Saksi Bisu

Saksi Bisu
Pacar


__ADS_3

Malam ini Tito’ mendatangi ruangan dengan wajah yang menyiratkan kelelahan. Dia lantas menghempaskan dirinya di atas kursi setelah meletakkan Buku Kecil di meja seperti biasanya.


“Kak, malam ini kita keluar ya!” Seru adik satu-satunya Tito’ yang kuketahui belakangan namanya Adi.


“Maaf ya..”


“Sibuk lagi?” Potong Adi tidak terima sebelum Tito’ melanjutkan kalimatnya.


“Ya.. Seperti itulah.” Jawab Tito’ tersenyum menyiratkan ekspresi minta maaf.


 “Sibuk apa sih kak? Belakangan ini kok susah sekali di ajak ketemu.” Adi protes.


Tito’ tidak menanggapi dan hanya melirik cemas ke arahku. Sudah kuduga, bahkan keluarganya pun tidak mengetahui tentangku!


“Lagipula apa yang kakak lakukan di sini? Kok, setiap kali datang ke sini pintu ruangannya selalu dikunci?” Adi terlihat kesal tidak ditanggapi.


Dia mulai berjalan mengitari ruangan berharap menemukan sesuatu yang mungkin disembunyikan kakaknya.


Tito’ kembali melirik cemas ke arah kertas kosong diriku yang masih bertengger anggun di atas cetakan. Adi masih terlihat sibuk mencari sesuatu di rak.


“Apa sih yang kau cari?” Tito’ berusaha rileks.


“Siapa tahu kakak menyembunyikan sesuatu di sini.” Kata Adi menyerah memperhatikan rak dan memilih menuju meja Tito’.


Gawat!!!


Tito’ mengurut kening terlihat berpikir keras. Dengan sangat cemas dia melirik ke arah diriku yang terletak di laci meja.


Meski terkunci dengan pintu yang tidak tembus pandang, tetap saja akan menjadi sasaran Adi jika Tito’ tidak melakukansesuatu.


“Tidak ada yang kusembunyikan kok. Lagipula apa yang harus kusembunyikan darimu?” Katanya serileks mungkin. Tito’ kemudian beranjak meninggalkan ruangan. Aku yakin, dia berharap Adi mengikutinya.


Tapi dia salah..


“Wow.. Ini kertas apa kak?” Adi melihat kertasku dengan takjub dan dengan segera mengambil dan menekuk-nekuknya.


“Kuat sekali.”


Tito’ bergeming.


Bagaimanakah dia akan membuat alasan?


“Kertas ini untuk apa kak?” Tanya Adi penasaran dengan tetap memandangiku.


“Itu.. Kakak temukan di keluarga Husain.” Tito’ terlihat menyerah.


“Aaa.. Di tempat tugas baru kakak sepuluh bulan terakhir ya?”


“Iya.”


“Apa ini ada hubungannya dengan kesibukan kakak?”


Tito’ diam. Dia terlihat memikirkan kalimat terbaik. Akankah dia menguak rahasianya?


“Ya..” Jawabnya pada akhirnya.


“Kau tahulah, keluarga itu pengelola tambang emas. Kertas seperti itu sangat mudah ditemukan di sana.” Lanjutnya.


Aku tahu dia berbohong. Kertasku dicetak terbatas. Tentu saja tidak semua orang bisa memilikinya. Tapi aku tahu, itulah usaha terbaiknya untuk menutupiku.

__ADS_1


“Aku boleh mengambilnya?” Adi memohon.


“Jangan!!” Teriaknya refleks.


“Kenapa? Bukankah kakak bisa mengambil lagi?” Protes Adi.


Dia terlihat tidak curiga.


“Itu sebenarnya kertas penting yang hanya keluarga Husain dan dewan penasihat yang boleh memilikinya.” Tito’ sepertinya tak punya ide lain.


Dia kembali berbohong.


“Kenapa?” Adi kecewa.


“Tugas penting kedaerahan. Terlalu rumit bagimu untuk memahaminya.” Tito terlihat berusaha bercanda.


“Aku bukan anak kecil lagi kak. Aku sudah SMA.” Jawabnya protes.


“Bagiku kamu masih anak kecil.” Tito’ merangkul adiknya dan berusaha membawanya keluar.


“Eh.. Itu catatan harian ya?” Adi terlihat antusias melihat si Buku Kecil.


Perhatiannya teralihkan dariku.


Tito’ terlihat meringis..


Usahanya gagal lagi..


“Aku lihat ya.” Dengan cepat Adi menyambar Buku Kecil.


Tito’ merebutnya.


“Wah.. Kakak sekarang sudah betul-betul dewasa ya. Sudah main rahasia-rahasia’an.” Adi tersenyum penuh selidik.


“Siapa dia?” Adi menggoda sambil berusaha merebut si Buku Kecil.


Kami semua memandang dengan penuh tanda tanya. Maksudnya apa?


“Disini hanya berisi rahasia daerah!” Kata Tito’ sambil terus berusaha menjauhkan Buku Kecil darinya.


