
Satu bulan telah berlalu, akhir nya masa Iddah Naya terlewati juga,Tio dan beserta keluarga nya akan mendatangi rumah keluarga Hermansyah malam ini.semua persiapan telah mereka lakukan untuk melamar Naya sebagai calon istri Tio.
Tepat pada pukul 18:30 Tio bersama kedua orang tua nya sudah berangkat dari rumah menuju kediaman Hermansyah.wajah Tio tidak berhenti melukis senyuman bahagia mengingat sebentar lagi mereka akan melangkah ke jenjang yang lebih serius setelah satu bulan lebih menahan diri menunggu Naya melewati proses setelah perceraian nya.
" Selamat malam calon besan." sapa Pak Dirga saat mereka sudah sampai di depan pintu.
" Aihhh! Kamu ini.... Terlalu percaya diri sekali Kamu ini Dirga,belum tentu putri ku mau menerima lamaran putra mu ini." sergah Pak Ridwan begitu kejam nya.
" Jangan lupa Ridwan! Kamu terlalu banyak berhutang budi kepada ku,jika Kamu lupa maka Aku akan mengingat nya kembali." sahut Pak Dirga lalu menyelonong masuk begitu saja tanpa menunggu di persilahkan masuk oleh pemilik rumah.
" Hei! Rupa nya selama ini Kamu tidak ikhlas membantu ku ya.cukup tahu saja Aku siapa diri mu ini." Pak Ridwan mengambil posisi duduk tepat di hadapan Pak Dirga.sedangkan kedua istri mereka hanya bisa geleng-geleng kepala melihat cara interaksi mereka yang sangat luar biasa.
Tio yang sudah sering melihat perdebatan yang terjadi di antara kedua pria paruh baya ini memilih acuh dan lebih fokus melirik ke seluruh ruangan mencari keberadaan Naya.
" Lebih baik Papa sama Mas Dirga diam dulu! Jika ada dendam yang belum selesai,kalian selesai kan saja di luar rumah ini,malam ini khusus untuk membahas hubungan kedua anak kita." Suara Mama Meri mengalihkan atensi mereka berdua yang terus saja mengoceh tanpa henti.
" Mama mau jemput Naya dulu,jangan lupa nasehat Mama tadi." Mama Meri langsung naik ke lantai dua mengajak Naya untuk turun ke lantai bawah.
Ceklek
Mama Meri masuk kedalam kamar Naya yang sedikit terbuka pintu nya.
" Kamu sangat cantik sekali loh sayang,Mama sampai pangling melihat nya." puji Mama Meri pertama kali melihat Naya di kamar nya.
" Terimakasih Ma! Tapi Naya nggak pede turun dengan dandanan seperti ini,rasa nya aneh sekali." Naya terus berputar di depan cermin menatap pantulan diri nya yang sedang memakai mini Dress kebaya selutut berwarna Milo dengan aksesoris manik putih-putih di bagian depan dan juga belakang.
"Jangan terlalu di pikirkan, mungkin karena Kamu yang tidak biasa berdandan wah seperti ini.sebaik nya kita turun sekarang juga, sebelum Papa dan Om Dirga kembali berdebat yang berakhir saling mengumpat." Mama Meri menggandeng erat tangan Naya keluar dari kamar dan menuruni satu persatu anak tangga sehingga membuat seluruh mata tertuju kepada mereka berdua.lebih tepat nya kepada Naya yang tampil begitu memukau malam ini.
" Cantik." gumam Tio dan Pak Dirga secara bersamaan.
" Cih! Itu putri ku." Pak Ridwan menyombongkan diri sambil membusung dada.
" Jangan mulai lagi Pa." tegur Mama Meri lalu mengajak duduk Naya tepat di samping mereka berdua.
__ADS_1
" Kamu cantik sekali sayang, Tante sampai pangling melihat nya." Puji Sari kepada calon menantu nya.mata mereka bertiga terus menatap kepada Naya yang tertunduk malu karena merasa menjadi pusat perhatian.
" Terimakasih Tante." balas Naya perlahan mengangkat wajah nya.tidak sengaja pandangan mata nya bersirobok ganas dengan kedua bola mata Tio yang terpaku mengagumi kecantikan Naya.
" I love you." ucap Tio dengan gerakan mulut yang begitu kentara.
Naya tersenyum mengangguk kan kepala dan kembali fokus menyimak percakapan yang terjadi di antara orang tua mereka.
" Jadi begini Wan! Kedatangan kami kesini adalah untuk melamar Naya untuk menjadi istri Tio,sebaik nya kita percepat saja." ucap Pak Dirga memulai pembicaraan serius.
" Kami sebagai orang tua menyerah kan semua nya kepada Naya,semua nya tergantung Naya." jawab Pak Ridwan dengan wajah serius nya,tidak ada lagi wajah tengil ataupun nada bercanda, yang terdengar saat ini adalah sebuah keseriusan karena menyangkut masa depan anak-anak mereka berdua.
" Bagiamana Nak? Apa Kamu mau menerima lamaran kami ini?" tanya Pak Dirga mengalihkan atensi nya kepada Naya.
Naya yang di tanya meremas kuat jemari nya lalu mengangguk kan kepala secara perlahan.
" Naya mau Om." jawab Naya dengan pasti.
" Terimakasih sayang." Tio berlari mendekati Naya lau menghambur memeluk tubuh Naya.
