RONA CINTA

RONA CINTA
EPISODE 40


__ADS_3

Sudah larut malam, namun Edward masih terus menekuni pekerjaannya. Hero menatap temannya itu dengan gusar.


"Ed, sudah malam. Mau balik jam berapa?" tanya Hero pada akhirnya. Setelah dilihatnya, Edward belum ada niat untuk pulang.


"Kamu pulang duluan tidak apa-apa, Ro. Aku mau selesaikan desain ini dulu, tanggung." jawab Edward tanpa berpaling dari layar laptopnya.


Hero menyadari ada yang tidak beres. Sepertinya Edward sedang tidak ingin pulang hari ini.


"Aku temeni, dah ... Tapi lapar, ni! Beli sesuatu kek!" kata Hero.


"Pesan saja! Aku yang bayar!"


"Kamu kira aku miskin apa? Minta dibayarin!" umpat Hero.


"Lalu?" tanya Edward tanpa melihat ke arah Hero.


"Berhenti dulu napa, Ed? Sedari tadi aku cuma bicara sama tembok" rupanya Hero sudah mulai jengkel.


"Apaan, sih?" jawab Edward jengah. Hero nyengir, karena akhirnya temannya itu mau mengalihkan pandangannya dari laptop. Dan memandang ke arahnya.


"Kamu kenapa, Bro?"


"Kenapa gimana?" Edward menjawab enteng.


"Aku tahu banget. Kamu hari kerja kayak orang gila, karena lagi tidak ingin pulang ke rumah, kan?"


Edward mendesah. "Entahlah, Ro."


"Karena?" tanya Hero hati-hati. Tak ingin salah ucap. Pertemanan mereka masih tergolong baru. Mereka baru kenal, saat masa orientasi mahasiswa baru.


"Edna meminta ijin untuk menikah dengan Dayona."


Hero menjadi paham, kegalauan temannya itu.


"Rasanya tidak rela, Ro. Melepaskan Edna. Lebih tepatnya, aku takut kalau terjadi apa-apa dengannya. Aku belum bisa percaya pada si breng*** itu." terang Edward.


"Tidak salah kalau kamu begitu, Ed. Mungkin aku juga akan seperti itu kalau di posisi kamu."


"Lalu menurutmu, aku harus bagaimana?" tanya Edward penuh harap, temannya bisa memberikan pencerahan pada pikirannya yang pekat karena penat.


"Kurasa pangkal masalahnya itu justru ada di kalian." jawab Hero.


"Maksud kamu?"


"Kalian berdua, kamu sama Dayona, kurasa harus selesaikan masalah kalian lebih dulu. Dalam hal ini sudah jelas, bahwa ini bukan hanya soal Edna, tetapi tentang kalian."


Enggan rasanya berurusan dengan Dayona lagi. Tetapi perkataan Hero memang benar. Harus ada penyelesaian diantara mereka.


"Gimana?" tanya Hero tak sabar.


Edward mengangguk, "Aku akan lakukan saran kamu." Lalu kembali mengerjakan pekerjaannya.


"Ed!!! Kamu beneran tidak ada niat untuk pulang???" tanya Hero kesal sambil melempar gumpalan kertas ke arah Edward.


"Kan, sudah aku bilang, aku mau selesaikan ini dulu." jawab Edward datar.


"Mau sampai jam berapa, Ed? Nyokap bisa ngomel 24 jam, kalau tahu aku pulang jam segini" omel Hero.

__ADS_1


"Bodo amat! Makanya pulang saja kamu! Dasar anak mama!" kata Edward sambil tertawa.


Umpatan Hero kembali di dengarnya, tetapi tak dihiraukannya. Kembali dia tenggelam pada desain yang dibuatnya. Edward baru beranjak dari kursinya, saat dirasakan punggung dan tangannya terasa pegal. Dilihatnya jam di dinding. Sudah menunjukkan pukul 02.30. Dan dilihatnya Hero jatuh tertidur di sofa kantor mereka.


Dibangunkannya Hero dan mengajaknya pulang.


"Huaaah .... Sudah jam segini saja, aku pulang ke rumah kamu aja deh, Ed." kata Hero sambil menguap.


"Okay ... Aku yang bawa mobil."


Hero mengiyakan dan menyerahkan kunci mobilnya.


Malam larut diterjang Edward menuju kediamannya. Rumah yang hari ini dihindarinya. Namun, tetap harus ditujunya.


---------


Edward membangunkan Hero saat sudah sampai di rumah. Segera dikeluarkannya kunci rumah untuk membuka pintu. Ketika Edward hendak memasukkan kunci di lubang pintu, tiba-tiba pintu terbuka dengan sendirinya. Membuat Edward dan Hero terperanjat.


"Kok, belum dikunci?" tanya Edward pada dirinya sendiri. Pikirannya mulai bekerja menerka-nerka.


"Orang rumah lupa kali, Ed" kata Hero menenangkan Edward.


Lalu mereka memutuskan untuk masuk dan mencari apa penyebab pintu utama masih terbuka. Waktu mereka memasuki ruang tengah, tiba-tiba mereka melihat seseorang tengah mengendap-endap keluar dari sebuah kamar. Itu kamar Kavana.


Edward dan Hero sama-sama melihat orang itu. Tetapi karena ruangan rumah gelap, maka mereka tidak mengenali orang itu. Dari siluet-nya, nampaknya orang itu seorang laki-laki. Edward memberi kode kepada Hero untuk membekuk orang itu dari dua sisi. Sesuai posisi mereka saat ini. Hero mengangguk mengerti. Lalu ....


