
Ali benar-benar membakar tulisan
tanggal 6 Desember 2019 yang ditulisnya bersama Ari. Tulisan yang bukan hanya
Buku Agung penggantiku yang merekamnya, tapi juga tulisan yang ada padaku
dengan informasi yang sama.
Jika Ali sudah bersikap demikian,
maka aku yakin kalau dia benar-benar sedang tertekan. Dia orang yang tidak
mudah dibujuk seperti yang lain. Tapi kali ini, sepertinya dia menyerah kalah.
Aku sangat penasaran, tekanan apa yang telah diberikan padanya?
Aku akui, tulisan tanggal 6
Desember itu memang dapat memicu konflik antara dirinya dengan Dewan Penasihat.
Reputasi keluarga akan benar-benar hancur jika tulisan itu sampai
dipublikasikan. Tapi, bukankah dia memang selalu berseteru dengan Dewan
Penasihat selama ini? Dan semua itu tidak membuatnya goyah kan?
*
“Waah.. Tuan Ketua memang the best..”
Ari masuk ruangan dengan wajah
ceria seperti biasanya. Kedua jari jempolnya terangkat sebagai pujian double untuk Ali yang selama dua hari
ini terlihat semakin menyibukkan diri dengan tumpukan berkas di sekelilingnya.
Ali hanya mengangkat kepalanya
sejenak dan tersenyum sebagai sambutan untuk Ari. Setelah itu, dia kembali
sibuk. Respon yang selalu dia tunjukkan saat sedang berhadapan dengan
kertas-kertas atau buku. Tidak peduli dengan orang yang berada di sekitarnya.
Ck.. ck..
Ari berdecak kesal. Sekali lagi
dari kesekian kalinya, dia kembali diabaikan.
“Tuan Ketua sibuk apa sih?”
“Sepertinya penting sekali?”
“Mau bantuan, Tuan Ketua?”
Ari sepertinya sengaja memakai
panggilan yang selalu dibenci Ali selama ini. Sangat jelas bahwa dia ingin
direspon kali ini. Seperti halnya aku dan buku agung pengganti, Ari juga pasti
sangat penasaran dengan Ali selama dua hari terakhir.
Namun, Ali tetap diam.
“Tuan Ketua..”
Diam.
“Tuuaann..”
Diam.
“Tuan Ketuuaa..” Kali ini,
panggilannya berirama.
Ali berdecak kesal. Kini memandang
Ari dengan sorot mata tajam. Yang dipandang tertawa keras tanpa dosa.
“Tuan Ketua sedang sibuk apa? Butuh
bantuan?”
“Tidak!!!” Ali masih kesal. “Aku
hanya sedang membaca berkas-berkas lama. Jangan menggangguku. Aku hanya
belajar. Kalau kamu mau, ikutlah membaca bersamaku.”
“Aishh.. Ini masih pagi, Tuan
Ketua. Aku tidak mau menambah jam tidur. Aku bisa sakit nanti kalau kebanyakan
tidur. Apalagi tidur di pagi hari, Tuan.”
“Kamu ingin hukuman?” Tanya Ali
kesal.
“Eh?”
Ari terlihat bingung. Sorot matanya
meminta penjelasan. Memangnya, kesalahan apa yang telah diperbuatnya sehingga
harus diberi hukuman?
“Berhenti memanggilku ‘Tuan’ kalau
__ADS_1
kamu tidak mau dihukum.” Kali ini, Ali terdengar tegas.
Glek..
Nyali Ari menciut seketika.
“I..iya.. Maaf.” Sejurus kemudian
tertawa kecil. “Ali, kamu memang benar-benar menyeramkan akhir-akhir ini.”
“Apakah kamu membaca semua kertas
ini agar bisa menemukan keputusan terbaik?” Tanya Ari santai.
Yang ditanya menjadi salah tingkah.
Yah.. Ali memang sedang membaca
berkas tentang keputusan keluarga di masa lalu lengkap dengan rincian
pelaksanaan dan dampaknya. Dia telah banyak berkutat dengan berkas seperti itu
selama dua hari terakhir.
“Keputusan kita saat tanggal 6
Desember belum final?” Tanya Ari lagi.
Ali kini terlihat bingung dan
cemas.
“Kenapa, Ali?” Ari kini terdengar
menuntut jawaban.
“Bukan apa-apa.” Ali berusaha
santai. “Aku hanya harus mempertimbangkan banyak hal, Ari. Karena itu, aku
harus banyak belajar.” Katanya sambil menunjuk tumpukan berkas yang dibacanya
sejak tadi.
“Kamu sepertinya gelisah selama dua
hari terakhir ini. Tidak ingin mengatakan sesuatu padaku, Ali?” Ari kini
terdengar serius.
“Kamu ini ngomong apa? Aku seperti
biasa kok.” Ali kembali berusaha serileks mungkin. Aku tahu, dia berbohong.
Tapi sepertinya, Ari menyadari itu.