“Aku tidak percaya. Baru kali ini kakak suka mengisolasi diri. Pasti karena seseorang. Ayolah, perlihatkan padaku.” Katanya tak sabar.


Dia terlihat berusaha lebih keras untuk merebut si Buku Kecil. Dengan sigap, Tito’ menghindarinya.


“Aku tidak mengisolasi diri kok. Aku hanya mengerjakan pekerjaanku.”


“Mengerjakan pekerjaan dengan tutup pintu segala? Aku tidak percaya. Kakak pasti punya pacar bukan? Karena itu menutup diri di sini supaya bebas berkomunikasi dengannya?”


Adi mendesak dengan tingkah menyebalkan. Kami semua bingung dan berusaha mencerna maksudnya.


“Nggakk!!” Bantah Tito’ dengan telinga dan muka yang merona merah.


Itu ekspresi malu..


Tapi kenapa dia harus malu?


Tito’ meninggalkan ruangan dengan sebal. Buku Kecil dibawanya serta. Adi akhirnya terpancing dan ikut keluar ruangan.


“Oke, malam ini mau ke mana?” Tito’ akhirnya mengalah.

__ADS_1


“Loh.. Bukannya ada yang ingin kakak kerjakan.” Adi mengikuti sambil terus menggodanya.


“Kalau kakak keluar denganku. Nanti dia marah loh..” Adi terus menggoda kakaknya. Suaranya kini terdengar sayup-sayup.


“Sudah kubilang, kakak tidak punya!!” Teriak Tito’ membantah.


“Pacar itu apa sih?” Tanya Ilmu Politik lugu.


“Apakah itu sesuatu yang memalukan?” Tanyanya lagi.


Terus terang aku tidak tahu. Jika kulihat teman-teman yang lain, sepertinya mereka sama bingungnya denganku.


“Itu semacam.. Hubungan antar manusia, laki-laki dan perempuan.” Sepertinya Surat tahu maksudnya. Perhatian kami akhirnya terfokus padanya. Berharap benar-benar menemukan penjelasan.


“Hubungan seperti apa?” Tanyaku antusias. Aku telah melihat beberapa jenis bentuk interaksi manusia. Tapi, soal pacar aku sama sekali tak punya gambaran.


“Aku juga tidak tahu.” Surat menjawab dengan ketus.


Kami semua mendadak kecewa.


“Tidak usah dipikirkan. Kapasitas kita sebagai buku tidak bisa menjangkaunya.” Jawaban Surat semakin membuat kami kecewa.


“Tapi, kenapa kamu tahu kalau itu hubungan antar laki-laki dan perempuan?” Ilmu Politik tidak mau menyerah, tentu saja kami ikut mendukung.


Surat kelihatannya terdesak..


“Karena di antara teman-teman surat, ada yang pernah dimanfaatkan oleh mereka!”


“Seperti apa?” Desakku.


“Hanya berbagi informasi seperti layaknya fungsi surat biasanya.” Jawab Surat akhirnya. Tapi sepertinya dia menutupi sesuatu.


“Kalau fungsinya seperti biasanya, lalu kenapa kamu membatasinya hanya pada laki-laki dan perempuan?” Tanya Ilmu Politik.


Kami pun penasaran. Perhatian kami kembali terfokus pada si Surat berharap mendapatkan informasi tambahan.


“Iya.. Tapi.. Bentuk informasi mereka agak berbeda dari biasanya. Pelaku yang diceritakan taman-teman pun hanya antar laki-laki dan perempuan.” Jawab Surat yang entah kenapa terlihat malu.


“Berbeda bagaimana?” Desakku.


“Ehh.. Isinya agak lebay.. Penuh metafora.. dan.. terkadang berisi bahasa-bahasa aneh yang kami para Surat pun tak tahu maksudnya.


Tapi anehnya, pembacanya selalu tersenyum-senyum sendiri dan seringkali tertawa lepas. Reaksi yang aneh


menurutku, karena aku sendiri sebagai surat pemerintahan tidak pernah melihat reaksi seperti itu.”


“Malah yang sering aku temukan adalah reaksi yang sebaliknya, ekspresi marah, gelisah atau jengkel apalagi jika aku membawa informasi yang berisi perintah.  Makanya, saat teman Surat bercerita padaku tentang itu,aku tidak percaya.” Jelasnya.


Kami masih bingung. Tapi sepertinya hanya sampai di situlah pengetahuan Surat.


“Sebenarnya aku sangat penasaran tentang informasi yang akan dibagi Tito’ untukku malam ini. Tapi gara-gara si pacar misterius itu..” Aku mengumpat kecewa.


“Emas.. Tahukah kamu, kalau kamulah pacar Tito’ yang dimaksud Adi?”


Itu pertanyaan ejekan dari Surat untukku. Tapi entah kenapa aku tidak tersinggung. Aku malah senang.


Emas.. Adalah panggilan yang paling kusukai selama ini.


“Aku bukan perempuan tahu!” Aku protes. Kami semua kembali tertawa. Persahabatan antar buku tanpa sadar telah terjalin di ruangan ini.

__ADS_1


__ADS_2