
Dayona melempar jaketnya dengan kesal. Semua hal yang dilakukannya untuk menemui Kavana berujung sia-sia. Bahkan, hari ini, dia merasa direndahkan dengan permainan murahan. Entah siapa dalang dibalik semua ini.
"Dan, kamu pulang, Nak?" tanya Mama begitu mendapati anak semata wayangnya itu memasuki rumah.
Dayona terus berjalan tanpa menjawab. Dia masuk kamarnya dan membanting pintu. Menimbulkan bunyi keras yang memekakkan telinga.
"Daannnnnn!!!!" teriak Mama mengingatkan. Mama menggelengkan kepala mendapati sikap anaknya itu.
Perang dingin masih terjadi diantara mereka Dayona dan Mamanya. Tinggal bersama, namun seperti tikus dan kucing. Hanya ada perbantahan dan pertikaian terjadi setiap harinya.
Di kamar, Dayona membuka laptop. Setelah sekian lama, hari ini Dayona kembali memulai meng-akses media sosialnya. Tujuannya hanya satu, menemukan keberadaan Kavana. Ketika dibukanya, notifikasi yang pertama muncul adalah sebuah pesan dari Edna. Kala mereka masih bersama. Edna? Bagaimana kabar Edna?
Ingatan Dayona kembali ke masa-masa dimana dia bersama Edna. Tanpa sadar, justru sekarang, dibukanya akun Edna. Dan disana, bertebaran foto cewek cantik bermata indah itu. Foto terakhir yang di-posting menampakkan badannya yang sedikit menggemuk. Keliatan lebih berisi, tetapi justru semakin terlihat cantik. Dayona mengingat Edna sedang hamil. Dan itu, anaknya.
"Anak? Aku akan punya anak?" gumannya sendiri.
"Ah, bagaimana mungkin? Paling dia sudah menggugurkannya? Mana mau dia punya anak dari aku?" katanya sendiri.
Itu pikirannya. Tetapi sebuah pesan di media sosialnya, mematahkan semuanya.
Leony:
Aku Leony, Kak. Sahabat Edna. Edna yang sudah Kakak sakiti.
Kakak perlu tahu! Semua yang Kakak sudah lakukan kepada Edna, tidak akan pernah termaafkan! Tapi aku bersyukur, punya teman yang kuat. Keteguhannya yang membuatnya bertekad untuk merawat anaknya sendiri! Jadi di kemudian hari, jangan pernah dekati Edna lagi! Dan jangan tanyakan apa-apa tentang Jaden!
Pesan itu cukup menohok Dayona. Jiwanya bergetar. Hati nuraninya, mengatakan kebenaran untuknya. Jaden? Apakah itu nama yang akan diberikan Edna untuk anaknya? Anakku?
Dayona merasakan sakit didadanya. Karena kesalahan yang dibuatnya. Rasa sakit karena telah menyakiti Edna.
"Na, maafkan Abang" bisiknya pada foto Edna di layar laptop. Kalimat yang belum pernah diucapkannya pada cewek itu.
---------
Asam lambung meningkat. Itulah penyebab sakit yang dirasakan oleh Kavana. Rupanya apa yang terjadi beberapa waktu ini, mempengaruhi psikis Kavana. Stress, tepatnya.
"Va, mulai sekarang harus makan dan istirahat dengan teratur!" kata Edward setelah membaringkan Kavana di tempat tidurnya.
Kavana hanya mengangguk lemah.
"Kamu istirahat ya, aku mau ke kamar dulu. Kalau ada perlu apa-apa, panggil saja." kata Edward, hendak keluar meninggalkan kamar Kavana.
Namun, tangan Kavana menahannya.
__ADS_1
"Ed, temani aku, please?" pinta Kavana memelas. Merengek seperti anak kecil.
Edward menoleh dan menatap Kavana yang tampak pucat. Bulir-bulir keringat membasahi dahinya. Sisa-sisa menahan sakit tadi. Kini, sakitnya sudah mereda setelah meminum obat dari dokter.
Tak tega, akhirnya Edward menuruti permintaan Kavana. Edward duduk tepat disamping ranjang Kavana dan membiarkan lengannya terus dipeluk Kavana.
"Ed, jangan pergi, ya ..."
"Iya, aku disini." kata Edward. Kavana yang sekarang sedang terbaring lemah disampingnya, bukan lagi cewek yang pernah dicintainya, tetapi seorang saudara yang harus disayanginya.
Sudah 10 menit lengannya dijadikan alas tidur oleh Kavana. Dan mulai terasa kesemutan menjalar disana. Dengan pelan, ditariknya lengannya, saat melihat Kavana sudah terlelap. Saat melirik jam di dinding kamar, dia baru teringat akan Kang Ari yang pergi ke Villa menemui Edna. Kenapa belum ada kabar sampai sekarang? Diambilnya ponsel dan ...
"Kang, sudah dimana?" tanya Edward seketika mendengar kata halo dari Kang Ari.
"Maaf, Mas ... Baru kasih kabar, saya di bengkel Mas, mobil mogok," jawab Kang Ari.
