Saksi Bisu

Saksi Bisu
Alasan Dibalik Kedamaian


__ADS_3

“Paman, kalau pengaturan penulisan sejarah keluarga seperti itu, aku yakin pasti akan menimbulkan konflik antara pemimpin dan wakil. Tapi dalam sejarah keluarga maupun yang kami lihat selama ini justru tidak pernah kami jumpai konflik seperti itu?” Tanya Ali penuh selidik.


“Nah, itu membuktikan kalau mereka akur. Artinya, mereka telah kerjasama dengan baik, bahkan dalam hal menuliskan sejarah mereka sendiri. Kebiasaan itu bertahan hingga pemimpin keluarga saat ini. Iya kan, Ayah?” Ari menjawab dengan semangat. Dia terlihat yakin dengan dugaannya.


Hakim terlihat muram. Aku tahu dengan pasti apa yang membuatnya demikian.


“Ali benar Ari, pengaturan seperti itu pasti akan menimbulkan konflik.”


“Jadi, kenapa tidak pernah ditemukan konflik, Paman? Apakah hanya tidak pernah dituliskan dalam sejarah keluarga sehingga kami tidak tahu dan petinggi di sekitar kami juga hanya berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja?”


Aku tahu alasan mengapa konflik seperti itu tidak pernah terjadi di keluarga ini. Ali benar bahwa akan ada konflik di balik diskriminasi.


Sebagai penerus keluarga, mereka berdua memang harus mengetahui sejarah keluarga sebelum akhirnya mempelajari tugas-tugasnya.


Mereka telah mengetahuinya melalui teman-temanku di luar sana. Bukan hanya aku yang berisi sejarah keluarga ini tapi ada banyak dari teman-teman yang ditulis oleh para penulis sejarah yang tertarik dengan perjalanan hidup keluarga ini.


Teman-teman inilah yang kemudian diambil untuk ditempatkan dalam perpustakaan umum sebagai bahan ajar. Tentu saja setelah melewati tahap sortir.

__ADS_1


Aku mendengar keributan dari arah perpustakaan umum sejak salah satu dari diriku diletakkan di atas meja.


Yang pasti, keributan itu tidaklah ditimbulkan oleh anak-anak anggota keluarga atau siapapun dalam keluarga Husain.


Keributan itu perlahan tapi pasti semakin mendekat ke arah kami. Anehnya, tiga orang di hadapanku ini sepertinya tidak mendengar apapun.


“Seseorang berjalan ke arah kalian.”


Salah satu temanku yang berada di rak kuno berteriak padaku. Sekarang aku paham apa yang terjadi. Ada orang lain yang menuju area perpustakaan rahasia ini.


Temanku memberi jawaban yang membuatku semakin panik. Ingin rasanya aku berteriak kepada Hakim agar menghentikan pembicaraan di sini. Tapi aku tahu, itu tidak mungkin.


“Jawabannya  sederhana, Ali.” Pembicaraan ini berlanjut. Hakim terlihat mengambil napas dengan berat. “Wakil tidak pernah tahu tentang penulisan sejarah keluarga.”


Oh tuhan.. Habis sudah.


Kedua anak di hadapanku terlihat berpikir. Raut wajah dewasa dari keduanya sekilas menghapus wajah dua anak kecil beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


Hening.


“Lalu, kenapa kami berdua ada di sini, Ayah?”


Keduanya jelas saja terlihat bingung. Setelah apa yang didengarnya, mereka tahu seharusnya mereka tidak berada di sini.


“Meski kami berdua generasi penerus yang terpilih, tapi tidak seharusnya kami berada di sini bukan? Kalaupun tujuannya untuk mengetahui tentang penulisan sejarah keluarga. Tetap saja yang harus mengetahuinya hanyalah pemimpin yang terpilih kelak. Lalu, kenapa kami malah diajak berdua paman? Bukankah seharusnya hanya seorang diantara kami?”


Yah, selama menjadi saksi bisu di keluarga ini. Memang baru kali ini aku melihat dua orang dari generasi penerus melihatku dan ruangan ini.


Selama kurun waktu dua abad tidak pernah kutemukan perselisihan antar generasi penerus, pemimpin dan wakil karena trik kecil ini.


Tapi kali ini, aku tidak yakin.


Keributan teman-temanku di luar sana akhirnya terhenti. Sepertinya orang itu telah pergi.


“Mengajak kalian berdua kemari?” Hakim menghela napas. “Alasannya sederhana, aku ingin kalian berdua mengetahui buku sejarah keluarga dan menulis kisah kalian bersama-sama.” Hakim memandang wajah keduanya sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2