
"Bagaimanapun ini aib bagi keluarga kami. Kalau ini sampai tercium ke media, perusahaan dan karier Arhea sebagai model bisa hancur. Apakah kamu paham akan hal ini?"
Kalimat panjang dari Papa Arhea itu, terus terngiang di telinga Dayona, sampai dia sulit untuk memejamkan mata.
"Pa, apa yang harus Dana lakukan?"
"Apakah ini tuaian dari apa yang sudah aku tabur?"
"Bagaimana dengan Edna dan Jaden?"
Kepala Dayona dipenuhi dengan banyak pertanyaan. Untuk menjawab semua pertanyaan itu, diputuskannya untuk bicara lagi dengan Arhea.
"Rhe, kita tidak mungkin menikah. Tidak ada cinta diantara kita. Apakah kamu mau aku menikahimu hanya karena terpaksa?"
Arhea hanya menunduk. "Kalau itu yang terbaik buat keluargaku, aku rela, Dan."
Dayona terkesiap mendengar jawaban Arhea.
"Lalu bagaimana dengan aku, Rhe? Aku punya tanggung jawab untuk menikahi ibu dari anakku."
"Jadi sama saja, kan? Kamu menikahinya hanya karena dia sudah hamil, bukan karena cinta." Ucapan Arhea begitu tajam menikam.
Dayona menggeleng. "Kamu salah, Rhe. Aku menikah bukan karena tanggung jawab semata. Tetapi karena aku sayang padanya."
Arhea mendesah, seperti tak suka mendengar jawaban Dayona.
"Aku tidak bermaksud egois, tapi keluargaku segalanya buat aku. Dan kini fokusku hanya itu."
"Andai aku dapat bertemu dengan Fleta, maka semua ini tidak harus terjadi!" Kembali Dayona mengingat akan Fleta, tokoh utama dalam masalahnya ini.
"Papa menunggu kamu untuk segera melamarku, Dan." Arhea menutup pertemuan itu, dengan kalimat himbauan, namun terdengar sebagai sebuah ancaman bagi Dayona yang sedang tertekan.
---------
Edward berusaha menenangkan Edna yang menangis tersedu-sedu. Kavana yang berdiri di sudut ruangan, juga tak kuasa menahan tangisnya.
"Edna mau bertemu Abang, Kak?" kata Edna dalam tangisnya.
Edward hanya mengangguk lemah. Setelah Edna mengetahui semua, Edward bertekad untuk membiarkan Edna memutuskan sendiri atas masalahnya dengan Dayona.
"Abang disini, Na." suara Dayona membuat semua orang berpaling ke arah pintu. Wajah Dayona kusut dan terlihat sama sedihnya dengan wajah semua orang saat itu.
"Aku akan beri kalian waktu untuk bicara." kata Edward seraya melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, diikuti Kavana.
"Na, maafkan Abang. Abang tidak pernah menyangka akan jadi seperti ini." Dayona bersimpuh di kaki Edna. Tangisnya pecah.
"Bang, bisakah Edna berharap bahwa Abang akan tetap bersama Edna. Pernikahan kita akan benar-benar terjadi. Jaden akan lahir didampingi papanya?" tanya Edna pilu.
Dayona tak mampu berkata-kata lagi. Mereka berdua hanya menangis bersama, mengeluarkan semua emosi di jiwa yang merana.
"Na, kamu percaya sama Abang?" pertanyaan itu diajukan Dayona ketika mereka berdua sudah berbaring di ranjang Edna, setelah lelah menangis lama.
"Percaya, Bang." jawab Edna sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Kenapa?"
"Mengikuti hati nurani mungkin, sejak Abang bilang mau menikahi Edna, Edna melihat kesungguhan. Itulah yang membuat Edna yakin ke Abang,"
__ADS_1
"Makasih, Na. Kepercayaan kamu sangat berarti buat Abang. Abang janji akan berjuang buat kamu dan anak kita."
Edna tersenyum. Dayona menggenggam erat tangan Edna yang terbaring di sampingnya. Ada doa yang terselip disana.
"Tuhan ijinkan aku menggenggam tangan ini selamanya ...."
Mereka memejamkan mata, lalu tertidur dalam buaian asa tentang cinta dan rasa yang tak teraba di depan sana.
Edward masuk kamar Edna, setelah dua jam keduanya tidak tampak keluar dari kamarnya.
Didapatinya, keduanya sedang terlelap. Edward menatap haru pemandangan di depannya. Kali ini, dia melihat Dayona dalam pandangan yang berbeda. Dia bisa melihat bagaimana Dayona berjuang untuk bisa bersama Edna. Dan Edna dengan sekuat tenaga berusaha untuk tetap percaya pada calon suaminya.
