Saksi Bisu

Saksi Bisu
Tito' Ketakutan


__ADS_3

Di ruangan Tito’


Aku masih dapat mengetahui kondisi ruangan ini dengan hadirnya kertas kosong diriku. Aku tidak tahu alasan pelaku membiarkan kertas kosongku tetap berada di ruangan ini.


Saat menyadari bahwa aku dibawa pelaku ke tempat yang tepat membuatku sangat senang. Tangisan dan teriakan minta tolong kini tergantikan dengan senyum mengembang.


“Ada apa, Emas?” Ilmu Politik bingung dengan sikapku.


“Harusnya kamu mengkhawatirkan dirimu.” Surat memprotes sikapku yang aneh.


“Kami semua sangat mengkhawatirkanmu. Tapi kenapa kamu malah tersenyum-senyum sendiri?” Ilmu Politik mulai jengkel karena aku tetap diam sambil terus tersenyum.


“Jangan-jangan.. Dia jadi gila.” Motivasi terdengar khawatir.


Aku tetap tidak memberikan tanggapan.


“Jangan bercanda! Aku tidak pernah menemukan buku gila.” Surat protes.


“Ya.. Bisa jadi, ini fenomena baru di dunia buku.” Motivasi berhipotesis.


Aku masih saja terus tersenyum.


“Emas.. Apa yang membuatmu terlihat bahagia?” Ilmu Politik mulai terdengar khawatir.


Aku sengaja tidak memberikan tanggapan.


“Jangan-jangan, dia benar-benar gila.” Motivasi membenarkan hipotesisnya.


Semua teman-teman buku akhirnya khawatir. Mereka benar-benar mempercayai hipotesis Si Motivasi.


“Jangan sembarangan! Aku tidak gila kok.” Akhirnya aku protes.


“Lalu apa? Stres?” Motivasi terus saja berhipotesis.


“Nggak!”


“Lalu apa yang membuatmu senyum-senyum tak jelas?” Protes Ilmu Politik.


“Kalian tahu kan, kita para buku mengetahui kondisi bagian diri kita meskipun terpisah jauh. Aku tahu, kepada siapa diriku dibawa semalam.” Jelasku sambil tersenyum senang.

__ADS_1


“Kepada siapa?” Ilmu Politik tak sabar.


“Ke Hakim?” Tanya Surat.


“Nggak.” Aku tersenyum penuh teki-teki.


“Ke Ali?” Surat menduga.


Aku mengangguk membenarkan.


“Waahh.. Tidak kusangka.” Surat berseru senang.


“Siapa orang baik yang membawamu semalam?” Tanya Ilmu Politik.


Aku menunduk, “Aku pun tidak tahu. Tapi, siapa pun dia, aku sangat berterima kasih padanya.” Teman-teman mengangguk setuju.


Ditengah-tengah percakapan kami, Tito’ memasuki ruangan. Sisa ketakutan yang dialaminya semalam masih terlihat. Meski demikian, kali ini dia terlihat lebih santai.


Mungkinkah Tito’ yang membawaku semalam ke tempat Ali?


“Aku berani bertaruh, yang membawamu ke Ali semalam adalah Tito’ sendiri.” Surat berpikiran sama denganku.


Kami semua mengangguk setuju.


Namun, dugaan kami ternyata salah. Tito’ terlihat sangat terkejut saat melihat kertas surat yang terhambur di lantai. Dengan ekspresi takut yang luar biasa, Tito’ tergopoh-gopoh memeriksa laci. Saat melihatku sudah tak berada di sana, raut wajah ketakutannya semakin menjadi.


Kini, Tito’ hanya bisa terduduk di lantai dengan tatapan kosong.


Aku dan teman-teman buku saling melirik dengan bingung.


Lalu siapa yang membawaku semalam?


“Kak, ayo berangkat. Nanti aku terlambat.” Suara teriakan Adi menghampiri ruangan.


“Kak..” Adi kembali memanggil di depan pintu ruangan.


Saat melihat Tito’, raut wajahnya berubah bingung, “Kenapa kak?” Hamburnya ke arah Tito’ yang tidak meresponnya sedikit pun.


“Kak, ada apa?” Tanyanya panik.

__ADS_1


Dia memandangi sekeliling ruangan. Tidak ada yang aneh. Namun saat melihat kertas surat bertebaran di lantai, dia terlihat heran, “Ada apa dengan suratnya? Seingatku, kakak tidak pernah memperlakukan surat kakak seperti ini.”


“Itu benar, sejak si Emas itu datang, barulah aku diabaikan.” Surat tiba-tiba berteriak protes membenarkan Adi. Kami semua tertawa karenanya. Kecuali Adi dan Tito’ tentunya.


“Iya, kasihan sekali kamu. Kamu terhambur begitu saja di atas lantai dan Tito’ tidak peduli. Dia malah mengkhawatirkan si Emas yang justru sudah sangat bahagia sekarang.” Ilmu Politik bersimpati.


“Sabar ya.” Kataku menghibur.


Surat malah cemberut. Kami kembali menertawainya.


“Adi, apa kau melihat seseorang memasuki rumah semalam?” Tanya Tito’ masih dengan wajah ketakutan.


“Tidak.” Jawabnya singkat. “Memangnya kenapa kak?” Tanyanya bingung sambil memandang sekitar. “Ada yang hilang?” Tebaknya.


Tito’ mengangguk membenarkan.


Adi kembali memandang sekeliling. “Apa yang hilang kak? Seingatku, barang-barang kakak di ruangan ini tidak ada yang berubah.” Katanya bingung, “Aahh.. Kecuali, Surat-surat kakak. Biasanya disimpan di laci meja. Tapi sekarang, terhambur begini.”


Adi masih terlihat bingung, “Ada surat berharga yang hilang?”


Tito’ diam saja, dia terlihat bimbang.


“Bos kakak pasti akan mengerti kalau kakak jelaskan apa yang terjadi.” Hibur Adi. “Ayo kak, nanti kita terlambat.”


Tito’ mengangguk dan tersenyum.


“Jika bukan Adi yang datang semalam, lalu siapa? Tadinya, aku menduga Adi yang melakukannya.” Kata Surat.


Kami semua mengangguk setuju.


“Atau.. Jangan-jangan Zen.” Tebak Ilmu Politik.


Semua teman-teman buku tahu tentang kisahku termasuk tentang Zen sejak aku mulai membuka diri pada mereka.


“Itu mungkin saja.” Timpal Motivasi.


“Bagiku, itu tidak mungkin.” Kataku yakin. “Zen adalah orang yang mencuriku dari Hakim. Buat apa dia membawaku kembali kepada Ali?”


“Bukankah Tito’ juga ikut dalam peristiwa pencurianmu itu? Aku yakin, Zen merasa sangat bersalah sehingga dia nekat untuk mengembalikanmu.” Kata Ilmu Politik.

__ADS_1


Itu mungkin saja.


__ADS_2