
Dada Bu Romlah terasa sesak mendengar kabar duka yang di bawa kan oleh beberapa anggota polisi.hampir saja Bu Romlah tidak sadar kan diri jika tidak di tangkap oleh tetangga yang peduli kepada nya.
" Minum dulu Bu! Yang sabar ya, mungkin ini sudah jalan nya Clara.pergi dengan cara seperti ini." ucap salah satu warga menenangkan Bu Romlah yang sedang terpukul.
Hiks...Hiks..Hiks...
" Malang sekali anak ku! Kenapa dia bisa meninggal secepat ini.belum sempat Aku menyembuhkan sakit nya tetapi dia sudah pergi meninggalkan Aku sendirian." teriak Bu Romlah semakin hilang kendali.
" Silahkan ikut dengan kami ke rumah sakit Bu, untuk memastikan lebih lanjut bahwa benar kalau jenazah perempuan itu adalah putri ibu." pinta perwakilan dari pihak kepolisian.mereka tidak sengaja menemukan tubuh Clara tergeletak di pinggir jalan dengan berlumuran darah.kepala hancur dan tangan patah.seperti nya Clara menjadi korban tabrakan lari.
" Iya." jawab Bu Romlah lirih.
Para tetangga serta pengurus RT setempat membantu menyiapkan acara pemakaman jenazah, kondisi Bu Romlah yang serba kekurangan membuat hati mereka tergerak untuk membantu dan menyiapkan segala keperluan yang di butuhkan.
Bu Romlah naik ke atas mobil patroli polisi dengan sirine yang masih menyala.
Hanya untaian doa dan beberapa ayat Alquran yang bisa dia ucapkan untuk menguatkan hati yang sudah rapuh.kemalangan ini datang secara bertubi-tubi membuat dia kehilangan anak-anak nya, meskipun Bayu hanya di penjara tetapi dia belum tahu kapan putra nya itu akan menghirup udara bebas.
" Ya Rabb! Kuat kan lah Aku yang terlalu lemah ini.Tegarkan hati ku untuk mengikhlaskan semua nya. Aku tahu semua nya terjadi atas kehendak mu." batin Bu Romlah meremas kuat ujung daster lusuh yang dia kenakan.
Hingga mobil patroli polisi berhenti pun Bu Romlah masih belum menyadari dan masih larut dalam lamunan panjang nya.
" Kita sudah sampai Bu! Mari ikut kami." ajak Pak polisi yang sudah cukup berumur dan menyadarkan Bu Romlah yang masih belum bergeming.
" Bu..." panggil mereka lagi.
" Ah...Iya..Maaf." Bu Romlah segera turun kala menyadari bahwa mereka sudah sampai di sebuah bangunan yang di depan nya terparkir sebuah ambulance.
" Rumah sakit!" batin Bu Romlah turun secara perlahan.
Langkah kaki Bu Romlah terasa berat sekali untuk masuk ke dalam,namun demi memastikan bahwa itu adalah benar putri nya dia berusaha menguatkan diri.
Hingga mereka sampai di sebuah ruangan yang tertulis kamar jenazah dan pihak kepolisian mempersilahkan Bu Romlah membuka kain penutup yang membentang sepanjang tempat tidur itu.
Tangan Bu Romlah terulur membuka dengan isakan tangis yang kembali terdengar.
Hiks....Hiks...Hiks...
Deg....
" Anak Ku." teriak Bu Romlah yang mengenali baju dan tanda lahir yang ada di tubuh Clara, meskipun wajah nya sudah tidak berbentuk lagi tetapi sebagai seorang Ibu tentu saja Bu Romlah memahami betul kalau orang yang terbaring di kamar jenazah ini adalah putri kesayangan nya.
" Siapa yang sudah melakukan ini kepada Kamu,Nak? Kenapa Kamu pergi dari rumah kita.dan kembali dengan keadaan seperti ini." Bu Romlah semakin menundukkan kepala meluapkan rasa sedih nya.
