Saksi Bisu

Saksi Bisu
Alan


__ADS_3

“Waah.. Sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan meskipun kamu dipenjara, Hakim.” Suara khas seseorang


yang kukenal ikut bergabung.


Kehadirannya tentu saja menyelamatkan Tito’ dari godaan Ari. Tito’ menghembuskan napas perlahan, lega.


“Eh.. Alan. Apa kabar kawan?” Hakim antusias menyambutnya.


Mereka bersalaman dan berpelukan layaknya baru saja bertemu setelah sekian lama.


“Harusnya aku yang bertanya kabar padamu. Apa kamu baik-baik saja?” Alan terlihat bersalah, “Maafkan aku, aku sibuk belakangan ini sehingga tidak sempat mengunjungimu.”


“Kabarku baik.” Hakim tersenyum, “sangat baik malah, karena aku sudah lepas dari tanggung jawab yang sangat memusingkan.”


Keduanya tertawa. Ali dan Ari cemberut, membuatku dan Tito’ refleks tersenyum.


Adalah Alan, dia merupakan sahabat karib Hakim. Dia termasuk salah satu petinggi di daerah. Posisinya sebagai wakil kepala daerah tidak menghalanginya untuk senantiasa bersua dengan Hakim.


Hubungan mereka yang sangat dekat kuketahui sejak Hakim menjadi pemimpin keluarga. Langkah Hakim dalam


menjalankan kepemimpinan keluarga sedikit banyak dipengaruhi olehnya.


“Bagaimana kabar kalian, para pemimpin cilik?” Tanya Alan pada Ali dan Ari.


“Baik, Paman.” Jawab keduanya kompak.


“Kalian sungguh hebat.” Alan tersenyum bangga, “kudengar, para pencuri sejarah yang tamak itu kehabisan akal


menghadapi kalian.”


Ari tersenyum-senyum, dia terlihat bangga.


“Ahh.. itu biasa aja Paman. Memang tugas kami untuk melindungi harta rakyat bukan?” Seperti biasa, Ali merendah.


“Benar-benar pilihan yang tepat.” Alan berkata lemah lebih kepada diri sendiri.


“Apanya pilihan tepat, Paman?” Ari menanggapi.


“Aahh.. Maksud Paman.. Memilih kalian sebagai generasi penerus keluarga benar-benar pilihan yang tepat.”


“Tapi.. Paman terlihat kurang puas?” Tanya Ali selidik.


“Belakangan ini.. Saat peristiwa pencurian sejarah keluarga menimpa keluarga kalian, aku menjadi sangat khawatir.” Alan menghembuskan napas, “Aku sangat takut, jangan sampai ideku yang kubagi pada Hakim justru menghancurkan semuanya.”

__ADS_1


“Maksud Paman?” Tanya Ari.


“Pasti soal kriteria umur generasi penerus.” Ali menebak.


Alan mengangguk, “Wah, bagaimana kau tahu, Ali? Setahuku, satu-satunya pengusung ide yang diekspos saat itu adalah Hakim.” Alan terpana, namun kemudian tertawa saat memandang Hakim.


“Aku hanya menebak, Paman.”


“Meski hanya tebakan, tapi itu tebakan yang mengesankan. Seseorang tidak akan menebak tanpa pengetahuan, bukan?” Alan antusias, “bagaimana kau tahu?” Tanyanya penasaran.


“Bagaimana kau menebaknya, Ali?” Ari juga tertarik, “hanya ayah satu-satunya waktu itu yang sangat getol


memperjuangkan generasi penerus usia lima hingga lima belas tahun.”


Ari menerawang, “waktu itu, banyak sekali yang menentang ayah. Tapi tidak ada satu pun yang membelanya.”


“Mudah saja menebaknya, Ari.” Ali tersenyum, “kamu tahu siapa sahabat karib ayahmu, bukan?”


Ari mengangguk, “Paman Alan.”


