
6 November 2019
Penulis: Tito’
Hari ini rapat bulanan keluarga Husain dilaksanakan. Meskipun rapat ini merupakan kegiatan rutin keluarga, namun kali ini menampilkan suasana yang berbeda.
Kehadiran dua bocah cilik yang sangat kontras di tengah-tengah orang dewasa merupakan hal yang unik. Apalagi jika pembicaraannya tentang pengaturan ekonomi masyarakat yang luas.
Biasanya dalam rapat bulanan keluarga, hanya menghadirkan pemimpin keluarga yang terpilih dari generasi penerus. Tapi kali ini, aturan tersebut sepertinya telah dihapuskan.
Kehadiran Ari dalam ruangan sebagai wakil pimpinan menandakan hal ini.
“Nak Ari, apa kamu punya urusan di sini?” Pertanyaan ragu dengan penuh kehati-hatian dari Pak Arif terlontar begitu saja saat melihat Ari duduk manis pada salah satu kursi peserta disamping Ali.
“Tentu saja.” Jawabnya riang khas anak kecil seusianya.
“Maksud saya,, Apa kau tahu kegiatan apa yang akan berlangsung saat ini nak?” Tanya Pak Arif kembali dengan canggung.
__ADS_1
Aku tersenyum melihatnya dengan tingkah demikian di depan seorang anak kecil.
“Tentu saja aku tahu.” Jawab Ari kembali dengan singkat tanpa mengurangi sedikit pun sikap riangnya.
Sikapnya membuat Pak Arif terlihat dongkol. Dengan muka penuh tanya dia berpaling ke arah Ali berharap penjelasan. Aku tahu dengan jelas bahwa wakil pimpinan keluarga tidak pernah ikut serta dalamrapat ini.
Pasti ada seseorang dari kami yang mengundangnya. Tuduhan kami semua akhirnya terfokus pada Ali.
Dengan santai Ali berdiri dan menyerahkan sebuah map kepada Pak Arif. Pak Arif mencermati isi dari map itu. Dalam sekejap dia hanya dapat memandang kepada kedua anak itu dengan pandangan tidak percaya.
Untuk sesaat dia tidak mampu berkata apa-apa. Karena penasaran, kami semua akhirnya berebut untuk melihat isi map itu. Tanpa disangka, kami pun hanya dapat merespon dengan sikap yang sama.
“Sekarang aku tahu kenapa ayahku bisa terkena kasus.” Kata Ari geram sambil memandang kami dengan pandangan benci.
Sikap riangnya telah hilang dalam sekejap.
Tak ada satu pun dari kami yang memberi respon. Isi map itu telah memberikan informasi yang lebih dari cukup bagi kedua anak itu tentang kejahatan besar yang telah terjadi dalam keluarga besar mereka.
__ADS_1
“Baik,, Rapat bulanan keluarga harusnya membahas tentang evaluasi agenda bulan lalu dan rancangan agenda untuk satu bulan kedepan. Bagaimana kalau kita mulai saja?” Ali kembali berkata dengan santai.
Sikapnya yang demikian entah kenapa semakin menambah rasa cemas pada kami.
Pak Arif membuka rapat dengan canggung. Sikap yang tidak pernah dia perlihatkan selama aku bergabung dalam dewan penasihat. Sejujurnya, itu sikap yang lucu. Kalau saja situasinya lain, aku mungkin akan tertawa geli.
Aku memandang Ali dengan kagum. Siapa sangka seorang anak seperti dia-lah yang mampu membuat seseorang yang terkenal tegas terlihat seperti itu.
Rapat akhirnya berlangsung dengan suasana yang kaku. Masing-masing dari kami sangat canggung saat menyampaikan pendapat. Aku tidak habis pikir, mengapa kami semua yang selama ini merasa dewasa dan berpengalaman, bersikap demikian dihadapan dua anak kecil yang selalu kami ragukan kemampuannya itu?
Sekarang aku sadar dan bangga pada Hakim. Keputusannya yang kontroversial untuk menjadikan ‘anak kecil’ masuk dalam ranah pimpinan keluarga yang merupakan posisi tertinggi patut diacungi jempol.
Kepiawaian dua anak itu dalam menguasai rapat membuktikan pada kami akan kenaifan kami selama ini.
Rancangan agenda rapat yang telah kami susun dengan baik untuk menyetting dua anak itu agar sesuai dengan keinginan pelaku kejahatan pupus sudah. Kami hanya dapat memandang nanar pada mereka, saat mereka dengan santai meninggalkan ruang rapat ketika agenda rapat telah selesai.
*
__ADS_1
Aku tertawa geli disebabkan informasi yang dibagi Tito’ padaku. Aku merasa sangat senang. Perasaan cemas akan nasib keluarga Husain dan tambang emas milik rakyat pupus sudah. Harapanku telah bangkit kembali dan semuanya kini kutumpukan pada Ali dan Ari. Aku percaya mereka mampu melakukannya.
Tito’ mencetak informasi itu untukku sambil tersenyum. Ekspresi senang yang baru kali ini ditunjukkannya saat berbagi informasi denganku. Buku Kecil ikut-ikutan tersenyum sambil melirik ke arahku.