"Mereka tidur dengan sangat damai ya, Ed." kata Kavana yang sudah berdiri di sampingnya.
Edward mengiyakan perkataan Kavana itu.
"Aku berharap takdir berpihak pada mereka, Ed."
Edward menoleh ke Kavana.
"Maksud kamu?"
"Dayona sedang menghadapi raksasa!"
---------
"Ro, kapan kamu akan kasih Mama cucu?" pertanyaan Mama mengagetkan Hero.
"Halo, Ma, Hero tidak salah dengar, kan? Atau Mama yang salah tanya?"
Mama mendelik. "Ya tidak salah! Mama benar tanya kapan kamu akan kasih Mama cucu."
"Mama serius, Ro!!!"
"Lagian Mama tu aneh, tanya seperti itu!" gerutu Hero.
"Salahnya dimana?" tanya Mama sebal.
"Ma, Hero itu masih kuliah,"
"Lalu?"
"Kuliah itu bisanya kasih ijazah, Ma." jawab Hero dengan menekankan kata ijazah.
"Apa salahnya, kalau kamu menikah awal, Ro ... Mama kesepian tidak ada teman. Kamu sudah sangat sibuk kuliah dan urus bisnis, jadi kapan bisa memikirkan pacaran!" semprot Mama.
"Nah, itu Mama paham." Hero mulai jengah dengan pertanyaan Mamanya itu.
Tapi Mama terus mendesak Hero. "Memang tidak cewek yang sedang dekat sama kamu?"
Hero menggeleng.
"Lalu cewek yang pernah ke vila kita? Siapa tu?" selidik Mama.
"Itu adiknya Edward, Ma. Teman kuliah dan bisnis Hero itu." kata Hero santai sambil menyantap roti oles selainya.
"Tapi kata Mang Uki, anaknya cantik, sehingga membuat kamu nekad datang ke vila tanpa bawa baju hangat, demi membawakan makanan kesukaannya. Benar itu?"
__ADS_1
Hero mendesah.
"Waduuuh, siapa saya? Sampai banyak gosip menerpa saya! Dan Mama saya yang hobinya nonton infotainment sudah termakan olehnya!" kata Hero bak pembawa berita.
"Benar tidak ada apa-apa?"
"Tidak ada, Ma!" jawab Hero meyakinkan Mamanya.
Mama kemudian diam dan kembali berpaling pada televisi yang menyala di dekat mereka. Dan Hero sendiri terus menikmati roti diatas piringnya.
Ting.
Ada pesan masuk di ponselnya. Dari Edna. Nama yang sejak tadi dibahas Mamanya. Hero tersenyum sendiri mengingat pembicaraannya tadi.
Edna
Kak, Edna boleh ke vila?
Hero langsung membalas pesan itu sambil tersenyum-senyum senang. Sementara, mata Mama lekat mengamatinya.
Hero
Boleh. Kakak akan antar kamu kesana. Kakak jemput kamu 30 menit lagi. Siap-siap ya ....
Edna
Makasih Kak 🤗
Hero segera menyelesaikan makannya, menaruh piring kotor di bak cuci piring dengan sembarangan, mencabut kaos di lemarinya asal, mengambil jaket yang bersih di gantungan bajunya dan menyambar kunci mobilnya.
"Sudah mau pergi? Kemana?" teriak Mama saat melihat Hero memakai sepatunya sambil berjalan.
"Yes, Ma ... Hero pergi dulu mau ngadem ke vila, I love you!" jawab Hero sambil melambaikan tangannya.
"Begitu bilangnya tidak ada apa-apa!" Mama geleng-geleng melihat tingkah laku anaknya. Feeling-nya sebagai seorang ibu tidak mungkin salah. Anaknya sedang jatuh cinta.
---------
Edward duduk berhadapan dengan Dayona lagi.
"Aku mau buktikan ke kamu, Ed. Aku serius dengan Edna. Tapi tolong bantu aku?" pinta Dayona.
"Apa?"
"Aku harus ketemu dengan Fleta. Dia yang pasti bisa menolongku keluar dari masalah ini."
"Sebelum kamu minta, aku sudah mencarinya, Dan. Tetapi sampai saat ini, belum ada titik terang dimana keberadaannya."
Keduanya sedang berpikir keras, saat panggilan telepon masuk melalui ponsel Dayona. Panggilan dari Arhea.
"Dan, tolong!!!!!" Arhea terdengar sedang menangis dan sangat panik.
"Kenapa Rhe?"
"Papa ... papa ...." hanya itu yang dikatakan Arhea, kemudian panggilan itu terputus.
----------
__ADS_1
Terima kasih sudah setia membaca Rona Cinta. Semangat berkarya buat kita semua 💜💜💜