"Kok, Kang Ari baru bilang? Kasihan Edna nunggu, Kang."
"Tapi bakmi gorengnya sudah diantar ke Mbak Edna, kok, Mas," terang Kang Ari.
"Kok bisa?" tanya Edward bingung. Lalu Kang Ari menceritakan apa yang terjadi.
Setelah menutup panggilannya ke Kang Ari, Edward segera menelepon Edna.
"Sudah, Kak" jawab Edna tampak biasa saja.
Tidak sesuai prediksi awalnya. Edward pikir Edna akan sangat marah, karena yang pertama dirinya tidak jadi datang, yang kedua karena alasan yang membuatnya tidak jadi datang.
"Sudah dimakan?"
"Sudah, Kak ... Tahu tidak, Kak, Kak Hero tadi kesini tidak bawa jaket, karena kedinginan, jadi Edna pinjemin jaket, dong ... Jadi sekarang dia sedang pakai jaket Edna. Jaket yang mana coba? Jaket pink, yang waktu Edna beli di Singapura, Kak ... Hihihi, lucu banget, Kak!" cerocos Edna ceria.
Edward bernafas lega.
"Mana Hero? Kakak mau bicara!"
Tak lama.
"Halo, Bro!" suara Hero terdengar di seberang.
"Thanks, Bro ... Asli aku bersyukur banget, kamu bisa nolong Kang Ari tadi" kata Edward penuh rasa terima kasih.
"Ah, santai saja, Bro! Anggap saja, kamu kasih liburan buat aku! Hahahaha" tawa Hero memenuhi ruang udara.
__ADS_1
Edward tersenyum masam.
"Pantes, girang banget! Jadi besok berencana bolos, ni?!" kata Edward pura-pura galak.
"Sehari saja, Bro! Sore-an baru aku balik kesana, oke?" desak Hero.
"Atur saja, deh!" kata Edward menyerah. "Titip Edna, ya Ro" imbuh Edward.
"Siap, Bos!" jawab Hero mengakhiri panggilan diantara mereka.
Geliatan Kavana menyadarkan Edward kalau sedari tadi, dia belum meninggalkan kamar Kavana. Untung suaranya tidak membangunkan Kavana. Edward segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar. Saat hendak ditutupnya pintu, tiba-tiba didengarnya Kavana terisak-isak.
Edward mengurungkan niatnya dan balik ke ranjang Kavana.
"Va, hei ... Kamu kenapa?" tanya Edward kuatir.
"Dan ... kamu jahat!" kata Kavana.
Edward terdiam. Ternyata, Kavana menangis dalam tidurnya. Dan satu nama yang disebutnya. Dayona.
"Sampai kapan kamu perlakukan aku seperti ini, Dan???" igau Kavana lagi.
Edward mencoba membangunkan Kavana.
"Va, bangun dulu!" kata Edward sedikit menggoyang-goyang bahu Kavana.
Kavana membuka matanya.
"Ed ..." kata Kavana sambil menghambur memeluk Edward.
Edward merasakan degup jantungnya berdetak lebih cepat, saat tubuh Kavana memeluknya erat. Aliran hangat menyeruak. Membangkitkan gejolak kelaki-lakiannya. Kepala Kavana menelusup di ceruk lehernya. Edward bisa merasakan wajah Kavana terbenam disana. Saat Edward menatap ke bawah, pandangan mereka bertemu. Edward melihat mata basah yang sedang menatapnya sayu, bibir ranum Kavana terbuka mengundang untuk disinggahi.
Beberapa detik kemudian, justru bibir itu yang sudah merayap ke bibirnya. Menciumnya dengan hangat.
Edward terkejut, tetapi seolah tak punya kekuatan untuk menolaknya. Justru menikmati ******* bibir itu. Yang menghisapnya makin dalam, dalam dan dalam. Nafas keduanya semakin memburu. Kini tangan Kavana sudah melingkar di lehernya. Menciumnya dengan rakus. Saat Kavana mulai mengangkat kaos Edward dan mencoba melepasnya. Kesadaran Edward kembali.
"Stop, Va!!!" katanya terengah-engah. Sambil mendorong tubuh Kavana menjauh. Edward segera berdiri dan meninggalkan Kavana. Kavana menggigit bibirnya. Dan menelan kekecewaannya.
Sementara Edward, masuk ke kamar mandi kamarnya. Menyalakan shower dan menyiram tubuhnya di bawah pancuran air. Berusaha meredakan gejolaknya. Edward marah dengan dirinya sendiri, karena tidak mampu menahan diri. Harusnya dia ingat siapa Kavana. Kavana adalah saudaranya. Ada aliran darah yang sama disana. Dan bukan dirinya yang diinginkan Kavana.
----------
Maaf ya, karena baru sempat nulis karena kesibukan pekerjaan dan sedang kurang fit. Semoga kita semua diberikan kesehatan ....
__ADS_1
Salam sayang dari Rona Cinta untuk pembaca semua 💜💜💜