
Dibohongi orang yang paling kita percayai ternyata sangat menyakitkan. Itulah yang dirasakan Edward saat itu.
Dadanya terasa sesak, mendapati kenyataan dua orang yang sedang duduk di pojok itu adalah Kavana dan Dayona. Ya ... Sahabat dan kekasihnya ....
Mereka tidak menyadari kedatangannya, bahkan saat Edward mengambil posisi duduk selisih 5 bangku dari tempat mereka duduk.
Film yang sedang diputar dan orang - orang di sekitar, tidak mengganggu mereka yang sedang ber - asyik masyuk.
Ingin rasanya menghampiri mereka, menghajar lelaki brengsek itu dan menyeret Kavana pulang.
Tapi dia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dengan limbung. Dia menjatuhkan dirinya di kursi Kafe XXI, rahangnya mengeras, giginya gemeletuk dan tangannya mengepal menahan amarah.
Dia sengaja menunggu disana untuk memastikan kebenaran apa yang sudah dilihatnya di dalam studio tadi.
Tak lama pintu keluar studio 3 terbuka. Edward kembali menyaksikan kedua orang yang dinantikannya sedang berjalan sambil tertawa bahagia. Sempat dilihatnya Dayona membuang sesuatu di tong sampah dekat pintu keluar itu.
Dua tiket yang diambilnya dari tong sampah itulah yang sekarang ada di tangan Edward. Bukti pengkhianatan yang menyakitkan.
-----------------------
Edward sudah berpakaian rapi, ini adalah hari ulang tahun Kavana ke - 17. Dia sudah mem - booking tempat di sebuah Kafe, hasil nasehat dari Reval, pujangga cinta di geng mereka.
Edward mematut diri di depan cermin di kamarnya, memastikan penampilannya sempurna. Semua demi Kavana.
Kado yang juga direkomendasikan Reval sudah siap untuk dia berikan pada kekasihnya itu.
Namun, saat Edward sedang men-stater motornya, ponselnya berdering nyaring. Dimatikannya kembali motornya, diambilnya ponsel dari saku jaketnya, layar menyala di ponsel-nya menampilkan nama Javas disana.
"Apaan?"
"Tolongin aku, Ed! Mamaku kritis, papaku lagi keluar pulau tidak bisa dihubungi" sahut Javas di sambungan telepon.
"Hah???! Oke aku langsung kesana, di RS mana?"
Edward menutup panggilan itu, setelah Javas memberi alamat rumah sakit mamanya dirawat.
Bergegas Edward mendorong motornya masuk garasi dan mengambil kunci mobil dari Kang Ari, supir keluarganya. Edward melaju dengan kecepatan tinggi menuju RS Harapan Sentosa.
----------------------
Sudah kesekian kalinya Kavana dibuat menunggu. Tapi kali ini hilang sudah kesabarannya. Ini ulang tahunnya, sampai hati kalau Edward juga melupakan kencan mereka.
Kavana membiarkan air matanya tumpah malam itu, karena penyesalan lebih memilih menghabiskan malam itu bersama Edward dibanding dengan mama dan papanya yang sedianya akan mengadakan pesta ulang tahun untuknya.
"Tidak usah, Ma" tolak Kavana saat itu.
"Ayolah Va, ini Ultah kamu yang ke - 17 lho, dan papa kamu bersedia untuk datang" Mama terus mendesaknya.
__ADS_1
"Ma, pestanya diganti kado yang mahal aja deh! Soalnya aku sudah ada rencana" bujuk Kavana.
Melihat keseriusan Kavana akhirnya Mama mengalah, membiarkan anak gadisnya itu membuat rencananya sendiri.
Berkali - kali pelayan menawarkan untuk menyajikan hidangan yang sudah dipesan, Kavana hanya bisa menggeleng lemah dan berkata tunggu. Dia masih berharap Edward akan datang.
Kavana terus berusaha menghubungi Edward, namun tidak ada respon balasan darinya.
Itu membuatnya semakin kesal. Dia hanya duduk sambil terus berharap. Terpaku di tempat duduknya dalam kecewa.
Sampai akhirnya,
"Va ... " sebuah panggilan menyadarkan lamunannya. Suara itu, bukan Edward.
Kavana menoleh sambil menyeka airmatanya, dan melihat sosok cowok yang berpenampilan keren yang sedang berdiri tepat di depannya. Dayona ....
"Hai, Dan ... Kamu? Disini juga? Ada acara apa?" sapa Kavana berusaha seceria mungkin.
"Oh ... Tadi janjian sama temen, tapi dibatalin, ni baru mau balik, kamu sendiri?"
"Ehm ... Aku ... aku sedang nunggu juga" tiba - tiba mata Kavana berkaca - kaca, tanpa bisa ditahan airmatanya mengalir.
"Hei, kamu kenapa?" Dayona mendekat dan berusaha menenangkan Kavana.
Diambilnya air putih di meja dan menyodorkan itu pada Kavana.
"Makasih ya, Dan" ucap Kavana lirih masih dengan isakan.
"Kamu kenapa? Kalau mau cerita, aku siap mendengarkan kamu, Va."
