
Belakang Sekolah,
Obed berdiri sambil menyilangkan tangan di depan dadanya. Berdiri gelisah menunggu kedatangan seseorang. Sebelumnya, dia sudah mengirimkan pesan agar Kavana datang menemuinya sepulang sekolah. Tujuan Obed tak lain dan tak bukan adalah ingin mengklarifikasi kejadian di Vila.
Akhirnya, Kavana datang. Dia memandang kepada Obed dengan tatapan tidak suka.
"Kenapa lagi sih, Bed?!! tanya Kavana ketus. Dia sangat kesal dengan pertemuan ini. Obed sudah berjanji padanya, tidak akan ada lagi urusan di antara mereka berdua. Dia sengaja datang meski sebenarnya enggan, karena ingin memperingatkan cowok itu untuk tidak menghubunginya lagi.
"Kamu gila, apa????!!!!!" hardik Obed.
"Maksud kamu apa mengatakan aku gila?!!!! Kamu tu yang gila, tidak menepati janji! Ingat, Bed, janji kamu???!!! Kita sudah tidak ada urusan lagi!" balas Kavana sengit.
"Apa yang kamu lakukan di Apartemen Dayona selama ini?" Kavana terkesiap mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Obed.
Pertanyaan yang tidak pernah diduganya, membuatnya sedikit limbung, sehingga membuat lidahnya terasa kaku, kerongkongannya mendadak kering, tidak ada kata ditemukannya sebagai sebuah jawaban.
"Apartemen Dayona? Bagaimana Obed bisa tahu?" itu yang kini sedang berkecamuk di pikiran Kavana.
"Tidak bisa jawab kan, kamu?" sindir Obed. "Ya iyalah, mungkin kamu berpikir kalau kamu itu cukup pintar, untuk bisa menyembunyikan ini dari semua orang, tapi tidak untuk aku! Aku tahu apa yang kamu lakukan bersama Dayona di belakang Edward selama ini!!!!!" seru Obed lagi.
"Oh, ya??? Darimana kamu tahu? tanya Kavana dingin.
"Bodoh!!! Ingat sebuah pepatah, kan? Mau ditutupi seperti apapun, bangkai tetaplah bangkai yang pasti akan tercium busuknya. Dan itu kamu, Va, busuk!!!"
Perkataan Obed itu menusuk hati Kavana.
"Busuk? Ya memang aku busuk. Lalu maumu apa sekarang!!!!" tantang Kavana belum kehilangan keberanian untuk menghadapi Obed.
"Mauku apa??? Dengar kamu, berdoa saja! supaya aku berbaik hati dan tidak membeberkan semua ini kepada Edward, kamu tahu kan artinya kalau sampai aku lakukan itu! Hancur kamu!" ancam Obed.
"Apa mau kamu, Bed??? Kamu mau tubuh aku, kan? Karena itu kamu lakukan ini semua! Aku tahu apa yang kamu pikirkan!!!!" Kavana mulai emosi.
"Tubuh kamu????? Cuuuuh!!! Jijik aku melihat kamu Va, sudah berapa cowok yang kamu tipu, Va????!!! Sekarang aku peringatkan kamu, stop dengan kegilaan kamu ini!!!" Obed makin bengis.
Kavana sudah tak bisa menahan tangisnya, pertahanannya hancur. Tak mampu menjawab perkataan Obed lagi. Dadanya semakin sesak saat dia berusaha untuk menyangkal. Semua yang dikatakan Obed tentangnya memang benar. Obed tidak salah. Dia memang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Va, Edward dan Dayona itu sahabatku, aku tidak ingin ada yang terjadi pada mereka, paham kamu?" kali ini Obed coba melembut demi melihat Kavana yang mulai mencucurkan airmata.
__ADS_1
"Ini kali terakhir aku memperingatkan kamu Va, aku harap tidak akan ada lagi hari seperti ini!" kata Obed sambil berlalu pergi.
Tangis Kavana pecah saat punggung Obed sudah tidak terlihat lagi. Ketakutan mulai menghampirinya sekarang. Ketakutan untuk apa yang akan terjadi di depannya nanti yang sama sekali tidak bisa diprediksi.
----------------------
"Siapa cewek yang bersama kamu kemarin di Bukit Bintang?" Fleta mencoba menahan dirinya kali ini.
"Bukit Bintang? Kapan?" Dayona masih terlihat santai.
"Malam minggu kemarin, waktu kamu bilang mau nongkrong sama teman - temanmu!" suara Fleta mulai meninggi.
