RONA CINTA

RONA CINTA
EPISODE 31


__ADS_3

Dayona duduk bersandar di ranjang tempat tidurnya. Keadaannya semakin membaik. Operasi bedah yang dijalaninya berhasil membuat luka bakarnya tak berbekas lagi. Sudah tiga bulan lebih. Batin Dayona, matanya menerawang. Sudah tiga bulan lebih juga, Mama menemaninya. Meninggalkan perusahaannya. Entah berapa biaya yang sudah dikeluarkan untuk perawatannya.


"Dan, kamu masih marah sama Mama?" tanya Mama yang berada di samping ranjangnya.


Dayona tetap diam.


"Maafkan Mama, Dan ..." kata Mama Velila lagi.


Belum lagi Dayona menjawab. Fleta masuk ke ruangan. Dayona membuang mukanya, muak. Mama Velila mencoba tersenyum, saat Fleta menyerahkan bungkusan makanan kepadanya.


"Dan, kamu belum makan?" tanya Fleta berusaha menunjukkan perhatian. Dayona membuang muka. Enggan menanggapi Fleta. Fleta berusaha memaklumi. Hubungan mereka memang tidak sebaik dulu. Tapi kemudian, ia menoleh menatap Fleta.


"Ta, bisa pinjam ponsel kamu?"


"Bisa dong, Dan ... Pakai saja!" Fleta memberikan ponselnya senang. Ini adalah kemajuan, karena Dayona masih menganggapnya ada.


Tak berapa lama, ponsel itu sudah berpindah tangan. Tampak Dayona sedang melakukan panggilan. Berkali-kali. Sepertinya tidak ada respon, sehingga membuat Dayona kesal. Lalu, Dayona memutuskan untuk mengirim pesan teks.


"Ni, Ta ... Makasih" kata Dayona sambil memulangkan ponsel Fleta.


Fleta mengangguk dan menyimpan ponselnya, tanpa mempertanyakan. Namun, dalam hati Fleta, terbersit keinginan untuk men-check ponselnya untuk mengetahui siapa yang sudah dihubungi oleh Dayona tadi. Tapi ditahannya, belum saatnya.


---------


Kavana masih terus merenungi nasibnya. Kejadian semalam, begitu menggoresnya. Semua yang selama ini dianggapnya kebenaran, ternyata hanya kebohongan, yang terus dimasukkan di pikirannya sehingga dipercayainya.


"Jadi ... selama ini, Mama bohong?" tanya Kavana setelah kepergian Papa Alditira dan Edward.


"Va, semua ini Mama lakukan untuk melindungi kamu. Keluarga Gamaliel bukan keluarga sembarangan, mereka bisa melakukan apapun yang mereka mau." jawab Mama Asiera.


"Walau kamu marah atau membenci Mama sekalipun. Mama tidak pernah menyesali, apa yang dulu pernah Mama putuskan" sambungnya.


"Mama tetap saja bohong!!!! Tidak menyesal kata Mama? Lalu kenapa Mama menghancurkan hidup Mama dengan mabuk dan terus hidup di dunia malam?" teriak Kavana emosi.


"Untuk pelampiasan kan, Ma??? Kalau Mama tidak bahagia!!!!!" raung Kavana.


Mama terkesiap mendengar perkataan Kavana. Semuanya benar. Membohongi diri sudah jadi keahliannya. Ahli mengingkari bahwa sebenarnya kekosongan selama puluhan tahun menderanya. Kehilangan Alditira menjadi kegaduhan besar dalam jiwa Asiera. Kegaduhan yang lama-lama menjadi hening karena diredamnya dalam minuman keras dan pelampiasan hafsu bersama banyak pria. Rupanya Kavana yang beranjak dewasa sudah mengetahuinya.


Bunyi getaran ponsel sejak tadi dihiraukannya. Kavana sedang tidak ingin menjawab panggilan siapapun. Namun, saat getaran itu berubah jadi satu bunyi ....


Ting


Ada pesan masuk. Kavana melihat pesan itu berasal dari nomor yang tidak dikenalnya. Sama dengan nomor yang melakukan panggilan tadi.


Dibukanya pesan tersebut.


+62589586580888


Ini Aku ... Dana

__ADS_1


Itu panggilan dan pesan dari Dayona. Harusnya Kavana gembira. Kabar dari Dayona sudah dinanti-nantikannya sejak lama. Namun, sekarang kondisinya berbeda. Semua tentang Dayona baginya adalah dusta. Seperti yang telah dilakukan oleh Mamanya.


Sekarang kepalanya hanya diisi oleh kenyataan bahwa Alditira Gamaliel adalah Papanya, artinya dia bersaudara dengan Edward dan Edna. Kavana tak habis pikir dengan apa yang terjadi dalam perjalanan hidupnya. Mirip sekali dengan kisah sinetron di Televisi yang sering ditontonnya. Setelah ini, bagaimana dia akan bersikap di depan Om Alditira, Edward dan Edna? Semua nampak membingungkan. Semua membuatnya lelah.


---------


Edward menatap Papa Alditira seakan tak percaya.


"Bagaimana bisa, Pa?" tanya Edward.


"Ed, percayalah semua yang terjadi, tidak pernah Papa inginkan. Waktu itu, Papa sudah mencari Asiera kemana-mana. Dan Papa tidak tahu kalau Asiera hamil." kata Papa Alditira.


"Lalu sekarang bagaimana, Pa?" tanya Edward lagi.


"Papa harus memperbaiki ini semua, Ed" jawab Papa Alditira mantap.


"Caranya? Menikahi Tante Asiera?"


Papa Alditira terdiam sesaat.


