RONA CINTA

RONA CINTA
EPISODE 46


__ADS_3

Hero membukakan pintu ketika Edna dan Bi Edah hendak masuk ke vila. Perjalanan panjang membuat Edna merasa punggungnya kram. Kehamilan yang semakin besar menuntutnya memakai tenaga lebih ekstra.


"Duduk dulu disini, Na!" Hero menarik kursi dan menuntun Edna untuk duduk disana. Edna menurut, dia duduk sambil menyelonjorkan kakinya. Bi Edah dengan sigap menarik kursi kecil dan menaikkan kaki Edna diatasnya.


"Istirahat disini dulu ya, Mbak. Bi Edah siapkan dulu kamarnya." Setelah melihat Edna mengangguk, Bi Edah segera masuk ke kamar yang akan dipergunakan Edna.


Sementara Hero, menuang teh yang sudah tersedia, karena sebelumnya dia sudah meminta Mang Dian, penjaga vila menyiapkan semua yang mereka perlukan selama di vila.


Ketika hendak memberikan teh itu kepada Edna. Didapatinya Edna tertidur di kursi dengan lelapnya. Wajah cantiknya tampak lelah, matanya masih tampak bengkak, sehabis menangis. Hero mengabadikan keindahan itu dalam memorinya.


"Wah, Mbak Edna ketiduran ya, Mas? Mungkin kecapekan." bisik Bi Edah yang sudah berdiri tak jauh dari tempat Hero berada.


"Kamar sudah siap, Bi?" tanya Hero tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Edna.


"Sudah, Mas."


Mendengar jawaban Bi Edah itu, Hero melangkahkan kakinya di tempat Edna tertidur. Lalu dibopongnya Edna dan dibawanya menuju kamarnya.


Bi Edah tersenyum dan membiarkan saja Hero melakukannya. Lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan.


Setibanya di kamar, Hero meletakkan Edna pelan-pelan ke ranjangnya. Membetulkan letak bantal, supaya Edna nyaman dan menyelimuti tubuh Edna sampai ke dada, sebelum hendak meninggalkannya.


Namun, ketika akan pergi. Didengarnya Edna terisak dalam tidurnya. Airmatanya mengalir dari kedua sudut matanya.


"Na, Na ... Kamu kenapa?" tanya Hero sambil mengusap-usap kepala Edna.


"Jangan tinggalin Edna ...." igau Edna. Tangannya mencengkeram lengan Hero kuat. Membuat Hero kembali terduduk di tepi ranjang.


Saat Hero duduk, tiba-tiba tubuh Edna bergerak memeluknya. Dengan kepala tepat pangkuannya.


"Na ... " Hero hendak menempatkan Edna kembali ke tempatnya, namun pelukan Edna semakin erat di pinggangnya.


Hero menghela nafas, membiarkan Edna dengan posisinya sekarang. Isakan terdengar kembali.


"Na, kamu kenapa?" tanya Hero sedikit mengguncang bahu Edna. Mata Edna terbuka. Mata itu sudah basah oleh airmata. Edna mengangkat tubuhnya, sampai akhirnya keduanya berhadapan muka.


"Edna takut, Kak. Edna akan ditinggalkan." kata Edna menatap Hero dengan tatapan sedih.


"Jangan takut, Na. Ada Kakak disini. Sudah kamu tidur lagi saja, kamu kecapekan ya?" Hero kembali mengelus kepala Edna. Merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Edna. Lalu diusapkan air mata Edna dengan jarinya. Lalu naluri, membawa Hero mengecup puncak kepala Edna. Edna tidak menolaknya. Dia menikmati semua perlakuan lembut Hero kepadanya.


"Kak ..." panggil Edna.


"Ya, Na." Saat itu, Hero melihat bibir tipis Edna yang merah terbuka, seperti menggodanya. Ada dorongan hebat untuk menikmatinya. Hero seperti kehilangan kesadarannya. Tanpa bisa ditahan, Hero meraup bibir itu dengan bibirnya, menyesapnya lembut. Edna yang terkejut, segera melepaskan penyatuan bibir mereka itu dengan mendorong Hero untuk menjauhinya.


"Kak ... Kenapa Kakak seperti ini?" seru Edna tak percaya.


"Na, maaf ... Kakak ... Kakak khilaf." jawab Hero gugup.


Edna terdiam. Perasaannya berkecamuk. Ingin marah begitu saja atau meminta penjelasan pada Hero.


"Kakak ke depan dulu, Na." Hero berdiri dengan linglung. Mengutuki diri atas perbuatan bodohnya tadi.


Namun, sekali lagi tangan Edna menahannya.

__ADS_1


"Edna butuh penjelasan, Kak!" kata Edna.


"Tidak ada yang bisa Kakak jelaskan, Na. Kakak sendiri bingung." jawab Hero jujur.


Edna bangkit dari duduknya, berdiri di belakang Hero. Lalu memeluk Hero dari belakang. Hero terkejut atas apa yang dilakukan Edna. Hero hendak melepaskan tangan Edna yang melingkar ketat di pinggangnya.


"Edna hanya mau berterima kasih, Kak. Kakak sudah selalu ada buat Edna. Maaf tadi Edna menolak Kakak, karena Edna tidak tahu apa maksud Kakak melakukan itu." ujar Edna dibalik punggungnya.


