Saksi Bisu

Saksi Bisu
Pertahankan atau Kembalikan? (2)


__ADS_3

“Nak, menyerahkan kembali tambang kepada pemerintah itu terlalu beresiko.” Kata Pak Arif, tegas.


“Kenapa?” Tanya Ari lagi.


“Beresiko penjara, Pak?” Tanya Ali santai.


“Maksud kamu apa, Ali?” Pak Arif bingung.


Tertawa kecil, “Ini sekedar hipotesisku Pak..” Menghela napas, “Menurut dugaanku, Paman Hakim dipenjara karena getol dengan pendapatnya untuk mengembalikan tambang kepada pemerintah.”


Pak Arif tidak berkomentar.


“Apakah itu berarti..” Menghela napas, “Jika kami setuju dengan Paman Hakim, kami juga akan beresiko dipenjara?”


“Aku tidak mengatakan demikian, Ali.” Pak Arif terburu-buru mengonfirmasi.


“Tapi ayah dipenjara gara-gara itu, kan?”


“Bukan Ari!” Pak Arif tegas, “Kalian mendengar putusan hakim waktu itu kan? Kalau ayahmu bersalah karena..”


“Karena tuduhan keji dari buku palsu.” Ari memotong, sinis.


“Ari! Apa maksudmu?!” Pak Arif berusaha keras menahan amarah.


“Pak Arif pasti tahu dengan sangat jelas, bahwa buku itu adalah buku palsu.” Ali menjawab sambil menunjuk Buku Agung penggantiku.


“Harus kukatakan berapa kali Ali?” Menghela napas, “Buku itu ASLI!”


Lengang..


“Suatu saat, aku akan membuktikan bahwa buku itu palsu!” Kata Ali tegas, “Jika saat itu tiba, Pak Arif tidak akan bisa berkomentar apapun!”


“Pak Arif tunggu saja!” Lanjutnya tegas.


“Nak, aku mendatangi kalian, bukan untuk bertengkar.” Menghembuskan napas perlahan, “Baiklah, jika demikian menurut kalian, maka kalian bebas untuk membuktikannya.”


Pak Arif melunak, “Lakukan yang menurut kalian benar.”


Keduanya terdiam.


“Tapi..” Pak Arif seakan enggan untuk melanjutkan, “Soal pengelola tambang selanjutnya.. Aku mohon, dengarkan pendapatku nak!”


“Maksudku.. Pendapat kami, Dewan Penasihat.” Menarik napas, “Aku datang atas permintaan mereka.”


“Bukankah bisa dibicarakan saat rapat?” Ali bertanya.


“Aku hanya berharap, kalian sudah bisa menentukan sikap hingga rapat nanti.” Diam sejenak, “Aku hanya tidak ingin, rapat kembali berjalan alot.”


“Apa yang ingin Pak Arif sampaikan?” Tanya Ali.


“Aku tahu.. Hakim pasti memintamu untuk mengembalikan tambang ke pemerintah, bukan?”


Ari dan Ali tidak berkomentar.


“Aku mohon, nak.” Menarik napas, “Mengembalikan tambang kepada pemerintah terlalu berisiko.”


“Seberapa besar risikonya?” Tanya Ali, santai.

__ADS_1


“Aku mendengar rumor bahwa..” Pak Arif seperti enggan untuk melanjutkan, “Pemerintah akan menyerahkan tambang milik rakyat kepada asing nantinya.”


“Namun, jika keluarga masih menyatakan kesediaan untuk tetap mengelola, maka hal itu tidak akan terjadi.” Tambahnya terburu-buru.


“Masih rumor, bukan?” Ari berkomentar.


“Iyya..” Sahut Pak Arif, “Tapi itu mungkin saja terjadi.”


“Aku mengerti.” Ali angkat bicara, “Ketakutan Pak Arif memang bisa dibenarkan.”


“Karena itu, aku mohon nak.” Pak Arif bersemangat, “Kalian bisa mempertahankan pengelolaan tambang, bukan?”


“Tapi itu masih rumor, Ali.” Ari protes, “Belum tentu terjadi, bukan?”


“Fakta menunjukkan kalau hal itu bisa saja terjadi, Ari.” Ali menjawab dengan sabar, “Kamu sendiri lihat, kan? Pemerintah selama ini selalu bergantung kepada keluarga dalam setiap tugasnya yang bersifat strategis.”


“Lihatlah.. Tambang dikelola keluarga kita. Pariwisata oleh keluarga Rian. Air, listrik, pembangunan dan lain-lain. Semuanya dikelola oleh keluarga besar di daerah ini. Pemerintah hanya bersikap sebagai pemantau.”


Ali menarik napas, “Dan terkadang.. Pemerintah malah mendiamkan jika keluarga yang bertanggung jawab pada satu tugas tertentu melakukan korupsi.”


“Karena itulah nak, aku mewakili Dewan Penasihat memohon pada kalian..” Pak Arif antusias, “Pertahankanlah tambang untuk tetap dikelola oleh keluarga.”


“Kami akan mempertimbangkan.” Ali menjawab singkat.


“Baiklah.” Pak Arif semakin bersemangat, “Aku percaya, kalian bisa melakukan yang terbaik untuk rakyat daerah ini.”


Ari dan Ali tidak berkomentar.


“Aku pamit nak.” Pak Arif pamit, intonasi suaranya menunjukkan bahwa dia sangat senang, “Kalian harus istirahat.”


Langkah kaki Pak Arif semakin jauh meninggalkan ruangan.


Tertawa kecil, “Seperti itu apa, Ari?” tanyanya dengan candaan.


