
Di saat jam sudah menunjukkan pukul 15.15 WIB.Tio dan Naya memutuskan untuk pulang ke rumah.sebelum nya mereka berdua menyempatkan untuk membersihkan tubuh yang sudah terasa sangat lengket.
Mereka menghabiskan waktu 20 menit saja untuk sampai di hunian mewah milik mereka berdua.sebuah bangunan berwarna putih bersih dengan ukiran kayu jati sebagai pelengkap keindahan nya.
Suasana di depan rumah terlihat tenang,namun sudah ada 3 mobil mewah yang terparkir rapi dan sudah mereka kenali siapa pemilik nya.
Tio turun terlebih dahulu dan membantu membuka kan pintu untuk Naya.
Naya tersanjung di perlakukan sangat istimewa oleh suami nya.
" Sayang! Seperti nya kedua orang tua kita sudah berada di sini?" ujar Naya bergelayut manja di lengan sang suami.indah nya permainan panas yang mereka lakukan di kantor tadi membuat suasana hati Naya membaik dan sudah tidak ingin lagi mengingat kejadian tadi siang.
" Seperti nya begitu sayang, pasti mereka sudah tahu tentang masalah tadi siang." Tio sangat yakin bahwa sang Papa pasti sudah mendapatkan laporan dari anak buah nya tentang Naya.Tio dan Naya melangkah masuk dengan senyuman dan sorot mata bahagia.tidak nampak sedikit pun kesedihan atau pun kegelisahan.
" Ya Allah sayang? Apa yang sudah terjadi kepada Kamu tadi siang?" Mama Meri berteriak histeris dan tidak sanggup lagi membayangkan bagaimana nasib putri nya.namun apa yang dia bayangkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan yang ada,orang yang di khawatir kan malah pulang dengan keadaan selamat dan terus mengulum senyum bahagia.rambut Naya dan Tio yang masih basah. membuat kecurigaan kedua pasangan paruh baya ini semakin jelas terasa ketika menyadari ada ketidakberesan dalam masalah ini, sementara itu di leher Tio juga terdapat tanda merah yang masih begitu jelas terukir.Mama Meri saling bertatapan dengan besan nya dan maju mendekati Naya yang masih tercium aroma sabun.
"Apa Kamu baik-baik saja sayang?" tanya Mama Meri dan Mama Sari secara bersamaan.namun kedua lelaki paruh baya yang berada di belakang sudah mengukir senyum jahil.
" Naya baik-baik saja kok Ma,memang nya ada apa? Apa yang Mama khawatir kan?" Naya melepas kan tangan nya dari lengan Tio lalu menggandeng tangan Kedua wanita itu.
" Tadi kata Papa,Bayu berulah lagi dan menculik Kamu?" Mama Sari angkat suara karena laporan yang dia dapat kan memang seperti itu.
Naya menghela nafas dan mengajak kedua Mama nya untuk duduk sebelum dia memulai bercerita.sedangkan di sofa depan ada Tio,Pak Ridwan dan Juga Pak Dirga yang menyimak pembicaraan mereka bertiga.
" Tadi Naya memang......" Naya menjelaskan awal mula terjadi nya penculikan dan Bayu yang mencoba melecehkan dia.Pak Ridwan dan Pak Dirga menahan geram mendengar penjelasan Naya.tidak bisa mereka bayangkan apa yang akan terjadi jika saja Tio telat datang untuk menyelamatkan istri nya.
" Tapi Naya nggak papa kok Ma,Pa! Dia belum sempat melakukan apapun." imbuh Naya sebelum orang tua nya kembali bertanya.
Mama Meri mengelus rambut Naya yang masih basah.setidak nya anak mereka belum sempat di apa-apain oleh mantan menantu tidak tahu diri itu.
" Tio! Apa istri mu ini tidak berharga lagi untuk mu? Kenapa Kamu membiarkan saja dia pergi seorang diri." ucap Pak Dirga pelan tetapi penuh penekanan.
