
Jam menunjukkan pukul enam pagi
saat Ali membuka lemari tempat dia menyimpanku. Dia mengambil kembali tulisan
terakhir yang diselipkannya padaku malam sebelumnya. Tulisan itu ditatapnya
dengan tatapan kosong.
Entah apa yang mengganggu
pikirannya saat ini. Dengan langkah yang berat, dia berjalan menuju meja
kerjanya. Mungkinkah ada kesalahan cetak?
Tidak!!!
Tujuannya bukan menuju meja kerja.
Dia menuju tempat pembuangan sampah yang letaknya tepat di samping meja itu.
Loh.. Itu kan!?
“Sudah kuduga, kamu pun akan
dibuangnya.” Kata kertas Buku Agung penggantiku yang ternyata lebih dulu telah
berada di sana.
Aku kini menatap Ali tidak mengerti.
Dia membuangku menyusul kertas itu tanpa pikir panjang.
“Semalam,, Saat Ari telah tidur,
Ali yang tidak bisa memejamkan mata memutuskan menuju teras sambil membawaku.
Saat itulah, seseorang mendatangi Rumah Dinas. Sepertinya, orang itu memiliki
pengaruh yang cukup besar.” Kertas itu kembali berkata lemah.
“Siapa dia? Apa yang telah
dilakukannya pada Ali?” Tanyaku cemas.
“Aku tidak tahu. Aku belum pernah
melihat dia sebelumnya.”
Kertas Buku Agung penggantiku
tiba-tiba terisak, “Padahal, aku sudah sangat senang karena dengan informasi
ini, mungkin saja aku bisa menyimpan informasi yang benar. Aku selalu malu pada
diriku yang hanya menyimpan informasi palsu. Tapi orang itu…”
Orang itu siapa? Dan apa yang
dilakukannya? Pikiranku berkecamuk membuatku lupa memberi tanggapan walau
sedikit pada kertas penggantiku yang sedih itu.
“Kenyataan bahwa kamu pun akan
dibuang oleh Ali membuatku sadar,, kalau orang itu berhasil memojokkan Ali.”
“Apa yang dilakukannya pada Ali?”
Tanyaku sangat penasaran.
Bukannya menjawab pertanyaanku,
kertas itu malah melihat ke atas dengan ekspresi takut luar biasa. Dengan
penasaran, aku mengikuti arah tatapannya. Itu kan!?
Korek api!
Ali kembali mengambilku dengan
tatapan kosong. Aku didekatkan ke moncong korek api itu dan…
“Selamat pagi, ketua.” Suara khas
Ari yang riang membuat Ali tersentak. Dia kembali membuangku bersama dengan
korek api itu dengan terburu-buru. Setelah itu, dia memasang ekspresi riang dan
membalikkan badan menyambut kedatangan Ari.
“Apa yang anda lakukan, ketua?”
Tanya Ari dengan jahil.
“Aku sedang menyortir berkas yang
sudah tidak penting.” Jawabnya sambil menyibukkan diri mengambil beberapa
kertas di atas meja dan membuangnya ke arahku. Kertas-kertas itu sempurna
menutupiku dan kertas Buku Agung penggantiku.
“Anda benar-benar ketua yang
berdedikasi.” Ari kembali berkata dengan tatapan jahil. “Anda sebaiknya jangan
terlalu memaksakan diri. Anda harus..”
“Bisakah kau berhenti memanggilku
dengan kata menyebalkan itu!” Ali berseru galak.
Ari hanya menanggapinya dengan
tertawa keras.
“Aahh.. Aku tidak sabar untuk
menghadiri rapat lanjutan keluarga yang sempat dihentikan.” Ari tertawa kecil,
“Aku selalu menantikan sikapmu yang galak.”
“Apa yang membuatmu senang sekali
jika melihatku bersikap galak?” Tanya Ali pelan sambil menghembuskan napas
panjang.
“Haha.. Kamu terlihat sangat lucu
jika bersikap seperti itu.” Kata Ari diiringi dengan tawa. “Kamu tahu? Setiap
kali kamu bersikap galak, aku selalu bertanya-tanya, ‘ini beneran Ali atau
bukan?’”
“Ya.. Akulah.. Emang siapa lagi?”
