RONA CINTA

RONA CINTA
EPISODE 13


__ADS_3

Di Kampus Indonesia Jaya,


Sudah seminggu kegiatan perkuliahan berjalan. Edward berusaha sekuat tenaga untuk menikmati hari - harinya sebagai Mahasiswa Baru di Fakultas Bisnis sesuai keinginan Papanya. Lingkungan baru, suasana baru dan teman baru. Tidak ada lagi Dayona, Obed, Javas dan Reval, karena mereka mengambil Fakultas bahkan Kampus yang berbeda. Hanya Dayona yang berada satu kampus dengannya. Dayona menjadi mahasiswa di Fakultas Seni dan Pertunjukan. Hal itu, sempat membuat Edward iri kepada Dayona, karena dia sangat beruntung bisa menjalani hidup sesuai passion - nya.


Siang ini seusai kelas, Edward menyusuri lorong - lorong panjang untuk menuju kantin Kampus. Dia membuat janji untuk bertemu Dayona disitu.


Sesampainya di Kantin, Edward menebarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan untuk menemukan Dayona, yang berkata sudah ada di kantin melalui pesan teks beberapa menit yang lalu. Suasana kantin yang cukup ramai, membuat Edward harus celingak - celinguk, sampai akhirnya dilihatnya seseorang yang melambai kepadanya. Itu Dayona. Edward segera mendekati Dayona yang sedang lahap menyantap mie ayamnya.


"Gila kamu, lama banget! Kelaparan, ni!" protes Dayona tanpa berhenti makan.


"Sorry ... Dosen - nya overtime, emang ada apa?" tanya Edward penasaran.


Pesan teks Dayona tadi pagi membuatnya bertanya - tanya, sebenarnya apa yang terjadi.


"Pesen makan dulu kek, kasih waktu buat mie ini kuhabisi, biar cacing di perutku tidak demo lagi!" semprot Dayona.


Edward menuruti perkataan Dayona. Beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan ke arah penjual Batagor, sekaligus memesan minuman untuknya.


Setelah mendapatkan makanan yang dipesannya, Edward segera kembali ke tempat duduknya tadi.


Begitu dia mendaratkan pantatnya di kursi, Dayona menyodorkan ponselnya.


"Ada tantangan dari Dean, nanti malam!"


Edward melihatnya sekilas. Tampak tidak tertarik, seperti lebih tertarik dengan makanan yang sudah siap disantapnya.


"Gimana, Ed?" desak Dayona.


"Aku sudah berhenti, Dan" sahut Edward akhirnya.


Dayona melengos.


"Karena cewek kamu melarang, kan???!!! Sudah kuduga ini bakal terjadi!" Dayona mendengus kesal. Dijatuhkannya sendok dengan kasar di mangkoknya dengan sengaja.


"Kamu tahu kalau bukan karena siapapun Dan, kamu orang yang paling kenal aku lebih dari siapapun" kata Edward datar.


Mendengar itu, Dayona hanya diam, tetapi di bawah meja, tangannya sudah mengepal menahan geram.


"Sahabat dia bilang?" batin Dayona. "Sahabat mana yang tak tahu kalau ayahnya telah menghancurkan keluarga sahabatnya sendiri!" kemarahan membuat Dayona tidak lagi mampu memilah antara urusan pertemanan atau urusan keluarga. Semua tampak sama saja di matanya.


Edward sudah berubah. Menjadi sok alim, itu yang ada dalam pikiran pandangan Dayona sekarang. Munafik. Dan, dia semakin benci, segala sesuatu tentang Edward!


------------------


Pembicaraan terakhir di Kantin menciptakan gap antara dirinya dan Dayona.


Sejak hari itu, seperti ada jarak dalam pertemanan mereka.


"Dayona beneran tidak ikut, Bed?"


"Tahu tu..." Obed mengangkat tangan tanda tak tahu.

__ADS_1


Hari itu mereka semua diundang ke syukuran kesembuhan mama Javas. Acaranya dibuat di Villa yang disewa keluarga Javas di luar kota. Dan mereka sudah sepakat untuk berangkat bersama.


"Payah!!!" gerutu Reval.


"Sudahlah ... Yuk cabut sekarang!" ajak Obed.


"Tunggu sebentar lagi, mana tahu dia telat", kata Edward sambil terus menghubungi ponsel Dayona.


Setelah menunggu 30 menit, akhirnya mereka memutuskan pergi tanpa Dayona.


Dalam perjalanan, Edward terus berpikir, ada yang aneh dengan Dayona. Tapi Edward tidak tahu apa dan kenapa itu.


Edward menghela nafas berat, berusaha merelakan momen hari itu tanpa kehadiran salah seorang diantara mereka. Edward harus mulai merangkai berjuta alasan untuk disampaikannya kepada Javas nanti saat mereka sudah tiba di Villa, agar temannya itu tidak turut kecewa.


------------------


Apartemen Dayona,


Kavana baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri. Dikeringkannya rambutnya yang basah dengan handuk yang dijumpainya di gantungan kamar mandi. Dilihatnya Dayona jatuh tertidur, setelah olahraga nikmat yang baru saja mereka lakukan. Ditatapnya cowok yang mampu memberinya kepuasaan itu. Kavana berjalan sedikit berjingkat, agar tidak membangunkan Dayona yang tampak pulas. Dia mendekati ranjang tempat Dayona tidur dan duduk di tepinya, tepat disamping kepala Dayona.


Dibelainya rambut cowok itu. Kavana menyeka bulir - bulir keringat di dahi Dayona dengan tangan halusnya. Lalu membungkuk ke arahnya, sambil berbisik mesra,


"Aku jatuh sayang sama kamu, Dan!"


