
Informasi tentang rapat sedang
dalam proses cetak.
Ali menatap kosong ke arah cetakan.
Aku tahu, pikirannya sedang kacau. Mungkin saja, informasi yang baru saja diberikan
untukku belum cukup untuk menggambarkan semua penyebab kekalutannya.
Ali kembali mengambil kertas kosong
untuk Buku Agung. Kali ini, dia tidak meletakkannya di atas cetakan. Kertas itu
diletakkan di atas meja, tepat di hadapannya. Setelah itu, meraih pulpen yang
berada di sudut kanan meja.
Masih ada informasi yang akan
dituliskannya?
Tapi kenapa memilih menggunakan
tulisan tangan?
Mungkinkah informasi itu bersifat
rahasia?
Aku mulai berspekulasi sendiri. Belakangan
ini, Ali, Ari dan Tito’ memilih untuk menulis, alih-alih mengetik. Aku menduga
bahwa informasi yang dituliskan oleh mereka adalah rahasia. Tentu saja,
informasi yang ditulis tangan itu tidak akan pernah mereka serahkan kepada
Dewan Penasihat untuk diperiksa kebenarannya.
Lagipula, maukah Dewan Penasihat
meloloskan informasi yang akan menyudutkan mereka?
Ali menulis..
*
9 Desember 2019
Penulis: Ali
Kondisi rapat yang tidak sesuai keinginan, membuat pelaku pengancam
kembali menemuiku setelah rapat selesai.
Untunglah, Ari memilih menjauhiku setelah melihat tatapan tajamku
padanya. Dia meninggalkan ruang rapat setelah rapat usai tanpa sedikitpun
bertegur sapa denganku.
Aku berharap, Ari tidak akan pernah mengetahui tentang ancaman itu,
apalagi pelakunya. Aku tidak ingin, dia merasa terbebani dan membenci.
Pelaku pengancam kini menatap tajam ke arahku. Kami sedang berada di
dalam ruang rapat. Semua Dewan Penasihat bahkan memilih untuk menyingkir.
Sekarang aku tahu, bagaimana berkuasanya orang ini di balik bayangan.
Aku memilih untuk membalas sorot mata tajam itu.
Aku sadar, waktu yang kami habiskan bersama selama ini hanyalah
kebohongan. Mungkin, semua waktu yang kami habiskan itu hanyalah topeng untuk
memuluskan aksinya. Dia sengaja membiarkan kami larut dalam permainannya
seperti orang bodoh.
Aku dan Ari sungguh telah tertipu dengan sosok hangatnya.
Aku tidak lagi sanggup untuk tersenyum di hadapannya. Lebih tepatnya, aku
tidak ingin melakukannya!
Sorot mata tajam kami akhirnya beradu selama beberapa detik. Aku tidak
ingin memulai pembicaraan. Aku memilih untuk menunggu.
“Sekarang kamu tahu kan, akibat dari keistimewaan yang kamu berikan pada
Ari?” Dia geram. “Dia sekarang menentangmu terang-terangan!”
Intonasinya bahkan meninggi saat mengatakan kalimat terakhirnya.
Aku memilih tertawa.
Dia terlihat terkejut dengan sikapku. Aku tahu, sikapku telah menantang
harga dirinya. Aku penasaran, sejauh mana dia akan melancarkan aksinya kali
ini.
“Sepertinya, Pak Agung sangat takut ya, pada Ari?”
__ADS_1
Aku kembali tertawa, sarkas. Entah sejak kapan aku tidak menggunakan
panggilan guru lagi padanya. Aku dan Ari sering memanggilnya Pak Guru Agung.
Itu adalah panggilan sayang dan hormat kami padanya.
Namun, setelah mengetahui watak aslinya, entah kenapa aku menyesali semua
itu.
Pandangan tajam kami kembali beradu.
*
“Agung?!” Pekikku kaget tanpa
sadar.
Astaga!!
Bagaimana mungkin?!
Aku sangat tidak percaya dengan
semua ini. Tapi demi melihat Ali yang terlihat serius membuatku menampik
pikiranku sendiri.
Pikiran tentang Agung berkelindan
di benakku. Sosok cerdas keluarga yang diberi kepercayaan oleh Hakim untuk
mengajar generasi penerus. Sosok satu-satunya yang mampu menembus pendidikan
luar negeri di daerah ini.
Siapa sangka??
Dia justru menjadi kaki tangan
investor asing dengan kecerdasannya itu!
*
“Tarik keistimewaan yang kau berikan pada Ari!” Tekannya tanpa malu.
“Jangan berikan keistimewaan suara 30% padanya!” Lanjutnya sengit.
Tidak ada lagi sandiwara kepura-puraan kali ini. Dia telah sempurna menunjukkan
taringnya.