" Tio tadi lagi kerja Pa." Tio membuka suara sebagai pembelaan, tetapi sejujur nya dia memang bersalah sudah lalai menjaga istri nya sendiri dan tidak layak di cap sebagai suami yang baik.
" Naya yang menolak untuk di antar sama sopir Pa! Padahal Tio selalu mengingat kan untuk menggunakan sopir jika ingin pergi.ini salah Naya dan bukan karena Tio." Naya yang tidak ingin sang suami di salahkan atas keras kepala nya tadi, akhir nya mengakui kesalahannya sebelum Tio menjadi sasaran empuk kedua orang tua nya.
Tio yang mendengar istri nya ikut membela dia hanya bisa menatap Naya dengan mata teduh dan memberikan isyarat untuk diam saja.sebagai seorang pria sejati Tio akan bertanggung jawab penuh dengan kelalaian nya hari ini.
" Sebagai kepala keluarga dan imam yang baik untuk anggota keluarga mu, seharusnya Kamu sudah mempertimbangkan segala sesuatu nya dengan matang, apalagi ini menyangkut keselamatan orang terdekat mu.Papa tidak mau lagi mendengar alasan apapun.jika uang mu kurang banyak untuk menggaji para bodyguard,Kamu boleh meminta kepada Papa.maka dengan senang hati Papa akan menolong Kamu yang terlalu payah ini." Sindiran yang Pak Dirga lontarkan cukup menjatuhkan harga diri Tio,seorang pengusaha sukses dan pendapatan paling tinggi tidak sanggup membayar bodyguard,ini sungguh lucu sekali dan sangat memalukan jika sampai terendus oleh media.
" Tio minta maaf Pa,Tio sudah membicarakan hal ini kepada Naya,mulai besok dan seterusnya akan ada beberapa orang kepercayaan Tio yang akan mengantarkan dan menjaga Naya kemanapun dia pergi." jawab Tio tidak ingin terpancing emosi.
" Terimakasih sudah menawarkan bantuan atau pun uang untuk Tio,rasa nya saldo di rekening Tio masih cukup banyak dan sangat mampu melakukan apapun itu.simpan saja uang Papa untuk menyenangkan hati calon cucu Papa nanti.dan cari lah uang yang banyak agar anak ku tidak kehabisan uang kelak." imbuh Tio sedikit menggoda sang Papa.
" Bruk...."
" Jangan terlalu percaya diri,Papa tunggu kabar baik itu,dan apa Kamu kekurangan uang untuk membayar hotel sampai memanfaatkan ruang kerja mu sebagai tempat mencetak cucu untuk Papa." Pak Dirga yang memang terkenal usil sama sekali tidak ingin kalah dalam perdebatan ini,Naya yang merasa sedang dibicarakan tertunduk malu sambil meremas ujung rok nya.berbeda dengan Tio yang terlihat cuek dan sangat santai sekali.
" Aku rasa Papa juga pernah melakukan hal yang sama seperti yang kami lakukan berdua.karena Aku sering memergoki Mama keluar dari kantor Papa dengan keadaan kusut dan bau keringat Papa." Perdebatan antara anak dan ayah nya itu kian berlanjut sampai suara Mama Sari yang menghentikan aksi itu karena merasa sangat malu.secara tidak langsung mereka sudah membuka rahasia pribadi secara terang-terangan.
Pak Ridwan,Mama Meri dan Naya cukup tercengang mendengar nya.pembicaraan ini cukup vulgar untuk Naya yang masih terlalu polos.
" Stop! Hentikan...." teriak Mama Sari berdiri dari tempat duduk nya dan mendekati kedua lelaki yang sudah membuat dia malu.
Srekkk...
Srekkk....
Mama Sari menjewer telinga mereka berdua sampai kebawah dan meninggalkan warna merah.
