
“Eh, To’. Aku diperintahkan memusnahkan buku agung ini. Kamu?” Tanya Zen dengan heran.
Dialah yang bersama Zen mencuriku dini hari tadi.
“Pak Tito’ juga datang membawa buku-buku bekas ke sini untuk dimusnahkan.” Pak Kasim yang menjawab.
“Oh..”
“Aku membawa salinan-salinan dari Buku Agung.” Kata Tito'.
“Bagaimana jika aku saja yang mengawasi? Kamu punya tugas lain bukan?” Tanya Tito' sambil melirikku.
“Yaa.. Aku diperintahkan untuk mencari semua buku yang isinya mendukung buku agung ini untuk dimusnahkan.” Zen terdengar memelas.
“Hehe.. Sepertinya tugas yang berat.” Kata Tito’ santai dengan wajah prihatin.
“Sangat!” Zen membenarkan sambil menghembuskan napas berat.
“Baiklah, biar aku yang mengawasi pemusnahan buku ini. Kamu kerjakanlah tugasmu.”
“Sampaikan padaku jika sudah selesai.” Pesan Zen sambil beranjak pergi dengan mobil pick up-nya.
“Sip..”
Saat mobil Zen menghilang di balik gedung, Tito’ kemudian berjalan ke arahku dan Pak Kasim. Dengan hati-hati dia mengangkatku menuju ruangan buku rusak.
__ADS_1
“Katanya harus langsung dimusnahkan, Pak?” Pak Kasim bertanya dengan nada bingung.
Perbuatan Tito’ memang membingungkan. Dia bertindak seolah ingin mengkhianati rekannya, Zen.
“Dibawa masuk aja dulu, Pak. Bapak perlu istirahat, bukan?” Katanya santai sambil berlalu membawaku.
Pak Kasim membuntuti masih dengan wajah kebingungan.
Saat memasuki ruangan dan melihat seluruh isinya. Aku kembali terkejut tidak percaya dengan apa yang kulihat.
Pemandangan ini menjawab semua rasa penasaranku tentang teman-temanku yang tiba-tiba menghilang.
“Hai, Emas. Ternyata kau menjadi korban juga?” Buku Ekonomi dasar yang merupakan bahan ajar Ari dan Ali menyambutku.
Emas, begitulah mereka memanggilku.
“Sudah ada yang menggantikanku.” Jawabku singkat dangan nada pasrah.
“Sudah kuduga.” Sahut Buku Ekonomi, yang lain ikut membenarkan.
“Aku sangat berharap pencinta kebenaran tidak akan tinggal diam.” Salinan diriku yang telah lebih dulu berada di sana berkata dengan memelas.
“Apa kau tahu, apa yang mereka lakukan di luar sana?” Tanyaku padanya.
Aku tidak pernah keluar dari ruangan khusus hingga hari ini. Jika aku dibutuhkan keluarga untuk memberikan informasi yang ada padaku, maka diriku cukup disalin dengan menggunakan kertas biasa. Salinankulah yang banyak mengetahui dunia luar.
__ADS_1
“Mereka yang mencurimu adalah penentang Hakim.”
Yap.. Itu sudah pasti.
Gerakan mereka yang diam-diam tanpa persetujuan Hakim sudah pasti bahwa mereka menentangnya.
“Apa yang mereka rencanakan?” Aku sangat penasaran.
“Seperti yang kamu tahu, Hakim berencana untuk mengembalikan tambang kepada pemerintah. Tindakan itu tentu saja akan membuat keluarga Hakim tidak lagi memiliki hak atas tambang yang selama ini mereka kelola.”
“Yaa.. Bukankah mengembalikannya kepada pemerintah sudah seharusnya dilakukan tahun ini? Pemerintah kan sudah mampu.”
Menurut perjanjian Husain dengan pemerintah dua ratus tahun lalu. Pemerintah memang memerintahkan Keluarga Husain untuk mengembalikan tambang ketika pemerintah telah mampu mengelola sendiri.
Husain waktu itu diberi kesempatan untuk mengelolanya selama 50 tahun. Saat telah berlalu 50 tahun, ternyata pemerintah belum juga mampu dan memberikan pengelolaan kembali kepada Keluarga Husain yang ternyata mampu melakukannya dengan baik.
Keluarga Husain diberi waktu 10 tahun lagi. Dengan alasan yang sama, pemerintah memberikannya lagi dan lagi hingga genap 200 tahun.
Saba’, Ayah Hakim waktu itu menjabat sebagai penerus keluarga saat pengelolaan telah mencapai 200 tahun.
Karena hubungan alami yang erat antara pemerintah dan keluarga membuat Keluarga Husain diberi kesempatan 10 tahun lagi.
Dimasa Hakim saat ini, masa 10 tahun itu sudah berakhir tahun ini.
“Yah.. Menurut perjanjian, tahun ini pemerintah sudah harus mengambil alih tambang untuk dikelola sendiri. Hakim telah bertekad untuk mengembalikannya. Hanya.. orang-orang yang mencurimu tidak ingin jika tambang dikembalikan ke pemerintah.”
__ADS_1
“Kenapa? Supaya mereka terus menguasai milik rakyat?” Suaraku meninggi karena emosi. Aku benar-benar tidak terima.
“Sebenarnya.. Ada yang Hakim tidak ketahui. Orang-orang yang mencurimu punya niat baik. Mereka tahu kalau..”