" Bangun Nak! Ibu mohon." pinta Bu Romlah lirih.
" Karena jenazah ini benar merupakan putri Ibu,kami akan membantu mengantarkan ke rumah Ibu."
Bu Romlah mendongak kan kepala menatap seksama beberapa pihak kepolisian yang mengelilingi nya.
" Saya belum memiliki biaya untuk menebus jasad anak Saya Pak." ujar Bu Romlah dengan wajah sembab nya.satu rupiah uang pun tidak ada di dalam saku nya saat ini, terlebih lagi dia sudah dua hari tidak berjualan untuk mencari keberadaan putri nya.
" Semua nya akan di tanggung oleh pihak kepolisian Bu! Kita tinggal membawa pulang saja." tutur Pak polisi menjelaskan.
" Benarkah? Semua ini gratis." Bu Romlah mengerjabkan mata meskipun genangan air mata nya masih terlalu banyak.
" Iya Bu! Lebih baik kita segera berangkat sekarang juga agar pemakaman nya bisa segera di laksanakan." Beberapa polisi sedang berdiskusi dengan pihak rumah sakit mengenai jenazah Clara.
Setelah semua proses administrasi selesai.akhir nya jenazah Clara bisa di bawa pulang ke rumah.Bu Romlah naik ke mobil ambulance dengan di temani oleh salah satu pihak kepolisian.dan di depan mereka ada mobil polisi yang membantu membuka kan jalan dan mengantar Bu Romlah menuju ke rumah nya.
Bu Romlah tidak mampu lagi berkata apa-apa.dia menangis dalam diam melepas kepergian putri nya.kini tinggal diri nya sendiri melewati hari-hari sepi.tidak ada lagi kedua sosok anak nya yang pergi dengan tujuan yang berbeda.
Rumah kontrakan Bu Romlah sudah ramai saat mereka sampai di depan rumah.
__ADS_1
Bu Romlah dengan setia duduk di samping jenazah putri nya.tatapan mata nya kosong menatap ke depan.walaupun kepala nya terasa pusing tetapi Bu Romlah tetap bertahan sampai semua nya selesai.
Satu persatu para tetangga datang mengucapkan belasungkawa kepada Bu Romlah.mereka dengan ikhlas membantu Bu Romlah tanpa meminta balasan, perubahan sikap Bu Romlah yang sudah semakin baik membuat mereka merasa sangat iba.
Keesokan harinya suasana rumah Bu Romlah mulai terlihat sepi dan hanya beberapa tetangga yang datang membantu membersihkan rumah.
Pak Ridwan yang sudah mengetahui tentang kematian putri Bu Romlah hanya diam tanpa berniat untuk mengunjungi atau mengucapkan belasungkawa.rasa sakit di hati nya membuat Pak Ridwan acuh dan sama sekali tidak mau terlibat lagi dengan keluarga yang dia anggap hanya sebagai benalu.
Beberapa hari telah berlalu, setelah suasana hati nya membaik,Bu Romlah memutuskan untuk mengunjungi putra nya sekaligus ingin menyampaikan kabar duka ini.bagaimana pun juga Bayu berhak mengetahui bahwa sang Adik sudah pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.
Dengan menumpang ojek online.Bu Romlah akhirnya sampai di depan sebuah kantor polisi yang dia yakini sebagai tempat penahanan putra nya.
Bu Romlah melangkah masuk ke dalam kantor dan langsung bertanya kepada salah satu petugas lapas yang ada di sana.
" Mari ikuti Saya Bu." ajak seorang petugas yang memakai seragam dinas nya.
Bu Romlah mengangguk kan Kepala mengikuti arahan yang di berikan oleh pria tinggi yang ada di depan nya.
