RONA CINTA

RONA CINTA
EPISODE 5


__ADS_3

Kavana tak henti-hentinya mendengus. Sudah hampir satu jam, dia membuang waktunya, untuk menunggu.


"Kemana sih, Dia?!! Mana ponselnya tidak aktif lagi!" gerutu tak habis dari mulutnya.


Dia kembali melongokkan kepala, ke jendela kelasnya yang kosong, karena bel pulang sudah berbunyi, 1 jam yang lalu. Dan belum ada tanda-tanda, yang ditunggu akan muncul disana.


"Dasar karet! Kebiasaan!!! Balik saja, deh!"


Akhirnya, Kavana memutuskan untuk tidak menunggu lagi. Dengan serampangan, dia mengemasi buku-bukunya, yang sejak tadi dibiarkan terbuka di atas meja. Sengaja membuat kesan, kalau dia tinggal di kelas untuk melanjutkan belajar. Antisipasi kalau Pak Iman, penjaga sekolah, melihatnya masih berada di kelas.


Belum selesai Kavana berbenah, tiba-tiba ia dikejutkan dengan sebuah pelukan dan kecupan di kepalanya.


"Ah, kamu ..." lenguhnya. Senyuman tersungging di bibirnya. Sentuhan itu membuat darahnya berdesir.


"Kangen banget sama kamu, Va"


Kavana membalikkan tubuhnya, kini mereka saling berhadapan, dengan mata yang saling pandang dalam gairah.


"Aku juga kangen kamu, banget!" katanya seraya mendaratkan sebuah kecupan di bibir di depannya itu.


Cowok itu tersenyum lebar dan tanpa berkata-kata lagi, dipagutnya bibir ranum yang memberi kecupan tadi. Dilumatnya dengan gairah membara, Kavana mengimbangi ciuman cowok itu dengan ganasnya. Nafas mereka memburu, tubuh mereka semakin merapat, tangan Kavana sudah melingkar ketat di tubuh cowok itu, sedang tangan cowok itu tepat berada di tengkuknya.


"Va ... lepasin dia sekarang!" cowok itu mulai bicara, saat akhirnya mereka menyudahi cumbuan itu.


Kavana menjentik-jentikkan jarinya di dada cowok itu.


"Yakin???" katanya sambil menatap cowok di depannya itu.


"Kok, tanya gitu??? Jangan - jangan kamu yang sekarang tidak mau lepasin dia???!!! Sudah mulai nyaman ya? Atau kamu sudah lupa akan janji kamu ke aku?" hardik cowok itu.


Kavana tersentak, "Apa sih, kamu!" mengibaskan tangannya, tak suka.

__ADS_1


"Kalau begitu, harusnya mudah, kan? Apa sekarang masalahnya?"


"Ok, aku lepasin dia!" putus Kavana.


Cowok itu tersenyum dan kembali memeluk Kavana.


"Makasih ya, Va ... aku sayang kamu" bisiknya di telinga Kavana.


"Huum" ujarnya dalam pelukan cowok itu, sambil menatap kosong pada dinding di depannya. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


Pertemuan itu, diakhiri dengan kecupan di dahi Kavana, sebelum cowok itu berlalu meninggalkannya dalam keheningan.


Namun, keheningan itu dibuyarkan dengan bunyi notifikasi di ponselnya. Kavana melihat layar ponselnya. Edward mengiriminya pesan.


Edward:


Na, sudah selesai? Mau dijemput?


Kavana:


Aku sudah di rumah kok, Ed ...


Bohongnya.


Edward:


Oke


Tiba - tiba matanya basah.


"Maafkan aku, Ed, aku tidak tahu kenapa aku lakukan ini ke kamu" isaknya pelan.

__ADS_1


Rasa bersalahnya itu menyesakkan dadanya. Ini bukan kali pertama, dirinya berbohong pada Edward, cowok yang sudah dipacarinya selama 2 tahun. Lebih parah lagi, bukan hanya kebohongan yang diberikannya kepada Edward, tetapi pengkhianatan.


-----------------


Edward membeku, saat pertama kali Kavana menyatakan cinta.


"Aku sayang kamu, Ed ... kamu ngerti, kan?" kata Kavana sambil menyodorkan kotak berwarna silver.


Ya, Kavana-lah yang pertama menyatakan cinta. Saat itu, Edward hanya terdiam kelu. Hanya terus mendengarkan Kavana berbicara.


"Ed, aku tahu kalau aku nunggu kamu nembak aku, sampai kiamat juga tidak akan mungkin!" cerocosnya.


"Dan aku tidak peduli, kamu mau mikir aku tu cewek seperti apa, yang penting aku sudah jujur sama kamu! Gimana?" tuntut Kavana sambil menyentuh tangan dingin Edward yang berada diatas meja.


"Ha???"


"Gimana, Ed?"


"Eeeeeee" Edward masih bingung, apa yang harus dikatakannya.


Baru kali ini, ada cewek yang menyatakan cinta padanya secara langsung.


"Kamu suka aku?" kata Kavana sedikit berbisik.


Edward mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berusaha menenangkan getaran hebat di hatinya yang membuat otaknya kehilangan akal.


"Kamu suka aku?" suara itu kembali menggema.


"Suka" satu jawaban yang cukup membuat Kavana serta merta berdiri dari tempat duduknya dan menghambur untuk memeluk Edward yang masih terduduk kaku, tanpa peduli ada puluhan mata yang melihat ke arah mereka di Kafe itu.


Itulah hari jadian Edward dan Kavana.

__ADS_1


__ADS_2