Tio dan Pak Dirga meringis kesakitan dan menggosok dengan menggunakan telapak tangan.
" Kalian berdua sudah tua,tapi masih saja suka berdebat dan membahas tentang yang tidak perlu untuk di bahas."
Buk...Buk...
Mama Sari yang masih merasa kesal kembali mengayun kan bantal kecil ke kepala Tio dan Pak Dirga secara bergantian.
__ADS_1
" Sakit Ma.." keluh Tio .
" Telinga Mama lebih sakit dari itu,apa kalian berdua tidak malu di lihat oleh Naya dan kedua orang tua nya.sungguh memuakkan." Mama Sari kembali ke tempat duduk nya dan meninggalkan sang suami yang tertunduk pasrah.
" Maafkan kelakuan absurd mereka berdua ya sayang,Mer dan Wan." Mama Sari menatap bergantian ketiga orang itu.
Naya hanya mengangguk kan kepala sambil tersenyum manis.melihat Tio meringis kesakitan membuat Naya ikut prihatin, tetapi dia juga tidak bisa terima dengan ucapan suami nya yang terlalu ceplas-ceplos.
" Tidak apa-apa Sar,jangan terlalu di ambil pusing."ucap Mama Meri.
" Ternyata Kamu SUTI juga ya Ga! Suami takut istri." ledek Pak Ridwan sangat pelan sekali.
Hahahaha....
Pak Ridwan tertawa puas melihat wajah sahabat yang tertunduk lesu.
" Aku bukan nya takut,hanya ingin diam saja.capek kalau mau ngomong terus." kilah Pak Dirga yang selalu punya Jawaban yang bisa mengundang gelak tawa.
" Alahhh! Payah." Pak Ridwan berdiri dari tempat duduk nya meninggalkan Pak Dirga yang masih ingin membela diri.
" Wan..." Pak Dirga terpaksa menutup kembali mulut nya karena sang istri sudah menatap tajam ke arah nya.
" Lain Kali jika Kamu ingin pergi kemana pun gunakan lah sopir pribadi mu,jangan membantah apa kata suami,dan jangan lupa minta izin jika Kamu ingin pergi keluar." Pak Ridwan menasehati Naya agar kejadian serupa tidak terulang kembali,atau mungkin saja lebih parah dari hari ini.
" Iya Pa,maafkan Naya yang suka membangkang." balas Naya dengan sorot mata penuh penyesalan.
" Papa maafkan,minta maaf lah kepada suami mu.jangan lagi di pelihara keras kepala yang berujung nestapa." bisik Pak Ridwan menggoda sang putri.
" Papa..." rengek Naya semakin di buat merasa bersalah.
" Besok pagi Papa akan menemui bajingan itu,akan Papa buat dia menyesal seumur hidup." seru Pak Dirga yang baru saja mendapatkan laporan dari anak buah nya yang menangani kasus ini.
" Apa boleh Aku ikut?" tanya Pak Ridwan memastikan.
" Boleh! Asal jangan minta gendong saja." kelakar Pak Dirga yang selalu merusak suasana serius.
" Memang nya Aku anak kecil yang harus minta gendong, kabari Aku jam berapa Kamu akan berangkat besok pagi." jawab Pak Ridwan setengah kesal.tetapi dia sangat paham betul bagaimana sifat asli dari sahabat sekaligus besan nya.
" Siap besan tercinta." ujar Pak Dirga sambil nyengir.
" Aku titip perkara ini ya Pa,Aku masih belum bisa menemui bajingan itu besok,masih ada meeting yang tidak bisa Aku tinggalkan." Tio yang mempunyai seribu satu kesibukan setelah dia tinggal berbulan madu harus bisa pasrah tidak bisa melampiaskan amarahnya kepada lelaki yang sudah berniat jahat kepada istri nya.dia harus bersabar menunggu sampai pekerjaan nya selesai.
" Asalkan Kamu tidak lupa dengan bayaran nya." sahut Pak Dirga dengan wajah santai.
