RONA CINTA

RONA CINTA
EPISODE 12


__ADS_3

Kavana tidak pernah berpikir untuk berbuat curang dibelakang Edward, kekasihnya. Baginya Edward menjadikannya wanita yang lebih baik. Baru kali ini, dia pacaran dengan seorang cowok yang tidak pernah menyentuhnya. Padahal semua cowok yang dipacarinya, menganggap kissing bahkan petting bukan hal yang tabu dilakukan saat pacaran. Dan Kavana menikmatinya. Sentuhan dari seorang cowok menjadi kebutuhan baginya. Seperti candu bagi tubuhnya.


"Kenapa sih, kamu tidak mau menyentuh aku sama sekali?" protes Kavana suatu hari saat Edward menoyor kepalanya saat ingin memberikan morning kiss.


Pagi itu, Edward berjanji menemani Kavana untuk pergi ke Car Free Day.


"Ini prinsip Na, aku mau sentuh cewekku kalau nanti sudah resmi menikah! tegasnya.


"Kamu tu ... kuno! Persis barang antik di museum. Aku heran ya, hari gini masih ada orang yang punya pemikiran kayak kamu, Ed!" cibir Kavana.


"Dari kecil aku diajarin kayak gitu Na, Mama selalu ingatkan aku ... Mungkin kuno, tapi itulah aku" terang Edward.


Kavana menyerah pasrah. Dalam hal ini, dia tidak akan pernah menang berdebat dengan Edward. Edward memang beda.


Harusnya itu menyadarkannya, dari semua kejijikan yang sering dilakukannya.


Ada keinginan untuk berhenti, tapi itu sulit.


Dan kini, kehadiran Dayona ke dalam kehidupannya bagaikan oase di tengah padang gurun yang mampu memenuhi dahaganya. Dahaga akan kasih sayang seorang lelaki yang tidak pernah di dapatnya dari seseorang yang disebut Papa.


Papa dan Mama bercerai saat Kavana masih batita. Sejak itu, Kavana sama sekali tidak berhubungan dengan Papanya. Kata Mama, Papa akan datang pada perayaan ulang tahunnya yang ke - 17. Perayaan itu tidak pernah ada. Artinya tidak ada Papa juga.


"Dayona ...."


Kenapa sekarang hati Kavana jadi berdebar, saat mengingat nama itu.


Debaran itu semakin kencang saat dia berdekatan dengan Dayona. Seperti saat ini, ketika mereka berdiri berdampingan di rooftop sebuah resto di Bukit Bintang. Menikmati hamparan nyala lampu di pemukiman bak lautan bintang yang sangat indah. Udara dingin membuat Kavana merapatkan jaketnya. Angin yang cukup kencang berkali - kali mengacaukan tatanan rambutnya.


Disampingnya Dayona tampak menikmati pemandangan yang terhampar di depannya. Semua itu tampak dari ekspresi wajahnya yang berseri - seri.


Berkali - kali Kavana mencuri - curi pandang ke arah Dayona, dari samping terbentuk siluet wajah cowok itu. Memang tidak setampan Edward, tetapi wajah Dayona enak untuk dipandang dan tidak membosankan. Mungkin karena dipengaruhi oleh pembawaannya yang hangat dan penuh kejutan.


Kavana sendiri sudah dua kali dikejutkan, saat ulang tahunnya dan malam ini.


"Memang ada ya yang lebih indah dari bintang?" tanya Dayona dengan pandangan tetap lurus ke depan.


"Hah ... Maksudnya?" Kavana mengernyitkan dahinya untuk mencerna pertanyaan Dayona tadi.


"Kayaknya sih ada ..." kata Dayona lagi.


Kavana semakin bingung.


"Apaan sih, Dan, gak ngerti aku!"


"Aku ... yang lebih indah dari bintang ...."


Kavana terkekeh. Percaya diri juga cowok yang di sampingnya ini.


"Oh ya? Kok gitu?" Kavana minta penjelasan.


