
Edward menatap Dayona iba. Sahabatnya itu terpekur dalam kesedihan. Jenazah Papanya baru siang tadi dikebumikan.
Rasa kehilangan bukan saja dirasakan Dayona, Edward sebagai sahabat Dayona dan mengenal dekat Om Ferdian juga merasakannya. Om Ferdian yang begitu baik kepadanya, memperlakukannya seperti anak - nya sendiri pergi begitu cepat.
Edward kembali mengingat hari dimana Mamanya meninggal.
Waktu itu, dia baru serius belajar untuk persiapan try out. Edward sedang senang - senangnya bercerita dengan mamanya bahwa sebentar lagi ia akan mengganti seragam merah putihnya dengan biru putih.
Mama selalu tersenyum saat dirinya maupun Edna bercerita tentang mimpi dan cita - cita mereka.
"Ma, Ed mau jadi pelukis terkenal, nanti Ed akan melukis Mama dan buatin pameran lukisan buat Mama" seru Edward.
"Kalau Edna mau jadi perawat, supaya kalau Mama, Papa dan Kakak sakit, Edna yang merawat!" Edna tidak mau kalah.
"Iya sayang ... Kalian pasti jadi anak - anak hebat, mama akan selalu mendoakan kalian" kata mama sambil bergantian mengelus kepala Edward dan Edna.
"Jadi mama harus segera sembuh, ya." Edna memeluk mama. Edward mengiyakan.
"Kalian selalu doakan Mama ya, supaya Tuhan memberikan kesembuhan buat Mama"
Edward menempatkan tangannya dalam posisi hormat.
"Siap, Ma!"
"Ed, ingat ... Selalu jaga Edna, kamu kan kakak - nya, sayangi dan lindungi adik kamu! Selalu hormat sama Papa, tidak ada alasan untuk tidak hormat sama Papa, Edward, paham?"
Edward mengangguk, "Iya, Ma."
Mama kembali tersenyum. Dibetulkannya selimut yang tersingkap di bagian kakinya yang semakin kurus.
"Nah ... Sekarang Mama mau istirahat dulu, kalian belajar lagi sana ... Yang semangat belajarnya!" suruh Mama.
"Oke Ma, I love you, Ma ..." Edna mengecup pipi mama kemudian keluar dari kamar Mama. Disusul Edward di belakangnya.
"Mama juga sayang kalian ...."
Itulah kalimat terakhir yang Edward dengar dari Mamanya. Karena setelah itu, Mama tidur dan tidak pernah bangun lagi. Masih lekat di ingatan Edward, waktu itu didengarnya Papa berteriak memanggil Kang Ari untuk segera menyiapkan mobil. Papa kemudian keluar dengan membopong Mama yang sudah tidak bergerak.
Saat itu, Papa juga berpesan kepada Edward untuk menjaga rumah bersama Edna dan Bi Edah. Dan Papa - pun pamit untuk pergi ke Rumah Sakit.
Kejadiannya malam sekitar pukul 21.00. Selama menunggu, Edward dan Edna hanya bisa berdoa sebisa mereka. Berharap Mamanya akan segera pulang dan tidak kenapa - napa.
__ADS_1
Tapi Tuhan berkehendak lain, pukul 3 pagi, Bi Edah mendapat panggilan melalui telepon rumah dan setelah itu terdengar Bibi menangis terisak - isak sambil melakukan panggilan berkali - kali entah kepada siapa saja. Edward tak tahu. Dia hanya mengamati gerak - gerik Bi Edah dengan bingung, ada perasaan tidak enak yang mulai menyergapnya, pikirannya sudah membayangkan yang tidak - tidak.
"Jangan - jangan Mama?"
Tapi segera ditepisnya itu jauh - jauh dan terus berdoa di dalam hatinya, untuk kesembuhan mamanya.
Pukul 4 pagi, suara sirine mengejutkannya, asal bunyinya dekat sekali, seperti ada di depan pintu rumahnya. Dan benar, saat Edward berjalan menuju pintu. Papa sudah membuka pintu dan masuk bersama serombongan orang yang langsung memindah - mindahkan kursi ruang tamu dan menyiap - nyiapkan ruangan itu.
"Pa ..." Edward mendekati Papa yang tampak sibuk menerima panggilan telepon.
Papa menggerakkan tangannya memberi isyarat untuk tidak mengganggunya dulu.
Edward memilih untuk masuk ke kamar Edna dan membangunkan adiknya yang sudah tidur beberapa jam yang lalu. Dan menceritakan apa dilihatnya di rumah saat itu. Lalu mereka keluar kamar untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah mereka. Saat itulah, mereka melihat tubuh Mama yang sudah kaku, berada di dalam peti. Edward baru menyadari bahwa ketakutannya sudah jadi kenyataan.
Mama meninggalkannya untuk selamanya ....
--------------------
Dayona menangis dalam diam saat mengingat kejadian yang baru saja dilihatnya di Apartemen. Begitu teganya Mama melakukan semua itu kepadanya dan kepada Papa.
