syarat yang diajukan Obed.
"Apaan, sih, Kak ... Banyak amat syaratnya? Bilang aja, kenapa?" kata Edna keberatan.
"Janji atau tidak sama sekali!" tegas Obed.
"Iya ... iya, aku janji" kata Edna menurut.
"Aku yakin, kamu pasti akan kaget."
"Bilang sekarang, Kak? Siapa???" tanya Edna tak sabar.
"Dayona." jawab Obed pelan.
Seketika jantung Edna seperti berhenti berdetak. Shock. Dari sekian banyak nama, kenapa harus nama Dayona? Kenapa tidak nama yang lain?
Saking kagetnya, Edna tak mampu bereaksi apapun. Dia hanya bisa mematung.
__ADS_1
"Na? Kamu tidak apa-apa?" tanya Obed panik saat melihat Edna yang hanya diam saja. Obed lebih tenang kalau Edna menangis atau histeris. Itu lebih wajar.
Bagi Edna, dunianya serasa runtuh. Rasa cinta yang masih tersisa, mendadak hilang sirna. Tinggal rasa hampa, meninggalkan lubang yang menganga.
"Edna, tidak apa-apa, Kak." jawab Edna lirih.
"Kakak bilang ini, ke kamu, supaya kamu tahu, seperti apa laki-laki yang kamu sukai itu, Na. Dia tidak sebaik yang kamu pikirkan."
Edna mengalihkan pandangannya ke arah lain. Berharap airmatanya tidak akan tumpah di depan Obed. Hari ini, hari yang tidak akan pernah dilupakannya, sebagai hari dimana dia menyudahi semua rasa yang pernah ada.
---------
Edward mengaduk kopinya sambil mendengarkan Hero mempresentasikan pembukaan venue cabang Coffe Shop Gamaro. Mereka berdua mengambil tempat untuk meeting hari ini, di bagian samping area outdoor Cofee Shop. Sesekali tampak Edward menanggapi dan kemudian mereka berdua kembali khusyuk menatap pada layar laptop.
Kavana memperhatikan mereka dari meja kasir. Kebetulan posisinya, tepat menghadap tempat dua laki-laki itu sedang meeting. Dari tempatnya, dia bisa melihat Edward. Wajah tampannya, tampak makin terlihat, saat sedang serius seperti itu. Wajah Edward sangat memikat sampai mata Kavana enggan untuk beralih ke tempat lain.
"Ganteng-ganteng banget sih, Mereka," Gweni berdecak kagum.
Kavana tersenyum.
"Edward memang sempurna." katanya tanpa sadar.
Gweni terlonjak.
"Va, sadar! Kamu kan punya Dayona?" tepukan Gweni di bahunya, membuatnya tersadar, bahwa dia sudah kelepasan bicara.
Wajah Kavana memanas.
"Hanya mengagumi, Gwen." elak Kavana.
Ocehan Gweni itu seperti menempelaknya. Benar kata Gweni. Sangat beruntung, cewek yang dipacari Edward. Hanya dialah yang tidak tahu diuntung. Meninggalkan cowok seperti Edward.
Seperti tahu sedang diperhatikan. Tiba-tiba, Edward menoleh ke arah mereka. Mata Kavana dan Edward bertemu. Mata tajam itu, menusuk hati Kavana. Tatapan yang seolah-olah melucuti dirinya, yang memperlihatkan banyaknya kesalahan yang sudah dilakukannya pada pemilik mata itu.
Edward yang lebih dahulu melepaskan pandangannya. Saat itulah, Kavana melihat lambaian tangan Hero memanggilnya.
"Dipanggil Mas Hero tu, Va." kata Gweni.
"Iya, aku juga lihat, Gwen ... Aku kesana dulu, ya!" pamitnya sambil berlalu menuju tempat Hero dan Edward berada.
"Ya, Mas" kata Kavana saat sudah di depan Hero.
"Buatkan kami makanan, ya? Kamu mau apa, Ed?" Hero memberikan daftar menu ke Edward.
Edward tampak membolak-balik menu ditangannya. Kavana menunggu dengan buku catatan di tangannya.
"Sandwich" jawab Edward singkat sambil mengembalikan buku menu kepada Hero.
"Aku Pasta ya, Va! Oh ya, telurnya mau matang atau setengah matang, Ed?"
"Matang" jawab Edward dan Kavana bersamaan.
__ADS_1
Hero terheran-heran dengan kebetulan itu.
"Wiiih, sehati kalian" respon Hero.
"Maaf ..." kata Kavana sambil mencuri-curi pandang ke arah Edward. Malu. Bagaimana bisa, justru dia yang menjawab pertanyaan Hero. Dilihatnya, wajah Edward datar-datar saja tanpa menanggapi perkataan Hero itu. Syukurlah.
"Ya sudah itu saja, Va ... Sama air mineral 2!" kata Hero.
Kavana mengangguk dan segera berlalu dari situ. Sambil berharap, semoga mereka tidak melihat wajahnya yang memerah.
"Ada hubungan apa kamu sama Kavana?" tanya Hero sesaat setelah Kavana pergi.
"Tidak ada apa-apa." jawab Edward datar.
"Dari tatapan dia ke kamu, sejak tadi, sih!, menunjukkan sesuatu yang lebih dari sekedar tidak ada apa-apa, Ed" goda Hero.
"Sejak kapan kamu jadi reseh?!!" hardik Edward galak.
"Sensi amat, Bos!" gelak Hero.
Edward hanya mendengus.
"Kamu juga yang waktu itu merekomendasikan dia kerja disini, bersikeras mempertahankannya walau kinerjanya payah, lalu kejadian dengan Edna tempo hari, gimana tidak bikin aku tanda tanya, Ed?" tambah Hero.
Edward selalu enggan, membicarakan masalah pribadinya dengan orang lain. Satu-satunya orang yang kini dipercayainya, hanya Obed.
"Memang harus aku jawab, Ro?"
"Tidak harus, sih ... Hanya karena ..."
"Dia mantanku" potong Edward cepat, tidak ingin mendengar perkataan panjang Hero lagi.
Hero manggut-manggut paham.
"Lalu?" tanya Hero ingin penjelasan lebih.
"Tidak ada lalu, Ro, yang betul semua sudah berlalu." tegas Edward.
"Jadi, kuharap ini pertanyaan terakhir kamu, tentang dia ke aku!" imbuhnya.
Kavana bisa mendengar semua pembicaraan mereka, dari balik sekat gypsum dekat tempat mereka bicara. Ternyata bagi Edward, kisah mereka sudah usai. Tetapi hati Kavana masih dipenuhi tanda tanya.
"Kalau benar itu, kenapa Edward masih mau melakukan banyak hal untuk dirinya, bahkan untuk mamanya?" kata Kavana dalam hati.
Kavana tidak mengerti. Sempat dia berpikir, bahwa semua yang Edward lakukan karena adanya rasa yang tersisa atas hubungan mereka berdua. Entah itu, pikiran Kavana atau harapannya. Jadi, Kavana masih berharap, hati Edward masih ada untuknya?
---------
Hai Pembaca Setia Rona Cinta!
Saya berdoa, kiranya semua diberi kesehatan dan terus semangat dalam berkarya!
__ADS_1
Terima kasih sudah menambahkan like, komen, vote, rate dan favorite! Semua sangat berarti buat saya ...
Selamat menikmati perjalanan hidup Edward, Kavana, Dayona, Edna dan teman-temannya, semoga bisa relate dengan kehidupan kita. Ambil hikmahnya untuk jadi versi terbaik dari diri kita dalam menjalani hidup ini. 💜💜💜