Hero melepaskan tangan Edna dan membalikkan badannya. Menyentuh pundak Edna dengan kedua tangannya.


"Seharusnya Kakak yang minta maaf, Na. Kakak kurang ajar sama kamu. Maafkan Kakak ya, Na. Kakak sayang kamu, Na." kalimat itu meluncur begitu saja.


"Sayang?" tanya Edna dalam keterkejutannya.


Hero yang menyadari bahwa dirinya sudah keceplosan, segera mengalihkan pandangannya dari Edna. Tidak lagi berani menatap mata indah itu. Lalu Hero mengangguk pasrah. Kalau akhirnya Edna tahu apa yang dirasakannya selama ini.


----------


Edward meletakkan cangkir kopi yang sejak tadi dipegangnya di meja. Lalu meraih ponsel yang sejak tadi dibiarkannya bergetar. Sudah lebih dari sepuluh panggilan masuk Dayona diabaikannya.


"Ed, sudah sejak tadi, lho!" tegur Kavana.


"Siapa sih, Ed?" kali ini Obed yang bertanya.


"Dayona." jawabnya singkat.


"Dimana dia? Kenapa belum kesini juga? Memang dia tidak peduli dengan Edna?" gerutu Obed.


Edward enggan menjawabnya, walau dia tahu dimana saat ini Dayona berada.


"Jadi, Ed. Sebentar lagi aku berangkat." jawab Kavana sambil melirik jam dinding di ruangan itu.


"Sorry, tidak bisa mengantar. Aku harus ke Coffee Shop menggantikan Hero." kata Edward.


"It's okay, Ed. Diantar sama Kang Ari, kok! Ya sudah, aku berangkat jemput Mama dulu ya?" Kavana meraih tasnya dan meninggalkan Edward dan Obed.


"Kenapa kamu, Bed?" kaki Edward menendang kaki Obed yang duduk tak jauh darinya. Obed yang sedari tadi memperhatikan Kavana dengan seriusnya, mengaduh kesakitan.


"Bangk* kamu, Ed. Sakit tahu!"


"Mata kamu kenapa? Liat Kavana melulu?" ledek Edward.


Obed melengos sebal. Edward terkekeh.


"Kamu suka sama Kavana, ya?" terka Edward.


"Dari dulu kali, Ed. Kemana saja kamu?" jawab Obed sewot.


"Sensi banget! Ya tahu, maksud aku sampai sekarang kamu masih suka sama dia?"


"Dia cantik dan seksi banget, Ed. Gimana aku tidak "on" terus melihat dia." jawab Obed santai.


"Bangs*** kamu! Dia adik aku, woi!" Bunyi pletak terdengar, akibat kepala Obed yang dijitak Edward.

__ADS_1


"Ampun, dah! Kakaknya galak parah!" seloroh Obed. Sambil mengelus kepalanya yang sedikit sakit akibat perbuatan Edward.


"Jangan jadikan adik aku, fantasi gila kamu!" kata Edward galak.


"Sayang dia sukanya ke orang lain, Ed."


"Suka Dayona maksud kamu?" tanya Edward.


Obed menggeleng kesal.


"Suka sama kamu, gobl***!!!" umpat Obed.


"Maksud kamu?" tanya Edward bloon.


---------


Dayona terus memaki-maki dalam hati. Menyesal karena harus terjebak dalam situasi ini. Arhea terus menangis sesenggukan, melihat kondisi papanya. Sesuai penuturan Arhea, papanya terkena serangan jantung setelah salah satu kliennya mendapat kiriman foto jebakan itu.


"Apa yang harus aku lakukan, Dan? Gimana kalau Papa ..."


"Jangan ngomong yang tidak-tidak, Rhe. Kita berdoa saja semoga Papa baik-baik saja." hibur Dayona.


"Rhe, Papa sudah sadar!" teriak Mama senang.


Dayona bernafas lega. Lalu dia mengikuti Arhea yang berjalan cepat menuju ruang papanya dirawat.


"Pa ...." Arhea langsung menghambur memeluk papanya.


"Harap jaga ketenangan di ruangan ini, ya. Pasien masih butuh banyak istirahat. Mohon jangan berlama-lama bicara dengan pasien." kata perawat memperingatkan semua orang.


Semua orang di ruangan itu mengiyakan. Lalu perawat itu pergi.


"Rhe ..." panggil papa.


"Rhea disini, Pa. Papa perlu apa?"


"Mendekatlah ... Mana Dayona?" Arhea melihat kearah Dayona, memanggilnya untuk mendekat ke arah mereka.


"Segeralah kalian menikah!" perintah papa setelah Dayona berada di samping Arhea.


"Pa ...."


"Mungkin waktu Papa tidak banyak, Rhe. Menikahlah!" kata papanya lagi. "Papa mohon?"


Arhea memandang Dayona, Dayona memalingkan mukanya. Tak tahu harus menjawab apa. Pikirannya tertuju kepada Edna dan anaknya.


Ting.


Ponsel Dayona berbunyi. Ada pesan masuk. Dayona membaca pesan di layar ponselnya. Dari Edward.


Edward


Edna pergi dari rumah, setelah tahu semuanya.

__ADS_1


Dayona langsung lemas setelah membaca pesan itu.


"Dan, bagaimana?" ditambah suara Arhea, makin membuatnya limbung. Kini, dirinya seperti di ujung tanduk.


__ADS_2