“Apa sebaiknya.. Tambang memang harus kita pertahankan?” Diluar dugaan, Ari malah serius.


“Untuk apa dipertahankan?” Ali ikut serius, “Kamu tahu konspirasi jahat yang tengah menimpa keluarga, bukan?”


“Sebagian besar petinggi sudah tertipu dengan hal itu.”


“Tapi.. Kita bisa memperingatkan mereka, bukan?” Kata Ari, dia sendiri terdengar kurang yakin.


“Awalnya, kupikir lebih baik seperti itu.” Ali terdiam sejenak, “Ayahmu bahkan sudah mencobanya. Tapi lihatlah.. Apa yang terjadi pada ayahmu sekarang?”


“Ayah malah menjadi korban konspirasi.” Ari menjawab pelan.


“Tapi.. Bagaimana dengan rakyat, Ali?” tanyanya cemas, “Selama ini, berkat hasil tambang, pendidikan dan kesehatan selalu digratiskan buat mereka.


Jika pengelolaan tambang diserahkan pada asing, akan lebih fatal akibatnya. Mereka pasti hanya akan mencari keuntungan untuk diri mereka sendiri.


Rakyat sebagai pemilik kemungkinan besar akan terabaikan.”


Ali tertawa kecil, “Kamu sih, tadi tidak mendengarkan dengan baik diskusi dengan ayahmu, Paman Alan, dan Pak Guru Agung, bukan?”


“Aku mendengarkan kok.” Ari protes.


“Mendengarkan apa?” Ali bertanya, menantang.

__ADS_1


“Tentang bahaya mempertahankan pengelolaan tambang pada pihak keluarga. Ada banyak orang dari petinggi keluarga yang bisa memperdaya kita berdua.


Meski kita sadar akan rencana mereka, namun tanpa bantuan siapa pun, kita bisa jadi mengikuti skenario yang mereka buat.” Ari menjelaskan dengan semangat.


“Hanya itu?”


“Yaa.. Juga tentang pihak pemerintah yang belum berpengalaman mengelola tambang.” Sahut Ari, “Tadinya, aku sudah menyusun rencana untuk berbagi pengalaman keluarga dengan pemerintah.


Dengan begitu, kita bisa tetap menyerahkan tambang ke pemerintah untuk dikelola.


Tapi setelah mendengar Pak Arif tadi.. aku menjadi tidak yakin lagi.”


“Hanya itu?”


“Ayah, Paman Alan, dan Pak Guru Agung menyarankan kita untuk mengembalikan tambang ke pemerintah. Karena kita hanya berdua, Ali.


Hanya ayah dalam keluarga yang mendukung kita. Tapi ayah sedang dipenjara. Dia tidak bisa berbuat apa-apa.”


“Hanya itu?” Ali kembali menagih.


“Ayolah Ali!!” Ari merajuk, “Bisakah kamu mengatakan sesuatu yang lain selain kalimat ‘hanya itu’?”


Ali tertawa, “Kamu jelas sekali tidak mendengar semua pembicaraan.” Menarik napas, “Yang kamu katakan tadi hanyalah sebagian besar dari pembukaan dan sedikit dari penutupan pembicaraan.”


“Kita berdua berada dalam posisi yang tidak bisa dipermainkan, Ari.” Ali terdengar kecewa, “Harusnya kamu lebih serius.”


Menghembuskan napas, “Kamu tahu aku dengan jelas, Ali. Setiap kali Pak Agung berbicara tentang ekonomi, aku selalu saja mengantuk. Entah kenapa, di setiap kata-katanya itu selalu menjadi pengantar tidur terbaik untukku.”


Keduanya tertawa.


“Jika saja Pak Agung itu bukan seseorang yang kaku, maka aku sudah lama memintanya untuk menjadi pendongeng ekonomi sebagai pengantar tidurku setiap malam.” Ari meneruskan candaannya.


Tawa mereka semakin keras.


“Memangnya.. Pembicaraan apa yang telah kulewatkan?” Tanya Ari setelah tawa mereka reda.


“Tentang langkah yang harus ditempuh setelah menyerahkan tambang ke pemerintah.” Ali menarik napas, “Kekhawatiran Pak Arif memang bisa dibenarkan. Namun, hal itu bisa dicegah.”


“Bagaimana caranya?” Ari antusias.


“Paman Alan berada dalam posisi yang bisa membantu kita. Selain sebagai wakil pimpinan daerah yang sangat dipercaya oleh pemimpin, beliau juga seorang ahli ekonomi seperti Pak Agung.”


“Dia bisa memastikan bahwa, penanggung jawab pengelolaan tambang nantinya akan diberikan kepadanya. Jika demikian, maka dia akan meminta pihak keluarga kita yang berpengalaman soal tambang untuk membantunya.”


“Dengan begitu, serakus apapun pihak keluarga, jika berada dibawah pengawasan langsung oleh pemerintah, dia tetap tidak bisa berbuat banyak untuk mencurangi rakyat.” Ari menarik kesimpulan.


“Betul.”


“Waahh..” Ari bersemangat, “Aku tidak menyangka, ternyata ketakutan Pak Arif bisa dihilangkan semudah itu.”


“Bukan cuma ketakutan Pak Arif.” Kata Ali terburu-buru.


“Siapa lagi?” Ari terdengar bingung.


“Ketakutanmu juga kan?” Ali tertawa kecil.


Ari tertawa membenarkan.

__ADS_1


Mereka masih saling menggoda satu sama lain hingga beranjak dari ruangan untuk beristirahat.


Aku hanya bisa mendengarkan mereka sambil tersenyum dibalik pintu lemari.


__ADS_2