
Edward dan Obed memasuki base camp hampir bersamaan.
"Apa kabar, Bro?" sapa Edward sambil merangkul Obed hangat.
"Baik, Ed ... kamu yang tampaknya kurang oke," kata Obed seraya membalas rangkulan Edward.
Edward mendengus, "Banyak banget yang terjadi, Bed ... Pusing aku." terangnya.
"Aku siap, kalau kamu mau cerita," Obed menunjukkan gestur tubuh, kalau dia sudah siap untuk mendengarkan curahan hati Edward.
Mengalirlah dari mulut Edward, semua yang akhir-akhir ini terjadi. Obed mendengarnya dengan serius tanpa menjeda.
"Gilaaaaaa!!!" seru Obed setelah Edward selesai berbicara. "Setan memang dia!!!!" umpat Obed lagi.
"Dan kamu, hanya diam saja???" masih Obed yang berbicara.
"Edna melarang aku, Bed ... Kalau bukan karena Edna, sudah aku habisi dia!" jawabnya geram.
"Aku tidak habis pikir, dia bisa melakukan semua hal jahat ke kalian" kata Obed sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya, mungkin karena dia merasa kamilah penyebab kehancuran keluarganya, Bed."
"Sinting! Kalian itu tidak tahu apa-apa! Kalau-pun benar Papa kamu yang salah, kenapa kalian yang harus menanggung akibatnya!!!!" Obed semakin emosi.
Pembicaraan penuh sesal itu, diakhiri dengan tekad di dalam hati Obed untuk membuat perhitungan kepada Dayona, atas nama persahabatan.
-------
Obed duduk sambil mengamati sekeliling Coffe Shop Gamaro, tempat Kavana bekerja. Ya, Kavana mengambil cuti kuliah, setelah mamanya jatuh sakit. Dia bekerja di Coffee Shop ini, untuk menyambung hidup. Itu info yang didapatnya dari teman kuliah Kavana, yang kebetulan adalah tetangganya.
Obed melambaikan tangan kepada waitrees untuk memesan minuman dan makanan.
Dari jauh, Kavana sudah tahu kalau itu Obed, sehingga dia menyuruh temannya untuk melayaninya, sengaja dia lakukan untuk menghindari untuk bertemu Obed.
"Gwen, kamu aja ya yang melayani costumer meja 8, please?" mohon Kavana pada Gweni.
"Sorry, Va ... pesanan costumer meja 2 belum kelar, nih! Nambah melulu!" jawab Gweni.
Kavana merengut. Saat dia sedang berusaha meminta tolong temannya yang lain ....
"Va, bengong aja! Ayo cepat layani costumer meja 8!" suara Hero mengagetkannya. Hero adalah manager Coffee Shop tempatnya bekerja.
"Ya, Mas!!!" Kavana menuju meja 8 dengan tergopoh-gopoh.
"Ada yang bisa saya bantu, Kak? Mau pesan apa?" sapa Kavana formal.
Obed mendongak. Dan mendapati Kavana berdiri di depannya, tanpa melihat kearahnya.
"Hai, Va ... pesan Hot Coffe Latte 1, sama Banana Cheese Cake 1," jawab Obed.
"Baik, saya ulangi ya Kak ... Hot Coffe Lat ..."
belum selesai Kavana bicara, Obed memotongnya cepat.
"Kita perlu bicara, Va!"
__ADS_1
Kavana melengos.
"Untuk?" tanyanya dingin.
"Penting!" Obed menjawab singkat.
"Tidak bisa, aku lagi kerja!"
"Aku tunggu kamu pulang kerja! Jam 22.00 kan?" sergap Obed.
Kavana menggeleng. Ditinggalkannya Obed dengan raut wajah kesal.
Pukul 22.15, Kavana keluar dari tempat kerjanya. Didapatinya Obed sudah berdiri menunggunya.
"Bed, mau ngomong apa, sih?!" kata Kavana ketus.
"Mau ngobrol sama kamu, Va ... Yuk!" ajaknya.
Kavana menuruti ajakan Obed, karena dia tidak ingin keberadaan mereka dilihat teman-temannya yang baru keluar dari Coffe Shop.
Mereka berhenti di taman dekat Cofee Shop. Sesaat mereka terdiam. Tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
"Kamu duduk saja, Va!" Obed mempersilahkan Kavana duduk di satu-satunya kursi yang ada di taman.
Kavana menggeleng, "Tidak apa-apa, aku berdiri saja." katanya datar.
"Langsung saja, Va ... Kenapa kamu terus bersama Dayona? Padahal kamu sudah tahu, apa yang Dayona lakukan ke Edna?" tanya Obed tanpa basa basi.
"Urusan kamu apa, Bed?" jawab Edna tidak suka.