"Ngapain kamu disini!!! Mau maling ya???!!!!!" kata Hero saat berhasil membekap orang itu. Orang itu meronta-ronta, tanpa bisa bicara dan kemana-mana, karena mulutnya ditutup oleh tangan Hero, sedang kedua tangan orang itu dicekal oleh Edward. Membuat suasana gaduh.


Tiba-tiba lampu ruang tengah menyala. Membuat ketiga orang yang sedang bergulat itu memicingkan mata silau.


"Mas, ada apa ini?" itu suara Kang Ari. Kang Ari rupanya tidur di sofa panjang di ruang tengah. Dia terbangun karena kegaduhan yang terjadi.


"Maling apa, Mas? Itu Mas Obed." kata Kang Ari sambil menunjuk ke arah orang yang sedang dalam bekapan mereka.


Begitu mendengar nama Obed, Edward langsung melepaskan cekalannya. Begitu juga Hero.


"Kamu Bed? Ngapain kamu disini?" tanya Edward heran.


Obed tampak terengah-engah sambil memijit-mijit tangannya yang tadi dicekal Edward dengan keras.


"Gila kalian!!! Hampir mati sesak nafas ni!" umpat Obed kesal.


"Mirip maling, sih!" seloroh Hero.


"Kampret kalian pada!!!!!" kata Obed sebal.


Kamar Edward kini diisi tiga cowok jomblo, yang tanpa rencana bisa bermalam bersama.


"Jadi tadi Kavana hubungi aku, Ed. Dia stress banget. Karena aku takut dia kenapa-napa. Datanglah aku kesini. Pikirku hanya sebentar, untuk menghibur dia. Tahunya dia nangis terus. Karena tidak tega, ku temani dia sampai tertidur."


Edward jadi merasa bersalah, karena sedari tadi dia tidak ada di rumah. Tetapi kemudian Edward bersyukur. Seandainya dia yang ada di rumah, Edward tidak bisa membayangkan apa yang harus dilakukannya untuk menenangkan Kavana. Edward takut kejadian malam itu terulang lagi. Kalau mereka tidak bisa menahan diri dan melewati batas.


"Sekarang dia sudah tidur?" tanya Edward.


"Sudah, makanya aku pelan-pelan keluar kamar." jawab Obed lagi.


"Makasih ya, Bed"

__ADS_1


Obed mengangguk.


"Ngomong-ngomong Edna dimana?" tanya Hero.


"Dia ada di kamar atas, Ro. Memang kenapa?"


"Kamu yakin tidak terjadi apa-apa antara mereka?" tanya Hero lagi.


Edward dan Obed bertatapan. Bisa jadi. Itu pikir mereka.


---------


Mereka berdua makan dalam diam. Pertemuan di meja makan yang tak terduga ini, disesali baik oleh Edna maupun Kavana. Andai mereka datang 15 menit lebih awal atau 15 menit lebih lambat. Maka mereka tidak akan makan berdua dalam keadaan seperti itu. Keduanya sama-sama enggan untuk saling menyapa apalagi bicara.


Namun, keheningan itu dipecahkan oleh suara nada dering pada ponsel Edna yang diletakkan di samping piring makannya. Rupanya ada panggilan telepon untuk Edna. Dan ....


"Na, kamu lagi apa?" Suara yang sangat Kavana kenal terdengar disana. Sepertinya Edna dengan sengaja menyalakan pengeras suara pada ponselnya. Itu suara Dayona.


"Ya, Bang. Edna sedang makan. Abang sudah makan?" jawab Edna manja.


"Belum sih, Na ... Soalnya belum matang masakannya. Ni aku lagi bantuin Mama masak."


"Seriusan Abang masak?" tanya Edna.


"Serius lah, kan harus siap jadi Papa. Kalau nanti kamu sudah melahirkan, harus jaga Jaden. Aku yang masak."


Suara Dayona begitu ceria. Berbanding terbalik dengan Kavana yang menjadi sangat sakit, terluka karena kedekatan mereka. Ingin rasanya meninggalkan tempat itu. Tetapi kalau itu dilakukannya, pasti Edna berpikir negatif tentangnya.


"Asyik nanti bakal dimasakin Abang." kata Edna senang.


"Jaga diri baik-baik ya, Na. Jaga Jaden juga buat Abang. Besok Abang antar kamu periksa."


"Ya, Bang. Edna pasti jaga Jaden baik-baik." kata Edna sambil mengelus-elus perutnya.


"Bukan hanya Jaden, Na. Tapi jaga diri kamu juga."


"Iya, Bang. Pasti." kata Edna mantap.


"Eh, kalau gitu lanjutkan makannya, makan yang cukup, ya sayang."


Dada Kavana berdesir nyeri, tersayat-sayat. Harusnya kalimat itu ditujukan buatnya, bukan Edna.


"Ya, Bang. Abang juga jangan telat makan, ya?"


"Siap Nyonya Aldari" Dayona terkekeh.


Sedang Edna tampak tersipu malu.


"Sudah ya, nanti Abang telepon lagi. Love you, Sayang."


"Dah, Abang. Love you too, Bang!"


Edna mengakhiri panggilannya.


"Bi, Edna mau makan di kamar saja. Boleh dibawakan?"


"Ya, Mbak." kata Bi Edah segera mengemasi makanan Edna, menaruhnya di atas nampan dan berjalan mengikuti Edna yang sudah lebih dahulu menuju ke kamarnya.

__ADS_1


"Bibi antar makanan Mbak Edna dulu ya, Mbak" pamit Bi Edah yang tak sempat dibalasnya, karena Kavana keburu berlari ke kamarnya. Meninggalkan makan malamnya begitu saja. Menangis sepuasnya disana.


Meratapi kenapa hatinya harus sesakit ini, untuk melepaskan Dayona. Mulutnya berkata bisa, tetapi hatinya terus meluka.


__ADS_2