Saksi Bisu

Saksi Bisu
Amarah Ali


__ADS_3

Informasi tentang rapat sedang


dalam proses cetak.


Ali menatap kosong ke arah cetakan.


Aku tahu, pikirannya sedang kacau. Mungkin saja, informasi yang baru saja diberikan


untukku belum cukup untuk menggambarkan semua penyebab kekalutannya.


Ali kembali mengambil kertas kosong


untuk Buku Agung. Kali ini, dia tidak meletakkannya di atas cetakan. Kertas itu


diletakkan di atas meja, tepat di hadapannya. Setelah itu, meraih pulpen yang


berada di sudut kanan meja.


Masih ada informasi yang akan


dituliskannya?


Tapi kenapa memilih menggunakan


tulisan tangan?


Mungkinkah informasi itu bersifat


rahasia?


Aku mulai berspekulasi sendiri. Belakangan


ini, Ali, Ari dan Tito’ memilih untuk menulis, alih-alih mengetik. Aku menduga


bahwa informasi yang dituliskan oleh mereka adalah rahasia. Tentu saja,


informasi yang ditulis tangan itu tidak akan pernah mereka serahkan kepada


Dewan Penasihat untuk diperiksa kebenarannya.


Lagipula, maukah Dewan Penasihat


meloloskan informasi yang akan menyudutkan mereka?


Ali menulis..


*


9 Desember 2019


Penulis: Ali


Kondisi rapat yang tidak sesuai keinginan, membuat pelaku pengancam


kembali menemuiku setelah rapat selesai.


Untunglah, Ari memilih menjauhiku setelah melihat tatapan tajamku


padanya. Dia meninggalkan ruang rapat setelah rapat usai tanpa sedikitpun


bertegur sapa denganku.


Aku berharap, Ari tidak akan pernah mengetahui tentang ancaman itu,


apalagi pelakunya. Aku tidak ingin, dia merasa terbebani dan membenci.


Pelaku pengancam kini menatap tajam ke arahku. Kami sedang berada di


dalam ruang rapat. Semua Dewan Penasihat bahkan memilih untuk menyingkir.


Sekarang aku tahu, bagaimana berkuasanya orang ini di balik bayangan.


Aku memilih untuk membalas sorot mata tajam itu.


Aku sadar, waktu yang kami habiskan bersama selama ini hanyalah


kebohongan. Mungkin, semua waktu yang kami habiskan itu hanyalah topeng untuk


memuluskan aksinya. Dia sengaja membiarkan kami larut dalam permainannya


seperti orang bodoh.


Aku dan Ari sungguh telah tertipu dengan sosok hangatnya.


Aku tidak lagi sanggup untuk tersenyum di hadapannya. Lebih tepatnya, aku


tidak ingin melakukannya!


Sorot mata tajam kami akhirnya beradu selama beberapa detik. Aku tidak


ingin memulai pembicaraan. Aku memilih untuk menunggu.


“Sekarang kamu tahu kan, akibat dari keistimewaan yang kamu berikan pada


Ari?” Dia geram. “Dia sekarang menentangmu terang-terangan!”


Intonasinya bahkan meninggi saat mengatakan kalimat terakhirnya.


Aku memilih tertawa.


Dia terlihat terkejut dengan sikapku. Aku tahu, sikapku telah menantang


harga dirinya. Aku penasaran, sejauh mana dia akan melancarkan aksinya kali


ini.


“Sepertinya, Pak Agung sangat takut ya, pada Ari?”

__ADS_1


Aku kembali tertawa, sarkas. Entah sejak kapan aku tidak menggunakan


panggilan guru lagi padanya. Aku dan Ari sering memanggilnya Pak Guru Agung.


Itu adalah panggilan sayang dan hormat kami padanya.


Namun, setelah mengetahui watak aslinya, entah kenapa aku menyesali semua


itu.


Pandangan tajam kami kembali beradu.


*


“Agung?!” Pekikku kaget tanpa


sadar.


Astaga!!


Bagaimana mungkin?!


Aku sangat tidak percaya dengan


semua ini. Tapi demi melihat Ali yang terlihat serius membuatku menampik


pikiranku sendiri.


Pikiran tentang Agung berkelindan


di benakku. Sosok cerdas keluarga yang diberi kepercayaan oleh Hakim untuk


mengajar generasi penerus. Sosok satu-satunya yang mampu menembus pendidikan


luar negeri di daerah ini.


Siapa sangka??


Dia justru menjadi kaki tangan


investor asing dengan kecerdasannya itu!


*


“Tarik keistimewaan yang kau berikan pada Ari!” Tekannya tanpa malu.


“Jangan berikan keistimewaan suara 30% padanya!” Lanjutnya sengit.


Tidak ada lagi sandiwara kepura-puraan kali ini. Dia telah sempurna menunjukkan


taringnya.


