RONA CINTA

RONA CINTA
EPISODE 39


__ADS_3

"Kamu serakah, Dan!" semprot Obed.


"Maksud kamu?" balas Dayona sambil mendelik.


"Jangan pura-pura bodoh, Dan. Kamu tahu banget, bahwa tidak mungkin bersama Edna sekaligus Kavana. Tetapi kenapa kamu bersikeras tidak melepaskan Kavana?!!!! Apa namanya itu kalau bukan serakah!"


Dayona memandang sekeliling tempat itu. Hamparan lampu bak bintang yang nampak indah, tak mampu mengalihkan kegalauan hatinya.


"Kamu harus memilih, Dan. Walau pilihan itu sulit, tapi kamu harus! Jika tidak kamu terus akan melukai keduanya."


"Siapa yang harus aku pilih, Bed?" tanya Dayona kepada temannya itu.


Obed mengangkat bahunya, "Hanya kamu yang tahu. Tanyakan hatimu, Dan. Kesampingkan kebencianmu pada siapapun. Berubahlah, jadilah laki-laki yang bertanggung jawab."


Pembicaraan singkat itu, mengantarkan Dayona kepada pemikiran mendalam. Meninggalkan Bukit Bintang menambah beban berat baginya.


---------


"Manusia bisa berubah, Ed. Bagaimanapun masa lalunya." kata Hero setelah mendengar semua cerita Edward.


Edward paham itu, tetapi kenapa hatinya tak rela, apabila salah satu adiknya harus bersama Dayona.


"Ed, pikirkanlah masa depan Edna dan bayinya." kali ini Obed yang berbicara.


Benar. Masa depan Edna dan anaknya-lah yang harus diprioritasnya saat ini, tetapi sulit sekali membiarkan Edna akan bersama Dayona nantinya.


"Aku rela, Ed ... Melepaskannya. Bayi Edna membutuhkan Papa." ini perkataan Kavana.


Semua yang diucapkan mereka tepat. Pikiran Edward-lah yang mengikat erat. Membuat langkahnya berat.


"Na ... kamu cinta Dayona?"


Edna menarik nafas sejenak.


"Dia cinta pertama Edna, Kak. Ciuman pertama Edna juga sama dia. Ternyata setelah Edna berusaha sekuat tenaga untuk melupakannya. Edna tidak bisa. Lalu Edna berpikir, apakah Edna harus bersama dia? Setelah semua luka yang dia buat untuk Edna, Kakak dan Papa. Rasanya bodoh. Terlalu mudah memaafkannya. Itu yang semakin membuat Edna tidak ingin bersama, walau Edna cinta."


Edna berhenti sejenak sebelum melanjutkan. Edward menyimak dengan seksama. Tidak ingin melewatkan satu katapun.


"Tetapi kemudian Edna memikirkan Jaden, Kak. Edna tidak bisa membayangkan kalau Jaden lahir tanpa Papa. Di masa mendatang pasti dia akan jadi bahan cemoohan orang. Itu yang membuat Edna sedih setiap hari. Untuk itu, ijinkan Edna menikah dengan Abang, bukan untuk Edna, tetapi untuk Jaden."


---------


Velila tampak tak percaya dengan apa yang didengarnya dari Alditira Gamaliel.


"Jadi ini alasan kamu, sekian lama menghilang tanpa kabar apapun?" tanya Velila pedih.


"Maaf, La. Sudah lama aku ingin menceritakan semuanya, tetapi aku terlalu takut melukai kamu." jawab Alditira.


"Kamu tahu? yang sekarang kamu lakukan ini, lebih menyakitkan!" kata Velila berurai airmata.


Alditira hanya menunduk dan diam.


"Aku tak pernah berpikir, kamu akan melakukan ini, ke aku, Mas."


"Maaf, La. Semua diluar kendaliku. Aku juga tidak pernah berpikir kalau akhirnya dia akan kembali. Dan ini kesempatanku untuk bertanggung jawab atas hidupnya. Hal yang tidak bisa kulakukan dulu. Untuk anak kami." Alditira berusaha untuk menjelaskan.


"Anak? Jadi kalian???" tanya Velila tak percaya.


"Itulah yang sudah terjadi, La."


Velila hanya tenggelam dalam sedihnya. Terlalu menyakitkan, ditinggalkan saat sedang sayang-sayangnya. Semua sudah direlakannya untuk hubungan mereka, tetapi ternyata cintanya bisa dirampas hanya oleh sebuah kejadian di masa lalu. Dan hari itu, Velila mengutuki hari dimana mereka harus bertemu.


---------


Fleta mendengkus kesal. Saat Arhea menunjukkan sebuah foto.


"Gara-gara dia, rencana kita berantakan, Ta!" kata Arhea tak kalah kesal.


"Cewek itu namanya Kavana, Rhe. Benci aku sama dia. Dia-lah yang membuat aku putus sama Dayona." terang Fleta.


"Jadi cewek ini, Ta. Kurang ajar! Kita harus bikin perhitungan!"


"Tenang, Rhe ... Aku sudah ada rencana, untuk memisahkan mereka selamanya." kata Fleta menenangkan Arhea.


"Yes ... Aku tidak sabar melihat cewek itu hancur!" kata Arhea penuh dendam.


Arhea mengingat malam dimana dia melihat Kavana di dalam apartemen Dayona. Kavana-lah yang membuat rencananya gagal total, karena seharusnya malam itu, Dayona jatuh dipelukannya.


"Tapi ngomong-ngomong, benar, kan? Kamu tidak pakai perasaan?" selidik Fleta.


"Tidaklah enak aja ... Cowok kayak gitu. Bukan tipe-ku!" elak Arhea.


