Saksi Bisu

Saksi Bisu
Kesepakatan Pelaku untuk Hakim


__ADS_3

Tito’ kembali menuliskan kisah untukku malam ini.


Aku menjadi tidak sabar..


7 Oktober 2019


Penulis: Tito’


Hakim masih meributkan soal pencurian buku sejarah. Tapi dia sama sekali tidak punya petunjuk tentang pelakunya. Tidak ada satu pun dari Dewan Penasihat yang ingin mengakui terlibat atau sebagai pelaku utama kejahatan.


Tentu saja, hal itu sangat sulit untuk dilakukan. Hakim tidak punya pilihan lain selain mengabaikan terlebih dahulu masalah tersebut. Masalah lain menanti.


Masalah yang lebih mendesak, soal kontrak pengolahan pertambangan.


Hari ini pertemuan Dewan Penasihat keluarga kembali diadakan. Peristiwa sebagai sejarah baru keluarga dimulai. Baru kali ini pertemuan dewan diadakan dua kali dan mungkin akan lebih dari itu.


Kata sepakat yang biasanya dapat diwujudkan dengan mudah dalam sekali pertemuan, kini menjadi mustahil. Masing-masing pihak menganggap kuat argumennya dan tidak ada yang suka mengalah.


Hakim sebagai pemimpin generasi penerus bersikeras untuk mengembalikan tambang kepada pemerintah. Satu-satunya cara bagi keluarga untuk mengakhiri ketamakannya selama ini.


Bagian 20% untuk keluarga terlalu besar menurutnya. Belum lagi orang-orang tamak dari keluarga yang terkadang menggelapkan hasil demi kepentingan pribadi.


Hakim orang yang peka. Pengamatannya terhadap kehidupan masyarakat biasa yang sulit membuatnya merasa bersalah. Dia tidak ingin menikmati kehidupan yang mewah di atas penderitaan orang lain.

__ADS_1


Apalagi sang pemilik tambang adalah rakyat, bukan Keluarga Husain!


Keinginan Hakim ditentang sebagian besar Dewan Penasihat. Mereka lebih tertarik untuk kembali memperpanjang masa pengolahan tambang. Sudah berpengalaman menjadi alasan utama mereka.


Selain itu, pengolahan tambang sudah menjadi mata pencaharian keluarga selama dua abad.


Soal ketamakan dan bagian keluarga yang terlalu besar, mereka berjanji untuk mengurusnya. Sebenarnya ada alasan lain yang membuat mereka ingin mempertahankan.


Alasan yang cukup untuk melakukan kejahatan pecurian sejarah. Alasan yang tidak diketahui Hakim.


Pembicaraan kembali alot dan hingga pertemuan usai tidak ditemukan kata sepakat. Sebagai pemimpin keluarga, Hakim memiliki wewenang penuh untuk bertindak sesuai pendapatnya.


Meskipun tindakan yang diambilnya tidak disetujui oleh Dewan Penasihat. Tekad Hakim yang tak tergoyahkan membuat Dewan Penasihat berang. Terutama segelintir dari mereka yang terlibat dalam pengubahan sejarah.


Usai pertemuan, pelaku pencurian sejarah kembali bertemu secara rahasia. Dalam pertemuan itu ditemukan kesepakatan, Hakim harus disingkirkan.


Aku sontak kaget karena informasi itu.


Hakim akan dipenjara?


Bagaimana mungkin mereka dengan tega memilih kesepakatan yang seperti itu? Mengapa mereka tidak memberitahu Hakim yang tidak diketahuinya dan lebih memilih  untuk menyingkirkannya?


Aku geram.

__ADS_1


Jika saja aku bisa melakukan sesuatu, maka akan kulakukan apapun untuk menyelamatkan Hakim.


Aku tidak habis pikir, apa sih alasan itu?


Jika memang sangat penting mengapa tak diberitahu Hakim saja?


Aku yakin, jika alasan itu masuk akal maka Hakim akan menerimanya dengan senang hati.


Hhh..


Masih ada banyak hal yang tidak kuketahui dan aku sangat penasaran tentangnya.


Apa yang dilakukan Hakim saat ini?


Entah mengapa aku sangat merindukannya.


Aku penasaran dengan sudut pandangnya dalam masalah ini. Aku ingin dia kembali menuliskan kisahnya untukku.


“Hai Cuek, apa lagi yang terjadi? Kok muram begitu?”


Si Ilmu Politik dan yang lain jelas saja penasaran. Kali ini aku kembali menampakkan wajah muram, tapi tidak pernah ingin berbagi masalah dengan mereka.


“Bukan apa-apa kok.” Aku menjawab dengan cuek. Tanpa kusadari, julukan ‘Cuek’ yang ditujukan padaku akhirnya cocok.

__ADS_1


“Jangan habiskan energimu untuk bertanya padanya. Sesuai julukannya, dia jelas tidak akan memberimu jawaban.” Si Surat memberikan saran pada Ilmu Politik. Buku lain tertawa karenanya.


Ilmu Politik menghela napas. Dia kecewa.


__ADS_2