Tak berselang lama,Bayu keluar dengan tertunduk malu.dia bingung bagaimana cara menyapa sang ibu yang sudah lama tidak pernah bertemu dengan nya.dia sudah membuat malu keluarga nya padahal sang Ibu selalu memuji dan membanggakan nya di hadapan semua orang.saat ini Bayu merasa sangat menyesal sekali.apalagi tadi pagi dia mendapatkan hukuman yang sangat berat dan denda yang begitu besar.sudah di pastikan dia akan menghabiskan sisa umur nya di dalam sel penjara ini.tidak ada satu pun pihak keluarga yang datang menemani dia menghadapi tuntutan hukuman,hanya ada pihak pengadilan dan beberapa anggota kepolisian.
Bu Romlah tergugu menatap putra kebanggaan nya yang terlihat lebih tua dari umur nya,kurus dan tidak terawat lagi.bola mata nya mengembun mengenang nasib hidup putra nya yang sudah gelap tanpa cahaya.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh,ada dua orang anggota polisi yang berdiri menjaga mereka.
"Apa yang membawa Kamu menginap di tempat ini?" tanya Bu Romlah dengan batin yang berkecamuk hebat.nasib anak-anak nya semakin hancur dan tidak jelas saja.mungkin kah karena dia yang dulu selalu serakah oleh harta?
Bayu perlahan mengangkat wajah nya,dada nya terasa sesak saat akan membuka suara.lagi dan lagi dia merasa malu sampai ke ubun-ubun.
" Jawab Nak." pinta Bu Romlah dengan suara lirih meskipun hati nya juga sakit melihat semua ini.
" Maafkan Bayu Bu! Bayu membuat hidup kita hancur dan sengsara.maafkan Bayu yang sudah membuat Ibu malu." ucap Bayu dengan menahan Isak tangis.
" Bayu merencanakan penculikan terhadap Naya....." Bayu menjelaskan secara rinci sampai selesai.dia juga mengatakan kapan pasti nya dia di tahan di dalam penjara ini.
Bu Romlah yang kaget mendengar ucapan sang putra tidak dapat lagi menahan tangis nya.air mata yang susah payah dia tahan akhirnya jatuh juga membasahi pipi.
" Kenapa Kamu bisa melakukan semua ini Nak?" tanya Bu Romlah butuh penjelasan.
" Aku ...Aku iri dengan kehidupan Naya, Bu! Aku gelap mata dan ingin membuat Naya kembali hidup dengan Aku." jawab Bayu menahan malu.
Bu Romlah membeku mengetahui semua nya.ternyata korban penculikan ini adalah mantan menantu yang sempat mereka buang sia-sia.
" Sekarang semua nya sudah terjadi,Kamu harus menebus semua nya.Ibu tidak tahu lagi ingin berkata apa." terdengar nada keputusasaan dari setiap intonasi yang Bu Romlah ucapkan.
" Kedatangan Ibu kesini juga ingin menyampaikan kabar buruk tentang kepergian adik mu untuk selama nya.dia sudah pergi meninggalkan kita dan sudah tenang di alam sana." Bu Romlah berucap dengan bersungguh-sungguh tanpa ada beban lagi.dia sudah terlihat begitu ikhlas melepas kepergian putri nya.
" Clara sudah meninggal? Bagaimana bisa Bu?" tanya Bayu tidak percaya.
" Ibu juga tidak tahu pasti.tetapi waktu itu...." Bu Romlah kembali mengenang bagaimana awal dia mendapatkan informasi tentang anak nya.tidak ada lagi tetesan air mata kesedihan kecuali ketegaran yang dia perlihatkan.
Bayu berdiri lalu memeluk sang Ibu saling menguatkan satu sama lain.
Ibu dan anak ini berpelukan melepas rindu yang teramat menyiksa.
