
Nyatanya Fleta menghilang bak ditelan bumi. Sudah tiga hari Dayona mencarinya, tetapi tak kunjung menemukannya. Apa yang didengarnya dari Arhea membuatnya ingin segera bertemu dengannya dan mempertanyakan apa yang sudah dilakukan Fleta kepadanya.
"Sudah, kamu tenang dulu, Dan" kata Arhea yang melihat Dayona tertunduk lesu.
"Aku bingung, Rhe. Dimana lagi aku harus mencari Fleta."
"Jangan kuatir, aku akan coba bantu kamu, yang penting sekarang kamu tenang dulu." kata Arhea sambil menepuk-nepuk pundak Dayona.
"Bagaimana aku bisa tenang, Rhe ... Aku takut ini akan mempengaruhi per ..." Dayona menahan kalimatnya.
"Mempengaruhi apa, Dan?" tanya Arhea.
"Aku akan segera menikah, Rhe!" jawab Dayona.
"Menikah? Kamu akan menikah?" Arhea nampak terkejut dengan berita ini.
"Ka ... kapan, Dan?"
"Dua minggu lagi" jawab Dayona frustasi.
"Aku takut, Fleta membuat rencana gila, untuk membatalkan pernikahan kami!" imbuhnya.
Dan tanpa diduga, Arhea memeluk Dayona. Dayona yang sedang rapuh, tak menolak pelukan itu. Dia sedang butuh tumpuan untuk berpijak, karena kakinya sedang goyah.
"Tenang, Dan. Semuanya akan baik-baik saja. Ada aku disini, pasti aku akan bantu kamu." Bisik Arhea sambil mengelus-elus rambut Dayona.
"Terima kasih, Rhe. Sudah mau jadi temanku. Kalau tidak ada kamu, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Fleta sama aku."
Dan pelukan itu semakin erat. Memberi kekuatan untuk Dayona, untuk menghadapi sesuatu yang tidak diketahuinya di depan sana.
---------
Dayona tertegun saat mengetahui bahwa yang membukakan pintu untuknya di rumah Edward adalah Kavana.
"Eh, hai, Va" sapanya canggung.
Kavana juga tak kalah kikuk. Sekaligus menyesal, kenapa tak membiarkan saja Bi Edah yang membukakan pintu.
"Hai, Dan ... Maaaau ketemu dengan Edward? Atau Edna?" tanyanya sedikit gugup.
"Edward, eh Edna." jawab Dayona salah tingkah.
"Oh, masuklah!" ajak Kavana. Dayona mengangguk dan mengikuti Kavana. Ada sedikit kelegaan yang dirasakan Dayona. Akhirnya Kavana bersama Edward lagi, setidaknya dia bisa bernafas lega. Tidak dihantui rasa bersalah lagi. Pikirnya.
"Kamu sudah sampai, Dan." Obed lebih dulu menyapanya.
__ADS_1
"Sorry, tadi mampir-mampir dulu, jadi agak telat." kata Dayona sambil menaruh beberapa tas plastik berisi barang-barang yang dibelinya untuk Edna. Diamatinya sekeliling rumah itu, walau sudah lama dia tak menginjakkan kaki di rumah itu, tampaknya belum banyak yang berubah.
Edward sendiri baru keluar dari kamarnya setelah Kavana memanggilnya.
"Kamu sudah sampai?" sapa Edward.
"Iya, Bro ... Edna dimana? Tadi dia titip beberapa barang untuk aku belikan." tunjuk Dayona pada barang-barang yang baru ditaruhnya.
"Dia ada di kamar, kesana saja, biar Bi Edah yang antar. Biiiiii ..." panggil Edward.
Bi Edah datang dan langsung mengantar Dayona ke kamar Edna. Saat menuju kamar Edna, ekor matanya menangkap bayangan Kavana yang tampak berdiri tak jauh dari tempatnya dan sedang mengawasinya. Dayona sempat menoleh dan beradu pandang dengan Kavana. Dayona berusaha mengabaikan sorot mata sendu itu. Dan terus melaju menuju kamar Edna.
"Abang sudah datang" sambut Edna sumringah.
"Sudah siap, Sayang?" sapa Dayona sambil mengecup dahi Edna.
"Sudah sih, Bang, tapi Edna agak lapar. Boleh makan dulu?"
Dayona melihat arlojinya.
"Boleh. Makan saja dulu, Na!" jawab Dayona setelah dia memastikan waktunya cukup untuk sampai ke dokter kandungan tepat waktu.
Edna tersenyum senang. Lalu mengajaknya ke ruang makan. Dayona menurut.
