RONA CINTA

RONA CINTA
EPISODE 21


__ADS_3

"Dan, kamu yakin?" Kavana mendesak Dayona. Pemuda itu, sudah menandatangi kesediaannya untuk menjadi pendonor. Mama Kavana harus segera menerima transplantasi hati.


Dayona mengangguk, "Yakin." jawabnya mantap.


Kavana sangat bersyukur, karena Tuhan seperti sedang menghujaninya dengan mujizat-Nya. Setelah tadi pagi, tiba-tiba perawat menyatakan bahwa seluruh biaya perawatan Mama, sudah ada donatur yang siap menanggungnya. Dan kini, ada yang bersedia menjadi pendonor bagi Mama.


"Terima kasih, Dan,"


Hari itu, Kavana kembali melihat Dayona yang dulu. Dayona yang hangat dan penuh kasih kepada siapapun. Dayona mengangguk lagi dan mengajaknya segera pergi dari situ.


Kavana menggandeng tangan Dayona erat, sebelum melepaskannya, menuju ruang medical check-up.


--------


Edward mengamati Edna dengan takjub.


"Na, tumben kamu?" tanyanya heran. Tak biasanya Edna makan sebanyak itu.


"Enak ni, Kak ... Aku jadi pengen nambah," jawabnya sambil kembali menyendok nasi.


"Biasanya diet, Na?"


"Biarkan to, Mas ... Mbak Edna kan sedang masa penyembuhan. Biasanya ya, begitu ... Jadi banyak makan" kali ini Bi Edah yang menjawab.


Melihat cara makan Edna hari ini, Edward hanya geleng-geleng kepala. Hanya sesekali terdengar, "Pelan-pelan, Na, nanti tersedak, lo!"


Dan dijawab Edna dengan makanan penuh di mulutnya, "Ya, kak, iya."


---------


Pagi itu, Edna terbangun dengan perut mual. Dia segera berlari ke kamar mandi dan menumpahkan isi perutnya. Setelahnya, Edna kembali ke tempat tidurnya dengan lemas. Ini sudah ketiga kalinya, dia harus bolak balik ke kamar mandi karena mual yang tak tertahankan.


"Mbak, masuk angin, ya?" tanya Bi Edah setelah masuk ke kamarnya dan melihat Edna masih terlihat pucat.


"Mungkin, Bi," jawab Edna. Diterimanya teh hangat yang disodorkan Bi Edah. Menyetuputnya sedikit, teh hangat itu membantunya. Mualnya sedikit mereda.


"Bibi, bawakan sarapan ke kamar saja ya, Mbak?" tanya Bi Edah sebelum pergi berlalu. Edna hanya menganggukkan kepala.


Dia sedang berpikir keras, kenapa dengan dirinya akhir-akhir ini? Makan banyak? Mual-mual di pagi hari.


Edna tersentak, mengingat sesuatu. Segera dibukanya laci barang di pojok kamarnya. Ingin memastikan sesuatu. Setelah membukanya, Edna terduduk lemas. Bungkusan warna orange itu, isinya masih utuh. Tandanya tidak digunakannya karena tamu bulanannya tidak datang bulan ini.


Apa mungkin? Bukankah, hanya sekali melakukannya? Bagaimana kalau benar?


Edna terduduk di pojok kamarnya. Digigit-gigitnya ujung kukunya.


Bayangan buruk terlintas di benaknya.

__ADS_1


Apa yang akan terjadi dengan dirinya? Kakaknya? Abangnya?


---------


Edward melempar pesan yang ditinggalkan Edna. Edna pergi meninggalkan rumah. Entah kemana perginya. Membuat pikirannya menjadi kalut, karena tak tahu kemana harus dicarinya Edna. Tak henti-hentinya, Edward mengutuki dirinya sendiri, saat mengingat perlakukannya kepada Edna, sehingga adiknya itu memilih untuk pergi.


Sungguh, kemarahan menghilangkan akal sehat, yang akhirnya disesalinya.


Edward bingung, tak tahu harus meminta bantuan siapa. Dalam kebingungannya, terlintas satu nama, yang dia yakin, tahu akan kondisi Edna saat ini. Lalu ....


"Va, kamu dimana? Bisa aku bicara?" tanyanya setelah Kavana menerima panggilannya.


Edward segera mengambil kunci motor dan menyalakan motor menuju tempat dimana Kavana berada.


Kantin Rumah Sakit,


"Ed, ada apa?" Kavana langsung mengajukan pertanyaan, saat Edward sudah duduk di hadapannya. Dilihatnya, peluh membasahi dahi Edward, wajahnya tampak kusut. Namun, tidak sedikitpun mengurangi ketampanannya. Justru semakin terlihat manly.


"Va, aku tidak tahu, mau minta tolong ke siapa lagi, aku bingung Va, tolong?" pintanya.