"Buktinya dari tadi, kamu melihat ke aku terus, bukannya melihat bintang!" kali ini Dayona berkata sambil tersenyum dan menoleh ke arah Kavana.


Pipi Kavana merah padam, malu.


"Ge er banget sih, emang siapa yang melihat kamu terus??!!!". elak Kavana.


"Oh, bukan kamu memang ... Tadi yang memandangiku terus tu bidadari" seloroh Dayona yang membuat Kavana makin tersipu malu.

__ADS_1


"Gombal ... Ahli banget ya merayunya, dimana sih belajarnya?"


"Suka?" tanya Dayona tanpa menjawab pertanyaan Kavana sebelumnya.


Kavana mengangguk.


"Kalau begitu boleh gak aku melakukannya setiap hari khusus buat kamu?" pinta Dayona sambil mengedipkan matanya.


Jantung Kavana berdesir, ada getaran - getaran aneh di hatinya.


Malam itu, ada yang mencuri sedikit ruang di hatinya yang seharusnya sudah jadi milik kekasihnya, Edward. Edward? Ada perasaan bersalah yang pada detik itu menderanya.


Tetapi sisa malam itu terlalu nikmat untuk dirusak dengan rasa bersalah...


------------------


Rumah Edward,


"Tumben Papa pulang" batin Edward saat memasuki halaman rumahnya sepulang sekolah. Tampak disana, mobil Papa sudah terparkir di dalam garasi, menandakan kalau Papa akan cukup lama di rumah.


"Kang, Papa pulang?" tanyanya pada Kang Ari yang sedang berada di teras rumah.


"Ya Mas, sudah sejak tadi ... Mbak Edna pulang sore kan Mas hari ini? tanya Kang Ari memastikan.


"Benar Kang, jangan lupa dan jangan telat jemput ya, Kang!" pintanya.


"Ya, mas"


Edward pamit masuk untuk segera mengganti bajunya. Setelah menukar baju sekolahnya dengan baju rumahan, Edward segera menuju ruang makan. Tampak Papa - nya sedang berada di sana, sibuk dengan laptop di hadapannya.


"Pa ..."


Setelah itu, hening. Edward menyendok makan siangnya dalam diam. Rasa asing menyergap diantara mereka. Mungkin karena sudah terlalu lama mereka tidak berinteraksi. Tidak ada pertemuan maupun panggilan telepon, seperti layaknya seorang Papa kepada anaknya dan begitu pula sebaliknya.


"Kapan Papa datang?" akhirnya Edward yang memulai pembicaraan mereka. Ada banyak pertanyaan yang tersimpan selama ini yang harus dicari tahu jawabannya, pikir Edward.


"Jam 13.00 tadi, Papa ingin lihat rumah dan kalian" terangnya singkat.


"Ooooo ... Kok Papa sekarang jarang sekali pulang, Papa tidur dimana?" Edward kembali bertanya.


Papa menghentikan kegiatannya dan memandang kepada Edward dengan tatapan mata yang begitu serius.


"Ed, dengar Papa, Papa sedang berjuang untuk kamu dan Edna, untuk masa depan kalian, supaya kalian bisa jadi orang besar ... jadi Papa perlu konsentrasi dalam bekerja, maka itu, Papa memutuskan membeli Apartemen di dekat Kantor."


Sekarang Edward mengerti dimana Papanya tinggal, tapi untuk alasan kenapa tinggal disana yang belum dia pahami. Apakah kalau di rumah tidak bisa konsentrasi? Kenapa? Apa yang membuat tidak konsen?


Ingin kembali ditanyakannya, tapi Edward tak punya nyali untuk itu.


Edward sudah menyelesaikan makan siangnya. Ketika akan beranjak dari kursinya, Papa mencegahnya.


"Duduk dulu Ed, Papa mau bicara!"


"Ada apa, Pa?" tanya Edward.


"Kamu sudah kelas 3 kan, sekarang? Sudah tahu akan kuliah dimana? Lihat ni ... Papa sudah menyiapkan semua untuk kamu, kamu akan masuk Kampus Bisnis terbaik di kota ini Ed, kamu pasti bisa jadi pebisnis hebat dan kelak akan menggantikan posisi Papa!" cerocos Papa tanpa memberikan kesempatan kepada Edward untuk menanggapi.


