Saksi Bisu

Saksi Bisu
Dilema Tiga Anak Manusia


__ADS_3

Ali benar-benar membakar tulisan


tanggal 6 Desember 2019 yang ditulisnya bersama Ari. Tulisan yang bukan hanya


Buku Agung penggantiku yang merekamnya, tapi juga tulisan yang ada padaku


dengan informasi yang sama.


Jika Ali sudah bersikap demikian,


maka aku yakin kalau dia benar-benar sedang tertekan. Dia orang yang tidak


mudah dibujuk seperti yang lain. Tapi kali ini, sepertinya dia menyerah kalah.


Aku sangat penasaran, tekanan apa yang telah diberikan padanya?


Aku akui, tulisan tanggal 6


Desember itu memang dapat memicu konflik antara dirinya dengan Dewan Penasihat.


Reputasi keluarga akan benar-benar hancur jika tulisan itu sampai


dipublikasikan. Tapi, bukankah dia memang selalu berseteru dengan Dewan


Penasihat selama ini? Dan semua itu tidak membuatnya goyah kan?


*


“Waah.. Tuan Ketua memang the best..”


Ari masuk ruangan dengan wajah


ceria seperti biasanya. Kedua jari jempolnya terangkat sebagai pujian double untuk Ali yang selama dua hari


ini terlihat semakin menyibukkan diri dengan tumpukan berkas di sekelilingnya.


Ali hanya mengangkat kepalanya


sejenak dan tersenyum sebagai sambutan untuk Ari. Setelah itu, dia kembali


sibuk. Respon yang selalu dia tunjukkan saat sedang berhadapan dengan


kertas-kertas atau buku. Tidak peduli dengan orang yang berada di sekitarnya.


Ck.. ck..


Ari berdecak kesal. Sekali lagi


dari kesekian kalinya, dia kembali diabaikan.


“Tuan Ketua sibuk apa sih?”


“Sepertinya penting sekali?”


“Mau bantuan, Tuan Ketua?”


Ari sepertinya sengaja memakai


panggilan yang selalu dibenci Ali selama ini. Sangat jelas bahwa dia ingin


direspon kali ini. Seperti halnya aku dan buku agung pengganti, Ari juga pasti


sangat penasaran dengan Ali selama dua hari terakhir.


Namun, Ali tetap diam.


“Tuan Ketua..”


Diam.


“Tuuaann..”


Diam.


“Tuan Ketuuaa..” Kali ini,


panggilannya berirama.


Ali berdecak kesal. Kini memandang


Ari dengan sorot mata tajam. Yang dipandang tertawa keras tanpa dosa.


“Tuan Ketua sedang sibuk apa? Butuh


bantuan?”


“Tidak!!!” Ali masih kesal. “Aku


hanya sedang membaca berkas-berkas lama. Jangan menggangguku. Aku hanya


belajar. Kalau kamu mau, ikutlah membaca bersamaku.”


“Aishh.. Ini masih pagi, Tuan


Ketua. Aku tidak mau menambah jam tidur. Aku bisa sakit nanti kalau kebanyakan


tidur. Apalagi tidur di pagi hari, Tuan.”


“Kamu ingin hukuman?” Tanya Ali


kesal.


“Eh?”


Ari terlihat bingung. Sorot matanya


meminta penjelasan. Memangnya, kesalahan apa yang telah diperbuatnya sehingga


harus diberi hukuman?


“Berhenti memanggilku ‘Tuan’ kalau

__ADS_1


kamu tidak mau dihukum.” Kali ini, Ali terdengar tegas.


Glek..


Nyali Ari menciut seketika.


“I..iya.. Maaf.” Sejurus kemudian


tertawa kecil. “Ali, kamu memang benar-benar menyeramkan akhir-akhir ini.”


“Apakah kamu membaca semua kertas


ini agar bisa menemukan keputusan terbaik?” Tanya Ari santai.


Yang ditanya menjadi salah tingkah.


Yah.. Ali memang sedang membaca


berkas tentang keputusan keluarga di masa lalu lengkap dengan rincian


pelaksanaan dan dampaknya. Dia telah banyak berkutat dengan berkas seperti itu


selama dua hari terakhir.


“Keputusan kita saat tanggal 6


Desember belum final?” Tanya Ari lagi.


Ali kini terlihat bingung dan


cemas.


“Kenapa, Ali?” Ari kini terdengar


menuntut jawaban.


“Bukan apa-apa.” Ali berusaha


santai. “Aku hanya harus mempertimbangkan banyak hal, Ari. Karena itu, aku


harus banyak belajar.” Katanya sambil menunjuk tumpukan berkas yang dibacanya


sejak tadi.


“Kamu sepertinya gelisah selama dua


hari terakhir ini. Tidak ingin mengatakan sesuatu padaku, Ali?” Ari kini


terdengar serius.


“Kamu ini ngomong apa? Aku seperti


biasa kok.” Ali kembali berusaha serileks mungkin. Aku tahu, dia berbohong.


Tapi sepertinya, Ari menyadari itu.