"Sudah mau berangkat, Na?" tanya Edward
Di ruang keluarga, Edward dan Obed masih sibuk dengan pekerjaan mereka, mempersiapkan pernikahan Edna.
"Abang mau makan sekalian?" tanya Edna.
"Sudah makan, Na. Kamu saja."
Dayona memilih duduk di depan Edna, mengamati calon istrinya makan. Beberapa kali menengok ke arah Edward dan Obed. Ingin rasanya bergabung kesana, tetapi dia ragu. Hubungan mereka belum pulih benar. Dayona takut kalau kehadirannya tidak diinginkan.
Ting.
Bunyi notifikasi ponsel Dayona membuyarkan pikirannya. Diambilnya ponsel dan dibukanya sebuah pesan. Begitu dibuka raut mukanya menjadi merah padam. Tangannya mengepal karena marah.
"Bang, kenapa?" tanya Edna terkejut saat melihat perubahan mimik muka Dayona. Belum juga Dayona menjawab, tiba-tiba Kavana datang dengan tergesa-gesa ke arah mereka.
"Dan, aku mau bicara!" kata Kavana keras.
"A ... ada a ... apa?" tanya Dayona dengan suara tersendat sedang menahan marah.
"Aku butuh penjelasan kamu, sekarang! Ayo bicara diluar!" perintah Kavana dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Buat apa?" tolak Dayona dengan nada tak kalah tinggi.
"Bicara di luar, Dan! Sekarang!" paksa Kavana.
Edna yang tidak tahu apa yang terjadi, awalnya hanya bengong. Namun, setelah dia sadar yang sedang bicara dengan Dayona adalah Kavana,
"Apa-apaan sih, Kak? Bentak-bentak Abang! Ada urusan apa lagi?" kata Edna sebal.
Edward yang mendengar keributan itu, segera datang untuk melerai.
"Eh, ada apa ini?" tanyanya.
"Ini, Kak. Kak Kavana tiba-tiba tak jelas maunya apa!" adu Edna.
"Va, kenapa?" tanya Edward pada Kavana.
"Aku mau bicara dengan dia, empat mata, Ed!" jawab Kavana tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Dayona.
"Tidak, Kak! Edna tidak ijinkan!!!" teriak Edna sambil membanting sendoknya kesal.
"Please, Na. Ini penting??!" pinta Kavana.
"Kalau memang penting, bicara disini saja, di depan Edna!"
"Tidak bisa, Na." sesal Kavana.
"Kalau begitu, tidak akan ada pembicaraan diantara kalian berdua! Ayo, Bang, kita pergi sekarang!" gandeng Edna pada Dayona.
Kavana yang nampak sudah tidak bisa menahan diri lagi segera menarik Dayona dan menunjukkan gambar di ponselnya kepadanya.
"Ini apa, Dan?????!!!!!! Jelaskan!!!!!" teriak Kavana emosi.
Teriakan itu, gambar di ponsel itu, membuat beberapa orang di tempat itu membatu.
Baru kemarin, Edward sedikit bisa melega karena akhirnya adiknya, Edna bisa menemukan kebahagiaannya. Baru saja, bisa melihat Kavana yang mulai merelakan Dayona untuk mempersunting Edna. Baru saja, hubungannya dengan Dayona mulai mencair, setelah kata maaf yang diucapkan oleh teman kecilnya itu.
Namun kini, awan gelap yang kemarin nampak mulai menjauh, kembali menggantung di atas kepalanya. Badai yang mulai mereda kembali menderu memekakkan telinga. Pelangi yang sejatinya mulai mengintip kembali bersembunyi di balik hujan yang semakin deras.
Edward menatap nanar gambar di ponsel itu. Diraihnya ponsel itu dan dicampakkannya di lantai rumahnya. Benda kecil itu hancur berkeping-keping akibat hantaman yang sangat keras. Hanya sekali lihat dia sudah tahu apa yang tergambar disana.
"Ada apa ini?" tanya Obed penuh tanda tanya.
"Kak, ada apa?" tanya Edna bingung.
Kavana hanya diam, tetapi airmatanya terjun bebas. Dayona mulutnya mengatup, tetapi pikirannya mengembara dengan amarah yang menyala.
__ADS_1
"Kamu *******, Dan!!!!!" kalimat itu yang keluar dari Edward, disusul dengan pukulan yang melayang.
Dayona hanya menutup mata. Membiarkan Edward memukulnya. Dia memang pantas mendapatkan itu. Kali ini, dia pasrah. Hanya itu, yang bisa dilakukannya.