Bohong. Fleta tahu itu bohong. Sudah sejak lama, Fleta tahu bahwa Arhea juga menaruh hati pada Dayona. Tapi Fleta tak akan diam saja.


"Bagus, deh! Kamu ingat ya, Rhe. Hanya aku yang boleh jadi Mrs. Dayona Gerald Aldari. Ngerti?"


Arhea mengangguk tanpa antusias. Mulai malam ini, dia akan memutar otak untuk mendapatkan Dayona. Tetapi dia harus berhati-hati, jangan sampai Fleta mengetahui bahwa dirinya juga menaruh hati pada target mereka.


---------


Dengan enggan, dimasukinya apartemen. Sejak kecelakaan yang menimpanya, Mama memaksa untuk tinggal bersamanya. Ini yang membuat Dayona tidak mempunyai kebebasannya sendiri.

__ADS_1


Setelah membuka pintu. Dayona terkejut dengan kondisi apartemen yang berantakan. Tidak seperti biasanya.


Dan didapatinya, Mama Velila sedang menatap kosong ke arah televisi yang menyala. Matanya sembab, seperti bekas menangis panjang.


"Ma, ada apa?" tanya Dayona heran, sampai melupakan bahwa dirinya dan Mama sudah lama perang dingin dan belum gencatan senjata.


"Kamu sudah makan, Dan? Maaf, Mama tidak masak hari ini. Kamu beli lewat ojek online saja, ya?!" kata Mama.


"Mama, kenapa?" tanya Dayona lagi.


"Mama, tidak apa-apa, Dan. Mama hanya sedang stress, banyak pekerjaan." jawab Mama asal.


"Kalau begitu, Mama istirahat dulu. Nanti kalau Mama sudah enakan. Dana mau bicara, Ma."


"Soal apa, Dan? Kalau kamu mau, kamu boleh bicara sekarang!" kata Mama.


Dayona ragu. Melihat kondisi Mama yang tampak kurang baik.


"Nanti saja, Ma. Setelah Mama istirahat"


"Kalau begitu, Mama ke kamar dulu, ya." pamit Mama, beranjak masuk kamarnya.


Dayona merebahkan diri di kasur kamarnya. Ditatapnya lekat layar ponselnya.


Ting. Akhirnya pesannya berbalas, setelah menunggu lebih dari lima jam.


Edna:


Ya, Bang


Dayona:


Na, kamu sehat?


Edna:


Sehat


Dayona:


Baby-nya? Jaden? Bagus namanya ....


Edna tertegun. Bagaimana Dayona bisa tahu tentang nama Jaden. Kemudian, senyum tipis tercetak di bibirnya.


Edna:


Sehat. Abang suka?


Dayona:


Dayona mengetik kalimat ini berkali-kali. Ada rasa aneh menggelitiknya saat menulis kalimat "Anak Kita".


Sedangkan, senyum Edna makin mengembang.


Edna:


Sebenarnya Edna tidak tahu, Bang. Kan, belum USG untuk lihat jenis kelaminnya. Hanya feeling Edna saja, sepertinya cowok.


Dayona:


Oh, belum tahu ... Boleh tidak, besok Abang temani saat kamu periksa?


Edna:


Boleh, Bang. Rencananya besok lusa.


Abang:


Abang antar, ya?! Ingatkan Abang, Na, supaya Abang tidak lupa.


Edna:


Iya


Dayona berpikir sejenak, mencari topik apa yang harus dibicarakannya dengan Edna.


Dayona:


Sudah ngidam apa?


Edna:


Bakmi Seafood tempat langganan, Bang ....


Dayona:


Mau Abang belikan?


Edna:


Tidak usah, Bang ... Kemarin sudah dibelikan, kok. Makasih ....

__ADS_1


Dayona:


Wah, aku terlambat. #nyesel


Edna tertawa. Setelah sekian lama, kebencian memisahkan mereka. Dan sekarang mereka, seperti baru memulai lagi. Sama-sama memecahkan es. Kebekuan yang selama ini ada.


Dayona:


Na, sudah tidur?


Edna:


Belum


Dayona:


Kok diam?


Edna:


Abang, tidak kuliah lagi?


Dayona:


Kamu mau aku kuliah?


Edna:


Bukan begitu Bang, Edna tidak bermaksud untuk nyuruh Abang ... Maaf


Dayona:


Aku nurut sama Nyonya aja. Aku akan kuliah sambil kerja, Na


Edna:


Nyonya?


Dayona:


Nyonya Dayona Aldari. Sudah siap?


Edna:


Siap apa?


Jelas Edna pura-pura tidak tahu. Batin Dayona.


Dayona:


Aku akan segera melamar kamu, tapi takut ....


Edna:


Takut apa?


Dayona:


Takut ditolak


Edna:


Oooh


Dayona:


Jadi?


Edna:


Apaan?


Dayona:


Kemungkinan berapa persen?


Edna:


50% sepertinya


Dayona:


Gawat


Edna:


Banyakin berdoa, Bang


Dayona:


Siap

__ADS_1


Mereka chatting sampai larut malam. Dayona mengakhirinya dengan sebuah ucapan romantis pengantar tidur. Setelahnya, mata Dayona sama sekali tidak bisa terpejam. Sudah benarkah yang diputuskannya ini? Bagaimana dengan Kavana. Diketiknya sebuah pesan untuk Kavana, untuk menanyakan kabarnya. Namun, dihapusnya. Diurungkan niatnya itu. Dia sudah memilih.


Di tempat lain, Kavana sedang tenggelam dalam kesedihannya, namun dia tidak sendiri. Ada seseorang yang setia menemaninya. Menepuk-nepuk punggungnya. Berusaha menenangkannya. Sampai akhirnya, tepukan itu jadi belaian dan pelukan. Disitulah sekarang Kavana berada.


__ADS_2