“Hm.. Jika ada masalah, sebaiknya
“Jangan menyimpan semuanya sendiri,
Ali. Apa kamu tidak mempercayaiku?” Ari sok bijak.
Dia sendiri bahkan merahasiakan
sesuatu dari Ali.
Ahh.. Dua anak ini! Mereka suka
sekali membuatku penasaran.
“Ah iya..” Ari kembali riang. Dia
sepertinya teringat sesuatu, “Hari ini, aku mau ke tempat ayah. Ali, kamu mau
ikut?”
“Mmm.. Maaf yah.. Mungkin lain
kali.” Ali nyengir. Dia terlihat merasa bersalah.
“Oh, tidak apa-apa.” Balas Ari
cepat.
“Aku pergi ya..”
Ari berlalu begitu saja
meninggalkan Ali yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Ali hanya menghela
napas dan kembali ke kesibukan awalnya.
Aku menatap kepergian Ari dengan
heran. Biasanya, dia akan selalu memaksa Ali untuk ikut bersamanya. Apalagi
jika ingin mengunjungi Hakim. Tapi kali ini, dia sepertinya benar-benar ingin
berangkat sendiri. Ajakannya pada Ali terkesan hanya basa-basi.
*
Tito’ memasuki ruangannya malam ini
dengan wajah tegang. Rahangnya mengeras seakan baru saja dihadapkan pada
keputusan besar yang sangat sulit. Dia terlihat sangat bimbang.
Aku penasaran. Tentu saja. Ekspresi
teman-teman buku juga memperlihatkan rasa penasaran yang sama. Sejak aku
__ADS_1
bergabung di ruangan ini, topik pembicaraan hangat yang selalu mendominasi
diantara kami hanyalah seputar Keluarga Husain.
Setiap hari, kami selalu menunggu
informasi baru tentang Keluarga Husain. Bagaimana tidak, peristiwa yang menimpa
Keluarga Husain adalah hal baru sejak keluarga ini terbentuk selama dua ratus
tahun terakhir.
Aku sangat berharap, Tito’ masih
bersedia berbagi cerita denganku. Bagaimanapun, dia telah menjadi bagian dari
peristiwa besar yang sedang terjadi.
Tito’ menghela napas berat.
Hari ini, sepertinya dia melewati
hari yang panjang. Sejak bertukar SMS dengan seseorang di pagi hari, dia
terlihat bergegas pergi dan baru menampakkan dirinya kembali di malam ini.
“Baru kali ini, wajahnya setegang
itu.” Kata Novel memecah kesunyian. Dia baru bergabung belakangan dengan kami
sejak dikembalikan oleh Adi. Sepertinya memang baru kali ini dia melihat Tito’
setegang itu.
Tito’ memang selalu memperlihatkan
wajah tegang sejak aku bergabung. Namun, tidak dapat kupungkiri, wajahnya kali
ini lebih tegang dari biasanya.
Sejak Tito’ masuk ruangan dengan
wajah tegangnya, kami semua sontak terdiam bak diberi komando. Kami lebih
memilih memperhatikan Tito’ seperti tidak ingin kehilangan informasi sedikit
saja. Dan memang benar, itulah yang sedang kami lakukan meski tanpa saling
memberitahu tujuan masing-masing.
Tapi lihatlah..
Tito malah terdiam di kursi untuk
beberapa waktu yang lama. Merenung. Sama sekali tidak peduli dengan rasa
penasaran kami yang semakin memuncak.
Iyalah.. Dia bahkan tidak tahu
kalau kami memandanginya!
Hhhhh...
Tito’ menghembuskan napas kasar.
Selang beberapa detik, dia
melirikku. Sorot matanya tajam. Tindakannya membuatku salah tingkah.
“Ke.. Kenapa?” Tanyaku bingung.
Tapi Tito’ hanya diam. Tentu saja,
dia tidak mendengarku!
Dia kembali menghela napas. Seperti
menimbang untuk melakukan sesuatu atau tidak.
Aku sangat berharap, dia melirikku
kali ini karena ingin berbagi cerita denganku. Dan benar saja, tangannya secara
perlahan kini berusaha menggapaiku.
Tito’ meletakkanku di meja tepat di
hadapannya. Setelah itu, dia meraih pulpen yang berada di sudut kanan meja. Dia
memilih menulis, alih-alih mengetik. Tindakannya mengingatkanku pada Ari.
“Yayy.. Dia akan menulis untukku.”
Aku bersorak kegirangan.
Teman-teman hanya menggeleng-geleng
melihat sikapku. Jangan pusingkan bagaimana mereka menggeleng ya.. J
Sejak keluar dari tempat rahasia di
Keluarga Husain. Aku banyak berinteraksi dengan teman-teman buku. Kondisi
itulah yang membuatku secara perlahan menghilangkan sikap kakuku. Aku kini
banyak memperlihatkan ekspresi, termasuk bersorak kegirangan saat merasa
senang.
Tito’ mulai menulis..
__ADS_1