Setelah Dayona duduk, terurai semua cerita dari bibir Kavana, kekecewaannya pada Edward hari itu. Dayona mendengar dengan setia tanpa menimpali sepatah katapun. Dibiarkannya Kavana mengeluarkan semua perasaannya.
"Jadi hari ini kamu Ultah?" kata Dayona akhirnya.
Kavana mengangguk.
"Sebentar - sebentar ...", Dayona beranjak dari duduknya.
"Kamu mau kemana, Dan?".
"Rahasia" Dayona mengedipkan matanya.
Kavana tersenyum dengan tingkah Dayona itu. Tak berapa lama, Dayona datang bersama seorang pelayan yang membawa sebuah kue tart dengan lilin diatasnya, sedangkan Dayona memegang sebuah gitar dan mulai memainkannya, sambil menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuknya.
Kavana menutup mulutnya takjub. Dia tidak menyangka Dayona akan melakukan hal tersebut. Sesuatu yang romantis. Kavana tertawa senang, lupa dengan sedihnya. Dia kemudian ikut bertepuk tangan mengikuti alunan lagu. Suara merdu Dayona memenuhi ruangan itu dan mulai memenuhi hati Kavana yang menghangat. Belum ada yang melakukan hal seromantis ini sebelumnya.
Selesai memainkan lagu, Dayona meletakkan gitarnya, lalu mengambil kue tart dari tangan pelayan, mempersilahkan pelayan itu pergi setelah mengucapkan terima kasih dan menyodorkannya di depan Kavana.
__ADS_1
"Sekarang kamu boleh tiup lilin, tapi sebelumnya make a wish dulu dong!"
Kavana memejamkan matanya, mengucap doa dalam hatinya dan kemudian meniup lilin itu.
"Selamat ulang tahun Kavana ... Wish you all the best!" Dayona menjabat tangan Kavana.
"Makasih ya, Dan ... Kamu baik banget" Kavana menerima uluran tangan itu. Telapak tangan Dayona begitu hangat seperti senyumnya.
Dan malam itu, Kavana menikmati ulang tahunnya bukan bersama Edward. Dalam suasana yang begitu menyenangkan, bersama Dayona yang begitu mempesona, bagi Kavana malam itu.
"Andai Edward seperti kamu, Dan" batin Kavana.
----------------------
Beberapa jam sebelum itu,
Javas mondar - mandir di depan Ruang ICU Rumah Sakit Harapan Sentosa. Mamanya kritis, dia butuh uang untuk penanganan selanjutnya. Dan Javas sama sekali tidak pegang uang. Lebih dari itu dia butuh dukungan untuk menghadapi situasi ini. Javas bingung, karena papanya yang kerja di lepas pantai tidak bisa dihubungi.
Sudah dua hari mamanya terbaring di rumah sakit karena serangan jantung. Dan sore ini, kondisinya menurun, dokter sudah menyampaikan kepada Javas untuk segera dilakukan tindakan operasi bagi mamanya.
Javas sibuk melakukan panggilan untuk mencari pertolongan dan sialnya tidak ada satupun saudara yang bersedia membantunya. Target selanjutnya yang memungkinkan untuk membantu adalah teman - temannya.
"Sorry Jav, aku benar - benar tidak bisa, aku sudah janji mau antar mamaku ke klinik mata, maaf banget bro, aku sudah janji jauh - jauh hari, kalau tidak aku tepati, mamaku bisa kecewa, kamu tahu sendiri kan, sekarang aku jarang sekali bertemu mamaku" kata Dayona saat Javas menghubunginya. Javas berusaha memahami situasi Dayona dengan berkata, "It's okay, Dan, enjoy dengan mamamu!"
Javas pasrah, tidak mungkin ia meminta tolong Obed atau Reval, orang tua mereka adalah PNS dengan gaji pas - pasan.
Satu - satunya harapannya adalah Edward. Namun dia tahu hari ini Edward ada janji dengan Kavana. Karena sepanjang siang, geng merekalah yang membuat rencana untuk acara ulang tahun romantis dari Edward untuk kekasihnya.
Javas ragu untuk menghubungi temannya itu, tetapi akhirnya dia menekan kontak Edward di panggilan teleponnya.
Dan Javas nyaris berteriak, saking girangnya saat Edward menyatakan untuk segera datang ke Rumah Sakit dimana dirinya berada saat ini.
"Mama pasti baik - baik saja" doa Javas penuh harap.
---------------------
Dayona Gerald Aldari memarkirkan mobilnya di samping pintu masuk Kafe Lembayung Senja. Tempat dimana, Edward dan Kavana akan dinner romantis.
Sekilas dia melihat pantulan wajahnya di kaca spion, dia menyeringai. Segala rencana sudah disusunnya matang - matang.
Segera dia mengemasi semua barang yang hendak dibawanya masuk ke dalam Kafe, saat ponselnya berdering,
"Tidak usah hubungi aku dan tidak usah urusi hidupku lagi, Mam!!!! Aku tidak butuh mama! Urus aja hidup mama sendiri dengan lelaki ba****an itu!" Buru - buru ditutupnya panggilan itu dengan wajah memerah.
"Damn!!! Merusak suasana saja!"
Dayona menarik nafas panjang. Malam ini, malam penting baginya, untuk menjalankan sebuah misi.
__ADS_1
Misi BALAS DENDAM.