“Heran saja, sebelum jadi ketua kan
kamu itu.. Adem, tidak suka marah, milih diam dibanding membantah dan saat
terjadi perbedaan pendapat kamu selalu mengalah.” Ari terdiam sejenak,
”Pokoknya, kamu benar-benar seorang pendiam bak tuan putri yang anggun karena
__ADS_1
tidak ceriwis.”
“Kamu..!!!” Ali berseru galak.
“Kenapa menyamakanku dengan putri?!”
Hahaha..
Bukannya terdiam dan meminta maaf,
Ari malah tertawa semakin keras. Aku tidak dapat melihat ekspresi Ali saat ini,
tapi aku sangat yakin, dia pasti sedang jengkel.
“Hmm.. Tapi..” Kata Ari menggantung
setelah berhasil menguasai tawanya. “Sekarang,, kamu bahkan seperti singa liar
yang sedang kelaparan, Ali.”
“Apa maksudmu???” Ali terdengar
bingung.
“Ali..” Di luar dugaan, Ari kini
terdengar sangat serius. “Aku takut pada dirimu yang sekarang..”
Buahaha..
Ali tertawa lepas mendengarnya.
Namun, Ari tidak bersuara sedikit pun. Aku penasaran dengan ekspresi wajahnya
saat ini.
“Apa yang kamu takutkan dariku??”
Ari hanya diam.
Ada apa dengannya?
“Ari, kau kenapa? Apa yang kamu
takutkan dariku?” Ari yang memilih diam di luar kebiasaannya itu membuat Ali
kembali bertanya karena penasaran.
“Hmmm.. Tidak apa-apa.”
“Heii.. Apa kamu tidak sadar?
Sekarang kamulah yang membuatku takut!” Ali berkata dengan gemas.
Jelas sekali dia sangat penasaran
dengan perubahan sikap Ari yang tiba-tiba itu.
Tok.. Tok.. Tok..
Ketukan pintu di ruangan refleks
menghentikan Ali untuk bertanya lebih lanjut.
“Masuk Pak.” Sambut Ari dengan
riang. Sikap riangnya telah kembali.
Aku berdecak kagum, cepat sekali
perubahan sikapnya. Aku yakin, Ali pasti sedang kebingungan sekarang. Dia
bahkan tidak berkata apa pun untuk menyambut tamunya yang entah siapa.
Suara sepasang langkah kaki orang
“Apa kabar, Pak Guru Agung?” Tanya
Ari, masih dengan intonasi riangnya setelah tamunya yang ternyata Agung itu
terdengar mendudukkan dirinya di sofa.
“Tentu saja, kabarku baik, Ari.”
Jawab Agung sambil tertawa kecil. “Tidak ada hal yang membuatku buruk disaat
menyaksikan dua muridku yang hebat-hebat ini.”
Ari dan Ali merespon dengan tertawa
kecil.
“Pasti mau diskusi dengan Ali ya,
Pak Guru?” Ari terdengar beranjak dari tempat duduknya.
“Kamu tidak ingin ikut?” Tanya
Agung yang kembali diiringi dengan tawa kecil.
“Aku akan meminta pelayan untuk
menyiapkan minuman dan makanan kecil.” Kata Ari. “Lagipula,, masih terlalu pagi
bagiku untuk kembali tidur, Pak Guru.”
Ali tertawa terpingkal dibuatnya.
“Maksudnya?” Agung terdengar
bingung.
Langkah Ari semakin menjauh tanpa
memedulikan kebingungan gurunya.
“Apakah Pak Guru lupa, kalau Ari
sering tertidur saat pelajaran?” Tanya Ali masih diiringi tawa.
“Oh.. Hehehe.”
Agung akhirnya ikut tertawa.
“Ali, Apa kamu sudah membuat
keputusan?” Tanya Agung setelah mereka puas menertawai Ari.
Dia sekarang terdengar serius.
Sepertinya dia sedang membahas usulannya tempo hari di rumah tahanan tempat Hakim.
Usulan yang memerintahkan Ali untuk mengembalikan tambang kepada pemerintah
tanpa ragu. Usulan yang juga diberikan Alan dan Hakim saat itu.
“Aku masih memikirkannya Pak.” Jawab
Ali sambil menghela napas panjang.
“Kamu terlihat bingung. Kenapa?”