" Hei! Jangan main peluk-pelukan dulu, sekarang kita tentu kan dulu kapan tanggal pernikahan dan juga pesta resepsi nya." sergah Pak Ridwan memisahkan secara paksa Tio dari Naya.
" Maaf Om." Tio hanya mendesah pelan lalu kembali tempat semula.
" Santai son, sebentar lagi." ledek Pak Dirga ketika mengetahui sang putra sudah tidak bisa lagi menahan hasrat nya.
Tio tersenyum tipis lalu kembali menatap intens wajah Naya.
" Bagaimana kalau pernikahan nya kita adakan 1 bulan lagi, pesta nya kita adakan di hotel milik keluarga kami saja." putus Pak Dirga mencari jalan terbaik.
" Apa ini tidak terlalu cepat Ga? Butuh banyak waktu untuk mempersiapkan semua nya." tolak Pak Ridwan tidak setuju.
" Tidak perlu khawatir begitu Wan! Biarkan Sari dan Meri yang mengurus semua nya,Aku yakin mereka berdua bisa menentukan pilihan yang tepat dalam waktu yang singkat ini."
__ADS_1
" Aku setuju,serahkan saja semua nya kepada kami berdua." sahut Sari mengiyakan.
" Mama juga setuju Pa,nanti biar Mama yang mencari dekorasi yang cantik dan elegan." Mama Meri juga membuka suara menerima usulan dari Dirga.
" Baiklah, karena lebih banyak yang setuju, pernikahan nya kita adakan 1 bulan lagi lengkap dengan pesta resepsi yang begitu mewah,biar dunia tahu kalau Perusahaan milik Hermansyah sudah bergabung dengan perusahaan Dirgantara." ucap Pak Ridwan.
" Kamu seperti nya sangat ingin sekali bergabung dengan perusahaan ku,baiklah jangan khawatir! Aku menerima kehadiran mu." balas Pak Dirga mulai mengubah suasana serius ini menjadi lelucon yang membuat semua orang tergelak.
" Sebaiknya kita makan malam dulu,semua makanan nya sudah di sediakan di atas meja.mari jeng Sari kita pindah ke meja makan." ajak Mama Meri merangkul tangan besan nya,sedangkan Naya berjalan beriringan bersama Tio.dan di belakang mereka berdua ada kedua pria paruh baya yang tergelak dengan pembahasan yang hanya boleh mereka berdua saja yang tahu.
Setelah menyelesaikan acara malam yang begitu berarti ini, keluarga Dirgantara lalu memutuskan untuk pulang karena pagi besok masih harus beraktivitas seperti biasa, terlebih lagi untuk Pak Dirga yang harus terbang ke jepang menemui client besar yang akan menggunakan jasa pengacara nya.
" Kami pamit ya Wan.terima kasih untuk jamuan makan malam nya." ucap Pak Dirga melangkah keluar dari rumah Naya.
" Hati-hati, jangan lupa segera ubah nama saham perusahaan harus atas nama putri ku." goda Pak Ridwan yang langsung di balas anggukan kepala dengan cepat oleh Pak Dirga.
" Sayang! Aku pulang dulu ya,siang besok Aku jemput untuk mencari cincin nikah kita." bisik Tio secara lirih tapi masih bisa di dengar oleh seluruh anggota keluarga.
" Cari cincin nya yang mahal ya Nay,jangan mau di suruh beli yang receh dan KW super." sahut Pak Ridwan yang sangat suka sekali membuat suasana menjadi ramai.
" Benar itu Nak,cari cincin limited edition dan memakai berlian yang mahal,kapan perlu sekalian sama toko nya.Om akan transfer berapapun total belanjaan Kamu.khusus untuk menantu keluarga Dirgantara." Pak Dirga juga ikut memanasi Naya agar mau menghabiskan harta Dirgantara yang tidak terhitung jumlah nya.
" Iya Om." jawab Naya pelan lalu melirik ke arah Tio yang terlihat santai dan sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu,toh uang di Rekening nya sangat berlimpah ruah sampai bingung bagaimana cara menghabiskan nya.
Sedang kan di tempat yang berbeda saat ini Bayu tengah merutuki nasib buruk nya yang terlunta-lunta mencari pekerjaan namun tidak ada satu pun CV nya yang di terima, padahal sudah banyak sekali dia mendatangi perusahaan untuk melamar dan meninggalkan jejak di sana sampai dompet nya benar-benar tidak lagi memiliki penghuni dan semua nya sudah terkuras habis.
" Sial! Kenapa lama sekali Aku di panggil bekerja, padahal sudah banyak lamaran pekerjaan yang Aku masukkan." batin Bayu berjalan di bawah terik matahari sambil membawa ransel berisi berkas lamaran.
" Mana haus banget lagi,tapi Aku sama sekali nggak pegang uang, bagaimana ini?" imbuh nya celingukan mencari air gratis sebagai pembasuh dahaga nya yang kering.namun sampai mata nya memutih dan berair Bayu tidak juga mendapatkan segelas air.
Bayu terpaksa berjalan kaki pulang menuju ke rumah nya karena tidak ada satu orang pun yang bersedia menolong dia dan meminjam kan uang begitu saja.semua mobil Rani juga ikut di sita oleh polisi dan sama sekali tidak meninggalkan apapun untuk Bayu dan juga Ibu nya.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen ya guys 🥰😍😍
__ADS_1