"Va, aku peduli sama kamu! Aku tidak mau, kalau kamu nanti bernasib sama seperti Edna, Dayona bukan cowok baik, Va!!!!" Obed berbicara memperingati Edna.
"Menghakimi? Memang benar kan, kalau dia itu bejat! Dia sengaja merebut kamu dari Edward, dia juga yang menghamili Edna, bahkan dia sekarang main dengan cewek lain lagi! Benar kan???? Apa kamu tidak merasa diperlakukan jahat, Va???" serang Obed dengan kata-kata yang menghujam.
Kavana melengos, "Dengar, Bed ... Orang yang kamu katakan bejat dan jahat itu adalah orang yang menyumbangkan hatinya buat Mama aku, dia juga yang membayar semua biaya parawatan Mama, dia si jahat itu, sudah memberikan aku pekerjaan untuk menyambung hidup aku dan Mamaku!" jawabnya emosi.
"Bodoh!!!!!" kata Obed kesal. "Kamu sudah dibodohi, Va!" katanya lagi.
"Maksud kamu apa, Bed?" tanya Kavana.
"Selama ini kamu dibodohi oleh cowok kamu yang brengsek itu, Va! Mendonorkan hati? Membayar biaya rumah sakit? Memberikan pekerjaan? Bullshit!!!"
Kavana tidak mengerti.
"Bed ..." Kavana meminta Obed untuk memberinya penjelasan.
Obed menatap Kavana kasihan.
"Temui Edward, Va ... Maka kamu akan mengetahui semuanya." katanya sambil berbisik di telinga Kavana.
Setelah itu, Obed berlalu meninggalkannya sendiri, dalam ketidak mengertian.
---------
Beberapa waktu yang lalu,
__ADS_1
Papa Alditira menghubungi Edward, untuk menemuinya di Rumah Sakit Harapan Sentosa.
"Ed, tolong Papa!" kata Papa Alditira setelah melihat Edward datang menghampirinya.
"Ada apa, Pa?" tanya Edward. Dilihatnya Papa terlihat sangat kacau.
"Papa ingin mengajak kamu mengikuti medical check up, Ed."
"Medical check up? Untuk apa, Pa?" tanya Edward heran dengan permintaan Papanya itu.
"Ada kenalan Papa yang membutuhkan donor hati, Ed ... Papa ingin menolongnya," jawab Papa.
"Mungkin kesempatan terakhir buat Papa, untuk melakukan hal yang baik bagi dia." lanjut Papa.
Edward melihat kesungguhan dan ketulusan lewat mata Papanya.
"Baiklah, Pa ... Edward akan temani, Papa." kata Edward akhirnya.
Sebelumnya,
Dayona sudah menerima hasil test-nya untuk menjadi pendonor hati. Kavana yang melihat Dayona muncul di ruang perawatan Mamanya, langsung menghambur ke arahnya, kemudian memeluk Dayona penuh terima kasih.
"Makasih, Dan ... Makasih" katanya haru.
Setelah menunggu sekian lama, akhirnya operasi transplantasi hati Mama bisa dikerjakan. Kavana sangat bersyukur. Mamanya pasti tertolong.
Dayona hanya bisa diam. Tak mampu berkata-kata, padahal ada rahasia yang bisa diungkapkannya. Tetapi, dia memilih untuk tak berbicara sepatah katapun.
---------
Siang itu, Edward menemui Hero, teman kampusnya. Mereka berdua berencana untuk membuka usaha bersama. Sistem bagi hasil.
"Wah, rancangan kamu mantap, Ed!" puji Hero, setelah mempelajari gambar rancangan tempat usaha mereka.
"Bagaimana? Sudah pas, kan?"
"Aku rasa sudah oke semua, tinggal bagianku nanti akan aku update ke kamu. Termasuk recruitment karyawan, nanti kamu bisa kasih masukan." kata Hero sambil manggut-manggut.
"Kira-kira akan siap berapa lama, Ro?" tanya Edward.
"Aku optimis, sebulan aku pastikan sudah soft opening, kalau tidak ada kendala." sahut Hero.
"Oh ya, Ro ... Nanti aku minta waktu off satu minggu ya, ada urusan yang perlu aku urus," Edward meminta ijin kepada Hero.
"Aman, Ed ... aku bisa handle, semoga urusan kamu cepat kelar." jawab Hero.
"Syukurlah ... Thanks, Bro!" Edward merangkul Hero sebagai ucapan terima kasih.
Edward bernafas lega. Berharap semua bisa berjalan dengan baik, demi masa depannya, Edna dan Jaden.
---------
Selalu bersyukur karena bisa nulis di tengah-tengah kesibukan pekerjaan.
Terima kasih ya untuk support-nya!
__ADS_1
Semoga semakin suka dengan Rona Cinta.
Salam sayang dari Edward, Edna, Dayona dan Kavana 💜💜💜