“Benar.” Ali kembali tersenyum, “Siapa yang selalu diskusi dengan Paman Hakim?”


Ari tertarik, “Paman Alan.”


“Paman Alan..” Kata Ari. Namun, dia terlihat bingung, “Tapi itu belum menjelaskan kenapa kamu menebak bahwa Paman Alan-lah pencetus idenya.”


Ari benar. Hakim dan Alan pun terlihat bingung. Bagaimana Ali menebaknya?


Ali tersenyum, “apa kau lupa, Ari? Beberapa hari sebelum ide itu dilontarkan di hadapan publik, Paman Hakim sempat berkelu kesah pada kita.”


“Benarkah?” Hakim tertarik.


“Oh iiya, aku ingat.” Ari antusias. “waktu itu kami bermain di perpustakaan yang membosankan itu.” Semuanya refleks menertawakannya, “saat tiba-tiba ayah datang dengan wajah gusar."


Ayah bilang, ‘bagaimana menghapuskan korupsi di tengah-tengah keluarga? Tidak ada satupun dalam keluarga yang berpotensi untuk dipilih menjanjikan untuk menghapuskannya.’ Setelah itu ayah diam sejenak lalu melanjutkan, ‘memilih anak-anak pun sama beresikonya.’”


“Tapi..” Hakim terlihat berusaha mengingat-ingat, “waktu itu aku tidak bilang tentang siapa yang mengusulkan untuk memilih anak-anak.”


Kini semuanya fokus pada Ali, menunggu penjelasan.


Ali tersenyum, “paman, sudah kukatakan, aku hanya menebak.” Dia memandang Alan dan Hakim bergantian, “aku


tidak menyangka, ternyata tebakanku benar.”

__ADS_1


Tertawa.


“Eh,, itu mirip kertas Buku Agung.” Kata Alan refleks saat melihatku di pangkuan Tito’.


“Eh,, Iyya.” Jawab Tito’.


Ekspresinya masih menyiratkan rasa bersalah, “ini memang kertas Buku Agung.”


“Kenapa..?” Alan terlihat bingung.


“Aku yang memberikannya.” Kata Ali buru-buru.


“Kenapa? Bukankah kertas itu sangat penting?” Alan masih bingung, “Hanya orang tertentu yang boleh memilikinya bukan?”


“Harusnya seperti itu.” Ali menghela napas, “tapi aku telah memutuskan, bahwa Buku Agung bukan lagi sesuatu


yang harus dirahasiakan.”


Alan kaget.


Aku yakin, Ali tidak ingin merahasiakan Buku Agung lagi karena satu hal, Buku Agung yang ada bukan lagi buku yang asli. Isinya bahkan memuat banyak kebohongan. Buat apa dirahasiakan?


Tito’ memasukkanku kembali ke dalam tas. Alan memperhatikan masih dengan ekspresi kaget bercampur bingung.


Lengang.


“Waah,, kucari kemana-mana, ternyata kalian di sini?” Suara khas Agung memecah kondisi lengang.


“Eh,, Pak Guru.” Ari riang menyapa.


“Selamat siang, Pak.” Ali ikut menyapa, “Pak Guru mencari kami?”


“Iya. Tadi aku ke rumah dinas. Aku berharap bertemu dengan murid-muridku yang nakal. Tapi aku tidak menemukan siapa pun disana.” Agung bercanda, “baru kali ini aku menemukan rumah dinas yang terkunci saat jam kerja.”


Semuanya tertawa.


“Aku permisi.” Tito’ tiba-tiba pamit.


“Eh,, kamu pergi bukan karena aku kan?” Agung kembali bercanda dengan berpura-pura tersinggung.


“Tentu saja bukan.” Tito’ menarik napas, “Aku hanya.. punya sedikit urusan.”


“Pasti ada hubungannya dengan seseorang yang di buku harian kan, kak?” Ari kembali menggoda.

__ADS_1


Tito’ tertawa kecil sambil berlalu.


__ADS_2