“Kenapa, Pak? Takut?!” Balasku tak kalah sengit.


Dia tertawa mengejek.


kembali mengancam.


Sial.. Dia selalu tahu kelemahanku!


Satu-satunya hal yang sangat ingin kuhindari adalah melihat seseorang


yang berharga bagiku dalam bahaya.


Dan dia mengancam tepat pada hal itu!


Aku meremas tanganku dengan kasar. Aku sangat marah.


“Ari pasti sangat bangga.” Kataku kembali tertawa demi menutupi gejolak


hatiku yang hampir meledak. “Seseorang yang terhormat seperti Pak Agung bahkan


sangat takut padanya.”


Ejekanku berhasil membuat mukanya memerah. Emosinya hampir saja tidak


terkontrol.


“Ingat, Ali. Aku tidak main-main!”


Dia memilih pergi setelah mengatakan itu.


Aku memandang nanar kepergiannya. Setelah sosoknya menghilang di balik


pintu, aku meninju meja rapat untuk melampiaskan kekesalan. Tidak peduli pada


tanganku yang bahkan belum sembuh akibat perilaku yang sama.


*


“Jadi.. Namanya Agung?” Perkataan


lirih dari Buku Agung penggantiku.


“Kenapa, Teman?”


Demi melihatnya tidak bersemangat


membuatku bertanya. Meski aku sudah dapat menebak jawabannya.


“Orang yang mengancam Ali malam


itu, namanya Agung.” Jawabnya lemah. “Aku tidak menyangka, seseorang yang hanya


satu kali kulihat ternyata memiliki pengaruh sekuat itu.”


“Bagaimana mungkin? Seseorang yang

__ADS_1


bahkan tidak masuk dalam jajaran petinggi keluarga bisa melakukan hal itu?”


Lanjutnya.


“Aku yakin, dia punya pendukung di


luar sana. Tidak mungkin dia dapat bergerak seperti itu tanpa dukungan.”


Jawabku berhipotesis. Tapi bagiku, itu sangat masuk akal.


“Boleh jadi, pendukungnya adalah


seseorang yang memiliki kekuasaan dan uang.” Tambahku.


“Ya.. Itu mungkin saja.” Sahutnya


tertawa getir.


“Aku tidak tahu, apakah aku akan


berterima kasih padanya atau membencinya.” Dia kembali berkata dengan senyum


getir.


Aku memandang ke arahnya dengan


bingung. Mencoba memahami arah pembicaraannya.


“Kenapa?” Tanyaku hati-hati setelah


tidak menemukan jawaban memuaskan sedikitpun.


“Dia yang telah membuatku bisa


merasakan fungsi sebagai buku di dunia ini.” Jawabnya lemah.


Itu benar..


Agung yang telah memerintahkan


Tito’ dan Zen untuk mencuriku dan menjadikan dia sebagai penggantiku.


“Tapi.. Siapa sangka? Aku yang


hanya dapat berfungsi sekali saja malah..” Suaranya tercekat. “Malah hanya


dijadikan sebagai buku plagiat yang penuh kebohongan.”


Dia menangis tersedu-sedu. Aku ikut


berempati.


“Sudahlah.. Itu bukan salahmu.” Aku


mencoba menghibur.


“Kita sebagai alat tidak bisa


memilih. Yang membuat pilihan adalah mereka, manusia.”


“Maafkan aku yang telah memuat


kebohongan dan menentangmu.” Katanya di sela-sela tangisnya.


“Sudahlah.. Aku hanya sedang


beruntung. Aku lebih dahulu diproduksi daripada dirimu. Karena itulah, aku


menjadi buku yang sah. Aku tidak dapat membayangkan jika aku diproduksi


belakangan. Mungkin saja aku akan menjadi sesuatu yang lain.”


Perkataanku sepertinya membuatnya


sedikit tenang. Tangisannya berhenti secara perlahan.


Ali yang telah selesai dengan


informasi tulisan tangannya kini beranjak menuju lemari tempatku disembunyikan


olehnya.


Saat melihatku, dia terlihat


mengerutkan keningnya. Wajahnya memperlihatkan kebingungan. Dia pasti menyadari


bahwa diriku dengan judul Generasi XII dan Generasi XIII sedang tidak berada di


tempat.


“Pasti ulah Ari.” Katanya santai.


Dia terlihat tidak curiga


sedikitpun. Ari memang terbiasa meminjam dan membawaku ke kamarnya untuk


dibaca. Sikap pengisi waktu yang dilakukannya saat Ali sedang berada di


dunianya (membaca buku) tanpa memedulikan dirinya.


Namun, satu hal yang Ali tidak


sadari..


Ari kini mengambilku dengan tujuan


berbeda.

__ADS_1


__ADS_2