Saksi Bisu

Saksi Bisu
Ali dan Ari Bersikap Aneh


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul enam pagi


saat Ali membuka lemari tempat dia menyimpanku. Dia mengambil kembali tulisan


terakhir yang diselipkannya padaku malam sebelumnya. Tulisan itu ditatapnya


dengan tatapan kosong.


Entah apa yang mengganggu


pikirannya saat ini. Dengan langkah yang berat, dia berjalan menuju meja


kerjanya. Mungkinkah ada kesalahan cetak?


Tidak!!!


Tujuannya bukan menuju meja kerja.


Dia menuju tempat pembuangan sampah yang letaknya tepat di samping meja itu.


Loh.. Itu kan!?


“Sudah kuduga, kamu pun akan


dibuangnya.” Kata kertas Buku Agung penggantiku yang ternyata lebih dulu telah


berada di sana.


Aku kini menatap Ali tidak mengerti.


Dia membuangku menyusul kertas itu tanpa pikir panjang.


“Semalam,, Saat Ari telah tidur,


Ali yang tidak bisa memejamkan mata memutuskan menuju teras sambil membawaku.


Saat itulah, seseorang mendatangi Rumah Dinas. Sepertinya, orang itu memiliki


pengaruh yang cukup besar.” Kertas itu kembali berkata lemah.


“Siapa dia? Apa yang telah


dilakukannya pada Ali?” Tanyaku cemas.


“Aku tidak tahu. Aku belum pernah


melihat dia sebelumnya.”


Kertas Buku Agung penggantiku


tiba-tiba terisak, “Padahal, aku sudah sangat senang karena dengan informasi


ini, mungkin saja aku bisa menyimpan informasi yang benar. Aku selalu malu pada


diriku yang hanya menyimpan informasi palsu. Tapi orang itu…”


Orang itu siapa? Dan apa yang


dilakukannya? Pikiranku berkecamuk membuatku lupa memberi tanggapan walau


sedikit pada kertas penggantiku yang sedih itu.


“Kenyataan bahwa kamu pun akan


dibuang oleh Ali membuatku sadar,, kalau orang itu berhasil memojokkan Ali.”


“Apa yang dilakukannya pada Ali?”


Tanyaku sangat penasaran.


Bukannya menjawab pertanyaanku,


kertas itu malah melihat ke atas dengan ekspresi takut luar biasa. Dengan


penasaran, aku mengikuti arah tatapannya. Itu kan!?


Korek api!


Ali kembali mengambilku dengan


tatapan kosong. Aku didekatkan ke moncong korek api itu dan…


“Selamat pagi, ketua.” Suara khas


Ari yang riang membuat Ali tersentak. Dia kembali membuangku bersama dengan


korek api itu dengan terburu-buru. Setelah itu, dia memasang ekspresi riang dan


membalikkan badan menyambut kedatangan Ari.


“Apa yang anda lakukan, ketua?”


Tanya Ari dengan jahil.


“Aku sedang menyortir berkas yang


sudah tidak penting.” Jawabnya sambil menyibukkan diri mengambil beberapa


kertas di atas meja dan membuangnya ke arahku. Kertas-kertas itu sempurna


menutupiku dan kertas Buku Agung penggantiku.


“Anda benar-benar ketua yang


berdedikasi.” Ari kembali berkata dengan tatapan jahil. “Anda sebaiknya jangan


terlalu memaksakan diri. Anda harus..”


“Bisakah kau berhenti memanggilku


dengan kata menyebalkan itu!” Ali berseru galak.


Ari hanya menanggapinya dengan


tertawa keras.


“Aahh.. Aku tidak sabar untuk


menghadiri rapat lanjutan keluarga yang sempat dihentikan.” Ari tertawa kecil,


“Aku selalu menantikan sikapmu yang galak.”


“Apa yang membuatmu senang sekali


jika melihatku bersikap galak?” Tanya Ali pelan sambil menghembuskan napas


panjang.


“Haha.. Kamu terlihat sangat lucu


jika bersikap seperti itu.” Kata Ari diiringi dengan tawa. “Kamu tahu? Setiap


kali kamu bersikap galak, aku selalu bertanya-tanya, ‘ini beneran Ali atau


bukan?’”


“Ya.. Akulah.. Emang siapa lagi?”