“Ah..” Ali terdengar menghembuskan
napas berat. “Aku masih harus memikirkan alasan yang tepat di depan Dewan
__ADS_1
Penasihat, Pak.”
Agung tertawa kecil.
“Jangan memikirkannya terlalu
berat. Biarkan mengalir apa adanya. Sampaikan saja sesuai dengan pendapatmu.”
Agung menghela napas.
“Kita tidak akan bisa membuat semua
orang mengikuti pendapat kita dalam sekejap. Tapi harus diingat, kita bisa
membuat diri kita mengikuti pendapat yang kita inginkan.”
Ali hanya diam.
“Aku percaya padamu.” Kata Agung
sambil beranjak dari duduknya.
Ali masih terdiam.
Langkah kaki Agung terdengar
meninggalkan ruangan.
“Loh.. Kok, cepat sekali Pak?” Ari
yang telah kembali terdengar heran.
“Urusan saya sudah selesai, Ari.”
Jawab Agung sambil tertawa.
“Padahal, makanan kecilnya
sedang..”
“Tidak apa-apa. Aku sedang sibuk
kali ini. Maaf, tidak bisa berlama-lama.”
Tidak terdengar percakapan lagi
setelahnya. Agung sepertinya telah pergi.
“Diskusi apa dengan Pak Guru, Ali?”
Tanya Ari penasaran setelah sampai di ruangan dan duduk.
“Hanya masalah biasa.” Jawab Ali
singkat. Dia terdengar malas menanggapi.
“Oh..” Di luar dugaan, Ari yang
biasanya cerewet dan usil ikut-ikutan tidak memperpanjang pembicaraan.
“Aku ke toilet sebentar.” Kata Ali
sambil berlalu.
Ari kini terdengar melangkah ke
arah kami.
“Apa yang dilakukan Ali tadi yah?
Dia terlihat aneh.” Katanya bergumam sambil mengaduk isi tempat sampah.
Perbuatannya tentu saja membuat
kami terlihat oleh kedua matanya. Matanya kini melotot kaget. Apalagi saat
menemukan korek api bersama kami.
“Ali, apa yang kau pikirkan?” Dia
kembali bergumam gusar bercampur bingung.
Aku sangat berharap Ari mau
menyelamatkan kami. Tapi, sepertinya harapan itu harus kami buang jauh-jauh.
Dia malah meninggalkan kami setelah menata kembali posisi kami seperti semula.
Klik.. Pintu lemari tempatku kini
terbuka lebar. Di depanku, terlihat wajah Ari dengan ekspresi yang sulit
diartikan. Dengan hati-hati, dia mengambil diriku yang berjudul Generasi XII,
sejarah Hakim dan Generasi XIII, sejarah Ali dan Ari.
Oh iya.. Diriku yang sekarang telah
berjumlah tiga belas. Telah bergabung dengan kami bundelan baru dengan judul
Generasi XIII.
Aku, Generasi XII dan generasi XIII
kini berada dalam pelukan Ari di dadanya. Lemari tempatku kembali dikunci
setelahnya. Ari kemudian berjalan ke arah rak dekat meja kerja dan mengambil
beberapa kertas kosong untuk Buku Agung.
Sebelum beranjak pergi, Ari
terlihat bimbang. Kini, dia memutuskan untuk kembali menuju tempat Buku Agung
penggantiku. Dia kemudian meletakkan diriku yang berjudul Generasi XIII
berdampingan dengan Buku Agung penggantiku yang juga berjudul Generasi XIII.
Aku tidak tahu, kenapa Ari
memindahkanku ke tempat yang sama dengan Buku Agung penggantiku.
Hanya satu alasan terbaik yang bisa
kupikirkan, dia mengurungkan niatnya untuk membawa serta aku yang Generasi XIII
dan memilih tempat ini yang lebih mudah untuk dibuka karena memang tidak pernah
dikunci. Mengingat, dia sepertinya terburu-buru. Takut, jika Ali tiba-tiba
muncul.
Apapun alasannya, berkat tindakan
Ari, sekarang aku bisa melihat seluruh isi ruangan dengan mudah tanpa
penghalang lagi.
Setelah melakukan itu, Ari memilih
meninggalkan ruangan dengan hati-hati.
Aku menatapnya dengan bingung.
Hari ini, Ari dan Ali bersikap
__ADS_1
aneh..