"Oh ... dia cuma teman Ta, waktu itu dia lagi berantem sama pacarnya, pacarnya tu Saha ... eh teman sekolah, dekatlah kami, namanya Edward, jadi pacarnya itu curhatnya ke aku" terang Dayona.
Fleta menarik nafas panjang. Di tatapnya mata kekasihnya itu, untuk mencari kejujuran disana. Fleta mulai meragu. Akhir - akhir ini, Dayona mulai berubah. Jarang menghubunginya dan semakin sulit dihubungi. Sebagai cewek, signal-signal bahaya sudah menyala. Ada yang tak beres dengan Dayona.
"Benar begitu?" Fleta memastikan.
"Ya, begitu nyatanya" sahut Dayona santai.
"Pertanyaannya adalah pertama kenapa curhatnya harus ke kamu? Kenapa bukan curhat sama teman yang lain? Kedua, kenapa kamu mau?" selidik Fleta.
"Aku masih tidak mengerti!" Fleta membuang mukanya jengah.
"Hei ... hei ... kita tu pacaran sudah lama kan Ta, masak kamu tidak percaya sama aku?" rayu Dayona sambil memegang dagu Fleta dan menariknya, sampai mereka kembali berhadapan.
"Janji kamu tidak akan nakal ke aku?" Fleta menjulurkan kelingkingnya.
Dayona tertawa melihat apa yang dilakukan Fleta. "Seperti anak kecil," batinnya. Tapi akhirnya, dijulurkannya juga kelingkingnya, sambil berkata, "Iya aku janji!"
Dikecupnya kening Fleta mesra. Dan dilihatnya senyum Fleta sudah mulai merekah. Tandanya sudah aman, untuk meminta jatah minggu ini.
"Ta ... Pengen ...." kata Dayona setengah berbisik.
Fleta tersenyum dan segera merengkuh tubuh kekasihnya itu, untuk menyatukan apa yang mereka sebut cinta.
Cinta tak sekotor itu teman ....
__ADS_1
------------------
Ada penelitian berkata bahwa siklus pertemanan manusia itu ada masanya. Setelah tujuh tahun, biasanya teman kita akan digantikan oleh teman kita yang lainnya. Namun, apabila ada teman yang setelah masa tujuh tahun itu masih bersama kita, maka dia bisa disebut teman sejati.
Awalnya Edward sangat yakin, kalau Dayona adalah teman sejatinya. Tapi kini, mengingat semua hal tentang Dayona, membuatnya marah. Baginya, dia bukan lagi teman sejati, tetapi musuh sejati. Setelah apa dilakukannya, kepadanya dan keluarganya ....
"Na, kenapa kamu tidak cerita?????!!!!" digoncang - goncangnya tubuh Edna.
Edna hanya bisa menangis. Dia tidak berani menatap kakaknya lagi. Kemarahan Edward menakutinya.
"Sejak kapan Na, kapan????!!!! Jawab kakak Na!!!! Jawab!!!!" emosi Edward sudah tak tertahan lagi saat melihat Edna hanya terus menangis tanpa menjawab sepatah katapun.
Edward memukul tembok di depannya. Frustasi. Tidak mengerti, mengapa semuanya ini bisa terjadi pada dirinya dan seisi rumahnya.
"Dayona ... akan kuhabisi kamu!" serunya geram.
Edward menyambar jaket dan kunci motornya. Tak berapa lama, terdengar suara motornya meraung keras menuju jalanan. Entah mau kemana. Edna - pun tak tahu.
Edna terus menangis di pojok kamarnya. Menenggelamkan tangisnya pada kedua lutut yang ditekuk pada posisi duduk. Tangis penyesalan. Menyesali semua yang telah dia lakukan. Belum pernah dia melihat kakaknya semarah ini. Kemarahan yang beralasan sebenarnya. Semua karena dirinya. Semua karena kesalahannya.
Edna bangkit dari duduknya, menyeka air matanya, dan mulai mengambil koper kecil di tempat penyimpanan barang di kamarnya. Dimasukkannya beberapa pakaian ke dalamnya. Dan dia segera melangkah keluar rumahnya. Sudah diputuskannya untuk pergi, setelah meninggalkan sebuah catatan yang ditujukan untuk Edward, kakaknya ....
*Kak,
Maaf ... Aku hanya bisa bilang itu sekarang.
Aku memang salah dan pantas untuk dihukum.
Beri aku waktu untuk merenungkan kesalahanku,
Setelah itu kakak bisa menghukumku semaumu ....
Aku pergi ....
Edna*.
---------------------
__ADS_1
Sedang terus belajar, supaya bisa nulis yang bagus di tengah segudang kesibukan!
Selamat membaca, semoga suka 💜💜💜