RONA CINTA

RONA CINTA
EPISODE 47


__ADS_3

Dayona memasuki rumah Edward tanpa mengetuk lagi, begitu melihat pintu depan terbuka. Orang pertama yang dicari oleh Dayona adalah Edward.


"Ed, aku mau bicara?" kata Dayona dengan nafas terengah-engah.


"Ya?" Edward menghentikan kesibukan dengan laptopnya. Dia mengajak Dayona untuk bicara di teras samping. Edward memilih tempat itu supaya suasana lebih tenang, karena dia tahu berita apa yang akan disampaikan oleh temannya itu.


"Ayah Arhea menuntutku untuk menikahi anaknya secepatnya." Edward sudah menduga hal itu, sehingga dia sudah tidak terkejut lagi.


"Lalu?"


"Aku akan menikahi Edna dan ijinkan aku membawa Edna pergi jauh dari tempat ini!"


"Gila kamu! Itu sama saja kamu lari dari masalah, Dan. Hidup kalian tidak akan pernah tenang." sergah Edward.


"Lalu apa yang harus aku lakukan, Ed? Kamu tahu, Aku tidak mau menikah dengan Arhea. Hanya itu solusi yang bisa kupikirkan saat ini." kata Dayona ngotot.


"Sebaiknya kamu bicara dengan Edna tentang hal ini. Dia berhak tahu dari mulut kamu sendiri. Aku dan teman-teman lain akan tetap mencoba cari Fleta. Berdoalah!"


Dayona mengangguk. "Thanks, Ed! Sekarang katakan dimana Edna?"


"Dia di Vila. Aku akan share loc ke kamu."


"Ok ... Aku akan kesana sekarang!" Dayona akan bangkit, namun Edward mencegahnya.


"Makanlah dulu, perjalanan jauh. Aku tahu kamu belum makan!" katanya setelah mengamati Dayona yang tampak pucat.


Memang benar. Seharian perutnya belum terisi apapun. Masalah sudah menyita seluruh waktu dan fokusnya.


Edward membawanya ke meja makan.


"Aku akan cari Bibi dulu untuk siapkan makanan." Edward berlalu meninggalkannya, mungkin ke dapur.


Dayona menunggu sambil matanya tak lepas dari sosok cantik yang sedang berenang di kolam renang pribadi kediaman Edward. Dari jauhpun, Dayona tahu itu Kavana. Kavana keluar dari kolam renang dengan santai sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Tubuhnya yang hanya dibalut one piece swimsuit terlihat sangat seksi. Membuat Dayona berkali-kali menelan salivanya. Tubuh yang pernah dimilikinya itu seperti menariknya untuk mendekat dan menikmatinya sekali lagi.


"Makan, Mas. Ini sudah Bibi siapkan!" suara Bibi menjadi penyelamatnya hari ini. Untuk tidak mendatangi Kavana.


"Ya, Bi. Makasih." jawab Dayona sungkan. "Edward kemana ya, Bi?" tanyanya sambil celingukan mencari Edward.


"Oh, Mas Edward sedang di kamar Mbak Edna. Ada barang yang akan dititip untuk dibawa ke Vila katanya."


"Oh ..." Dayona manggut-manggut.


"Silahkan, Mas." kata Bibi sambil berlalu. Sepeninggal Bibi, sambil makan mata Dayona terus melihat Kavana. Tiba-tiba, Kavana juga menoleh ke arahnya. Membuat Dayona langsung tersedak. Kavana yang menyadari keberadaan Dayona, segera memakai jubah mandi dan mendekatinya.


"Kamu disini, Dan?" sapanya lembut. Tangannya bergerak menyentuh pundak lalu leher Dayona. Membuat bulu kuduk Dayona meremang. Sepertinya, Kavana memang sengaja menggodanya.


"Ada yang kangen kamu, Dan?" bisiknya di telinga Dayona.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Dayona pura-pura tidak tahu.


Kavana menjawab dengan jari telunjuk yang diarahkan ke tubuh bagian bawahnya dan mengerling nakal.


"Gila!" batin Dayona. "Kenapa Kavana bisa seliar ini?"


"Sorry, Va ... Aku ...." belum lagi Dayona menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Kavana sudah membungkam mulut Dayona dengan bibirnya. Dayona yang tak siap, nyaris kehabisan nafas, karena Kavana menciumnya dengan buas. Seperti singa betina yang kelaparan.


Dan kini Kavana sudah duduk di pangkuan Dayona. Jubah mandinya sudah lepas. Menyisakan swimsuit yang mengekpos lekuk tubuhnya. Bagian dadanya yang rendah membuat Dayona bisa melihat isi di dalamnya yang menggoda, saat Kavana melepaskan ciumannya.


"Va, sudah!" kata Dayona sambil mendorong Kavana lembut. Membuat tubuh molek itu sedikit membentur meja makan di belakangnya.


"Please, Dan ... Sekali saja? Aku butuh ..." pintanya memelas.


Dayona menggeleng. Memegang pinggang ramping Kavana, mengangkatnya agar bangun dari pangkuannya. Dan Dayona segera bangkit dari duduknya. Memberi jarak diantara mereka.