"Untuk menikah dengan Asiera, Papa belum memutuskannya, Ed. Tapi yang pasti, Papa akan membawa Kavana kesini, tinggal bersama kalian. Bagaimanapun, Kavana adalah saudara kalian" jawab Papa Alditira.


"Apa Papa bilang? Siapa tadi yang Papa bilang saudara kami?" tanpa sepengetahuan Edward dan Papa Alditira, tiba-tiba Edna sudah berdiri di ambang pintu.


"Na, kamu sudah pulang?" setahu Edward, Edna sedang pergi keluar.


"Edna tidak salah dengar kan, Pa? Papa bilang Kavana saudara kami? Bagaimana bisa, Pa? Kasih Edna penjelasan!" tanya Edna tanpa menjawab pertanyaan Edward.


Edna menurut dan duduk diantara Papa dan kakaknya.


"Jelaskan ke Edna, Pa?" tuntut Edna.


"Dengarkan baik-baik, Na!" Papa Alditira akan memulai ceritanya.


"Pa, sebaiknya pembicaraan ini, kita sudahi sampai disini. Besok masih ada waktu kan, Pa?" cegah Edward agar Papa Alditira tidak melanjutkan ceritanya.


"Kakak!!! Apaan, sih!" hardik Edna galak. "Ayo, Pa ... cerita sekarang!"


"Tapi, Na ... Kamu harus istirahat." Edward masih berusaha.


"Edna makin curiga, pasti ada yang Papa dan Kakak sembunyikan dari Edna." Edna memanyunkan bibirnya.


"Bukan begitu, Na ... Kakak hanya...."


"Sudahlah, Ed ..." kata Papa Alditira menyudahi perdebatan kedua anaknya.


"Pa ..." Edward masih bersikeras mencegah Papanya. Dia mengkhawatirkan kondisi Edna. Perempuan hamil sangat sensitif. Takut terjadi apa-apa dengan Edna. Belum lagi, Edward memikirkan buruknya hubungan Edna dan Kavana.


"Mungkin sudah waktunya, Ed ... Papa juga tidak ingin terus dipenjara oleh rasa bersalah. Biarkan kali ini, Papa juga merasakan kemerdekaan."

__ADS_1


Kalimat Papa menyurutkan niat Edward. Ada rasa iba menyeruak di hatinya. Apa yang dialami Papa di masa lalu, ternyata sangat tragis. Dua kali, Papa kehilangan orang yang amat dicintainya. Mama Kavana dan Mama Edward.


Edward mengikuti jalan cerita Papa Alditira dengan cemas. Terus diamatinya air muka Edna. Awalnya, hanya terlihat serius menyimak. Sampai pada kalimat, Kavana adalah anak Papa. Air muka itu menegang. Ada gurat-gurat marah, membuat wajah Edna memerah.


"Edna tidak mau punya kakak seperti dia, Pa! suara Edna nyaris mendesis.


"Na ..." Edward berusaha menenangkan. Tapi Edna menghalau tangan Edward yang akan menyentuhnya.


"Setelah semua yang dilakukannya pada Edna dan Kak Edward, masih mau Papa menganggap dia anak Papa???!!!" kata Edna marah.


"Apa maksud kamu, Na???" tanya Papa heran, melihat reaksi Edna.


"Dia yang sudah hancurkan hidup Edna, Pa!!!!! Dia yang membuat anak Edna lahir tanpa papa!!! Dia tidak layak dianggap anak Papa!!!! Seharusnya dia jadi anak setan!!!!!!" teriaknya emosi.


"Edna, diam!" hardik Papa. Disusul bunyi,


Plaaaak


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Edna. Membuat Edna kaget, lalu menangis keras. Karena sakit di pipi dan hatinya.


"Pa!" Edward menyadarkan Papa Alditira yang mulai terbawa emosi.


"Jangan bicara ngawur kamu, Edna!" kata Papa Alditira kepada Edna.


"Sekarang Papa yang ngawur! Hanya demi dia, sekarang Papa sudah tampar Edna!!!!" kata Edna sambil terus menangis.


"Berani kamu! Bilang Papa ngawur???!!!!" kembali Papa Alditira berbicara.


"Sudah, Pa ... Sudah" kata Edward. "Na, sudah. Minta maaf sama Papa."


Edna tidak menjawab. Dia masih nangis tersedu-sedu sambil memegangi pipinya.


"Mungkin, Edna bukan anak Papa, sehingga Papa tega sama Edna!"


"Ya ... Memang benar kamu bukan anak Papa" kata Papa datar dan dingin.


Edward membeku. Seingatnya, keluarga adalah tempat ternyaman yang pernah dimilikinya. Tidak ada tempat lain yang mampu menggantikannya. Tak mau dia melepaskan itu semua.


Papa, Mama dan Edna adalah harta berharga baginya. Sekarang, hartanya sedang terenggut oleh masa lalu. Masa lalu yang seharusnya jadi kenangan dan pelajaran. Namun, justru sekarang sedang mengajaknya ke medan peperangan. Memperebutkan kemenangan. Antara hidup yang sudah berjalan atau masa depan.


Dan Edward sedang diperhadapkan pada sebuah goncangan besar ....


---------


Selamat membaca semua pencinta Rona Cinta 💜💜💜


Semoga episode-episode kelam ini segera berlalu ya ....


Dan mari kita percaya, dalam kekelaman sekalipun, kita hanya akan melewatinya saja. Tidak selamanya kita ada disana.

__ADS_1


Ibarat pelangi sehabis hujan. Selalu ada sukacita mengikuti dukacita. Karena sesungguhnya suka dan duka itu datangnya satu paket. Semangat!!!! 💪💪💪


__ADS_2