" Kamu harus sabar ya Nak,ini ujian yang di berikan tuhan kepada kita untuk menguji keimanan kita.jalani saja hukuman ini dan Ibu janji akan sering mengunjungi Kamu ke sini."bisik Bu Romlah menggosok punggung Bayu yang keras hanya di lapisi oleh tulang belulang,tidak ada lagi perut buncit dan wajah bengkak.yang tersisa hanya lah wajah tirus dan rahang menonjol keluar.
" Semoga saja sepulang nya Kamu dari sini akan membuat Kamu lebih dewasa lagi." Bu Romlah melepaskan pelukan mereka ketika melihat kedatangan pihak lapas.
" Maaf Bu,Pak! Waktu berkunjung nya sudah habis." ucap mereka mengingat kan.
" Iya Pak,Saya akan segera pamit." Bu Romlah meninggalkan beberapa makanan yang di simpan di rantang besi.sebelum dia pergi.Bu Romlah terlebih dahulu memeluk kembali tubuh putra nya sampai waktu mempertemukan mereka kembali.
" Ibu pulang dulu ya,maafkan Ibu yang sudah lalai mendidik Kamu waktu itu." bisik Bu Romlah penuh haru.
__ADS_1
" Tidak Bu! Ini semua salah Bayu,maafkan Bayu,Bu!" tutur Bayu mengerat kan pelukan nya sampai meneteskan kembali air mata.
Beberapa bulan telah berlalu
Tidak terasa rumah tangga Naya dan Tio sudah memasuki bulan ke 4.Naya begitu menikmati peran nya dan merasa sangat bahagia sekali.Tio selalu menjadi kan dia ratu di istana mereka.
Naya merebahkan tubuh nya di atas ranjang.entah kenapa tubuh nya terasa sangat lelah sekali hari ini. padahal dia tidak pernah mengerjakan pekerjaan berat selama menjadi istri Tio.
Tio masuk ke dalam kamar menyusul Naya dan duduk di tepi ranjang seraya mengelus lembut kepala Naya.
" Kita kita ke dokter ya sayang?" ajak Tio berusaha memberi tahu.
" Nggak perlu sayang,Aku hanya kelelahan dan masuk angin saja.ini semua karena Kamu yang hobi sekali membuat Aku tidur tanpa memakai baju." ucap Naya yang memang sedang malas pergi kemanapun,selain itu dia hanya merasa sedikit pusing di tambah dengan mual biasa.gejala seperti ini dia anggap seperti masuk angin biasa.
Tio hanya mampu memegang pelipis dan menggaruk dengan asal.
" Aku tidak bermaksud membuat Kamu seperti ini sayang,maafkan Aku.tubuh mu candu berat untuk ku dan sulit bagi ku untuk mengontrol hasrat ku ini." ucap Tio sambil mengingat aktivitas panas mereka 2 jam yang lalu.Naya tampak menikmati goyangan nya dan bahkan menjerit keenakan.
" Aku ngga papa sayang,awas dulu." Naya melepas rangkulan tangan suami nya dan berlari menuju kamar mandi ketika merasakan perut nya bergejolak hebat.dia mengeluarkan semua isi perut nya sampai habis.
Hoeeekk...Hoek....
Tio yang merasa cemas berlari mengikuti langkah kaki istri nya.dia membantu mengusap punggung Naya untuk memberikan ketenangan.
" Kita harus segera ke dokter sayang,Aku nggak mau dengar alasan apapun lagi." ujar Tio membantu Naya membersihkan mulut nya dan menggendong Naya keluar menuju kamar.Naya yang sudah lemas hanya bisa pasrah dengan menghirup dalam-dalam aroma tubuh suami nya.
Para Art yang sempat mendengar suara muntah-muntah dari kamar Naya ikut merasa cemas.selama ini Naya adalah tipe orang yang jarang sakit dan kejadian seperti ini tidak pernah terjadi selama mereka menikah.
" Non Naya kenapa Den ?" tanya Bi Siti menghampiri.