“Kenapa, Pak? Takut?!” Balasku tak kalah sengit.
Dia tertawa mengejek.
kembali mengancam.
Sial.. Dia selalu tahu kelemahanku!
Satu-satunya hal yang sangat ingin kuhindari adalah melihat seseorang
yang berharga bagiku dalam bahaya.
Dan dia mengancam tepat pada hal itu!
Aku meremas tanganku dengan kasar. Aku sangat marah.
“Ari pasti sangat bangga.” Kataku kembali tertawa demi menutupi gejolak
hatiku yang hampir meledak. “Seseorang yang terhormat seperti Pak Agung bahkan
sangat takut padanya.”
Ejekanku berhasil membuat mukanya memerah. Emosinya hampir saja tidak
terkontrol.
“Ingat, Ali. Aku tidak main-main!”
Dia memilih pergi setelah mengatakan itu.
Aku memandang nanar kepergiannya. Setelah sosoknya menghilang di balik
pintu, aku meninju meja rapat untuk melampiaskan kekesalan. Tidak peduli pada
tanganku yang bahkan belum sembuh akibat perilaku yang sama.
*
“Jadi.. Namanya Agung?” Perkataan
lirih dari Buku Agung penggantiku.
“Kenapa, Teman?”
Demi melihatnya tidak bersemangat
membuatku bertanya. Meski aku sudah dapat menebak jawabannya.
“Orang yang mengancam Ali malam
itu, namanya Agung.” Jawabnya lemah. “Aku tidak menyangka, seseorang yang hanya
satu kali kulihat ternyata memiliki pengaruh sekuat itu.”
“Bagaimana mungkin? Seseorang yang
__ADS_1
bahkan tidak masuk dalam jajaran petinggi keluarga bisa melakukan hal itu?”
Lanjutnya.
“Aku yakin, dia punya pendukung di
luar sana. Tidak mungkin dia dapat bergerak seperti itu tanpa dukungan.”
Jawabku berhipotesis. Tapi bagiku, itu sangat masuk akal.
“Boleh jadi, pendukungnya adalah
seseorang yang memiliki kekuasaan dan uang.” Tambahku.
“Ya.. Itu mungkin saja.” Sahutnya
tertawa getir.
“Aku tidak tahu, apakah aku akan
berterima kasih padanya atau membencinya.” Dia kembali berkata dengan senyum
getir.
Aku memandang ke arahnya dengan
bingung. Mencoba memahami arah pembicaraannya.
“Kenapa?” Tanyaku hati-hati setelah
tidak menemukan jawaban memuaskan sedikitpun.
“Dia yang telah membuatku bisa
merasakan fungsi sebagai buku di dunia ini.” Jawabnya lemah.
Itu benar..
Agung yang telah memerintahkan
Tito’ dan Zen untuk mencuriku dan menjadikan dia sebagai penggantiku.
“Tapi.. Siapa sangka? Aku yang
hanya dapat berfungsi sekali saja malah..” Suaranya tercekat. “Malah hanya
dijadikan sebagai buku plagiat yang penuh kebohongan.”
Dia menangis tersedu-sedu. Aku ikut
berempati.
“Sudahlah.. Itu bukan salahmu.” Aku
mencoba menghibur.
“Kita sebagai alat tidak bisa
memilih. Yang membuat pilihan adalah mereka, manusia.”
“Maafkan aku yang telah memuat
kebohongan dan menentangmu.” Katanya di sela-sela tangisnya.
“Sudahlah.. Aku hanya sedang
beruntung. Aku lebih dahulu diproduksi daripada dirimu. Karena itulah, aku
menjadi buku yang sah. Aku tidak dapat membayangkan jika aku diproduksi
belakangan. Mungkin saja aku akan menjadi sesuatu yang lain.”
Perkataanku sepertinya membuatnya
sedikit tenang. Tangisannya berhenti secara perlahan.
Ali yang telah selesai dengan
informasi tulisan tangannya kini beranjak menuju lemari tempatku disembunyikan
olehnya.
Saat melihatku, dia terlihat
mengerutkan keningnya. Wajahnya memperlihatkan kebingungan. Dia pasti menyadari
bahwa diriku dengan judul Generasi XII dan Generasi XIII sedang tidak berada di
tempat.
“Pasti ulah Ari.” Katanya santai.
Dia terlihat tidak curiga
sedikitpun. Ari memang terbiasa meminjam dan membawaku ke kamarnya untuk
dibaca. Sikap pengisi waktu yang dilakukannya saat Ali sedang berada di
dunianya (membaca buku) tanpa memedulikan dirinya.
Namun, satu hal yang Ali tidak
sadari..
Ari kini mengambilku dengan tujuan
berbeda.
__ADS_1