" Pa..." suara gelegar milik Mama Sari membuat Pak Dirga terdiam memegang dagu yang tidak punya salah apa-apa.
" Bercanda Ma." sergah Pak Dirga dengan cepat sebelum mendapatkan timpukan bantal.
" Urus perkara itu dan pastikan penjahat nya menderita di dalam sana." tekan Mama Sari yang juga tidak terima jika menantu nya di perlakukan semena-mena.
" Siap Nyonya Dirgantara.akan Saya lakukan dengan senang hati." goda Pak Dirga mengukir senyum.
Bayu terduduk lesu di ujung ruangan dengan menyandarkan punggungnya di tembok panas penjara.ruangan yang sangat pengap namun terasa begitu dingin dan sangat mencekam.ruangan sempit ini di isi oleh tujuh penghuni lain nya termasuk dia sendiri.para penghuni yang sudah lama menempati ruangan ini terus saja menatap Tio dengan wajah sangar,segala bentuk wajah kejahatan ada di dalam ruangan kotak persegi kecil ini.
" Kenapa Kamu bisa di tahan, kawan?" tanya salah satu di antara pria bertato besar.
Bayu yang sedang kalut dengan pikiran nya memilih bungkam tanpa berminat membuka suara.
" Jangan malu-malu kucing,tidak mungkin Kamu lupa dengan kejahatan mu sendiri kan? " hardik pria yang memakai baju merah dan sobek dimana-mana.
" Hei! Jangan diam saja,di jawab kalau ada orang yang bertanya." pria yang memiliki tubuh paling besar bangkit dan mendekati Bayu.
" Aawww..." Bayu meringis merasa perih akibat tarikan kuat di rambut nya.
" OOO masih bisa bicara,Aku kira bisu dan tuli." pria ini kembali duduk ke tempat awal sebelum Bayu bertindak lebih dan mengadu ke pihak lapas.
" Aku menculik seseorang." jawab Bayu singkat dan tidak berniat menceritakan secara keseluruhan.
__ADS_1
Narapidana lain nya mengangguk kecil tanpa ada pertanyaan lanjutan.
Bayu yang sudah tidak merasa di perhatikan lagi memilih menunduk kan kepala nya di sela kedua lutut.rasa nya masih seperti mimpi ketika mengingat keberanian nya untuk menyentuh Naya.kenyataan ini terlalu sulit untuk dia terima dan dia pun tidak bisa lagi menolak kenyataan yang ada di depan mata nya.
Kecantikan Naya membuat dia gelap mata dan merasa iri dengan kehidupan Naya yang jauh lebih baik dari kehidupan nya.
" Kenapa dia harus datang di waktu yang tidak tepat sih? Sialannn.." teriak Bayu dengan tangan yang merobek habis kartu yang ada di sekitar nya.
Tahanan lain yang sedang diam langsung bangkit dari duduk nya karena tidak terima dengan ucapan dan tindakan Bayu yang melenyapkan mainan penebus rasa bosan.
" Bugh...."
" Bugh..."
" Berani sekali Kamu mengumpat dengan mulut kotor mu itu,dan Aku harap Kamu segera mengganti kartu yang susah payah kami dapat kan ini." Semua tahanan merasa kesal melihat kartu Remi yang sudah tidak berbentuk lagi.
Bugh...
Bugh..
Bugh..
Mereka semua menghajar Bayu yang terduduk dengan keterkejutan nya. saat ini Bayu masih belum menyadari bahwa apa yang dia perbuat sudah membangun kan singa yang sedang tidur nyenyak.
Bayu meringkuk kesakitan dengan wajah yang di penuhi babak belur dan kaki yang memar.
" Hei!! Hentikan." teriak beberapa petugas yang kebetulan sedang melewati bilik yang mereka tempati.melihat kondisi Bayu yang sangat mengenaskan dan butuh pertolongan cepat,petugas lapas membawa Bayu keluar menuju unit kesehatan.