" Tadi dia muntah-muntah Bi,tolong minta sopir untuk menyiapkan mobil,Aku akan membawa Naya ke rumah sakit." ujar Tio agar dia tidak terlalu lama menunggu.
" Baik Den." Bi Siti berlari menuju teras depan dan meminta Pak Win untuk menyiapkan mobil.
Naya duduk di pangkuan suami dengan wajah yang sangat pucat sekali.tatapan mata kekhawatiran terlihat jelas di wajah Tio .dia kecup lama kening Naya sampai-sampai air mata nya ikut menetes membasahi ujung wajah Naya.
" Kamu nangis?" tanya Naya lirih.
" Aku tidak tega melihat keadaan mu seperti ini sayang,maafkan Aku yang sudah membuat Kamu lelah." Tio semakin mengeratkan pelukan nya dan merasa sangat takut kehilangan istri tercintanya.
Sesampai nya di rumah sakit milik keluarga Dirgantara,Tio dengan cepat menggendong Naya masuk ke dalam ruang pemeriksaan khusus pemilik rumah sakit.semua serba istimewa dan kedatangan mereka tidak perlu menunggu nomer antrian lagi.
"Istri Saya sedang sakit apa,Dok?" tanya Tio ketika seorang dokter wanita sudah duduk di hadapan nya.
Dokter yang bernama Tania ini tersenyum menatap Tio yang sedang duduk dengan wajah tegang nya.
" Baiklah Saya akan menjelaskan nya,Saat ini Nyonya Naya sedang kelelahan saja, terlebih lagi kondisi tubuh yang sedang lemah membuat dia kehilangan banyak tenaga.akan tetapi kondisi seperti ini sangat wajar di alami oleh seorang Ibu yang sedang hamil muda atau sering di sebut trimester pertama.kondisi ini akan berangsur membaik saat kehamilan Nyonya Naya sudah memasuki trimester kedua atau pun ketiga."ujar Dokter Tania sangat ramah.bagaimana tidak, berhadapan dengan pemilik rumah sakit ini membuat dia harus bekerja dengan sangat maksimal.tidak boleh melakukan sedikit pun kesalahan,tidak.boleh salah mendiagnosa dan di larang menyebar luas kan hasil pemeriksaan nya.
" Ibu hamil? Apa istri Saya sedang mengandung anak kami?" tanya Tio menatap penuh harap.
" Iya Tuan Tio! Istri anda mengalami gejala-gejala kehamilan.untuk lebih jelas nya Saya akan meminta dokter kandungan untuk memastikan kebenaran nya." ucap Dokter Tania dan meminta seorang perawat memanggil dokter kandungan.
" Carikan Dokter kandungan wanita untuk istri ku,Aku tidak ingin istri ku di sentuh oleh pria lain." pinta Tio sebelum perawat ini pergi meninggalkan ruangan.
Dokter Tania tersenyum seraya menganggukkan kepala nya.
" Sus! Tolong panggilkan Dokter Eva saja." titah nya mengedipkan sebelah mata.
" Baik Dok." Suster ini bergegas keluar menjalan kan perintah.
Naya yang sudah sangat lemah memilih diam dari pada ikut campur.
" Sayang! Kamu sedang hamil, saat ini di dalam perut Kamu ada anak kita." bisik Tio begitu lembut nya.dia elus mesra perut Naya dan dia kecup penuh kasih sayang buah hati yang sudah sangat dia harapkan kehadiran nya.
__ADS_1
" Iya Sayang,tapi jangan bergerak seperti ini,Aku pusing dan mau mencium wangi parfum Kamu saja." tutur Naya dengan mata yang terpejam,bukan karena tidak senang atau pun tidak bahagia mendapatkan kabar baik ini,tapi sungguh kepala Naya semakin berdenyut hebat.apalagi rasa mual ini akan datang jika dia berhenti mengendus dada suami nya.
Jangan lupa Like,Vote dan Komen ya guys 😍🥰🥰