Dayona sangat tahu betapa cinta - nya Papa kepada Mama, Papa yang selalu membanggakan Mama dan berusaha selalu membahagiakan keluarga kecilnya.
Dayona meraung frustasi, membenamkan wajahnya di telapak tangan. Kemudian menjambak - jambak sendiri rambutnya. Lalu dengan geram diserakkannya semua barang yang ada di meja belajarnya. Semua terjatuh dan menimbulkan bunyi yang berisik. Dayona tidak peduli lagi dengan kamarnya yang sudah berantakan.
Dayona hanya terus menangis meluapkan semua rasa sakit di dadanya.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!" tiba - tiba suara jeritan Bibi, Asisten Rumah Tangga, terdengar begitu keras sampai ke kamarnya. Diikuti bunyi piring pecah. Dan bunyi gedebuk.
Saat itu juga, Dayona yang diliputi tanda tanya, menyeka air matanya dan berlari ke arah suara, betapa kagetnya ia ketika mendapati Bibi sudah tergeletak di lantai, tak bergerak, disampingnya berserakan pecahan piring, gelas, makanan, minuman dan kapsul - kapsul obat.
"Ada apa dengan Bibi?" batinnya. Segera dihampiri Bibi dan berniat untuk membantunya. Dengan berjongkok membelakangi kamar Papa, digoncang - goncangnya tubuh Bibi, tapi tidak ada tanda - tanda Bibi akan terbangun. Dayona sangat panik dan bermaksud memberitahu Papa untuk meminta pertolongannya.
Saat Dayona membalikkan badannya, hendak bangkit dari tempat dia berjongkok, reflek kepalanya mendongak. Dan betapa terkejut dan takutnya Dayona. Dilihatnya sepasang kaki menjuntai di depan matanya.
"Pak Awiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!! ... Pak Awi ... Pak Awiiiiiii, toloooooooong!" teriak Dayona panik, memanggil asisten rumah tangganya yang lain.
Pak Awi datang dengan tergopoh - gopoh, dan ikut terkejut melihat semua hal yang terjadi.
"Papa ... Papa, Pak Awiiii" tunjuk Dayona pada tubuh yang menggantung di pintu kamar itu.
Dayona menangis lagi, kali ini karena Papa yang meninggalkannya dengan cara yang tak pernah disangkanya ....
__ADS_1
--------------------
Berita kematian Papa sudah tersiar ke seantero kota. Ferdian Aldari, dilaporkan meninggal karena terkena serangan jantung. Pak Awi sudah mengurus semua hal untuk pemakaman Papa.
"Tidak ada yang boleh tahu yang sebenarnya, Mas ... Biar ini jadi rahasia kita, demi Pak Ferdian dan Mas Dana juga" nasehat Pak Wiryatama, pengacara Papa.
Dayona hanya diam membisu saat banyak orang mulai berdatangan ke rumah duka.
Sanak saudara, relasi, kenalan Papa turut mengucapkan dukacita. Teman - teman dan guru sekolahnya juga hadir disana.
Edward sahabatnya, terus menemaninya. Menguatkan dan menghiburnya.
Kehadiran Edward seharusnya bisa sedikit meredakan kesedihannya, seperti biasa yang dilakukan Edward sebelumnya, saat dia patah hati, gagal ujian, kehilangan anjing kesayangan Edward - lah yang mampu menghiburnya.
Tetapi kali ini berbeda. Dunia masa kecil dan masa remaja mereka telah berubah. Tidak lagi sama, sejak Papa Edward telah menyebabkan Mama pergi meninggalkan Papa, yang membuat Papa depresi dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Di depan jenazah Papa, tangan Dayona mengepal dalam amarah ... Tercipta janji yang direstui oleh bapa sang pendusta.
"Aku, tidak akan pernah membiarkan mereka hidup tenang, mereka akan merasakan apa yang yang aku rasakan ..."
Dan tangis Dayona pecah, saat jasad papanya dimasukkan ke peristirahatan terakhirnya. Semua ucapan doa tidak ada yang dapat menawarkan rasa sakitnya.
"Mama dimana? Mama ... Dana perlu Mama, peluk Dana Ma, Dana tidak mau hidup sendiri, Mama ..." igau Dayona malam itu dalam tidurnya.
Edward yang masih terjaga di sampingnya hanya bisa menepuk - nepuk pundak sahabatnya itu, berharap apa yang dilakukannya bisa sedikit meringankan kesedihan Dayona.
Dayona yang telah berbagi banyak hal dengannya, yang berkata, "Jangan nangis" sambil menepuk - nepuk punggungnya, saat menemaninya di pemakaman Mama.
Aku disini sahabat,
Selalu memegang tanganmu erat,
Saat semua tampak berat,
Aku akan selalu berdiri dekat ....
----------------------
Terima kasih sudah setia membaca Novel perdana saya. 💜💜💜
Selamat membaca ...
__ADS_1