“Hm.. Jika ada masalah, sebaiknya


“Jangan menyimpan semuanya sendiri,


Ali. Apa kamu tidak mempercayaiku?” Ari sok bijak.


Dia sendiri bahkan merahasiakan


sesuatu dari Ali.


Ahh.. Dua anak ini! Mereka suka


sekali membuatku penasaran.


“Ah iya..” Ari kembali riang. Dia


sepertinya teringat sesuatu, “Hari ini, aku mau ke tempat ayah. Ali, kamu mau


ikut?”


“Mmm.. Maaf yah.. Mungkin lain


kali.” Ali nyengir. Dia terlihat merasa bersalah.


“Oh, tidak apa-apa.” Balas Ari


cepat.


“Aku pergi ya..”


Ari berlalu begitu saja


meninggalkan Ali yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Ali hanya menghela


napas dan kembali ke kesibukan awalnya.


Aku menatap kepergian Ari dengan


heran. Biasanya, dia akan selalu memaksa Ali untuk ikut bersamanya. Apalagi


jika ingin mengunjungi Hakim. Tapi kali ini, dia sepertinya benar-benar ingin


berangkat sendiri. Ajakannya pada Ali terkesan hanya basa-basi.


*


Tito’ memasuki ruangannya malam ini


dengan wajah tegang. Rahangnya mengeras seakan baru saja dihadapkan pada


keputusan besar yang sangat sulit. Dia terlihat sangat bimbang.


Aku penasaran. Tentu saja. Ekspresi


teman-teman buku juga memperlihatkan rasa penasaran yang sama. Sejak aku

__ADS_1


bergabung di ruangan ini, topik pembicaraan hangat yang selalu mendominasi


diantara kami hanyalah seputar Keluarga Husain.


Setiap hari, kami selalu menunggu


informasi baru tentang Keluarga Husain. Bagaimana tidak, peristiwa yang menimpa


Keluarga Husain adalah hal baru sejak keluarga ini terbentuk selama dua ratus


tahun terakhir.


Aku sangat berharap, Tito’ masih


bersedia berbagi cerita denganku. Bagaimanapun, dia telah menjadi bagian dari


peristiwa besar yang sedang terjadi.


Tito’ menghela napas berat.


Hari ini, sepertinya dia melewati


hari yang panjang. Sejak bertukar SMS dengan seseorang di pagi hari, dia


terlihat bergegas pergi dan baru menampakkan dirinya kembali di malam ini.


“Baru kali ini, wajahnya setegang


itu.” Kata Novel memecah kesunyian. Dia baru bergabung belakangan dengan kami


sejak dikembalikan oleh Adi. Sepertinya memang baru kali ini dia melihat Tito’


setegang itu.


Tito’ memang selalu memperlihatkan


wajah tegang sejak aku bergabung. Namun, tidak dapat kupungkiri, wajahnya kali


ini lebih tegang dari biasanya.


Sejak Tito’ masuk ruangan dengan


wajah tegangnya, kami semua sontak terdiam bak diberi komando. Kami lebih


memilih memperhatikan Tito’ seperti tidak ingin kehilangan informasi sedikit


saja. Dan memang benar, itulah yang sedang kami lakukan meski tanpa saling


memberitahu tujuan masing-masing.


Tapi lihatlah..


Tito malah terdiam di kursi untuk


beberapa waktu yang lama. Merenung. Sama sekali tidak peduli dengan rasa


penasaran kami yang semakin memuncak.


Iyalah.. Dia bahkan tidak tahu


kalau kami memandanginya!


Hhhhh...


Tito’ menghembuskan napas kasar.


Selang beberapa detik, dia


melirikku. Sorot matanya tajam. Tindakannya membuatku salah tingkah.


“Ke.. Kenapa?” Tanyaku bingung.


Tapi Tito’ hanya diam. Tentu saja,


dia tidak mendengarku!


Dia kembali menghela napas. Seperti


menimbang untuk melakukan sesuatu atau tidak.


Aku sangat berharap, dia melirikku


kali ini karena ingin berbagi cerita denganku. Dan benar saja, tangannya secara


perlahan kini berusaha menggapaiku.


Tito’ meletakkanku di meja tepat di


hadapannya. Setelah itu, dia meraih pulpen yang berada di sudut kanan meja. Dia


memilih menulis, alih-alih mengetik. Tindakannya mengingatkanku pada Ari.


“Yayy.. Dia akan menulis untukku.”


Aku bersorak kegirangan.


Teman-teman hanya menggeleng-geleng


melihat sikapku. Jangan pusingkan bagaimana mereka menggeleng ya.. J


Sejak keluar dari tempat rahasia di


Keluarga Husain. Aku banyak berinteraksi dengan teman-teman buku. Kondisi


itulah yang membuatku secara perlahan menghilangkan sikap kakuku. Aku kini


banyak memperlihatkan ekspresi, termasuk bersorak kegirangan saat merasa


senang.


Tito’ mulai menulis..

__ADS_1


__ADS_2