"Maaf aku sudah tidak bisa, Va." Diambilnya jubah handuk yang jatuh di lantai, dipakaikannya pada Kavana untuk menutupi tubuhnya yang terbuka. Kavana tampak kecewa. Matanya berkaca-kaca hendak menangis.


"Cepatlah ganti baju! Nanti masuk angin, lho!" kata Dayona sambil mengacak rambut Kavana yang basah. Kavana hanya menunduk dan terisak.


Edward yang sejak tadi mengamati mereka, menarik nafas berat. Tidak ada kemarahan disana, yang ada perasaan iba. Sekaligus bersyukur karena Dayona bisa menahan diri atas godaan Kavana. Menunjukkan perubahan yang baik.


"Va, kamu tidak pergi kuliah?" tanya Edward membuyarkan kebisuan di ruang makan.


"Satu jam lagi, Ed." jawab Kavana tanpa melihat ke Edward. "Aku permisi dulu, ya ... Mau siap-siap." pamitnya terus membelakangi Edward.


Dayona dan Edward memandangi kepergian Kavana dengan iba.


"Oh, okay. Nanti akan kuberikan ke Edna."


Kemudian Dayona melanjutkan makannya yang tertunda. Edward ikut duduk disitu, sibuk memainkan ponselnya.


"Kamu lihat tadi, Ed?" tanya Dayona ragu-ragu.


"Lihat." jawab Edward singkat, enggan untuk membahas kejadian yang dilihatnya tadi.


"Aku yang buat dia seperti itu. Maafkan dia, Ed."


"Maksud kamu?"


"Aku harap kamu bisa menjadi yang terbaik buat dia."


Edward tersenyum masam.


"Kamu pikir, aku dan Kavana ... Aah bodoh!"


"Bukankah kalian ..."

__ADS_1


"Dia adikku, Dan!"


---------


Arhea sangat kesal dengan sikap Dayona. Kekesalannya itu membuat mood-nya sangat buruk. Seharian dia marah-marah tanpa alasan yang jelas. Hampir semua orang di rumah sudah terkena semprotannya, hanya karena beberapa hal yang tidak sesuai kemauannya.


"Kenapa sprei ini yang dipasang, Bi??!!" bentak Arhea kasar.


"Biasanya juga dipakai kan, Non?" jawab Bibi takut-takut.


"Pokoknya aku tidak mau tahu! Ganti!"


"Iya, Non ... iya saya segera ganti."


Bibi tergopoh-gopoh mengganti dengan sprei yang baru.


"Rhe, kamu kenapa? Sejak tadi teriak-teriak?" Mama menghampiri anak semata wayangnya itu dan membelai-belai rambutnya.


"Setelah semua usaha kita, kenapa Dayona tetap belum melakukan apa-apa, Ma???"


Mamanya terkekeh. "Rupanya anak sudah kebelet, ya?"


"Iiiih Mama" rajuk Arhea manja.


Arhea merupakan anak dari Gusti Wibisono, konglomerat di kota ini. Hampir semua perusahaan besar adalah milik Wibisono Grup. Keluarga yang disegani oleh banyak orang. Kehidupan glamor membuat Arhea menjadi pribadi yang manja. Semua keinginannya harus dituruti, karena sejak kecil begitu cara kedua orang tuanya membesarkannya. Melimpahi dia dengan kemewahan dan kemudahan.


"Rhea, Anak Mama tersayang. Tenang saja, karena Mama Papa tidak akan tinggal diam. Pasti kamu akan menikah dengan Dayona." kata Mama menenangkan Arhea.


Arhea memeluk mamanya. "Uuu Mama, memang paling mengerti Rhea. Makasih, Ma." kecup Arhea di pipi mamanya.


Tak berapa lama, Papa masuk ke kamar Arhea.


"Papa ..." rengek Arhea.


"Anak Papa kenapa lagi ini?"


"Anakmu kebelet nikah, Pa!" ledek mamanya.


Arhea memanyunkan bibirnya.


"Arhea tidak mau tahu, Pa! Di ulang tahun pernikahan Papa Mama nanti, pernikahan kami harus sudah diumumkan, Rhea mau seluruh kota ini tahu!" tuntut Arhea.


"Iya sayang ... Papa pastikan itu terjadi!" kata Papa sambil mengelus puncak kepala Arhea.


"Tapi yang kemarin aman kan, Pa?"


"Aman sayang. Rumah Sakit itu saham terbesarnya Papa yang pegang. Mereka tidak akan berani berbuat macam-macam. Tidak akan membocorkan bahwa semua yang kita lakukan kemarin hanya sandiwara." kata Papanya sambil tertawa jumawa.

__ADS_1


Arhea tersenyum licik. Sebentar lagi, Dayona akan menjadi miliknya selamanya. Pikirnya. Selanjutnya ayah, ibu dan anak itu tampak bercengkrama dengan bahagia. Tanpa mereka tahu ada seseorang yang mendengarkan semua pembicaraan mereka dari balik pintu.


Bersambung ....


__ADS_2