“Heran saja, sebelum jadi ketua kan


kamu itu.. Adem, tidak suka marah, milih diam dibanding membantah dan saat


terjadi perbedaan pendapat kamu selalu mengalah.” Ari terdiam sejenak,


”Pokoknya, kamu benar-benar seorang pendiam bak tuan putri yang anggun karena

__ADS_1


tidak ceriwis.”


“Kamu..!!!” Ali berseru galak.


“Kenapa menyamakanku dengan putri?!”


Hahaha..


Bukannya terdiam dan meminta maaf,


Ari malah tertawa semakin keras. Aku tidak dapat melihat ekspresi Ali saat ini,


tapi aku sangat yakin, dia pasti sedang jengkel.


“Hmm.. Tapi..” Kata Ari menggantung


setelah berhasil menguasai tawanya. “Sekarang,, kamu bahkan seperti singa liar


yang sedang kelaparan, Ali.”


“Apa maksudmu???” Ali terdengar


bingung.


“Ali..” Di luar dugaan, Ari kini


terdengar sangat serius. “Aku takut pada dirimu yang sekarang..”


Buahaha..


Ali tertawa lepas mendengarnya.


Namun, Ari tidak bersuara sedikit pun. Aku penasaran dengan ekspresi wajahnya


saat ini.


“Apa yang kamu takutkan dariku??”


Ari hanya diam.


Ada apa dengannya?


“Ari, kau kenapa? Apa yang kamu


takutkan dariku?” Ari yang memilih diam di luar kebiasaannya itu membuat Ali


kembali bertanya karena penasaran.


“Hmmm.. Tidak apa-apa.”


“Heii.. Apa kamu tidak sadar?


Sekarang kamulah yang membuatku takut!” Ali berkata dengan gemas.


Jelas sekali dia sangat penasaran


dengan perubahan sikap Ari yang tiba-tiba itu.


Tok.. Tok.. Tok..


Ketukan pintu di ruangan refleks


menghentikan Ali untuk bertanya lebih lanjut.


“Masuk Pak.” Sambut Ari dengan


riang. Sikap riangnya telah kembali.


Aku berdecak kagum, cepat sekali


perubahan sikapnya. Aku yakin, Ali pasti sedang kebingungan sekarang. Dia


bahkan tidak berkata apa pun untuk menyambut tamunya yang entah siapa.


Suara sepasang langkah kaki orang


“Apa kabar, Pak Guru Agung?” Tanya


Ari, masih dengan intonasi riangnya setelah tamunya yang ternyata Agung itu


terdengar mendudukkan dirinya di sofa.


“Tentu saja, kabarku baik, Ari.”


Jawab Agung sambil tertawa kecil. “Tidak ada hal yang membuatku buruk disaat


menyaksikan dua muridku yang hebat-hebat ini.”


Ari dan Ali merespon dengan tertawa


kecil.


“Pasti mau diskusi dengan Ali ya,


Pak Guru?” Ari terdengar beranjak dari tempat duduknya.


“Kamu tidak ingin ikut?” Tanya


Agung yang kembali diiringi dengan tawa kecil.


“Aku akan meminta pelayan untuk


menyiapkan minuman dan makanan kecil.” Kata Ari. “Lagipula,, masih terlalu pagi


bagiku untuk kembali tidur, Pak Guru.”


Ali tertawa terpingkal dibuatnya.


“Maksudnya?” Agung terdengar


bingung.


Langkah Ari semakin menjauh tanpa


memedulikan kebingungan gurunya.


“Apakah Pak Guru lupa, kalau Ari


sering tertidur saat pelajaran?” Tanya Ali masih diiringi tawa.


“Oh.. Hehehe.”


Agung akhirnya ikut tertawa.


“Ali, Apa kamu sudah membuat


keputusan?” Tanya Agung setelah mereka puas menertawai Ari.


Dia sekarang terdengar serius.


Sepertinya dia sedang membahas usulannya tempo hari di rumah tahanan tempat Hakim.


Usulan yang memerintahkan Ali untuk mengembalikan tambang kepada pemerintah


tanpa ragu. Usulan yang juga diberikan Alan dan Hakim saat itu.


“Aku masih memikirkannya Pak.” Jawab


Ali sambil menghela napas panjang.


“Kamu terlihat bingung. Kenapa?”