Edward masih mencerna setiap kata dalam ucapan Papa. Kampus Bisnis? Pebisnis? Menggantikan posisi Papa?. Mendadak darahnya mengalir lebih deras, membentuk gelombang - gelombang emosi dalam dirinya.

__ADS_1


"Bukan itu yang Edward mau, Pa!!!" tanpa sadar Edward dengan emosi yang membuncah, menjawab dengan nada tinggi, atas pernyataan Papanya.


"Lalu apa yang kamu mau, Ed?!!!!! Jawab Papa!!!" bentak Papa yang mulai tersulut nada tinggi anaknya.


"Papa tahu keinginan Edward dari kecil! Papa tahu itu! Edward ingin jadi pelukis!"


"Pelukis???? Mau makan apa kamu jadi pelukis??? Pikirmu gampang jadi pelukis! Realistis, Ed! Masa depan kamu sudah Papa siapkan, tinggal kamu menjalaninya ... Tidak perlu lagi bersusah payah seperti Papa sekarang ini! Kurang enak apa? Tahu kamu!!!!????" kata Papanya dengan nada emosi.


Kali ini Edward tak tahu harus menjawab apa lagi. Dia mulai tahu apa maksud kedatangan Papa hari ini, Papa sedang memaksanya untuk mengikuti kemauannya.


"Ma ... Edward butuh Mama, hanya Mama yang bisa mengerti aku... " kata Edward memelas di depan lukisan Mamanya. Setelah berlalu begitu saja meninggalkan Papa dan memilih masuk ke kamarnya. Berdiam disana dan tak keluar - keluar lagi. Masa bodoh dengan Papa dan semua.


"Andai Mama disini ...."


"Andai Mama masih ada ...."


"Andai Mama ada di dekatnya ...."


Edward tahu hari itu, masa depannya sudah diputuskan ... Masa depan yang jauh dari keinginannya ....


-----------------------


Hari ini, Pak Wiryatama memberitahunya bahwa rumah yang selama ini ditinggalinya sudah akan dijual atas persetujuan Mama tentunya. Tak masalah bagi Dayona, lebih kepada tak perduli lagi sebenarnya, karena sejak Papanya meninggal, Dayona tidak mau lagi menginjakkan kakinya disana. Terlalu sakit mengingat semuanya. Bayang - bayang kematian Papa masih terus menghantuinya.


Selama itu, Dayona tidur menumpang di rumah Obed. Berbagi kamar dengan temannya itu membuatnya sulit terpejam hingga larut malam.


Tapi mulai malam ini, Dayona akan memiliki kamarnya sendiri. Bukan hanya kamar, bahkan seluruh tempat ini adalah miliknya.


Memang tidak semewah apartemen keluarga yang kini ditempati Mama dan laki - laki selingkuhannya itu. Tapi ini peninggalan Papa. Warisan Papa atas nama Dayona.


Dan tempat inilah yang akan menjadi tempatnya memulai perjalanan baru. Seorang anak muda belasan tahun dengan nafsunya, dengan egonya, dengan amarah serta hasrat - hasrat kemudaannya ...


"Ku ingin saat ini engkau ada disini,


Tertawa bersamaku s'perti dulu lagi ...


Walau hanya sebentar, Tuhan tolong kabulkanlah ...


Bukannya diri ini tak terima kenyataan,


Hati ini hanya rindu ... Ho oh ...


Hati ini hanya rindu"


(Andmesh Kamaleng - Hanya Rindu)


Senandung Dayona dengan petikan gitarnya.


Terasa hatinya begitu hampa.


Rindu Papa ....


Rindu Mama ....


Rindu dirinya ....


Rindu hidupnya yang lama.

__ADS_1


Namun, kini dia hanya bisa merindu tanpa tahu tempat mana yang harus dia tuju, untuk sekedar mengadu ....


__ADS_2