"Iya, Ed, tapi ada apa?" tanya Kavana lagi.


"Edna, Va ... pergi dari rumah" jawabnya.


"Pergi? Sejak kapan? Kenapa?" tanya Kavana beruntun saking terkejutnya.


"Maksud kamu apa, Ed?" Kavana masih bingung.


"Katakan yang sebenarnya sekarang, Va" desak Edward.


"Aku beneran tidak mengerti, maksud kamu apa, Ed?" jawab Kavana dengan nada semakin bingung.


"Kamu tahu, kan? Edna ada hubungan dengan Dayona? Ini kan, kebenaran yang tidak aku tahu?" tanyanya dengan emosi. Selalu, saat nama Dayona disebut. Begitu sebaliknya.


Sekarang, Kavana paham. Edward akhirnya tahu.


"Ed, tenang dulu ... Aku bisa jelaskan ..." kata Kavana pelan. Berharap Edward bisa mengatasi marahnya.


"Bagaimana aku bisa tenang, Va! Edna pergi dalam keadaan rapuh!" katanya gusar.


"Iya, Ed ... Aku paham, tapi cobalah untuk sedikit tenang, supaya kita bisa cari solusinya bersama ..." Kavana terus berusaha menenangkan Edward.


"Va, aku takut, Edna kenapa-napa, bayinya kenapa-napa ... Baji**** Dayona!!!!!" umpatnya marah.


Darah Kavana membeku. Tak percaya apa yang baru saja didengarnya. Bayi?


"Tunggu, Ed ... katakan sekali lagi, apa yang kamu bilang tadi ... Bayi? Kamu bilang bayi? Aku tidak salah dengar, kan?" kali ini Kavana yang memajukan badannya meminta penjelasan.

__ADS_1


"Kamu kan tahu, Va ... Edna sedang hamil." jawab Edward frustasi.


Kavana menutup mulutnya. Kepalanya terasa berat. Tiba-tiba, semua berputar dan gelap.


---------


Saat tersadar, Kavana sudah tidak mendapati Edward. Dia hanya di ruangan sendiri. Entah, siapa yang membawanya kemari.


Tak jauh darinya, duduk seseorang yang tak lain adalah Dayona. Dia tampak menunduk melihat ke layar ponselnya.


Air mata Kavana mengalir begitu saja. Apa yang pernah ditakutinya, benar-benar terjadi. Hatinya sangat hancur, mengingat apa yang dialami Edna, oleh laki-laki yang sekarang bersamanya. Tanpa sadar, tangisan pelannya jadi tangisan besar, sampai dadanya terasa sesak. Kavana menangis sesenggukan.


Dayona yang mendengar Kavana menangis, mendekatinya,


"Va, kamu sudah bangun? Kenapa kamu, sayang?" tanyanya heran. Dielusnya kepala Kavana. Namun, Kavana menolak dengan menggeser kepalanya menjauh.


"Pergi kamu, Dan!!!!" usir Kavana.


"Va ... Kenapa?" tanyanya seraya memeluk Kavana, berusaha menenangkan Kavana.


Namun, Kavana mendorongnya untuk menjauh.


"Jangan sentuh aku lagi, Dan!!!! Pergi kamu, pergi!!!!!" hardiknya.


"Oke ... aku akan pergi, setelah kamu bilang, ini ada apa." jawab Dayona tegas.


"Ada apa kamu bilang? Kamu sudah janji sama aku, Dan ... Kamu sudah janji ..." ucapnya dalam tangis.


"Janji yang mana, Va? Ini ada apa? Beneran aku tidak mengerti! kata Dayona jengah.


"Kamu janji akan menjauhi Edna ..."


"Dan aku sudah melakukannya, Va ... sekarang apa lagi?" tantang Dayona.


"Edna hamil, Dan ... Anak kamu, kan?" pertanyaan yang diucapkan Kavana bagai petir yang menyambar, menghabisnya seluruh raganya.


"Edna hamil, Dan ... Sekarang dia pergi meninggalkan rumah ..." isak Kavana.


Dayona tahu, dia memang cowok brengsek. Meniduri semua cewek yang dipacarinya. Namun, mengetahui Edna hamil, Dayona seketika limbung. Hati nuraninya menuntunnya untuk membayangkan Edna, cewek yang sangat dibencinya, karena perbuatan papanya. Dinodainya untuk membalas sakit hatinya. Tetapi, kini penyesalan dan ketakutan menyergapnya. Tanpa ampun menghujaninya dengan tuduhan-tuduhan yang menyudutkan dan menghancurkannya.


-------


Terus dukung Rona Cinta ya 💜💜💜


Jangan lupa berikan like, comment, rate dan vote ya ...


Selamat membaca ...

__ADS_1


__ADS_2