
Rumah Dinas
Pintu Rumah Dinas terdengar terbuka saat jam menunjukkan hampir pukul 8 malam. Suara langkah kaki yang
terdengar berat menggema menuju ruangan. Dari irama langkahnya, langkah kaki itu milik anak-anak. Pasti Ari dan Ali.
Apa yang membuat mereka sangat lama mengunjungi Hakim?
“Berbicara dengan ayah memang terkadang tak ada habisnya.” Kata Ari kelelahan.
Terdengar dua suara berdebum yang bersamaan. Pasti mereka menghempaskan dirinya di sofa.
“Ya..” Jawab Ali, juga kelelahan. “Untunglah,, Paman Hakim dimasukkan di rumah tahanan pejabat. Kalau tidak, kita tidak bisa berlama-lama mengunjunginya.”
“Terkadang aku selalu ingin protes.” Kata Ari.
Intonasi suaranya kembali semangat.
“Protes apa?”
“Para pejabat kalau ditahan kok diistimewakan sih. Kayak bukan pelaku kejahatan aja.” Ari mendengus.
“Maksudmu, Ayahmu?” Goda Ali, “kamu sepertinya sangat ingin ayahmu dimasukkan ke penjara biasa.” Ali
tertawa.
“Bukan ayahku!” Ari teriak protes, “ayahku memang pantas diistimewakan. Dia kan, bukan pelaku kejahatan. Jika saja ayah dimasukkan ke penjara biasa, tentu saja aku akan protes keras.” Katanya menggebu-gebu.
“Kamu jangan protes padaku.” Godaan Ali berlanjut.
“Ali.. Aku serius.” Ali mengambil napas panjang, “aku selalu ingin protes tentang pejabat yang melakukan kejahatan, namun jika dipenjara malah diberikan fasilitas yang istimewa. Terkadang aku selalu berpikir, apa mereka tidak malu pada rakyat?”
“Aku tidak akan malu jika diberikan fasilitas istimewa, justru aku akan bangga, apalagi saat aku dipenjara. Aku malah akan protes jika tak diberikan.” Lagi-lagi Ali menjawab dengan candaan.
“Ali!!” Ari berteriak gusar.
Dia sepertinya sangat serius.
“Iyaa..” Ali tertawa, “Aku setuju denganmu.”
Ari akhirnya ikut tertawa.
“Ali, bagaimana menurutmu tentang diskusi kita dengan ayah, Paman Alan dan Pak Guru Agung?” Tanya Ari, dia kembali serius.
__ADS_1
“Tentang melanjutkan mengelola tambang atau mengembalikannya?”
“Iya.”
Ali hanya menghembuskan napas, berat.
“Memilih yang manapun tetap sulit, bukan?”
“Kamu sendiri,, pilih yang mana?” Ali akhirnya bertanya.
“Loh,, kamu kan, yang harus mengambil keputusan?”
“Karena itulah,, aku minta pendapatmu.” Ali menghela napas.
Diam sejenak, “Aku tidak tahu.” Kata Ari akhirnya, menyerah.
Suara langkah kaki seseorang mendekati ruangan. Itu langkah kaki orang dewasa.
“Pak Arif?” Ali menyambut orang tersebut yang ternyata Pak Arif. Ada keperluan apa dia datang kemari?
Yang disambut hanya menghela napas panjang.
“Mari masuk Pak.” Ari ikut menyapa.
Intonasinya terdengar seperti seseorang yang menahan amarah.
“Dari ayah.” Jawab Ari singkat dan polos.
“Kalian tahu tugas kalian, bukan?” Tanya Pak Arif berusaha santai.
“Tahu.” Ari kembali menjawab, santai.
“Tahu..” kata Pak Arif lemah, “tahu saja tidak cukup hingga diterapkan.”
“Maksud Pak Arif, apa?” Ali terdengar bingung.
“Kalian hanya memiliki pekerjaan yang mudah. Kalian cukup mengawasi pekerjaan dan memberikan intruksi serta keputusan-keputusan.” Diam sejenak, “meski mudah, kalian tidak bisa seenaknya meninggalkan tugas.”
“Kami tidak pernah meninggalkan tugas.” Ari protes.
“Meninggalkan rumah dinas dalam keadaan terkunci saat jam kerja. Apakah itu bukan bentuk meninggalkan tugas?” dari intonasinya, Pak Arif terdengar berusaha keras menahan marah.
“Oh itu.. kami bukannya meninggalkan tugas. Kami hanya pindah tempat tugas.” Kini, Ari terdengar santai.
__ADS_1
”Berdiskusi dengan seseorang yang dipenjara. Apakah itu bagian dari tugas?”
“Apakah Pak Arif memandang ayah sebegitu kejinya sehingga tidak boleh sama sekali dimintai pendapat?” Ari marah.
“Ari, aku tidak mengatakan seperti itu.” Pak Arif buru-buru mengklarifikasi, “kalian boleh saja mengunjunginya. Tapi tolong, lakukan saat di luar jam kerja.”
“Baiklah Pak. Kami mengerti.” Ali ikut pembicaraan, berusaha mencairkan suasana, “Kami minta maaf.”
Untunglah, Ari ikut mengalah. Berdebat hanya akan menambah masalah, sepertinya dia sudah tahu itu.
“Pak Arif datang kemari karena ada urusan bukan? Bapak pasti sangat ingin bertemu dengan kami sejak tadi.” Ali berusaha mengganti topik, “kami sungguh minta maaf karena tidak berada di tempat.”
Pak Arif menghela napas panjang.
“Kalian tahu nak..” Suaranya melunak, “aku sebenarnya tidak pernah ingin mempermasalahkan soal siapa pemimpin di keluarga ini.” Menghembuskan napas, “aku hanya selalu mengharapkan yang terbaik. Siapa pun pemimpinnya.”
“Aku akui,, kalian anak-anak yang hebat. Aku sangat ingin, kehebatan itu bisa kalian salurkan pada keluarga dan rakyat secara keseluruhan.”
“Soal itu, kami tahu, Pak.” Ari kembali berkomentar santai, “apa yang sebenarnya ingin bapak sampaikan?”
Pak Arif menghembuskan napas pelahan, “apa yang kalian diskusikan dengan Hakim?”
“Hanya soal pemerintahan secara umum.” Ali menjawab.
“Juga tentang tambang.” Ari ikut menjawab, polos.
“Oh ya?” seketika Pak Arif tertarik, “apa yang dikatakannya pada kalian tentang tambang?”
“Eh.. Hanya soal pekerjaan teknis dalam tambang, Pak.” Ali yang menjawab. Dia terkesan ingin menutupi sesuatu.
“Juga soal pengelola tambang nantinya.” Ari kembali menjawab.
“Itu benar, Ali?”
Tidak ada jawaban.
“Apa yang dikatakan ayahmu soal pengelola tambang, Ari?”
“Pak Arif sepertinya sangat tertarik, kenapa?” bukannya menjawab, Ari balik bertanya.
Menghela napas, “karena,, kalian pasti setuju dengan pendapatnya, bukan?”
“Kalau kami setuju,, kenapa?” Tanya Ari.
__ADS_1
“Nak, menyerahkan kembali tambang kepada pemerintah ituterlalu beresiko.” Kata Pak Arif, tegas.