“Ah..” Ali terdengar menghembuskan


napas berat. “Aku masih harus memikirkan alasan yang tepat di depan Dewan

__ADS_1


Penasihat, Pak.”


Agung tertawa kecil.


“Jangan memikirkannya terlalu


berat. Biarkan mengalir apa adanya. Sampaikan saja sesuai dengan pendapatmu.”


Agung menghela napas.


“Kita tidak akan bisa membuat semua


orang mengikuti pendapat kita dalam sekejap. Tapi harus diingat, kita bisa


membuat diri kita mengikuti pendapat yang kita inginkan.”


Ali hanya diam.


“Aku percaya padamu.” Kata Agung


sambil beranjak dari duduknya.


Ali masih terdiam.


Langkah kaki Agung terdengar


meninggalkan ruangan.


“Loh.. Kok, cepat sekali Pak?” Ari


yang telah kembali terdengar heran.


“Urusan saya sudah selesai, Ari.”


Jawab Agung sambil tertawa.


“Padahal, makanan kecilnya


sedang..”


“Tidak apa-apa. Aku sedang sibuk


kali ini. Maaf, tidak bisa berlama-lama.”


Tidak terdengar percakapan lagi


setelahnya. Agung sepertinya telah pergi.


“Diskusi apa dengan Pak Guru, Ali?”


Tanya Ari penasaran setelah sampai di ruangan dan duduk.


“Hanya masalah biasa.” Jawab Ali


singkat. Dia terdengar malas menanggapi.


“Oh..” Di luar dugaan, Ari yang


biasanya cerewet dan usil ikut-ikutan tidak memperpanjang pembicaraan.


“Aku ke toilet sebentar.” Kata Ali


sambil berlalu.


Ari kini terdengar melangkah ke


arah kami.


“Apa yang dilakukan Ali tadi yah?


Dia terlihat aneh.” Katanya bergumam sambil mengaduk isi tempat sampah.


Perbuatannya tentu saja membuat


kami terlihat oleh kedua matanya. Matanya kini melotot kaget. Apalagi saat


menemukan korek api bersama kami.


“Ali, apa yang kau pikirkan?” Dia


kembali bergumam gusar bercampur bingung.


Aku sangat berharap Ari mau


menyelamatkan kami. Tapi, sepertinya harapan itu harus kami buang jauh-jauh.


Dia malah meninggalkan kami setelah menata kembali posisi kami seperti semula.


Klik.. Pintu lemari tempatku kini


terbuka lebar. Di depanku, terlihat wajah Ari dengan ekspresi yang sulit


diartikan. Dengan hati-hati, dia mengambil diriku yang berjudul Generasi XII,


sejarah Hakim dan Generasi XIII, sejarah Ali dan Ari.


Oh iya.. Diriku yang sekarang telah


berjumlah tiga belas. Telah bergabung dengan kami bundelan baru dengan judul


Generasi XIII.


Aku, Generasi XII dan generasi XIII


kini berada dalam pelukan Ari di dadanya. Lemari tempatku kembali dikunci


setelahnya. Ari kemudian berjalan ke arah rak dekat meja kerja dan mengambil


beberapa kertas kosong untuk Buku Agung.


Sebelum beranjak pergi, Ari


terlihat bimbang. Kini, dia memutuskan untuk kembali menuju tempat Buku Agung


penggantiku. Dia kemudian meletakkan diriku yang berjudul Generasi XIII


berdampingan dengan Buku Agung penggantiku yang juga berjudul Generasi XIII.


Aku tidak tahu, kenapa Ari


memindahkanku ke tempat yang sama dengan Buku Agung penggantiku.


Hanya satu alasan terbaik yang bisa


kupikirkan, dia mengurungkan niatnya untuk membawa serta aku yang Generasi XIII


dan memilih tempat ini yang lebih mudah untuk dibuka karena memang tidak pernah


dikunci. Mengingat, dia sepertinya terburu-buru. Takut, jika Ali tiba-tiba


muncul.


Apapun alasannya, berkat tindakan


Ari, sekarang aku bisa melihat seluruh isi ruangan dengan mudah tanpa


penghalang lagi.


Setelah melakukan itu, Ari memilih


meninggalkan ruangan dengan hati-hati.


Aku menatapnya dengan bingung.


Hari ini, Ari dan Ali bersikap

__ADS_1


aneh..


__ADS_2