" Hukuman kalian akan semakin bertambah dan jangan mengulangi lagi kejadian ini." ucap seorang polisi mengingat kan dan kembali mengunci sel tahanan itu dengan rapat.
Bayu merintih kesakitan ketika mendapat kan perawatan di unit kesehatan lapas.
Banyak nya luka sobek di wajah dan perut nya membuat Bayu terkulai lemas dan tidak berdaya lagi.
Kebringisan yang dia tunjukkan di depan Naya tadi siang lenyap sudah berganti dengan penderitaan.
" Silahkan di minum air putih nya dan juga obat nya." ucap sang Dokter yang menangani Bayu.
"Iya..." jawab Bayu patuh.
Setelah memastikan bahwa kondisi Bayu sudah membaik dan tidak terdapat luka serius,dua orang anggota polisi kembali membawa Bayu masuk ke dalam sel yang sama.
" Apa Saya boleh meminta tempat yang lain?" tanya Bayu yang merasa tidak nyaman berada di satu ruangan yang memiliki banyak penghuni.
" Ini sel penjara bukan tempat penginapan seperti hotel ataupun lain nya.semua nya sudah di tentukan dan tidak bisa sesuka hati anda." jawab Polisi yang sedang membuka kunci sel tahanan.
" Baiklah,Saya mengerti." jawab Bayu pasrah dan dengan berat hati masuk ke dalam kamar yang seperti neraka untuk nya.
Tatapan mata tajam dari penghuni lapas lain nya masih menjadi ketakutan tersendiri untuk Bayu, namun dia memilih mengabaikan dan berusaha menguatkan diri bahwa semua nya akan baik-baik saja.
Bu Romlah yang sedang kalut mencari kedua anak nya yang menghilang tanpa kabar di buat histeris di tengah jalan.
Sudah jam 22.30 tetapi Bayu dan Clara belum juga ada kabar.Bu Romlah tidak menyangka Clara bisa melepaskan lilitan pasung yang begitu erat dan memakai dua gembok besar.
Sepulang dari berjualan tadi sore, Bu Romlah langsung ke mesjid untuk membantu membersihkan mesjid.namun naas saat sudah sampai di depan rumah kontrakan mereka, pintu sudah terbuka lebar dan rumah dalam keadaan berantakan.
Bu Romlah berlari masuk ke dalam kamar dan melihat Clara sudah tidak ada lagi di tempat penyekapan dan hanya menyisakan balok kayu besar.
" Ya Tuhan! Cobaan apa lagi ini? Maafkan Aku yang sudah terlalu lalai menjaga kepercayaan mu." batin Bu Romlah terus berjalan menyusuri jalanan yang sudah mulai gelap,perih nya kaki yang sudah mengeluarkan darah tidak dia hiraukan lagi demi menemukan anak gadis satu-satunya.
Menurut penuturan beberapa warga ada yang melihat kalau Clara berlari menuju jalan besar hanya seorang diri.
Bu Romlah tidak pantang menyerah sebelum menemukan keberadaan Clara.Bayu yang keluar dari rumah pagi tadi sampai sekarang masih belum pulang juga.nomer ponsel nya sudah tidak bisa di hubungi lagi.membuat Bu Romlah semakin bingung dan tidak tahu lagi harus kemana mengadu nasib pahit hidup nya.
Bu Romlah terduduk di sebuah halte sambil memijit kaki yang terasa kebas.dia seka secara perlahan darah yang menetes karena di pertengahan jalan tadi sendal jepit yang dia gunakan putus dan tidak bisa di gunakan lagi.
" Kemana kalian Nak,jangan tinggalkan Ibu sendirian." teriak Bu Romlah dalam keadaan sunyi sepi.
__ADS_1
Jangan lupa Like, Vote dan Komen ya guys 😍🥰🥰😍