Dayona menggeliat, mengucek - ucek matanya, mengumpulkan kembali nyawanya. Ketika mulai tersadar dari tidurnya, Dayona langsung memeluk pinggang Kavana dan meletakkan kepalanya di pangkuan cewek itu.


"Sorry ... Aku ketiduran tadi"


"Masih mau seperti ini, Va, please malam ini temeni aku disini???" kata Dayona sambil mendongakkan kepalanya dari pangkuan Kavana, meninggalkan jejak hangat disana.


"Iiiiiih, manja banget sih kamu, Sayang" jawab Kavana sambil mencubit hidung Dayona yang mancung.


"Please ...." mata sayu itu melunakkan hati Kavana.


"Iya ... iya"


Dayona tersenyum bahagia, seperti anak kecil yang mendapatkan keinginannya. Kembali dia ke posisinya semula, menikmati Kavana yang membelai - belai rambutnya. Tanpa Kavana melihat seringai liciknya.


--------------------


Acara Syukuran berjalan meriah. Berkali - kali kedua orang tua Javas mengucapkan terima kasih atas bantuan yang pernah diberikannya. Membuat Edward jadi kurang enak. Javas - lah yang akhirnya memberi tahukan kepadanya untuk tidak menjadi sungkan, sebab begitulah sikap orang tuanya.


Makanan yang disediakan sangat banyak. Edward, Obed dan Reval sudah berkali - kali nambah dan sekarang mereka memilih menyingkir dari keramaian karena kekenyangan.


Akhirnya dipilihlah balkon Villa, di lantai 2 untuk mereka mengambil nafas, ditemani Javas tentunya.


"Wuiih,.nyaman banget ya disini ... udaranya masih fresh, jauh dari polusi" seru Obed sambil menghirup kuat - kuat udara dari hidungnya.


Membuat yang lain tergelak dengan tingkah absurd -nya.


"Kalau ada Dayona, bisa ini kita gitaran ... pas habiiiis dengan hawanya" celetuk Reval.

__ADS_1


"Apa mau karaoke saja, aku pinjamkan mic ke Ester" tanya Javas kepada teman-temannya. Dan Ester adalah nama adik pertamanya.


"Aaaaaw, kalau pinjamkan Ester - nya saja gimana, Bang Javas?" kata Obed menggoda.


"Ogah ... nanti kamu *****-*****, najis!" jawab Javas ketus. Dibalas dengan gelak tawa semua.


"Ayolah bang sekali saja ... Cantik nian Ester tu, jadi bergetar hati aku ..." Obed masih usaha. Dengan bahasa puitis yang dibuat - buat.


"Dasar gilaaaaaa!!!!" Javas mulai tidak tahan melihat tingkah Obed.


"Ngomong-ngomong kemana sih Dayona?" Reval memulai pembicaraan serius kali itu.


"Eh tadi dia ada DM aku sih, tapi belum sempat aku buka" kata Javas, mengingat apa yang sempat terlupa.


Edward menegakkan badannya, dia heran karena semua pesannya tidak dibalas, tetapi justru Dayona mengirim pesan ke Javas. Tumben.


"Oh, dia kirim voice note!" serunya.


"Nyalakan speaker -nya Jav, biar kita dengar semua ..." usul Reval.


"Oke!" Javas menyetel pengeras suara di ponselnya dan menaikkan volume ke batas maksimal.


Suara Dayona mulai terdengar,


Dayona:


Sorry bro sorry, aku tadi pusing banget, minum obat malah bikin ngantuk jadi ketiduran deh ... Paraaah, gara - gara ketiduran aku jadi tidak bisa gabung ke acara keluargamu ... Sorry ....


Suara Cewek (menjeda kalimat Dayona):


Sayang ... ayo makan!


Dayona:


Iyaaaa ... wah sudah dipanggil nyonya besar tu, serem kalau dia marah, bisa minta tambah ntar dia, sudah gak kuat bro, sudah tiga ronde tadi, hahahaha ... sekali lagi maaf banget bro, next aku pasti gabung. Enjoy your party, salam buat Papa, Mama kamu dan teman - teman ya! Bye!


Semua terdiam beberapa saat, setelah Javas mematikan ponselnya.


"Sejak kapan Dayona punya cewek lagi, bukannya dia bilang sudah lama putus sama Fleta?" tanya Reval tanpa bisa menyembunyikan rasa herannya.


"Iya sih, sepertinya makin banyak yang tidak kita tahu lagi tentang Dayona, mungkin dengan kita semua juga, banyak yang sudah berubah" Javas berkata sambil menyesap nikotin yang baru dinyalakannya, dibuangnya asap melalui mulutnya membentuk bulatan - bulatan yang sebentar saja nyata lalu memudar dan terbang tertiup angin.


Sedang Edward, sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia merasa tidak asing dengan suara tadi. Suara yang seperti dikenalnya, tetapi siapa? Dia mencoba mengingat - ingat tetapi tak kunjung menemukan jawabnya.


Suara itu ... walau hanya kalimat pendek dan terdengar jauh, tapi tidak asing bagi Obed, dia kenal sekali dengan suara itu.


Suara yang pernah di dambanya, diharapkannya, diimpi - impikan menyatakan cinta, tetapi itu tak kunjung datang padanya.


Suara yang pernah sekali berbisik di telinganya, suara yang keluar dari bibir indah dan ranum yang pernah sekali dikecapnya ...


Suara itu punya tuan, namanya Kavana.

__ADS_1


Tapi Obed hanya diam seribu bahasa, tanpa berani mengungkapkannya ....


__ADS_2